Thursday, March 17, 2016

Perpustakaan Alexandria

Sebuah film Agora yang saya tonton beberapa waktu lalu membuat saya prihatin. Keprihatinan bukan karena soal tokohnya (Hypatia) mati atau dibunuh melainkan dalam salah satu sisi film itu diperlihatkan adanya perpustakaan di Alexandria, Mesir, yang lengkap mengenai filsafat, ilmu pengetahuan alam, ilmu humaniora, teologi dan sebagainya, hancur oleh pertikaian antara orang-orang Yahudi, Romawi, dan Kristen awal di zaman St. Cyrilus (sekitar abad ke-4 Masehi). Demikian juga dalam film In The Name of The Rose yang dibintangi Sean Connery yang diadaptasi dari novel Umberto Eco (judul asilnya, Il nome della rosa), ditunjukkan di akhir film itu kerusakan sebuah biara Benediktin dan termasuk perpustakaan yang sangat kaya akan karya para rahib di situ hancur dilalap api karena ada huru-hara dalam biara itu.

Dua kejadian dalam dua film itu mungkin hanya dilukiskan dalam hitungan menit, namun karya yang dilalap api adalah sebuah karya yang ditulis manusia dalam waktu yang lama. Katakanlah hitungannya hari atau bulan ketika menulis. Koleksi sebuah perpustakaan mengandaikan orang membaca dan menulis selama bertahun-tahun. Aktivitas menulis ada sejak sebelum Masehi di titik-titik pusat peradaban dunia. Dahulu manusia menuliskan penemuannya dan itu disimpan di tempat yang layak sehingga tradisi perpustakaan lahir. Orang yang hidup setelah sekian zaman membaca tulisan-tulisan itu. Anthony Giddens, sosiolog Inggris, mengatakan bahwa tulisan membuat jembatan antara generasi yang satu ke generasi yang lain. Jelas bahwa di sini antara aktivitas menulis dan membaca selalu berkesinambungan. Bangsa yang budaya menulis dan membacanya kuat, jembatan itu terasa sangatlah dekat dan komunikasi itu membuat sistem budaya yang kuat. Sedangkan bangsa yang tradisi menulis dan membacanya lemah, sistem budaya juga lemah, hanya ikut-ikutan trend, tidak punya jatidiri.

Perpustakaan kiranya menjadi bagian dari sebuah proses budaya manusia yang mendokumentasikan penemuannya dalam bentuk tulisan agar dapat dibaca oleh generasi berikut. Membaca juga diperlukan karena aktivitas ini merupakan bagian dari proses pendidikan berbudaya. Banyak perpustakaan kuno yang hancur. Banyak pula di masa kini, perpustakaan sebagai tempat koleksi pustaka itu tidak diperhatikan. Kerusakan sebuah perpustakaan merupakan salah satu unsur kerusakan budaya manusia. Oleh karena itu, aktivitas membaca yang membutuhkan sikap “TEDUH”, yakni: TEkun, DUduk, Hening, sangatlah penting. Menulis, membaca dan perpustakaan merupakan satu kesatuan penting di dalam proses pendidikan dan pembudayaan sebuah komunitas. Sebuah komunitas pendidikan dan pembelajar tentunya akan mengutamakan sebuah wahana belajar untuk membaca, mengoleksi karya pustaka, dan berdiskusi sehingga sampai pada komunikasi antar generasi budaya. Dengan aktivitas ini tentu, komunitas itu juga akan terdorong untuk merumuskan penemuan dan diskursusnya dalam bentuk karya tulis(an) yang dapat dibagikan.





Mertoyudan, 21 Mei 2015 


No comments:

Post a Comment