Thursday, March 17, 2016

Sasmita

Dalam arti harafiah khasanah bahasa Jawa, sasmita artinya pertanda yang bisa saja secara fisik kelihatan tetapi juga sering lebih pada simbol-simbol. Dengan kata lain sasmita adalah pertanda yang ditangkap oleh kepekaan indera jiwa. Simbol inilah yang sering tidak hanya dalam bentuk gambar visual tetapi juga gerak-gerik perilaku atau gesture seseorang atau bahkan warna tertentu yang menunjukkan makna sebuah peristiwa atau perilaku. Sasmita mengajak kita untuk peka. Dengan kata lain, sasmita mengajak untuk makin mendalam, “duc in altum”, berani terjun atau bertolak ke tempat yang lebih dalam. “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.’”  (Bdk. Luk 5, 4).

Hidup manusia bukan hanya berjalan mengalir saja walau ada aliran filsafat yang mengatakan bahwa hidup ini mengalir saja (pantha rei) yang diusung oleh Heraklitos, seorang filsuf Yunani kuno (535-475 SM). Namun seorang filsuf yang lain menyangkalnya yaitu Socrates  (399SM). Socrates mengatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Kedalaman hidup mempunyai makna bahwa manusia hidup tidak asal-asalan karena (1) kita punya asal dan tujuan dan (2) kita punya yang namanya keistimewaan yaitu mampu memberi makna hidup itu sendiri. Segala sesuatu tidaklah mengalir begitu saja. Yang mengalir dapat kita hentikan dan bendung sehingga tidak lantas lepas dan bergerak terus. Tanpa berhenti dan hening sejenak mengendapkan, maka aliran hidup kita tidak mampu meletakkan hal-hal yang kita bawa pada tempatnya. Seperti air yang membawa kotoran, larutan dan sebagainya ia tidak mampu dilihat dengan jelas. Justru saat kita berhenti sejenak, saat itulah larutan itu terlihat. Benda-benda yang terbawa arus air itu ada yang tenggelam, ada yang melayang, ada yang mengapung. Yang berat massa-nya maka akan tenggelam.

Orang yang mampu menangkap segala yang terjadi dalam hidupnya dengan amatan yang dalam adalah orang yang mampu mengendapkan dirinya. Ketika mengendap, “menep” (Jawa), orang itu menjadi orang yang bijaksana. Orang bijaksana biasanya “tanggap ing sasmita” (mampu melihat hal-hal yang hanya kelihatan sebagai sebuah pertanda tetapi mempunyai makna). Menangkap makna di balik tanda itu perlu sebuah latihan. Contoh konkitnya demikian: orang zaman dahulu akan mengenali kalau langit memerah dan mendung, tentu akan ada hujan. Itu didukung oleh iklim dan cuaca yang masih normal. Orang zaman sekarang mempunyai kesulitan akan menangkap gejala alam seperti itu. Selain karena cuaca sudah banyak perubahan yang tidak pasti atau tidak jelas namun juga karena orang zaman modern sudah tidak akrab dengan alam. Orang sudah terfasilitasi dengan segala yang ada di luar dirinya. Indera jiwa yang punya kekuatan ini (inner power) sudah tidak terlatih. Akibatnya, orang cenderung akan mencari hal-hal yang sifatnya sarana pembantu dari luar. Misalnya, bagaimana perkiraan cuacanya, menyalahkan situasi/cuaca, mencari ini dan itu. Bahkan karena saking mau melawan alam, ketika cuaca hujan, karena menyelenggarakan pertandingan sepakbola, lapangan rumput pun harus ditutup dengan terpal supaya tidak ada genangan airnya. Ini adalah fenomena manusia yang tidak lagi “tanggap ing sasmita”. Orang cenderung menangani segala sesuatu dengan hal-hal yang serba luaran. Biasanya mentalitas kurang antisipatif juga merupakan efek karena kita tidak melatih kepekaan diri. Sasmita semakin menjauh dan mahal dalam hidup kita.

Jika kita mau jujur dengan diri kita, orang sebenarnya mau mencari kebahagiaan dan bukan kesenangan semu semata. Di sinilah sasmita itu dibutuhkan. Ketentraman hidup bukan hanya dalam arti keamanan fisik yang dijaga oleh security atau aparat keamanan yang ada. Ketentraman hidup lebih bermakna damai yang rekonsiliatif. Berdamai dengan diri sendiri dan menerima diri apa adanya. Jika salah, berani mengakui dan menerima akibatnya. Jika benar, berani membela dan mempertahankan sampai titik darah penghabisan. Itulah manusia yang “sembada”. Ia teruji dan berkualitas sebagai manusia yang manusiawi. Sembada artinya bukan hanya mandiri tetapi teruji dan berkualitas yang luar biasa sebagai manusia yang manusiawi.

