Judul itu kupilih karena inspirasi bulan Agustus yang bagi bangsa ini memang Bulan Kemerdekaan. dan cita rasa dan cinta KEMERDEKAAN itu tahun ini sedang kuat-kuatnya. Tak lepas dari semua yang diusahakan pemerintahan saat ini rupanya. Artinya, dari data subjektif diriku saja, aku benar-benar merasakan adanya animo, fanatisme, rasa perasaan, sensus patriotisme yang begitu menggelora. Dan itu ternyata juga tergantung kepala dan stafnya yang mengelola sehingga menimbulkan gerak bersama yang bergelora bersama. Belum lagi kemarin ada bendera Indonesia yang terbalik, dan secara viral panitia Sea Games Malaysia diprotes habis oleh berbagai kalangan dari akar rumput sampai tokoh pemerintahan, termasuk presiden.Hari ini aku hanya ingin melihat jiwa merdeka dari dalam diri pribadi manusia. Aku melihat dari arahku ketika orang memandang saat diriku berada di depan publik. Sekian mata memandangku. Sekian pikiran meneliti orang tiap orang. Setiap hati menelisik dan merasakan pribadi tiap pribadi. Apakah salah seorang dari kami atau kebanyakan dari kami ada yang menjadi penghalang hidup mereka? Itulah tadi yang kupikirkan. Itulah tadi yang aku bayangkan. Ada orang yang wajahnya cemberut. Ada orang yang ceria. Ada orang yang sepertinya antusias. Ada orang yang wajahnya datar. Ada orang yang wajahnya kuyu. Ada orang yang wajahnya menaruh curiga. Itu yang membuatku berpikir, apakah diri kami semua memerdekakan mereka atau membelenggu mereka?
Aku pun berada di antara sekian pribadi yang terus-menerus memerdekakan diri, berproses memerdekakan diri, bergulat dengan diri yang merdeka dalam belenggu masing-masing.Kami mengakui bahwa kami belumlah merdeka sepenuhnya namun tengah berusaha memerdekakan diri semerdeka seperti anak-anak merdeka. Mengapa jiwa merdeka ini kutemukan dalam permenungan hari ini? Entah mengapa beberapa ungkapan hari ini seperti menggiringku untuk menyimpul sejenak bahwa memang demikianlah adanya, bahwa selama orang tak punya jiwa merdeka, tak akan ia mampu menjalani hidupnya setenang dan semendalam melangkahkan kaki dalam peziarahan. Kemerdekaan jiwa ini bukan hanya ditunggu. Kemerdekaan jiwa ini bukan hanya sebuah anugerah namun juga diusahakan.
Mendengar kisah bagaimana seorang yang menerima tugas menjadi pemimpin para gembala umat pun ketika ditunjuk secara wajib, ia bergumul untuk mengatakan YA. Ya pada mulanya adalah berasa berat dan panas dalam jiwa. Ya pada tahap selanjutnya adalah rasa berat tak punya jiwa. Ya kemudian lagi adalah gumpalan jiwa yang tak tahu jawab apa yang bisa diungkap. Setelah berproses panjang, ia mengkisahkan dirinya harus mengalah dalam pertempuran. Ia harus menyerah dan berserah kepada YA yang sungguh MERDEKA. Jika cawan ini boleh berlalu (boleh dipilih), biarlah itu berlalu. Namun jika itu adalah kehendak-Mu, mau apalagi? Seolah itu yang mau dikata.
Kulihat sorot mata para orangtua yang menyerahkan dan merelakan anaknya untuk dididik di tempat ini pun demikian adanya. Sorot mata banyak yang belum paham arti kemerdekaan jiwa. Sorot mata yang banyak belum rela jika kemerdekaan itu terenggut dari diri mereka. Aku melihat sorot mata yang masih bergulat dan mencoba menerima diri. Ketika dijelaskan dan diberi informasi ini dan itu, sorot mata antusias pun belum tentu akan bisa menerima jika suatu saat nanti ada keputusan dari sang anak untuk mengatakan tidak secara merdeka. Atau ketika sang anak harus menerima konsekuensi kebijakan atas prestasi belajarnya dan harus mundur. Apakah mereka serta merta akan mengatakan VIAT VOLUNTAS TUA? Tentunya tidak. Butuh sebuah rationale, butuh sebuah penjelasan, butuh sebuah paparan panjang kali lebar bahkan kali tinggi. Itulah kemerdekaan jiwa yang 100% rahmat ilahi, 100% usaha perjuangan manusia.
Kemerdekaan jiwa diperoleh dan dirasakan lewat keheningan jiwa. Kemerdekaan jiwa bertumbuh pada jiwa yang wening. Kemerdekaan jiwa akan dalam akarnya karena adanya tanah subur yang selalu dibasahi keheningan (silence), penerimaan diri (self-acceptance), kerendahan hati (humility), dan kemurahan hati (generosity). Inner peace dan interior freedom adalah sebilah pedang anugerah hidup dan usaha perjuangan tak henti dalam diri manusia karena akan terus diusahakan dan dimohon selama manusia hidup. bahkan Agustinus dari Hippo pun yang suci itu bergulat dalam hidupnya sampai ia berkata, "...Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku akan jumpa dan memandang wajahMu?" Memandang wajahNya berharap supaya ia memiliki pembebas sejati bagi hidupnya. Ia terus memohon kapan dan kapan bisa merdeka jiwanya, karena selama belum memandang wajah ilahi itu, ia belum terlepas dari belenggu hidup. Simeon pun akhirnya dimerdekakan jiwanya setelah memandang bayi kecil yang ia percaya sebagai Mesias, dan ia berkata, "Ya Tuhan, perkenankanlah sekarang hambaMu berpulang, dalam damai sejahtera menurut sabdaMu, sebab aku telah melihat keselamatanMu yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa..." Sebelumnya, ia terus menanti dan penuh harap bisa melihat wajah Sang Pembebas itu. Dan sosok ksatria Bask Spanyol, Inigo Lopez de Loiola pun bergulat dengan hidupnya yang carut marut dan pada proses perjalanannya mengungkapkan diri, "Ambilah ya Tuhan, kemerdekaanku, kehendaku, budi ingatanku. Pimpinlah diriku dan Kau kuasai. Perintahlah, akan kutaati. Lihatlah semua yang ada padaku. Kuhaturkan menjadi milikMu. Hanya rahmat dan kasihMu cukup itu bagiku." Cerobong asap hampir jadi tempat bunuh dirinya ketika belum berserah. Godaan bunuh diri ada pada jiwa yang belum merdeka Inigo.
Kemerdekaan jiwa pada manusia memang terus diusahakan dan juga dimohon agar diri ini menjadi pribadi yang mampu terbang seperti rajawali, mengangkasa dan ringan hidupnya. Ia tak terikat oleh apapun dan siapapun. Yang ada hanya jiwa merdeka. Kemerdekaan ini ada pada diri manusia ini, bukan tergantung apakah diriku bisa ini dan itu namun apakah aku mampu memerdekakan diri dari kelekatan hidup yang membuat diri tidak bebas bergerak atau bahkan membelenggu orang lain dengan kepentingan kita.
#Bulan Agustus, Inspirasi Kemerdekaan#