Tulisanku ini kuawali dengan sebuah syair lagu ini:
Ada hal yang tak perlu digenggam Rindu yang tak perlu diratapi Luka yang tak perlu sekarang diobati Hanya sesekali tuk diziarahi Bersemayam di altar biru Tuk seluruh ratap dan sedu Samsara dukamu Bukan lagi sajak-sajak ku Pancaran merah muda yang layu Menuju berusia Memang penuh kesia-siaan Seperti segala Yang tak punya umpama Pasrah begitu terasa Saat kata mulai mengada Tentang arti kata lara, duka, sengsara Yang tak kau tau kekasihku Mengikhlas itu setingginya ilmu Meski saban waktu Kutimang jiwaku
(Samsara, Soegi Bornean)
Sepertinya orang zaman sekarang tidak mudah untuk sekedar berbuat tanpa harus pamer. Pamer dan pamer bisa dalam bentuk apapun dan bagaimana saja. Sedangkan, pameran itu hanya mengusung bencana setelahnya. Pamer karena merasa diri punya dan berkuasa. Punya dan kuasa adalah satu paket yang bukan hemat tapi paket mewah, luxury yang bisa dipunya oleh mereka yang yang berharta. Harta dan harta berkelindan dengan kuasa dan jumawa.
Tanpa harta, kuasa, dan jumawa sepertinya orang tak mampu hidup dan menunjukkan dirinya. Apakah sekedar itu hidup ini? Apakah aku hanya tereduksi dari hartaku, kekuasanku, kejumawaanku? Ah, kalau hanya itu, percumanya hidup ini. Bahkan seorang anak sultan pun bisa saja hidup bergelimang harta, kuasa dan jumawa, tapi ia tak harus memilih itu untuk dipamer-pamerkan. Sepertinya lebih baik "tak mengambil hak sebagai anak sultan dan justru mengambil rupa seorang hamba, bahkan ia menghampakan dirinya".
Hidup bukan untuk pamer. Hidup ini berlaku seperti apa adanya saja. Barang, harta, kekayaan adalah sarana. Semua itu sarana untuk tujuan perjalanan hidup ini. Tanpa tujuan hidup ini hampa adanya. Tanpa sarana, orang masih bisa memiliki semangat hidup karena tujuannya jelas dan dipunyai. Aku hanya membayangkan mereka yang "kere", miskin, difabel. Mereka masih bisa hidup walau dengan keterbatasannya. Sedangkan banyak orang-orang kaya yang serba berpunya namun sering malah mengakhiri hidupnya karena orientasi (tujuan) hidupnya tidak jelas. Bahkan karena persaingan yang ketat, banyak orang-orang dari negeri matahari terbit itu (yang nota bene negara dalam kelimpahan itu) banyak yang bunuh diri karena tak tahan dirinya gagal, kalah dalam persaingan, malu karena rasa malu seolah membuat dirinya kiamat.
Tak perlulah hidupku menggenggam apa yang seolah-olah hanya itu saja milikku, itu saja duniaku, tanpa itu seolah aku mati. Tidak. justru karena kita terlalu menggenggam sarana itu, kita mati dalam kelakuan kita terlalu over dalam menggenggam. Aku bukanlah sarana itu. Aku bukanlah barang yang aku punya. Aku bukan harta yang kupunyai. Aku bukan kemewahan. Aku bukan kekuasaan yang bisa membunuh orang lain dan sekaligus membunuhku. Aku adalah aku yang tak punya dan menggenggam apa-apa. Kuasaku datang dari atas. Hartaku adalah ketidakpunyaan harta itu sendiri, hartaku adalah diri yang tak punya apa-apa. Ya, kekayaanku adalah kemiskinanku dalam arti materi maupun psikisku. Siapa yang mau membawa barang-barang dunia saat dia mati? Apakah kekuasaanku, status sosialku menentukan kematianku? Mati itu pasti namun aku tidak akan berkuasa menentukan kapan dan bagaimana matiku, bahkan kalau bisa pun itu tidak wajar namanya. Kekuasaanku juga tidak akan kubawa saat aku mati.
Segala sesuatu adalah kesia-siaan, jika itu hanya terobsesi pada harta dan kuasa. Segala sesuatu adalah sementara. Segala sesuatu adalah samsara jika itu hanya terobsesi pada pamer harta. Apakah ada adagium "aku ada karena aku pamer?" Tidak juga. Keterobsesian untuk pamer tidak lepas dari diri manusia yang serba berpunya dan jumawa. Kalau tidak punya harta ya pamernya adalah pamer kemampuan, skill, pamer omongan. Pamer itu hanya bermuara pada keakuan, keakuan untuk diakui, keakuan untuk dipuja-puji, keakuan untuk mencari-cari makna dalam kehampaan. Lantas, setelah yang dipamerkan itu diambil, maka terjadilah bencana, bencana bahwa dirinya tak bisa pamer, bencana bahwa dirinya tak berkuasa lagi, bencana bahwa dirinya tak berpengaruh lagi, bencana bahwa dirinya tak bisa "membantu" orang lain yang sebenarnya adalah pamrih.
