Dalam
arti harafiah khasanah bahasa Jawa, sasmita
artinya pertanda yang bisa saja secara fisik kelihatan tetapi juga sering lebih
pada simbol-simbol. Dengan kata lain sasmita
adalah pertanda yang ditangkap oleh kepekaan indera jiwa. Simbol inilah yang
sering tidak hanya dalam bentuk gambar visual tetapi juga gerak-gerik perilaku
atau gesture seseorang atau bahkan warna tertentu yang menunjukkan makna sebuah
peristiwa atau perilaku. Sasmita
mengajak kita untuk peka. Dengan kata lain, sasmita
mengajak untuk makin mendalam, “duc in altum”, berani terjun atau bertolak ke
tempat yang lebih dalam. “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.’” (Bdk. Luk 5, 4).
Hidup manusia bukan hanya berjalan mengalir saja walau ada aliran filsafat yang mengatakan bahwa hidup ini mengalir saja (pantha rei) yang diusung oleh Heraklitos, seorang filsuf Yunani kuno (535-475 SM). Namun seorang filsuf yang lain menyangkalnya yaitu Socrates (399SM). Socrates mengatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Kedalaman hidup mempunyai makna bahwa manusia hidup tidak asal-asalan karena (1) kita punya asal dan tujuan dan (2) kita punya yang namanya keistimewaan yaitu mampu memberi makna hidup itu sendiri. Segala sesuatu tidaklah mengalir begitu saja. Yang mengalir dapat kita hentikan dan bendung sehingga tidak lantas lepas dan bergerak terus. Tanpa berhenti dan hening sejenak mengendapkan, maka aliran hidup kita tidak mampu meletakkan hal-hal yang kita bawa pada tempatnya. Seperti air yang membawa kotoran, larutan dan sebagainya ia tidak mampu dilihat dengan jelas. Justru saat kita berhenti sejenak, saat itulah larutan itu terlihat. Benda-benda yang terbawa arus air itu ada yang tenggelam, ada yang melayang, ada yang mengapung. Yang berat massa-nya maka akan tenggelam.
Orang yang mampu menangkap segala yang terjadi dalam hidupnya dengan amatan yang dalam adalah orang yang mampu mengendapkan dirinya. Ketika mengendap, “menep” (Jawa), orang itu menjadi orang yang bijaksana. Orang bijaksana biasanya “tanggap ing sasmita” (mampu melihat hal-hal yang hanya kelihatan sebagai sebuah pertanda tetapi mempunyai makna). Menangkap makna di balik tanda itu perlu sebuah latihan. Contoh konkitnya demikian: orang zaman dahulu akan mengenali kalau langit memerah dan mendung, tentu akan ada hujan. Itu didukung oleh iklim dan cuaca yang masih normal. Orang zaman sekarang mempunyai kesulitan akan menangkap gejala alam seperti itu. Selain karena cuaca sudah banyak perubahan yang tidak pasti atau tidak jelas namun juga karena orang zaman modern sudah tidak akrab dengan alam. Orang sudah terfasilitasi dengan segala yang ada di luar dirinya. Indera jiwa yang punya kekuatan ini (inner power) sudah tidak terlatih. Akibatnya, orang cenderung akan mencari hal-hal yang sifatnya sarana pembantu dari luar. Misalnya, bagaimana perkiraan cuacanya, menyalahkan situasi/cuaca, mencari ini dan itu. Bahkan karena saking mau melawan alam, ketika cuaca hujan, karena menyelenggarakan pertandingan sepakbola, lapangan rumput pun harus ditutup dengan terpal supaya tidak ada genangan airnya. Ini adalah fenomena manusia yang tidak lagi “tanggap ing sasmita”. Orang cenderung menangani segala sesuatu dengan hal-hal yang serba luaran. Biasanya mentalitas kurang antisipatif juga merupakan efek karena kita tidak melatih kepekaan diri. Sasmita semakin menjauh dan mahal dalam hidup kita.
Jika kita mau jujur dengan diri kita, orang sebenarnya mau mencari kebahagiaan dan bukan kesenangan semu semata. Di sinilah sasmita itu dibutuhkan. Ketentraman hidup bukan hanya dalam arti keamanan fisik yang dijaga oleh security atau aparat keamanan yang ada. Ketentraman hidup lebih bermakna damai yang rekonsiliatif. Berdamai dengan diri sendiri dan menerima diri apa adanya. Jika salah, berani mengakui dan menerima akibatnya. Jika benar, berani membela dan mempertahankan sampai titik darah penghabisan. Itulah manusia yang “sembada”. Ia teruji dan berkualitas sebagai manusia yang manusiawi. Sembada artinya bukan hanya mandiri tetapi teruji dan berkualitas yang luar biasa sebagai manusia yang manusiawi.
Nah, di padepokan ini, kita sebenarnya berlatih untuk ke sana, yaitu berlatih
agar sasmita tidak menjauh. Sasmita menjadi bagian dari hidup kita.
Keheningan atau suasana atmosfir yang dibuat silentium sebenarnya dimaksud untuk itu.
Keheningan bukan sekedar tidak berbicara dari jam sekian sampai jam sekian. Bukan
juga soal “pati geni” yang mau mematikan lampu selama sehari atau “pati
suara” di hari ini dari jam sekian sampai jam sekian di hari berikutnya. Itu masih dalam arti fisik.
Jika ingin lebih berlatih mencapai kedalaman, waktu-waktu itu harus dimaknai
dengan matiraga dan doa. Bagaimana aku memeriksa diri dan berefleksi tentang
hidupku? Jika tidak bersuara tetapi hati masih bergemuruh atau pikiran masih
kacau dengan keinginan-keinginan, maka yang muncul adalah indisipliner seperti:
mencuri waktu untuk berbuat bohong dan tidak melayani komunitas. Pohon pala pun akan menjadi sarang manusia untuk
berbuat bohong dan lari dari tanggung jawab: tidak mau kerja. Oleh karena
itu, marilah kita latih diri kita dengan tekun untuk menjadi semakin peka pada
tanda-tanda zaman supaya kita menjadi makin bijaksana dan manusiawi. AMDG.
Untuk "JENDELA" edisi Maret 2016
