Ketika membicarakan soal kelebihan manusia, kita sering hanya melihat dari sisi akal budi. Memang akal budi manusia itu berkemampuan luar biasa. Ada kemampuan untuk mengatur, ada kemampuan untuk mengkoordinasi, ada kemampuan untuk menganalisa, ada kemampuan untuk membeda-bedakan, ada kemampuan untuk mengkalkulasi, dan sebagainya. Namun di sana pula ada kemampuan untuk memanipulasi juga. Kemampuan-kemampuan itu serasa kemampuan yang memang mempunyai kemiripan dari Penciptanya karena akal budi itu layaknya prototipe akal semesta alam, yang adalah akal dari Pencipta. Kekuasaan adalah hal yang kemudian berkambang dari manusia karena manusia mempunyai hal yang lebih kemampuan menaklukkan. Penaklukan ini bermula menaklukkan ciptaan lain selain kelompok manusia. Ia menaklukkan alam dengan kemampuan menjelajah. Ia menaklukkan tumbuhan karena kemampuan bercocok tanam. Ia menaklukkan binatang karena ia bisa menguasai, menjinakkan, dan membunuh untuk dijadikan makanan. Rantai makanan yang berada di puncak akhirnya adalah manusia.
Dalam sebuah perjumpaan, aku menemui sebuah hal yang terkait manusia, akal budi, dan dominasi. Manusia yang kusebutkan di dua paragraf awal tadi mengawali kisah ini yang mungkin tidak banyak bertele-tele. Intinya, si manusia kadang dalam perjalanannya, karena situasi masa lalu, keluarga, relasi-relasi yang dibangun, pengalaman-pengalaman yang menimpa dirinya, bisa membuat dirinya harus berpola tertentu. Salah satunya adalah pola perilaku yang idealis, perfectionis, didominasi otak, dan akibatnya dia ingin mengontrol semua.
Kehendak ingin berkuasa tidak sefrontal yang terjadi di dalam kehidupan flora dan fauna. Kehendak untuk berkuasa dari manusia sudah agak berkembang daripada kemampuan binatang. Jika binatang langsung dengan gerakan fisik, manusia biasanya bergerak dengan kemampuan berpikir, merasionalisasi, membuat sebuah argumen, menganalisa dan baru menyerang. Serangannya bukan dengan fisik saja, ia juga bisa menyerang dengan verbal atau kata-kata atau kritikan yang terwujud dalam bentuk tulisan karena kemampuan akal budi yang sudah lebih berkembang dibanding primata atau homo sapiens di awal perkembangannya. Kemampuan berdiplomasi, melobby adalah sebuah kemampuan yang mencuat kemudian ketika kumpulan homo sapiens mengenal bahasa.
Bahasa yang dipakai manusia akhirnya bermacam-macam. Ia bisa menciptakan bahasa dengan berbagai macam tergantung dari mana asalnya. Lokalitas membatasi kemampuan penyebaran bahasa dari manusia. Ada yang memang mirip dan ada yang sama sekali berbeda karena situasi budaya tertentu yang memang tidak terhubung sama sekali. Maka, jika makhluk manusia ingin menguasai kelompok manusia yang lain, ia harus mempelajari bahasa dari kelompok yang ingin ia kuasai.
Dalam lingkup yang lebih terbatas dan personal, penguasaan dan keinginan untuk mengontrol sangat terkait juga dengan mekanisme pertahanan manusia. Prinsip awal sebagai primata yang senada dengan makhluk lain adalah sebelum dikuasai yang lain maka haruslah menguasai. Ini sangat natural dan dialami oleh siapa saja. Ada seorang pribadi yang memang kritis, analisis, kemampuan secara intelektual tidak diragukan lagi. Ia sangat kuat dalam hal yang detil. Ia mempunyai kekuatan di dalam hal itu namun di sisi lain jika kita paham akan dua sisi mata uang, kemampuan atau kekuatan itu juga berdampingan dengan kelemahannya. Di balik kekuatan ada kelemahan.
