Friday, December 30, 2022

Perputaran

Setiap saat kita mengalami perubahan. Entah perubahan itu dalam waktu cepat atau lambat. Kita semua itu revolutif sekaligus evolutif. Bumi pun mengalami gerak itu.  Ada yang namanya rotasi. Kita mengalami setiap hari, karena lamanya 24 jam. Maka ada siang dan malam. Sedangkan kalau revolusi, kita alami setiap 365 seperempat hari atau setahun. Maka ada pergantian tahun. Menurut beberapa sumber yang kubaca kecepatan mengelilinginya kurang lebih 100.000 km/jam. Sedangkan kecepatan rotasi adalah 1.670 km/jam. Gerak planet biru ini juga membuat makhluk hidup di atas dan di dalamnya juga bergerak. Ada peristiwa-peristiwa. Ada perubahan. Ada yang tetap. Ada yang hilang. Ada yang tumbuh. Ada yang bergerak cepat. Ada yang bergerak cepat. Ada yang karena kecepatan jadi kecelakaan, ada yang bertumbukan. Ada yang melambat. Ada yang melompat cepat. Cepat atau lambat itu akhirnya juga relatif. Kecepatan yang paling cepat adalah kecepatan cahaya. Belum ada yang menandingi. Kita baru memakai km/jam dan belum memakai kecepatan cahaya. 

Tahun 2022 akan berpindah ke tahun 2023. Tutup tahun 2022 pasti akan dirayakan dengan menyambut tahun 2023. Setiap tahun akan ada acara tutup tahun dan menyambut tahun baru. Ada bunyi terompet. Ada kumpul-kumpul. Ada pertunjukan-pertunjukan, dan masih banyak lagi. Sepertinya setiap tahun selalu sama. Ada juga sih yang beragam cara merayakannya. Tetapi untuk saat ini aku merasa bahwa perayaan-perayaan seperti itu harus kualami sebagai hal yang rutin dan tidak perlu selalu diikuti. Ya, mengikuti dengan sikap "low profile" saja. Hura-hura, hiruk pikuk, pesta pora, bukan duniaku. Istilahnya "it's not me". Aku cenderung melihat semua itu dalam kacamata batin yang lebih hening. Melihat perubahan, perputaran semua itu adalah bagian dari jalan hukum-hukum alam semesta. Orang-orang mencari momentum dan tempat untuk merayakan. Bagaimanapun aku juga tidak bisa menilai yang lain-lain itu jelek. Itu soal selera. Dan soal selera tidak bisa diperdebatkan.

Rasanya secara jagat cilik, duniaku selama sehitungan revolusi bumi ini adalah masa-masa penuh

pergolakan. Ada suka. Ada duka. Ada kegembiraan. Ada kesedihan. Ada kegalauan. Ada harapan. Namun demikian, aku merasakan dan menyadari bahwa hidup itu tidak selalu datar. Hidup kadang naik, kadang turun. Kadang itu menyenangkan secara fisik dan psikis. Kadang itu menyeramkan, mencemaskan, membuat galau, kalut dan sebagainya. Hidup itu ada dalam ruang dan waktu, tidak ada yang selalu sama dan tidak ada yang selalu berubah dan sebaliknya. Perubahan itu niscaya. Yang tetap pun ada. Jagat gedhe memang juga ada banyak pergolakan. Ada perang di zaman ini (Rusia vs Ukraina). Perang-perang kecil pun terjadi dimana-mana. Ada kemenangan, ada kekalahan dalam piala dunia yang diselenggarakan di Qatar beberapa waktu lalu. Ada bencana alam. Ada kerusuhan. Ada kematian ratusan jiwa di Malang. Ada bencana dimana-mana, seperti Cianjur. Banjir, gempa bumi, tanah longsor seperti langganan tiap tahun.  Tapi masalahnya adalah random, kita tidak bisa menebak dimana akan terjadi. Tindakan preventif pun -karena saking bebalnya- jadi tidak berguna karena alat pendeteksi banyak dicuri, analisa dan informasi tidak segera diumumkan dan sebagainya. Manusia masih banyak bebal dalam belajar.

