Sunday, August 6, 2023

Koentji

"Orang yang paling paham dan tahu betul tentang sesuatu (halnya) adalah orang yang paling pertama akan melanggar hal yang dipamahi itu ". Aku menemukan ini dalam sebuah benda yang dipakai untuk membuka dan sekaligus menjalankan sebuah mesin. Ya, itulah koentji. Entah dari zaman kapan benda atau alat itu ditemukan dan dibuat. Aku belum menelusurnya dalam glosary pengetahuan dan biasa kita sering pakai di era ini adalah "mbak google". Koentji bukan saja sebuah alat, orang bisa saja mengatakan istilah itu sebagai sebuah sifat. Seperti dalam film yang terkenal di era Orba sebagai film propaganda ada ungakapan bahwa "Djawa adalah koentji". Namun yang ingin kubahas kali ini adalah sebuah alat (benda) dan bukan sifat itu. 

Di sebuah komunitas, ada aturan yang disepakati bersama. Cara bertindak itu demikian: "Jika seseorang ingin bepergian, ia haruslah menulis di sebuah papan dan jikalau mau memakai kendaraan tertentu, haruslah ia menuliskan kendaraan mana yang akan dipakai, kapan, dengan sopir siapa." Itu bisa dibuat bersamaan atau bisa saja pesan jauh-jauh hari sehingga jika ada orang yang mau pakai, maka bisa saling tahu. Andai dibuat bersamaan pun bisa asalkan tidak mau memilih manakah yang yang harus dipakai atau yang ada ya itu yang dipakai. Aturan itu bertujuan untuk (1) segala sesuatunya terkomunikasikan, (2) orang lebih sadar akan arti pemakaian alat transportasi mana yang kita gunakan sehingga bisa mengontrol bersama apakah ia memakai dengan baik, apakah bahan bakar juga diisi jika sudah berkurang, ada batas waktu dan sebagainya. Setidaknya dua hal itu yang kupahami mengenai kebijakan itu.

Suatu hari mobil A itu ada di garasi. Namun ketika dicari koentjinya koq tidak ada. Aku mencoba mencari tahu pertama-tama kepada para sopir yang biasa memakai karena jenis pekerjaannya adalah menyopiri dan merawat mobil-mobil yang ada. Respon dari semua sopir adalah negatif. Artinya mereka tidak pada tahu. Aku akhirnya hanya menunggu momentum siapa yang nanti akan memakai mobil A itu. Untungnya hari itu aku tahu siapa yang akhirnya memakai mobil itu. Dan itulah momentum yang kutunggu. Ternyata orang yang sebenarnya paham betul bahkan sudah lebih lama memahami pola halnya, dialah yang paling pertama melanggar hal itu. Mengapa aku katakan itu, karena dengan alasan apapun hal sederhana ini menunjukkan bahwa tidak mudah untuk konsisten dan berpola yang sama. Aku menanyakan ke sopir-sopir karena pengalamanku sebelumnya mereka juga kadang lalai mengembalikan koentji pada tempatnya. Di lain sisi aku juga prihatin karena ada orang yang polanya kusebut sebagai yang tadi, yaitu harusnya tahu betul tetapi lebih dari satu kali ini aku menemukan pola yang berulang. Artinya, apakah orang itu pelupa atau memang polanya sama walau tidak sering?

Menyimpan sebuah koentji terlalu lama dan tidak menulis dalam pemesanan mengartikan bahwa sepertinya alat itu ingin disimpan supaya tidak dipakai orang lain. Walau pada akhirnya ia menulis di papan tetapi ketika di buku pemesanan kendaraan tidak ada, itu juga akan lebih membingungkan. Sebenarnya di setiap mobil ada buku kecil yang dipakai untuk mencatat setiap kali dipakai namun itu tidka efektif terpakai. Sebenarnya itu dipakai jika ada keluhan tentang kendaraan yang habis dipakai. Misalnya, setelah dipakai koq menemukan ada lampu rem yang mati maka bisa dicatat mengenai keluhan atau kerusakan itu. 

Mengambil koentji dan tidak mencatat sedangkan kendaraannya masih ada menimbulkan syak wasangka: "siapa yang mengambil koentji?" dan ditambahi "ini orang lupa atau memang ingin menyimpan koentji terlalu lama?" Akhirnya yang bisa kulakukan pertama-tama memahami pola orang itu. Mungkin ia ingin menyimpan lebih lama dari kebiasaan yang sebenarnya menulis dulu baru ketika akan memakai baru diambil koentjinya. Dengan menuliskan, kita sudah membooking itu dan tidak akan ada orang yang memakai di hari dan jam itu. Dengan tidak menulis, orang cenderung akan mencari siapa, di mana, untuk apa? 

Orang tahu seharusnya memesan dulu kapan, ke mana dan manakah yang akan dipakai bukan malah mengambil koentji itu tanpa ada catatan yang terkomunikasikan. Komunikasi baru dipahami orang lain ketika sebuah mobil dipakai dan ternyata dia yang memakai dan tidak mencatat. Memesan itu akan menolong diriku dan orang lain berkomunikasi. Seandainya alat itu akan dipakai orang lain, maka bisa dinegosiasi sebelumnya sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. 

Di sini akhirnya, komunikasi adalah "koentji". Mungkin hanya menulis pemesanan namun itu adalah sebuah hal yang berbicara banyak, seperti: aku ingin terbuka pada orang lain, aku mengkomunikasikan maksudku, aku butuh alat ini, kapan, dan ke mana. Selain itu aku juga memperhatikan supaya tidak ada orang yang curiga dan mencari-cari, membiasakan diri untuk menaruh pada tempatnya dan sekaligus memakai pada saatnya.   


#eveningtime#