Tuesday, December 19, 2017

Akhir Tahun

Banyak peristiwa terjadi. Banyak orang-orang yang bertingkah. Banyak masalah. Selalu saja ada kejadian ini dan itu. Selama ada kehidupan, selama ada gunung meletus, kapal berlayar, banjir bandang, dan macam-macam hal, masih ada yang namanya masalah. Masalah akan berakhir jika kehidupan ini berakhir pula. Namun demikian, orang bisa saja menyebutnya masalah atau hal tergantung dari mana melihatnya. Apakah orang mau melahirkan adalah masalah? Apakah anak yang mau dilahirkan adalah masalah? Apakah mereka yang kena genangan banjir adalah masalah? Apakah banjir atau gunung meletus itu masalah buat loe? Itu lain lagi, tergantung bagaimana itu dilihat.

Masalah menjadi masalah misalnya ketika sebuah tindakan menjadi sebuah hal yang mengakibatkan kerugian yang cukup berharga entah bagi dirinya maupun pihak lain. Dalam pengalamanku ada hal demikian: ada orang yang melakukan tindakan curang saat ulangan atau tes, maka ketika diketahui oleh pihak yang memberi konsekuensi, maka yang bersangkutan juga harus konsekuen. Berani berbuat (yang tidak benar), berani juga bertanggungjawab. Mencontek konsekuensinya harus dikeluarkan dari sekolah, misalnya. Atau kalau ada yang memang dalam prestasi studi kurang baik, maka konsekuensinya adalah di waktu selanjutnya ia harus konsekuen memperbaiki diri agar berprestasi dan selamat dari jurang tidak naik di akhir tahun. Biasanya sesal baru munculnya belakangan. Itu hal biasa. Hal biasa yang kadang atau sering masih diperdebatkan dengan ini dan itu.

Di akhir tahun ini aku hanya ingin melihat bagaimana persoalan atau masalah itu bisa muncul karena diri sendiri atau karena kurang mau tahu atau karena terlalu menyepelekan hidup atau yang lain. Masalah sering juga datang karena ada pihak-pihak yang membuat pihak tertentu tidak mampu hidup wajar. Orangtua yang terlalu protektif akan membuat banyak alasan agar anaknya bisa "dibawa" mereka. Sayangnya ia atau orangtua yang demikian itu tidak memikirkan hal-hal yang merugikan sifatnya. Misalnya, apakah ia memikirkan bahwa sikap protektifnya itu bisa membuat anak tidak berkembang dan tidak mampu memutuskan dengan kemandiriannya? Apakah ia tidak memikirkan bahwa anak perlu belajar berpikir sendiri dan memutuskan sendiri? Apakah ia tidak memikirkan bahwa suatu saat orangtua tidak akan bisa terus "membawa" anaknya ketika anaknya sudah bekerja dan dewasa? Apakah ia tidak memikirkan bahwa suatu saat orangtua juga akan mengalami akhir sebuah kehidupan dan mati? Apakah saat mati ia akan "membawa" anaknya?

Setidaknya akhir tahun ini banyak hal terjadi dan aku mengalami beberapa "masalah" atau perihal sebenarnya yang bagiku biasa namun bagi orang lain harus dipahamkan sebagai hal yang selayaknya itu biasa. Namun karena hal-hal tadi itu baginya atau mereka kurang disadari sepenuhnya dan kurang diterima maka harus disadarkan untuk menerima dan disadari. Akhir tahun menjelang Natal membawaku pada sebuah peristiwa-peristiwa hidup yang harus dimaknai sepanjang perjalanan ini. Tidak ada yang perlu disesali kalau itu sudah menjadi konsekuensi dari mekanisme alamiah sebuah proses perjalanan. Tidak perlu banyak berkilah jika itu memang konsekuensi dari tindakan yang tidak benar secara prinsip maupun moralitas.

Ada anak yang kemampuan belajarnya kurang. Keluarga tidak mampu. Namun karena sebuah komitmen bersama, kadang harus merelakan dia mundur daripada kesulitan berada di sini. Ada anak yang bertindak curang dan tertangkap basah, maka konsekuensi diundurkan juga perlu diterima dengan lapang dada. Kita saling belajar komitmen, konsisten dan bertanggungjawab dalam hidup. Inilah kadang yang dirasakan "sakit" oleh sebagian pihak jika tidak siap menerima konsekuensi.

Aku pun masih terus belajar dari Anak Manusia yang konsekuen dengan perutusannya. Ia komitmen. Ia bertanggung jawab. Ia jujur dengan realitas yang ada. AMDG.



"The way to see the problem is the problem"





#noontimeinmyoffice#