Aku percaya pada perubahan. Aku percaya pada dinamika. Tidak ada sesuatu yang selalu akan sama. Walau ada yang mengatakan "tidak ada yang baru di bawah matahari". Memang. Secara prinsip mungkin sama, tak ada perubahan. Namun secara gerak, bentuk, macam, cara kadang ada perubahan. Bahkan aku pun mempercayai bahwa suatu saat institusi besar yang namanya "pasamuan suci" ini akan berubah, dan aku mendambakan perubahan. Entah perubahan itu radikal atau tidak. Kalau yang radikal itu masih ditakuti atau ditolak, maka perlu perubahan yang pelan mungkin. Perubahan itu ada dalam angan dan harapan di hati. Judul-judul lagu yang dinyanyikan Chrisye pun mungkin mewakili. "Badai pasti berlalu". Ada "Kidung" yang syairnya berbunyi "Tak selamanya mendung itu kelabu." Perubahan itu pasti ada. Perubahan dari yang baik ke yang buruk atau dari yang buruk ke yang baik. Entah kapan akan terwujud. Tidak semua perubahan itu kita ketahui. Ada juga sih perubahan yang kita desain, rancang, dan buat. Aku banyak belajar sabar, rendah hati, menerima kepahitan dan pengkhianatan dalam hidup. Kadang terasa menyakitkan. Kadang harus kuterima sebagai akibat dari kesalahan dan kerapuhanku. Itulah nuansa-nuansa dinamika dalam menjalani hidup dan perputaran di atas planet bumi ini. 

Persoalannya adalah kadang kita ingin cepat-cepat. Kita tak mau melambat. Bahkan kadang dalam hidup ini seolah-olah semua itu harus cepat. Zaman ini memang semua serba cepat. Bahkan gaya main sepak bola pun mengandalkan kecepatan. Yang cepat itu memang tidak membosankan. Namun ketika kecepatan yang diutamakan, maka sering yang terjadi adalah mudah hilang dan lupa. Itu fenomena zaman ini. Semua serba cepat, bahkan makanan pun cepat saji. Mengunyah itu rasanya saat ini menjadi sesuatu yang tak biasa. Tubuh manusia itu hanya menerima yang sudah diolah, pabrikan. 

Di kesempatan refleksi dan merenung di akhir tahun ini, aku hanya mau mengutip apa yang ditulis oleh Pierre Teilhard de Chardin. Sepertinya yang terurai olehnya itu mewakili pergumulanku, peristiwa-peristiwa hidupku selama setahun ini:

Above all, trust in the slow work of God.
We are quite naturally impatient in everything 
to reach the end without delay.

We should like to skip the intermediate stages.
We are impatient of being on the way
to something unknown, something new.

And yet it is the law of all progress
that it is made by passing through
some stages of instability - 
and that it may take a very long time.

And so I think it is with you;
your ideas mature gradually - let them grow,
let them shape themselves, without undue haste.

Don't try to force them on,
as though you could be today what time
(that is to say, grace, and circumtances acting on your own good will)
will make of you tomorrow.

Only God could say what this new spirit
gradually forming within you will be.

Give Our Lord the benefit of believing
that his hand is leading you,
and accept the anxiety of feeling yourself 
in suspense and incomplete.




