Wednesday, March 25, 2020

Haruskah dengan Virus?

Sejak beberapa waktu ini umat manusia di planet bumi ini sedang berhadapan dengan musuh yang sangat kecil. Itulah virus. Covid-19 sedang menyerang kita. Corona Virus Disease-19 itulah namanya. Banyak negara tutup (lock down) karenanya. Banyak nyawa meninggal karenanya. Banyak orang panik, toko dan tempat-tempat publik sepi, kerumunan dibubarkan, sekolah ditiadakan di sekolah, perkantoran mengurangi aktivitasnya, kegatan keagamaan juga tidak ada di ruangan dengan kegiatan bersama, dan masih banyak lagi. Awalnya virus ini dianggap seperti virus flu biasa, namun ketika ada seorang dokter memperingatkan bahwa virus ini adalah berbahaya dan misterius, maka serentak dunia menjadi kalang kabut. Sampai saat ini dari mana virus ini muncul, apakah China atau Amerika atau dari mana, sejauh ini aku pun belum tahu persis. Memang berita dari media berasal dari Wuhan, China, namun itu pun masih belum pasti bagaimana terjadi. Banyak narasi mengarahkan ke sana namun tidak sepenuhnya juga tepat.

Mulai Maret 2020 ini dunia penuh dengan perhitungan dan kewaspadaan sehingga melahirkan kebijakan lock down di beberapa negara. Setelah China yang terkena, maka Italia adalah yang berikut, lalu ada juga Iran, Korea Selatan, dan akhirnya menyebar di berbagai belahan dunia. Bahkan sebenarnya Amerika Serikat. Intinya seluruh belahan dunia ini sedang terserang virus yang namanya corona ini. Yang tentunya mati dan mudah sekali terdampak adalah orang-orang tua dan mereka yang sudah punya penyakit bawaan lainnya, di mana daya imunitasnya lemah. Cara kerja virus ini pun juga canggih sampai-sampai para ahli pun belum menemukan cara menanggulangi dampak virus ini.

Aku tidak mau masuk lebih jauh ke arah medis atau biologinya. Yang justru menjadi insight adalah bahwa dengan virus ini, kita semua atau dunia sedang dipaksa untuk mendefinisikan kembali atau memaknai arti kemanusiaan, relasi-relasi yang kita bangun entah itu yang namanya institusi sosial, politik, pendidikan, keagamaan, ekonomi dan sebagainya. Kesempatan di Hari Raya Nyepi bersama dengan saudara-saudara penganut Hindhu bagiku menjadi sangat baik menyepi dan menyendiri untuk melihat dengan mengambil jarak dari rutinitas keseharian. Memang sudah seminggu lebih ini pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk work from home. Virus ini menyebar karena manusianya juga mobile, bergerak ke sana kemari. Penyebaran itu diikuti dengan media penyebaran yaitu cairan yang kemudian masuk ke dalam saluran pernafasan.

Ketika mobilitas manusia harus dikurangi atau bahkan dihentikan, maka virus ini juga terkurangi penyebarannya. Yang menjadi menarik kemudian adalah ketika manusia dipaksa berhenti atau mengurangi aktivitas bepergiannya, lalu apa artinya bekerja, apa artinya belajar di sekolah, apa artinya peribadatan agama dengan ritual bersamanya, apa arti festival seni dan budaya pamer di tempat-tempat publik? Semua itu lantas menjadi tiada artinya lagi. Semua akhirnya relatif. Bahkan kalau mau menyelamatkan spesies manusia di planet bumi ini, manusianya harus tidak bersinggungan dengan sesamanya. Oleh karena itu social distancing juga diikuti dengan physical distancing.

Masih banyak juga beberapa pihak yang melanggar. Di Italia juga banyak orang melanggar dan mengabaikan larangan untuk stay at home untuk mengurangi penyebaran virus ini, maka kasus yang terkena corona termasuk besar di sana karena hal ini. Sementara orang mengatakan bahwa virus ini menyerang orang-orang urban yang memang suka atau terbiasa traveling. Ada juga yang mengatakan bahwa virus ini adalah virus milenial yang memaksa kita untuk terbiasa dengan distance. Lalu lahirlah belajar online, kerja online, misa online. Pertemuan-pertemuan pun yang sebelumnya bertemu dalam ruang dan waktu yang sama, sekarang arti ruang itu tidak hanya harafiah sebuah tempat dengan ukuran panjang kali lebar kali tinggi, namun ruang adalah wahana untuk berjumpa dan berbicara dengan waktu berbeda. Bisa saja karena kebijakan work from home, rapat dikoordinatori oleh pihak dari Semarang, mengundang pihak-pihak dari Klaten, Jogjakarta, Solo, dan Jakarta. Tinggal menentukan saja jam berapa siap online dan ketemu dengan sarana yang berplatform tertentu, entah Whatsapp, Zoom, Skype, Google Hangout, dsb. Pengalamanku bersama keluarga bisa mengadakan doa bareng dengan Zoom, mengajak anggota dari Balikpapan, Temanggung, Salatiga, Bekasi, Tanggerang, Semarang, Jakarta, dan Lampung. Ruang dan waktu menjadi relatif dengan situasi sekarang ini. Jarak menjadi relatif juga. Pertemuan sudah tidak butuh ruang fisik lagi secara absolut. Bahkan antar negara dengan perbedaan zona waktu pun "terselesaikan" dengan cara bertindak ini, time space distanciation (GIDDENS, 1985).  Apa yang disebut Giddens ini yang kupelajari samba lewa tahun 2000-an awal, ternyata dua dekade kemudian mejadi penting realisasinya, yaitu soal Globalisation and Risk Society, Runaway World-How Globalisation Reshaping Our Lives, semua itu ternyata kualami sekarang dengan gamblang.

