Sebuah film Agora yang saya tonton beberapa waktu lalu membuat saya prihatin.
Keprihatinan bukan karena soal tokohnya (Hypatia) mati atau dibunuh melainkan
dalam salah satu sisi film itu diperlihatkan adanya perpustakaan di Alexandria,
Mesir, yang lengkap mengenai filsafat, ilmu pengetahuan alam, ilmu humaniora,
teologi dan sebagainya, hancur oleh pertikaian antara orang-orang Yahudi, Romawi, dan Kristen awal di zaman St.
Cyrilus (sekitar abad ke-4 Masehi). Demikian juga dalam film In The Name of The Rose yang dibintangi
Sean Connery yang diadaptasi dari novel Umberto Eco (judul asilnya, Il nome della rosa), ditunjukkan di
akhir film itu kerusakan sebuah biara Benediktin dan termasuk perpustakaan yang
sangat kaya akan karya para rahib di situ hancur dilalap api karena ada
huru-hara dalam biara itu.
Dua kejadian dalam dua film itu mungkin
hanya dilukiskan dalam hitungan menit, namun karya yang dilalap api adalah
sebuah karya yang ditulis manusia dalam waktu yang lama. Katakanlah hitungannya
hari atau bulan ketika menulis. Koleksi sebuah perpustakaan mengandaikan orang
membaca dan menulis selama bertahun-tahun. Aktivitas menulis ada sejak sebelum
Masehi di titik-titik pusat peradaban dunia. Dahulu manusia menuliskan
penemuannya dan itu disimpan di tempat yang layak sehingga tradisi perpustakaan
lahir. Orang yang hidup setelah sekian zaman membaca tulisan-tulisan itu.
Anthony Giddens, sosiolog Inggris, mengatakan bahwa tulisan membuat jembatan
antara generasi yang satu ke generasi yang lain. Jelas bahwa di sini antara
aktivitas menulis dan membaca selalu berkesinambungan. Bangsa yang budaya
menulis dan membacanya kuat, jembatan itu terasa sangatlah dekat dan komunikasi
itu membuat sistem budaya yang kuat. Sedangkan bangsa yang tradisi menulis dan
membacanya lemah, sistem budaya juga lemah, hanya ikut-ikutan trend, tidak punya jatidiri.
Perpustakaan kiranya menjadi bagian dari
sebuah proses budaya manusia yang mendokumentasikan penemuannya dalam bentuk
tulisan agar dapat dibaca oleh generasi berikut. Membaca juga diperlukan karena
aktivitas ini merupakan bagian dari proses pendidikan berbudaya. Banyak
perpustakaan kuno yang hancur. Banyak pula di masa kini, perpustakaan sebagai
tempat koleksi pustaka itu tidak diperhatikan. Kerusakan sebuah perpustakaan
merupakan salah satu unsur kerusakan budaya manusia. Oleh karena itu, aktivitas
membaca yang membutuhkan sikap “TEDUH”, yakni: TEkun, DUduk, Hening, sangatlah
penting. Menulis, membaca dan perpustakaan merupakan satu kesatuan penting di
dalam proses pendidikan dan pembudayaan sebuah komunitas. Sebuah komunitas
pendidikan dan pembelajar tentunya akan mengutamakan sebuah wahana belajar untuk
membaca, mengoleksi karya pustaka, dan berdiskusi sehingga sampai pada
komunikasi antar generasi budaya. Dengan aktivitas ini tentu, komunitas itu
juga akan terdorong untuk merumuskan penemuan dan diskursusnya dalam bentuk
karya tulis(an) yang dapat dibagikan.
Mertoyudan, 21 Mei 2015
No comments:
Post a Comment