#noontimebeforelunch#

Monday, December 19, 2022

Pertolongan dari Atas

Mungkin ini adalah sebuah pembuktian sekaligus pemenuhan. Setelah 36 tahun lalu juara itu diraih, saat ini baru kembali. Aku telah menulis di coretanku sebelumnya, ketika itu aku masih 10 tahun, sebagai anak kecil. Entah mengapa legenda sang juara itu akhirnya membuatku harus jatih cinta pada sepakbola dan negaranya setiap kali ikut kejuaraan dunia. Aku sendiri tidak fanatik dengan negaraku tapi dengan negara sang legenda ini. Ketika juara aku ikut senang, ketika kalah aku ikut sedih. Apakah pengalaman membekas 36 tahun lalu itu yang membuatku demikian? Aku sendiri tidak tahu. Dan malam dini hari tadi, negara sang legenda telah menorehkan diri sebagai juara ketiga kalinya. Sang legenda melahirkan legenda baru, "sang Messiah". Aku pun menonton pertandingan dari awal sampai akhir, bahkan sampai penyerahan piala karena mengingat 36 tahun lalu aku melihat hal yang sama.

Ada sebuah foto menarik di sebuah majalah mainstream. Foto itu seolah mewakili kegembiraan hari ini karena pembuktian dan pemenuhan itu terjadi dini hari ini tadi. Setelah itu dirindukan selama 36 tahun dan akhirnya terwujud. Dalam foto itu, ada sang legenda baru dengan piala benuanya dan sang legenda lama dari atas dengan piala dunianya. Itu merupakan gaya dari gambar Michaelangelo tentang penciptaan Adam, sebuah fresco di dinding langit-langit kapel Sistina di Vatikan. Nah, kalau kita ingat akan gaya itu, maka lukisan itu dibuat sama gaya penampakkannya. Sang legenda lama menjadi "Allah" yang memang disebut-sebut sebagai "el Dios" dari negeri ini. Sedangkan legenda baru menjadi "Adam"-nya. Tulisan di bawahnya disebutkan "Mandas en mi corazon". Aku mencoba mencari tahu terjemahannya. Arti secara umumnya adalah "you rule my heart". Memang rakyat negeri itu memohon dengan sangat setelah sekian lama kehausan jadi juara. Ketika sebuah negeri yang sering dilanda pergolakan, di sanalah sosok legenda, pahlawan itu diimpikan. 

Menunggu sekian lama dan tentu itu tidak mudah. Lebih banyak menyakitkannya daripada menyenangkannya adalah hal yang terjadi saat orang menunggu. Menunggu pun penuh ketidakpastian. Seorang sastrawan pun menyebutnya sebagai "jangan sampai saat menunggu itu kita dihempaskan oleh harapan itu sendiri" (walau ia menyebutnya "terhempas oleh cinta"). Ya, kadang saat menunggu itu kita seolah diombang-ambingkan oleh harapan dan cinta. Bisa saja karena saking berharap itulah kita juga terhempas. Iya kalau harapan itu segera dipenuhi oleh waktu. Jika tidak, maka kita pun dituntut untuk bersabar dan menunggu lagi dan lagi. Entah sampai kapan. Dini hari tadi adalah pembuktian dari kegigihan dan ketekunan berusaha dalam penantian. Terlepas dari semua hal yang ada, apa yang didoakan, diharapkan, didaraskan setiap saat di hati ini tentu akan terdengar oleh semesta, entah kapan semesta akan memenuhinya. Aku tak pantas mengutuk pada semesta dan waktunya ketika harapan itu sering kandas. Waktu akan menjawab dengan pemenuhannya sendiri. Waktu yang kuharapkan sering tidak seperti yang sang waktu jawab. 

Dalam sebuah pertandingan hanya ada kalah, menang, dan atau seri, tergantung sistem kompetisinya. Dengan "nasib" itu semua, kita hanya bisa menyiapkan diri untuk menerima manakah yang akan kita terima di akhir. Jika menang, kita akan bergembira. Jika kalah, kita tentu sedih. Jika seri, di sana masih ada harapan untuk menang. Aku sadar bahwa hidup ini harus menyiapkan semua itu. Hidup yang disiapkan akan jauh lebih antisipatif daripada tidak. Apapun yang akan terjadi dan dihadapi pastilah konsekuensi dari apa yang kulakukan, dengan segala hal yang menyertainya (keluarga, anak, suami, istri, rekan kerja, komunitas, situasi politik dan lain-lain). Hidup ibaratnya sebuah pertandingan itu sendiri. Aku harus siap kalah, menang, atau seri. 