Pelanggaran-pelanggaran dan rasa tidak nyaman ketika orang tidak bergerak juga ada. Di awal-awal kepanikan dan diterapkannya supaya menaati aturan stay at home dan menunda seluruh acara yang melibatkan kerumunan massa, masih ada saja kejadian tahbisan uskup di Ruteng yang menuai cacian publik di media, Tablik Akbar di Sulawesi, Seminar di Bogor yang juga akhirnya memunculkan korban tertularnya covid-19. Tentu juga masih banyak kasus lain di mana polisi atau aparat keamanan harus menegur atau memperingatkan mereka. Kebodohan-kebodohan karena belum terbiasa dengan mengambil jarak dan menunda memang harus menjadi kenyataan pahit di situasi sekarang ini. Persoalan intinya adalah mereka juga harus menyadari bahwa bukan hanya keselamatan diri sendiri yang penting tetapi keselamatan pihak lain, namun itu belum mereka hayati.

Dengan covid-19 ini pemerintah akhirnya terpaksa juga membatalkan UN bagi anak sekolah. Ada yang senang (termasuk diriku) ada yang tidak suka karena mungkin uang proyek UN ini besar dan harus dilaksanakan, dan bagi murid yang sudah persiapan menjadi mubazir. Dalam hal ini aku berterima kasih pada covid-19 dan bukan hanya pada pemerintah. Di sisi lain, aku juga senang dan dalam hati berkata "YES", guru dan dosen dipaksa untuk belajar online bersama murid/mahasiswa. Ketika belum ada covid-19, betapa sulitnya mengajak guru paham dan melakukan bagaimana belajar dan mengelola pembelajaran online. Dengan sirtuasi ini seluruh komponen pendidikan dari yayasan, murid, guru dan pemerintah diarahkan untuk ber-online. Selain itu, yang lain adalah setiap individu dan komunitas diajak untuk hidup bersih. Cuci tangan, mandi, membersihkan dari virus kalau ada yang menempel di perabot apapun menjadi hal yang dipaksakan demi keselamatan. Protokol untuk keselamatan terhindar dari atau meminimalisasi virus ini menjadi penting. Kemanusiaan kita dipaksa untuk hidup kreatif dan bersih merawat kehidupan itu sendiri dengan kedatangan virus ini.

Lantas bagiku sekarang yang sedang merenung, aku melihat bahwa kedatangan virus ini membawa dampak seperti Durga Umayi. Di satu sisi dia adalah Durga, istri Dewa Siva yang merusak dengan kekuatan jahatnya. Di sisi lain, dia adalah Uma(yi), istri Batara Guru yang merawat, mengajak berbenah dan berubah membenahi, melahirkan tata kehidupan ini. Terlepas apakah virus ini buatan manusia entah karena keteledoran atau memang sengaja dibuat sebagai senjata biologis (jika menganut teori konspirasi), segala yang dibuat manusia atau yang ada dalam kehidupan ini selalu ada Durga-Umayinya. Yang dahulu secara konservatif, Gereja Katolik tidak membuat terobosan untuk misa online, pengakuan dosa dengan cara baru, sekarang dipaksa untuk mengubah cara itu. Guru yang konservatif selalu mengajar dengan cara lama, dipaksa untuk mengubah cara mengajarnya. Masih banyak hal yang diajarkan dari si corona ini dan tentu banyak aspek yang kiranya juga berdampak ke yang lain. Apakah si corona ini sedang mengajak kita berbenah dan berubah, walahualam, semogha si spesies manusia yang katanya homo sapiens ini mau berubah juga. Aku hanya mengutip apa yang ditulis Yuval Harari dalam refleksinya "the world after coronavirus": dia mengatakan bahwa dengan semua krisis ini dibutuhkan rencana global bersama. Kemanusiaan butuh pilihan. Apakah kita akan mengarah pada ketidakbersatuan atau memilih jalan solidaritas global? Jika kita memilih tercerai berai, ini bukan saja menjadi awal krisis, tetapi hasil dalam bencana besar di masa depan. Jika kita memilih solidaritas global, itu akan menjadi kemenangan bukan saja melawan virus corona tetapi juga melawan epidemi dan krisis masa depan yang mungkin merupakan serangan bagi bangsa manusia di abad ke-21 ini.


#Day of Silence, 2020#