Sunday, November 16, 2014

Kekuatan Tradisi

Aku memang bukan orang yang tradisionalis. Walau demikian, aku selalu sadar bahwa kehidupan ini selalu akan ada dialektika atara tradisi dan inovasi. Aku masih ingat ketika diskusi dalam dunia pendidikan pun demikian adanya. Pendidikan selalu akan ada dialog antara tradisi dan inovasi. Tradisi memperkuat fundamen asali tentang jatidiri. Inovasi berbicara soal perkembangan dan kreativitas zaman. Tanpa keduanya pasti akan ada ketimpangan. Tanpa tradisi orang lupa akan sejarah dan fundamennya, berjalan tanpa dasar. Tanpa inovasi, orang akan mandeg dan tidak berkembang.

Bayangkan ketika dunia berisik dengan teriakan-teriakan kembali ke tradisi di sebagian kalangan. Ada yang melawan bahwa dunia akan selalu berkembang. Kita tidak hidup di masa lampau saja tetapi hidup kita juga punya cita-cita yang artinya masa depan. Memang kita menghidupi kekinian atau hic et nunc (di sini dan saat ini) tetapi sekali lagi dimensi masa lalu yang mempengaruhi diri kita tetap ada. Demikian juga dimensi masa depan dengan segala impian, harapan, cita-cita.

Aku mencoba menuliskan ini karena ada berbagai ide tentang keluarga, tentang kemajuan, tentang tradisi, tentang situasi yang banyak memberi contoh dalam hidup ini. Aku menyebut tradisi karena tradisi dimulai dari masyarakat/komunitas yang paling awali yaitu keluarga. Tradisi lahir dan dipelajari di sana. Tak mengherankan Taurat orang Yahudi sangat kuat dipraktikkan karena keluarga mereka kuat menularkan dari waktu ke waktu. Dalam makan bersama, saat itulah tradisi lisan itu selalu ditanamkan sejak nenek moyang mereka ribuan tahun sebelum Masehi sampai saat ini. Tradisi keluarga China/Tiongkok juga selalu mengatakan serupa bahwa kekuatan tradisi dalam keluarga itu tak boleh ditinggalkan. Sepertinya tetangga berseberangan dengan laut Jepang dan Semenanjung Korea, yaitu Jepang juga sama. Tradisi kuat menjamin komunitas kuat. Misalnya saja, tradisi menghargai yang lebih tua melahirkan sikap hormat kepada orang yang senior. Bukan berarti aku suka akan senioritas tetapi bahwa menghargai pribadi yang lebih tua berarti juga menghargai sebuah pengalaman. Ada pengalaman yang dibawa oleh orang-orang tua. Mereka dapat menjadi sumber atas apa yang terjadi di masa lampau. Menghargai mereka juga sebenarnya menanamkan semangat menghargai hidup karena hidup akan berjalan dan dari muda ke dewasa dan menjadi tua. Aku tertarik dengan sebuah pemandangan di sebuah sudut jalan di Yokohama beberapa waktu lalu. Ada bapak dan dua anaknya. Kedua anaknya cewek masih kecil-kecil. Yang menarik buatku adalah bahwa baak menuntun anaknya yang lebih besar dan kakaknya menuntun adiknya yang kecil. Sayang itu tak kufoto. Inspirasi ini membawa sebuah kesimpulan sementara: tradisi menuntun dari yang lebih tua ke yang lebih muda yang ada dalam pemandangan itu juga terjadi di kalangan masyarakat setempat.

Aku mencoba membandingkan dengan kegaduhan yang selama ini terjadi di negeri ini. Ada fenomena ekstrim satu dan ekstrim yang lain. Ada sebuah suasana di mana keluarga-keluarga muda saat ini tidaklah mempunyai kekuatan dalam menanamkan tradisi. Mereka telah terpola hidupnya dengan segala fasilitas yang ada. Kemudahan hidup telah melunturkan kekuatan tradisi dan tak mau lagi menghidupi tradisi itu. Oleh karena itu, Thomas Lickona, seorang ahli pendidikan karakter, mengatakan bahwa salah satu booming munculnya pendidikan karakter adalah karena keluarga saat ini tidak kuat dalam menanamkan tradisi karena di sana ada prinsip, pendidikan iman, dan norma-norma moral. Unsur-unsur tersebut tidak lagi digubris oleh keluarga-keluarga muda sehingga menyerahkan segala sesuatunya kepada sekolah. Muncullah pendidikan karakter.

Ekstrim yang lain adalah berisiknya kelompok-kelompok tradisionalis yang sebenarnya setengah-setengah menjalankan tradisi dan cenderung munafik dan eksklusif. Mereka hanya mementingkan kelompoknya dan cenderung memakai alasan agamis untuk menilai ini dan itu. Mereka sangat sentimen. Mereka tidak mau diajak diskusi dan dialog. Sebenarnya mereka tidak sangat paham akan kehidupan bersama. Mereka hanya hidup berdasar insting bestial (binatang buas), siapa kuat dia menang. Siapa berteriak keras, dia menang. Kekuasaan bagi mereka adalah kerasnya suara. Biar berisik asal berkuasa. Itu prinsipnya. Mereka tidak belajar dari sejarah bahwa dengan begitu mereka sebenarnya dikuasai oleh kekuasaan yang lebih berkepentingan. Mereka dimanipulasi dengan uang. Asal muasal mereka adalah kepentingan dan bukan tradisi. Kepentingan itu adalah kepentingan untuk melawan, kepentingan untuk tidak mau dipimpin oleh kelompok lain, kepentingan untuk selalu tidak mau diajak maju.

Dari dua kutub sama-sama ekstrimnya ini, aku selalu bermuara pada sebuah PR besar dalam dunia pendidikan. Pendidikan macam apa yang cocok di negeri ini? Sepertinya tanpa harapan untuk mendidik bangsa ini. Jika dididik baik di komunitas sekolah, hasilnya akan dirusak oleh komunitas keluarga (yang lebih kecil) dan komunitas masyarakat (yang lebih besar).  Dirusak artinya keluarga hanya menitipkan anaknya di sekolah dan hanya menuntut ini dan itu. Sedangkan orangtua tidak sepenuhnya concern dengan persoalan inti dalam pendidikan karakter. Masyarakat akan mudah merusak karena masyarakat menjadi ajang konkrit memberi teladan: korupsi, kekerasan, nepotisme, tak menghargai kehidupan dan sebagainya. Inilah yang membutuhkan kerja besar. Jika tidak berhasil, maka usul dalam benakku adalah dipecahnya wilayah yang terlalu luas dalam hal geografis maupun urusan negara. Pemecahan itu dapat lewat diplomasi tetapi juga dapat lewat peperangan saudara. Tinggal mana yang mudah dan berefek kuat entah positif maupun negatif.

Mengapa aku mengusulkan sebuah "pemecahan" wilayah? Terlalu luas juga tidak efektif. Terlalu luasnya wilayah urusan maupun geografis menyebabkan banyaknya hambatan dan tantangan dari sana sini. Butuh kontrol yang kuat. Sedangkan kita perlu realistis dengan luasnya wilayah dan urusan ini. Pertanyaanku selanjutnya: tradisi macam apa yang kuat untuk negeri ini? Sedangkan tradisi kita banyak sekali.


*keep moving to find an answer to build a better community and nation state.







#in my room, evening after raining