Dulu motto hidupku adalah "aku suka kemenangan karena dunia suka kemenangan". Itu adalah motto yang kuadopsi dari seorang pemain bola asal Bulgaria, Khristo Stoijkov. Dia haus goal. Dia penyerang yang juga pemain Barcelona. Pada eranya, Bulgaria menjadi negara yang disegani dan dia sangat ambisius dengan kemenangan. Saat ini, aku perlu mengoreksi diri bahwa hidup ini bukan hanya kemenengan demi kemenangan namun ada juga kekalahan demi kekalahan. Kegagalan dalam hidup bukanlah akhir dari segala. Walau aku harus terpuruk, aku mencoba bangkit lagi walau itu tidak mudah. Ketika mengalami tentu banyak hal yang kualami: malu, malas, sakit, kecewa, murung, tak semangat, dan segala macam suasana hati yang gelap. Bahkan bisa jadi orang mau mengakhiri hidupnya ketika gagal dalam hidup. Itulah sebab karena saking gelapnya dunia.

Hari ini aku merasa bahwa seluruh doa-doa rakyat Argentina didengarkan Diego Maradona dari atas. Messi telah terpenuhi keinginannya untuk mengangkat piala dunia itu. Itulah pertolongan "el Dios". Seterpuruk-terpuruknya dan "desperate"-nya hidup tentu ada pertolongan, entah itu akan terjadi kapan. Itu bisa saja dalam hitungan bulan, tahun, abad, dan sebagainya. Yang kukatakan ini adalah sebenarnya cerminan dari harapan itu sendiri. Tanpa harapan, aku tidak bisa menuliskan apa yang kuocehkan ini. Harapan itu melahirkan pertolongan dari atas. Itulah kado terindah di akhir tahun 2022 ini. Kemenangan ini akan diingat oleh banyak orang dan akan selalu abadi.

Muchas gracias, Messi. Muchas gracias, Don Diego...!! Bravo, Argentina !! Mandas en mi corazon...


#inmyroom#



Monday, November 7, 2022

Hupokrinesthai

Pagi ini, aku keluar untuk ke Alfamart. Sepulang dari sana, di jalan aku melihat beberapa petugas Satpol PP yang foto-foto bersama di pinggir jalan. Aku bertanya-tanya kenapa orang itu cenderung suka foto, selfie, atau mendokumentasikan dirinya? Sedang aku saat ini sangat anti akan hal itu. Lantas apakah ini bagian dari kepura-puraan? Ini bagian dari pemanis dan pemulas dari yang sebenarnya terjadi? Bisa jadi. Aku lantas ingat dengan tulisan Alissa Wahid beberapa waktu lalu. Dia menyorot soal "pesohor'. Intinya adalah bahwa di zaman medsos ini, setiap orang berpeluang menjadi "pesohor" asalkan dia hidup dalam sorotan media sosial atau menyorot diri sedemikian rupa sehingga menjadi terkenal. Dengan demikian, ketersohoran bukan lagi karena keahlian di bidang tertenu namun karena kemahirannya menyorot diri sedemikian rupa sehingga ia menjadi "media darling", "viral", "influencer", dan pemakai platform media lainnya. 

Aku lantas menjadi semakin bertanya, sebenarnya apa sih yang dicari selama orang suka masuk dalam dunia platform itu? Atau setidaknya mengapa orang suka mengekspose dirinya sehingga menjadi "sorotan" di seantero media? Apakah ketersohoran itu sebuah pencarian yang berujung pada tujuan? 