Nah, di padepokan ini, kita sebenarnya berlatih untuk ke sana, yaitu berlatih agar sasmita tidak menjauh. Sasmita menjadi bagian dari hidup kita. Keheningan atau suasana atmosfir yang dibuat silentium sebenarnya dimaksud untuk itu. Keheningan bukan sekedar tidak berbicara dari jam sekian sampai jam sekian. Bukan juga soal “pati geni” yang mau mematikan lampu selama sehari atau “pati suara” di hari ini dari jam sekian sampai jam sekian di hari berikutnya. Itu masih dalam arti fisik. Jika ingin lebih berlatih mencapai kedalaman, waktu-waktu itu harus dimaknai dengan matiraga dan doa. Bagaimana aku memeriksa diri dan berefleksi tentang hidupku? Jika tidak bersuara tetapi hati masih bergemuruh atau pikiran masih kacau dengan keinginan-keinginan, maka yang muncul adalah indisipliner seperti: mencuri waktu untuk berbuat bohong dan tidak melayani komunitas. Pohon pala pun akan menjadi sarang manusia untuk berbuat bohong dan lari dari tanggung jawab: tidak mau kerja. Oleh karena itu, marilah kita latih diri kita dengan tekun untuk menjadi semakin peka pada tanda-tanda zaman supaya kita menjadi makin bijaksana dan manusiawi. AMDG.





Untuk "JENDELA" edisi Maret 2016

Perpustakaan Alexandria

Sebuah film Agora yang saya tonton beberapa waktu lalu membuat saya prihatin. Keprihatinan bukan karena soal tokohnya (Hypatia) mati atau dibunuh melainkan dalam salah satu sisi film itu diperlihatkan adanya perpustakaan di Alexandria, Mesir, yang lengkap mengenai filsafat, ilmu pengetahuan alam, ilmu humaniora, teologi dan sebagainya, hancur oleh pertikaian antara orang-orang Yahudi, Romawi, dan Kristen awal di zaman St. Cyrilus (sekitar abad ke-4 Masehi). Demikian juga dalam film In The Name of The Rose yang dibintangi Sean Connery yang diadaptasi dari novel Umberto Eco (judul asilnya, Il nome della rosa), ditunjukkan di akhir film itu kerusakan sebuah biara Benediktin dan termasuk perpustakaan yang sangat kaya akan karya para rahib di situ hancur dilalap api karena ada huru-hara dalam biara itu.

Dua kejadian dalam dua film itu mungkin hanya dilukiskan dalam hitungan menit, namun karya yang dilalap api adalah sebuah karya yang ditulis manusia dalam waktu yang lama. Katakanlah hitungannya hari atau bulan ketika menulis. Koleksi sebuah perpustakaan mengandaikan orang membaca dan menulis selama bertahun-tahun. Aktivitas menulis ada sejak sebelum Masehi di titik-titik pusat peradaban dunia. Dahulu manusia menuliskan penemuannya dan itu disimpan di tempat yang layak sehingga tradisi perpustakaan lahir. Orang yang hidup setelah sekian zaman membaca tulisan-tulisan itu. Anthony Giddens, sosiolog Inggris, mengatakan bahwa tulisan membuat jembatan antara generasi yang satu ke generasi yang lain. Jelas bahwa di sini antara aktivitas menulis dan membaca selalu berkesinambungan. Bangsa yang budaya menulis dan membacanya kuat, jembatan itu terasa sangatlah dekat dan komunikasi itu membuat sistem budaya yang kuat. Sedangkan bangsa yang tradisi menulis dan membacanya lemah, sistem budaya juga lemah, hanya ikut-ikutan trend, tidak punya jatidiri.

Perpustakaan kiranya menjadi bagian dari sebuah proses budaya manusia yang mendokumentasikan penemuannya dalam bentuk tulisan agar dapat dibaca oleh generasi berikut. Membaca juga diperlukan karena aktivitas ini merupakan bagian dari proses pendidikan berbudaya. Banyak perpustakaan kuno yang hancur. Banyak pula di masa kini, perpustakaan sebagai tempat koleksi pustaka itu tidak diperhatikan. Kerusakan sebuah perpustakaan merupakan salah satu unsur kerusakan budaya manusia. Oleh karena itu, aktivitas membaca yang membutuhkan sikap “TEDUH”, yakni: TEkun, DUduk, Hening, sangatlah penting. Menulis, membaca dan perpustakaan merupakan satu kesatuan penting di dalam proses pendidikan dan pembudayaan sebuah komunitas. Sebuah komunitas pendidikan dan pembelajar tentunya akan mengutamakan sebuah wahana belajar untuk membaca, mengoleksi karya pustaka, dan berdiskusi sehingga sampai pada komunikasi antar generasi budaya. Dengan aktivitas ini tentu, komunitas itu juga akan terdorong untuk merumuskan penemuan dan diskursusnya dalam bentuk karya tulis(an) yang dapat dibagikan.





Mertoyudan, 21 Mei 2015