Aku menemukan sebuah fenomena dalam diri pribadi manusia-manusia muda saat ini yaitu demikian: sebenarya mereka sangat terfasilitasi di masa hidup awal dalam keluarga namun sayangnya karena hal itu mereka menjadi miskin imaiginasi, rasa, dan afeksi. Belum lagi jika pola asuh ada yang salah, biasanya akan menjadi masalah lagi. Dari miskinnya rasa, imagi dan afeksi, yang berkembang kuat akhirnya adalah otak. Akal budi seperti segala-galanya. Dan dari sanalah seseorang itu menjadi kelihatan apakah ia sungguh cerdas secara utuh atau cerdas dalam tataran ide saja. Aku sangat menghargai mereka yang cerdas secara utuh (lengkap) daripada orang yang cerdas dalam tataran ide saja. Dan kerap kali mereka yang hidup di tataran ide inilah yang sering kali mempunyai karakter ingin menguasainya lebih kuat juga. Mereka seperti ingin mengalahkan yang lain karena kekuatannya ada di dunia ide, namun ketika ditantang ke tataran praksis, mereka biasanya berdalih (merasionalisasi). Itulah mengapa aku menemukan hal ini bermula dari otak.
Mereka berkutat pada tataran pemikiran, analisa, diskusi ini dan itu, berdebat, berkalkulasi, berteori konspirasi, dan sebagainya. Akhirnya, mereka biasanya ingin supaya dirinya diperhatikan, didengar, dianggap dan sejenisnya. Mereka biasanya miskin imaginasi, rasa, dan afeksi karena intelek itu cenderung manipulatif. Manipulasi itu akhirnya menciptakan ketidakjujuran, memoles diri, membuat serasa semua harus sukses, berhasil, berprestasi dan sebagainya, karena kalau itu tidak terjadi maka kegagalan, kerapuhan, borok itu terkuak lebar. Dan biasanya si idealis ini akan marah, merasa diri gagal, merasa ada yang menguasai, menyaingi dan sejenisnya.
Kegagalan dan kerapuhan bagi si idealis adalah runtuhnya dunia. Maka ide itu harus benar-benar sebaik mungkin. Itulah kiranya seperti kisah Pygmalion (dalam mitologi Yunani) yang karena pengalaman berelasi dengan wanita selalu gagal dalam hidup realnya, maka ia membuat imaginasi ideal mengenai wanita. Ia adalah pematung. Lalu ia membuat patung wanita dari pualam yang putih dan karena kemampuannya yang luar biasa, patung wanita yang ia ciptakan itu sungguh mirip dengan wanita yang sempurna. Itulah idealisme wanita dari Pygmalion. Karena saking idealnya patung itu, Pygmalio sampai menjadi jatuh cinta pada patung ciptaannya. Ia akhirnya menikahi patung idealisme ciptaannya itu dan tidak ingin menikah dengan wanita biasa dari manusia.
Kisah Pygmalion dan patungnya itu kiranya menjadi contoh bahwa kadang kita ingin hidup dan mencipta idealisme sendiri. Bahkan saking ekstremnya, kita ingin menikahi idealisme kita karena (1) berhadapan dengan realitas yang ada selalu tidak memuaskan dan (2) jika kita memiliki idealisme dalam hidup, aku seperti bisa menguasainya sendiri. Berbeda jika aku menikahi wanita yang sama-sama manusia, kadang tidak bisa menguasainya, atau malah si laki-laki dikuasai wanita. Itulah kiranya pelajaran yang dapat kuambil dari kisah Pygmalion.
Ada hal-hal dalam hidup ini yang memang tidak bisa kita kuasai. Namun bagaimana aku bisa menguasai diriku dan secara realistis memahami hal-hal yang terjadi dalam hidup, baik yang ada dalam diriku sendiri maupun di luar diriku, itulah yang kuperlukan. Maka, belajar terus untuk berani dengan rendah hati bukan untuk menguasai namun berani menjadi rendah, dihina, disepelekan, itu yang diperlukan, walau di sana jalan terjal dan menyakitkan itu kita alami. Apa gunanya kekuasaan jika kita tidak bisa menguasai diri sendiri.
#eveningtime#