Aku lantas ingat sebuah kata, "hipokrit". Apakah ini sebuah bagian dari kemunafikan? Orang cenderung menutupi, memulas, memoles, bersolek dengan foto dan video dengan editan daripada kehidupan real yang dialami. Bisa jadi awalnya adalah memudahkan orang untuk melaporkan bahwa "saya sudah mengerjakan ini dan itu, saya berada di sini dan situ, saya sedang ini dan itu". Lantas karena menjadi keseringan, dan itu sangat mudah, tinggal "klik" dan "send" maka apa yang dilakukan sudah dilihat pimpinan, rekan, dan keluarganya. 

Para pasukan oranye atau yang berwarna apapun di Jakarta ini sudah sering kulihat melakukan hal yang sama untuk sekedar melaporkan atau mengupdate pimpinan atau grup-nya tentang apa yang dikerjakan. Memang mudah dan praktis, "klik" dan "kirim", seolah semua itu sah. Aku kemudian menjadi sanksi dengan kualitas kerja mereka yang hanya formalitas kirim-kirim foto ke sana ke mari hanya untuk memoles bahwa seolah-olah itu sudah terjadi. Perkara kualitasnya nomer sekian, itu mah nanti. 

Nah, persis di situlah kata "hupokrinesthai" yang adalah akar kata dari hipokrit itu. Artinya sendiri adalah berpura-pura menjadi atau berperan atau melakukan seperti... Atau kata lainnya adalah aktor dalam seni teater. Kepura-puraan itulah yang kemudian didukung oleh teknologi saat ini yaitu teknologi informasi dan telekomunikasi dengan media yang super canggih. 

Kemunafikan sudah mendapat wadahnya. Kemunafikan sudah difasilitasi. Orang tidak kenal lagi atau sangat amat asing dengan otentisitas diri dan aktivitasnya. Semua itu polesan dan serba hiasan luaran belaka. Orang lebih senang memoles daripada hidup dalam keaslian diri. Walau itu baru mulai, tetapi sudah difoto dan video, seolah-olah aktivitas itu sudah "marketable". Orang lupa pada kesejatian. Memang ini berbeda pendekatan. Ada yang mementingkan isi. Ada yang mementingkan bungkus. Namun kalau keduanya hanya pepesan kosong, lantas apa yang bisa dipegang? 

Kemunafikan sudah menguasai hidup. Oleh karenanya, orang cenderung hanya bangga dengan foto yang menjadi "status" luaran yang nampak. Orang menjadi puas seolah ia sudah melakukan yang terbaik. Orang bangga karena bisa update status dengan segala manipulasinya. Orang cenderung terasing dari kesejatiannya. Ia tak kenal lagi siapa dirinya. Dan bisa jadi dirinya adalah yang carut-marut, bisa jadi ia adalah psikopat akut yang memoles diri dengan manipulasi canggih, bisa jadi ia adalah yang berlawanan dari apa yang ia gambarkan dalam "statusnya". 

Pagi ini, diiringi hujan, aku hanya menuangkan sekdar pikiran dan pertanyaan yang tadi sempat tersirat dalam benakku. Dan mungkin ini sebagai bagian dari refleksiku dalam perjalanan hidup ini.


#morningrain#

Wednesday, November 2, 2022

Recuérdame

Kisah ini hanya dari sebuah cerita dari film tahun 2017.  Namun kisah itu sudah beberapa kali kuulang dalam sebuah moment berbagi. Terlebih untuk hari ini aku memang mendedikasikan bagi seluruh pribadi atau jiwa-jiwa yang sudah dimuliakan Hyang Kuasa ke haribaanNya. Aku perlu mengingat karena mengingat itu adalah sebuah tindakan itu sendiri. Mengingat adalah cara bertindak untuk merengkuh dan menyatukan kembali. Mengingat adalah menghadirkan kembali (anamnese). Mengingat adalah sebentuk mencintai itu sendiri. Tanpa sebuah ingatan akan sebuah hal, kejadian atau sosok pribadi atau banyak pihak lain yang singgah dalam perjalanan hidup, rasanya kehidupan ini hanya sebuah slide yang berjalan tanpa makna. Ingatan itu membantu memaknai. Oleh karena itu, bagian dari sejarah yang terpenting adalah ingatan. Sejarah bukan menghafal walau itu juga harus memakai ingatan. Ingatan jauh lebih dalam daripada sekedar hafalan. 

