Monday, August 29, 2016

Obsesi Bisa Jadi "Bully"

Ada orang yang berkisah mengenai hidupnya, keluarganya, dan akhirnya anaknya. Salah satu obsesi orang saat ini adalah bahwa anaknya harus melebihi orangtuanya. Melebihi ini dalam arti kemampuan akademisnya, kemampuan bakat-bakat lahiriah, dan yang lain. Tak mengherankan jika ada orantua yang getol mengeleskan anaknya di sana sini demi obsesi ini. Jam belajar dari jam 07.00 dan berakhir jam 15.00 katakanlah, lalu si anak harus les privat atau dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar supaya kemampuan akademis dalam matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris dapat lebih baik. Belum lagi si anak pun juga harus bisa main gitar klasik atau main organ atau keyboard atau alat musik lainnya. Seharian anak dibuat sibuk. Orangtua membayar semua obsesi itu.

Ini hanya sebuah gambaran yang memang dari motivasinya harus lebih dilihat lagi. Obsesi sedemikian dapat menjadi malapetaka. Orangtua terlalu banyak berharap dan menginginkan segalanya berjalan sesuai design-nya. Sepertinya jika tidak les ini dan itu seolah anaknya tidak mampu apa-apa. Diakui bahwa situasi memaksa orangtua ini untuk mengeleskan dalam hal belajar akademis yang dituntut di sekolah. Bisa jadi karena sistem di sekolah yang tidak memuaskan orangtua, maka ia harus mengeleskan anaknya. Di sekolah, gurunya tidak memberi cara belajar yang baik atau malah justru memberi peluang anak supaya les privat. Bahkan bisa jadi jika les dengan guru tertentu anaknya mendapat nilai yang lebih tinggi karena ia sudah memakai jasa les privat dari guru itu yang tentu membayar. Ini adalah malapetaka.

Dari situ ada persoalan bahwa sistem sekolah yang buruk karena guru tidak memberi kemampuan yang optimal sehingga masih memberi les privat kepada anak didiknya. Di sisi lain ada situasi memang bahwa orangtua yang kerjanya sibuk tidak bisa membantu anaknya belajar lagi seperti di kota-kota besar. Atau ada yang ekstrem adalah istri berhenti bekerja dan hanya mengurus anak sampai ada istilah "Mama Macan" karena mereka dari pagi sampai malam mencurahkan energinya untuk mengantar, memperhatikan, menentukan gerak anaknya di sekolah. Ketidakpuasan dan obsesi ini yang menjadikan beberapa orangtua kerap mem-bully anaknya. Mereka terlalu intervensi dan determinatif terhadap segala kebutuhan anaknya. Obsesi dapat menjadi bully bagi yang lain. Tentunya kekuasaan yang lebih akan sangat berperan pada proses bullying ini. Bullying ini kemudian dideteksi banyak terjadi pada keluarga atau orang-orang urban di kota-kota besar, karena mereka adalah orang asing di tanah asing. Mereka tidak punya lagi tanah asli leluhur mereka. Kekuasaan atas tanah tidak mereka punyai, maka kekuasaan harus diterapkan ke yang lain, yaitu orang.

Awalnya memang terlihat baik karena orangtua punya cita-cita. Namun cita-cita itu perlu melihat realita. Juga motivasi mulia adalah membantu anak belajar lebih baik. Sisi lain adalah melatih anak supaya talentanya terasah dan muncul kemampuan yang lain. Baik dalam arti ini adalah by design, tidak membiarkan anak bertumbuh hanya sebatas natural. Namun di sisi lain perlu melihat bahwa anak juga tidak serta-merta akan suka dan mejalani dengan sepenuh hati. Kita pun perlu melihat dari kacamata lain bahwa obsesi kita jangan-jangan membelenggu dan membatasi mereka. Memang baik semua itu diarahkan namun kita harus melihat dunia mereka sebenarnya ke mana. Bisa jadi kalau ada anak yang hanya menuruti keinginan orangtua dan semua sudah dicapai oleh si anak, apa yang dicapainya itu diserahkan ke orangtua: "Pak, Bu, saya sudah mencapai gelar S2. Ini nilai dan ijasahnya. Saya serahkan semua." Apakah itu yang kita inginkan? Saya kira tidak demikian. Harapanya adalah bahwa yang di-design orangtua adalah untuk kebutuhan dan kebahagiaan mereka juga.

Sekali lagi, obsesi bisa menjadi bully. Orangtua pun dapat menjadi pihak yang mengawali bully itu dalam masyarakat atau komunitas pada zaman sekarang itu. Bullying bukan soal adanya pemaksaan kekuasaan saja yang timbul karena natural namun bisa jadi itu muncul karena mekanisme dan sistem di masyarakat/ budaya tertentu memungkinkan untuk itu. Anak melihat bahwa dirinya dulu mengalami seperti itu maka saat lain pun ia akan berbuat yang sama. Bully pertama akan membuat bully yang lain. Oleh karena itu pantaslah kita melihat motivasi kita mengeleskan, mengkursuskan ini dan itu karena bisa jadi itu malah kontraproduktif dari yang kita inginkan. Godaan itu dapat datang dari berbagai situasi.



#Noon time
in my office#