Penghujatan kaum "yang suka pamer" juga tak lepas dari kemajuan teknologi "pamer" dengan berbagai media sosial. Kepameran ini menjadi ideologi yang kemudian mirip dengan "borjuasi-kapitalisme" yang sebenarnya sudah ada lama. Manusia baru menamai setelah abad ke-19. Perang kaya vs miskin sudah lama. Bahkan perang itu sejak manusia ada. Bencana pamer makin menjadi karena orang suka mengurusi orang lain. Di satu sisi, yang kaya suka memamerkan hartanya dan di sisi lain mereka yang tersakiti rasa keadilannya (dan sekaligus ada juga yang iri tentu dan itu berkelindan tak kelihatan) protes pada kaum pamer borjuis kapitalis ini. Dunia digegerkan kemewahan dari pamer itu, bahkan karena anaknya yang berulah pun akhirnya kaum pamer-borju-kapitalis ini diobrak-abrik kehidupan keluarganya, dirong-rong harta dan kekuasaannya, dikuntit seluruh kehidupan pribadinya, dihakimi bahwa mereka adalah salah.
Lalu, apakah sekarang puas menjadi kaum pamer-borjuis-kapitalis? Apakah puas jadi orang iri, proletar, kere yang suka mengurusi orang lain? Keduanya perlu dilihat secara proporsional dan kontekstual. Tidak bijak kalau kita hanya berpihak pada yang satu dan tidak melihat konteksnya. Prosporsi menilai dan menghakimi juga perlu dibuat. Aku pun benci pada mereka yang kaya dan pamer harta dan kuasa. Aku tidak suka pada kejumawaan mereka. Aku tidak suka pada kesombongan dan sok-sokan. Namun di sisi lain aku pun tidak suka pada mereka yang suka mengurusi orang lain terlalu over dan hanya dilandasi rasa benci dan kemarahan. Ketika berdiri pada satu sisi, kita tidak objektif. Ketidaksukaan pada orang kaya jumawa tidak membuatku terus membenci mereka yang kaya. Orang juga boleh-boleh saja kaya karena usaha atau memang sejak lama kaya. Orang tidak bisa menghakimi bahwa orang kaya semua itu jelek. Masih ada orang-orang kaya yang tidak pamer dan jumawa. Orang miskin juga tidak harus iri pada mereka yang kaya. Si miskin adalah si kaya karena hidup dan kerja kerasnya. Mereka yang iri pada yang kaya juga sebenarnya membawa ideologi bahwa semua harus sama semua harus rata. Mana ada? Itu hanya utopia bagi yang masih hidup di dunia, makan nasi, butuh duit, dan kerja.
Sekali lagi, jadi kaya atau miskin, yang penting adalah jangan ada yang digenggam sehingga hidup ini menjadi samsara. Tak mudah mati ketika tua bukan karena punya ajimat atau kesaktian, namun karena orang masih menggenggam sesuatu yang membuat hidup tidak mudah menyerahkan diri, berserah bahwa hidup ini adalah sementara. Hidup yang merdeka adalah hidup yang tak menggenggam apapun. Bahkan ketika kita punya keinginan itu pun adalah samsara.
Mari kita ingat semangat ini: "ia serupa dengan Allah, namun tak ingin merebut bagi dirinya kesamaan dengan Allah. Sebaliknya ia menghampakan diri dan menjadi serupa dengan seorang hamba, sama seperti manusia...dan setelah hidup sebagai manusia, ia merendahkan lagi dengan taat sampai mati, sampai mati disalib." Salib adalah palang hina, palang penghukuman bagi budak, budak yang sudah dianggap seperti barang atau binatang. Pertanyaanku adalah maukah aku menjadi budak, jongos, babu yang dianggap seperti binatang atau barang yang oleh tuannya boleh diapakan saja? Ini tidak mudah.
Oleh karena itu, stop pamer-pamer entah itu yang kaya maupun yang miskin, sebab pamer akan membawa pada bencana yang tak kita kira. Bukan melarang orang jadi kaya dan bukan memprovokasi kaum proletar untuk mengganyang orang kaya, ini adalah kecenderungan godaan purba yang harus dilawan dari dalam diri sendiri: "tidak perlu menggenggam kekayaan, kuasa, dan dipamer-pamerkan namun kita perlu bijak menjadi pribadi bersahaja, ugahari. Aku tidak pamer dan tidak kaya pun tetap ada."
#palmsundayinmyroom#