Seorang bocah bernama Miguel itu akhirnya berjumpa dengan leluhurnya karena ada sebuah ingatan yang awalnya dipertanyakan. ia bertanya mengapa ada leluhur yang dalam foto di rumahnya, bagian kepalanya disobek. Waktu itu, ia ingin mengikuti lomba seni musik. Namun sayang ia tidak punya alat musik. Ketika di sebuah makam, ia menemukan di sebuah nisan, ada gitar putih yang diletakkan di situ. Ia bergembira karena ia akhirnya menemukan alat musik yang hendak dipakainya untuk lomba. Namun sayangnya, ketika menyentuh gitar itu, ia justru dibawa ke alam kematian. Ia berjumpa dengan jiwa-jiwa yang ada di sana. Dan karena itulah, ia kemudian bisa merunut, siapa sebenarnya sosok foto keluarga yang bagian kepala (wajah) disobek. Ternyata itu adalah foto ayah dari nenek buyutnya. Ia bertemu "Mbah Canggah"-nya (dalam istilah Jawa-nya). Ternyata "Mbah Canggah"-nya adalah seborang musikus, setidaknya gitaris pada zamannya. Namun demikian, keahlian "Mbah Canggah"-nya itu justru yang menjadikan keluarga mereka menyobek foto itu. Mengapa demikian?

Keluarga tidak selalu menginginkan anggotanya menjadi seorang musikus karena alasan bahwa musikus itu profesi yang tidak menghasilkan uang. Menjadi musikus itu ibaratnya profesi yang tidak bisa diharapkan mampu menghidupi keluarga. Itulah mengapa keluarga besar membenci Mbah Canggahnya itu. Namun demikian, bagi Miguel, justru peristiwa itulah yang kemudian menyadarkan dirinya untuk mengingat keluarganya itu. Dalam tradisi Katolik Mexico, ketika orang tidak lagi mengingat salah seorang anggota keluarganya, ibaratnya ia sudah tidak lagi dianggap dalam kalangan keluarga besar atau kecil. Bahkan saat mendoakan arwahnya pun ia tidak diingat lagi karena tidak memenuhi harapan keluarga. Inilah yang menyadarkan Miguel untuk kembali membangkitkan harapan dalam keluarganya supaya tidak meniadakan atau mengasingkan atau membunuh bahkan ingatan itu. Sejelek-jelek atau setidak baiknya pribadi dalam keluarga itu dan tidak mampu ia memenuhi tuntutan keluarga, tidak baiklah jika pribadi itu dilupakan dari memori keluarga. Melupakan itu sama saja dengan meniadakan atau mengubur dalam ketidakingatan. Digambarkan dalam film itu, ketika jiwa-jiwa tidak lagi diingat atau didoakan atau diperingati, maka mereka akan terhapus dari dunia orang-orang mati dan entah kemana kita tidak tahu. Maka jiwanya akan menghilang seperti lenyap dalam asap dan tidak kelihatan lagi. 

Entah itu keluarga dekat atau hanya kenalan atau saudara jauh sekalipun, jika itu ada dalam ingatan kita, maka kita tetap memberi kehidupan baik di dunia dan di akhirat. Di dunia ini, kita masih berziarah dalam perjuangan hidup. Di akhirat, kita tidak tahu seperti apa situasinya, setidaknya kita memberi asa bahwa kita mengingat mereka. Mengingat adalah menghidupi, menghadirkan, merengkuh, mendukung, memberi sapaan, dan kita percaya bahwa mereka adalah pendoa bagi kita yang masih berziarah di dunia ini. Aku lantas terngiang bahwa kita semua masih berada dalam perjuangan dan seperti terhempah dalam lembah kedukaan di dunia ini. Seperti dalam kidung Salve Regina, kita bernafas terengah-engah dan menangis dalam lembah air mata, "gementes et flentes in hac lacrimarum valle." 

