Tanggal 10 Mei lalu aku berkumpul bersama dan berdoa bersama umat di sekitar lereng Merbabu. Hal yang aku herankan adalah banyak polisi berjaga pada saat itu. Memang tanggal itu adalah tanggal merah libur nasional karena perayaan agama nasrani. Mengherankan karena biasanya tanggal merah itu tidak ada hal yang perlu dijaga. Bahkan gereja kecil pun dijaga. Padahal umatnya hanya segelintir orang. Tak lebih dari 20 orang. Justru kemudian tanggal 13 Mei-nya terjadilah pengeboman di beberapa gereja di Surabaya. Aku hanya bisa mengatakan: biadab!!! Bom di tengah kerumunan orang hidup pasti akan merenggut nyawa orang hidup juga. Kecuali mereka mengebom di tengah padang gurun atau di tengah hamparan benda mati, tidak akan terjadi korban manusia hidup. Belasa orang meninggal, ada 14 jiwa melayang, tua atau muda bahkan masih kanak-kanak jadi korban.Yang menjadi memprihatinkan juga adalah bahwa pelibatan keluarga sebagai pengebom adalah hal yang memang mengerikan. Pelaku kejahatan bukan lagi orang per orang atau kelompok yang memang kelihatan bengis, namun saat ini modusnya adalah dengan komunitas keluarga. Ada anak, ibu, bapak. Semua terlibat. Ini fenomena apa? Serangan terhadap orang lain datang dari keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi lembaga awali untuk mengajarkan hal-hal yang luhur dan normal (sesuai ukuran manusia biasa dan beradab). Mengapa aku menambahkan keterangan dalam kurung? Karena bisa jadi aku sendiri yang tidak normal lagi (hahaha...). Keluarga memang sedang terancam. Ketika institusi keluarga terancam dan sudah kebobolan dengan hal semacam ini, maka kiranya kita berada dalam situasi darurat terhadap institusi keluarga itu sendiri. Keluarga bukan lagi kita bayangkan sebagai institusi yang kuat untuk menanamkan hal baik dan luhur, dan diadalkan mampu mencetak manusia adab di masyarakat. Keluarga dalam hal ini sudah menjadi ancanam bagi sesama lain yang justru mematikan. Keluarga justru menjadi monster yang menakutkan orang lain, memangsa nyawa orang lain, walau itu hanya kasuistik dari 3 keluarga yang meledakkan bom di gereja saat orang sedang beribadah atau meledak di rumahnya sendiri entah karena apa. Satu lagi adalah ketika anak diajak meledakkan bom di kantor poltabes untuk menyerang polisi.
Aku mencoba membayangkan saat orangtua mengajak anaknya untuk berbuat jahat, berbuat keji, berbuat menghancurkan orang lain. Bagaimana orang tua dan mempunyai pegangan nilai itu malah justru mengajak menghancurkan hidup orang lain. Saya membayangkan bagaimana anak dibujuk untuk mati dengan iming-iming surga. Saya tak habis pikir bagaimana mereka sampai bisa menanamkan ideologi untuk membenci sesama yang berbeda pikir, pilihan hidup, agama dan ideologi dengan mereka. Saya hanya membayangkan bagaimana mereka sejak semula sudah menjadi pemangsa orang lain lewat anak yang dibujuk itu. Anak masih kecil sudah ingin dijadikan monster. Anak masih belum tahu hal-hal jahat sudah terpaksa menjadi jahat karena ulah orangtuanya. saya masih kesulitan mengimaginasikan itu semua. Bisakah demikian: "Nak, besok pagi kita akan masuk surga. Kita bersama bergerak untuk ke sana ya." Anak menjawab, "Bu, bagaimana kita bisa ke surga?" Ibu manjawab, "Tenang, besok ikut ibu saja." Entah apa yang terjadi kemudian. Apa perasaan mereka? Si bapak pun mengatakan yang sama nadanya kepada anak yang lain. Pagi hari mereka pun bergegas dengan perasaan entah apa, mereka naik motor dengan badan yang sudah dililit bom yang akan menghantar nyawa mereka ke "surga". Kubayangkan juga ledakan yang terjadi di rusun dan belum sempat diledakkan di tempat lain. Pastilah keluarga itu berdegup saat mau menghancurkan diri dan orang lain. Bagaimana pergulatan di antara mereka sehingga belum sempat mengebom tempat lain?Ah, kalau aku menyatakan hal yang berkaitan dengan agama lain pastilah ini sebuah ujaran kebencian. Memang akhirnya yang ada adalah sisa-sisa kebencian karena ada saudara yang mati karena kebiadaban dari mereka. Ada polisi, anak, orangtua, saudara, kenalan, rekan dan sebagainya. Jumlah tidaklah penting. Jika yang korban pun itu hanya seorang, bagi saya itu sudah merupakan sebuah kebiadaban. Apapun yang sudah merusak hidup adalah kebiadaban. Sepertinya mereka berkuasa atas hidup mati orang lain. Mereka seolah menghalalkan hidup orang lain untuk dihentikan. Tidak. Yang berhak hanyalah yang memberi hidup. Keluarga sebagai sumber hidup awali menjadi sumber kematian awali pula. Bagaimana ini tidak merusak citra keluarga saat ini? Ini adalah tindakan biadab. Sekali lagi keluarga sebagai institusi tercoreng dengan hal ini. Awal kehidupan ada dalam keluarga. Akhir kehidupan juga akhirnya keluarga karena keluarga adalah pembunuh berdarah dingin dari kasus ini. Ironis sekali!
Akhirnya aku hanya bisa diam. Bagaimana aku akan komentar lagi ketika wadah awali kehidupan sudah tercemar dan hancur. Memaafkan? Tidak semudah itu. Bagiku ini sebuah hal yang sulit untuk dimaafkan. Memang idealnya adalah memaafkan namun tanpa sebuah proses yang sampai akar dan akhir, maka maaf itu hanya kepalsuan hidup saja. Ada kesalahan, ya. Namun serta merta hanya kita terus mau lari dari kenyataan dan sejatinya hidup ini. Jika masih ingin memangsa kita yang dianggap halal darahnya, silakan saja dihabisi sampai habis. Namun sebenarnya mau apa kalau sudah habis yang dianggap halal dibunuh? Apa yang sejatinya akhir dari sebuah tujuan itu semua? Itulah yang masih menjadi pertanyaan dari diriku dan mungkin dari yang lain yang terancam dihabisi juga.
#morning#