Mengingat banyak hal, banyak peristiwa, banyak pribadi-pribadi, baik yang masih hidup dan sudah meninggal, aku pun diajak mengingat banyak rahmat dan pergulatan yang pernah terjadi. Lagu "Remember me" atau  "Recuérdame" itu mengajak bermenung tentang hidupku, peristiwa-peristiwa dan tentu relasi yang pernah kita buat. Keluarga akhirnya mengajarkan kepada kita untuk hidup dan berdamai dengan masa lalu juga. Jika ada kekurangan, tentu itu bagian dari peziarahan. Sesuatu yang pada masa lalu tidak diharapkan oleh keluarga bisa didamaikan asal kita semua terbuka dan mau rendah hati memeluk kerapuhan kita dan keluarga kita. Mengingat adalah menyembuhkan dan menyatukan. 

Sambil mengingat dan mendoakan semua jiwa yang sudah dipanggil Tuhan, aku mengingat doa yang tiba-tiba dari kesadaran primordialku muncul kembali, yaitu Salve Regina (Salam, ya Ratu), karena sang Ibulah yang sudah mencarikan jalan lewat lorong-lorong lembah duka itu menuju kepada Firdaus kembali. Sang Ibu telah menjadi penolong dan pembelaku dalam menyusuri jalan setapak di dunia ini dari keterbuangan di lembah air mata. Tak lupa aku juga mengingat akan sekian banyak orang yang turut mendoakanku dalam pergulatan hidup ini, mereka yang dengan berani membelaku dan berkata bahwa mereka ada di sisiku dan mendoakanku. Maka doaku yang kubaharui lewat terjemahan dari bahasa asali dan nuansa yang lebih mengena, kutuliskan demikian: 

Salam ya, Ratu. Ibu yang berbelaskasih, salam dari kami, hai Engkau yang hidup, yang manis, dan harapan kami. Kami, anak-anak Hawa yang terasing ini, menangis kepadamu. Kepadamu, kami bernafas terengah-engah dalam lembah air mata ini. Ya, Ibunda, pembela kami, arahkanlah matamu kepada kami yang malang ini. Dan tunjukanlah, Yesus, buah rahimmu kepada kami, agar kami diberkati dalam pengasingan ini. O, penyayang, O, engkau yang saleh, O, Perawan Maria yang manis.


#mementomori#

Saturday, October 29, 2022

Si Bung Besar

Tokoh kita tak lain adalah Si Bung Besar. Sosok ini telah membuat banyak orang di negeri ini terpana dan sampai saat ini telah dibuatnya jatuh hati. Dari rakyat jelata sampai tokoh publik pun tidak bisa mengelak bahwa Si Bung Besar itu telah berjasa walau tentu ada kekurangannya. Kalau kita hanya melihat sosok dari satu sisi, memang kita cenderung jadi fanatik atau sebaliknya: antipati. Kita perlu melihat secara berimbang segala sesuatunya. Seorang tak lepas dari kekuatan dan kelemahannya. "Never judge anyone shortly because every saint has a past, and every sinner has a future," kata Oscar Wilde. 

Aku mencoba melihat dari akhir masa hidupnya. Dia masih sangat energik dan bersemangat untuk berjuang bagi negeri ini. Bahkan di masa akhir kepemimpinannya, ia masih berambisi untuk menyerang negeri seberang dengan kata-kata "ganyang!" Sebuah ungkapan kata yang agresif dan menakutkan. Agitasi yang dibuatnya memang membuat banyak pihak gentar dan marah. Kemarahan yang ditimbulkan dari ancaman si Bung Besar memang akhirnya memakan dirinya. Dirinya dimakan oleh kemarahan dan dendam orang-orang di sekitarnya. Dendam dan kemarahan orang-orang di sekitarnya telah membakar dan meluluhlantakkan segala yang dirancang si Bung Besar. Dan seolah-olah kata "ganyang" itu memakan dirinya sendiri yang "terganyang" oleh balas dendam dan kemarahan pihak lain. 

Aku teringat bagaimana di masa mudanya, ia adalah sosok yang berjuang sampai diasingkan dan akhirnya di akhir masa kekuasaannya ia pun mengalami "pengasingan". Musuhnya tahu betul bahwa pengasingan yang sepi dan jauh dari siapapun membuatnya pelan-pelan mati karena semasa hidupnya ia pernah mengatakan, "Jika ingin membunuhku, jauhkanlah aku dari rakyatku". Dan seolah apa yang dikatakan itu jadi hal yang dipakai untuk membunuhnya sendiri. Ketika zaman kolonial Belanda, ia diasingkan ke berbagai tempat: Digul, Flores, Sumatra. Dan ketika di masa akhir kekalahannya, ia "diasingkan" sebagai tahanan rumah di Wisma Yasso. Itulah perjalanan hidupnya. Itulah perjalanan si Bung Besar yang ternyata ketika muda diasingkan dan di masa tua juga diasingkan. 

Pengasingan bisa jadi penyemangat ketika masih bisa dekat dan berbuat sesuatu. Namun pengasingan bisa jadi senjata pembunuh ketika semua dibatasi dan diawasi, tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Ketika di Flores, si Bung Besar masih bisa menjalankan aktivitasnya sebagai pembaca buku, menulis, dan bermain teater bersama masyarakat sekitar. Pengawasan dari Belanda ada namun tidak seketat ketika di Wisma Yasso. Hidupnya di Flores masih bisa berdiskusi dengan warga sekitar. Ia masih bisa berdiskusi dan membaca buku di perpustakaan biara salah satu tarekat katulik. Ia berdiskusi dengan pastur Johanes Bouma dan Gerardus Huijtink. Keduanya pastur Belanda. Ketika di Ende Flores itu, ia masih bisa bermain dengan para nelayan dan anak-anak pantai. Ketika itu, ada juga tentara yang mengawasi namun masih bisa dikelabuhi. 

Berbeda dengan waktunya di Wisma Yasso, ia sama sekali dipenjara di dalam rumah. Bertemu keluarganya pun dilarang kalau tidak penting. Bahkan bertemu dengan sahabatnya pun dilarang. Ia hanya bisa bertemu keluarganya kala mendapat kiriman makanan. Pembicaraan pun dilarang berlama-lama. Si Bung Besar mengalami keterasingan yang mematikan. Ia hidup dalam kesepian diri. Ia akhirnya tak kuasa menahan sepinya hidup yang terasing dan terpenjara. Ia dilumpuhkan dan dilucuti dari segala sesuatunya. Jasa-jasanya di saat membangun dari nol negeri ini seolah ditampik. Jasa-jasanya ketika memperjuangkan tegaknya sebuah bangunan negara bangsa ini seolah ditiadakan dari ingatan dan sosok dirinya. Ia dianggap sebagai sebatang tubuh reyot yang tidak berharga gara-gara keberaniannya menyerang mereka yang berkuasa dan yang punya senjata. Di sisi lain, ia juga sangat terbuka dan blak-blakan dengan dirinya dan ideologinya sehingga musuhnya pun mudah mengincarnya. Sosok yang dahulu berkobar-kobar dan bersemangat orasi, pidato, pada akhirnya tumbang oleh pengasingan dan dijauhkan dari rakyatnya. Akhirnya ia pun dibunuh oleh musuh dari dalam dan dari luar yang memanfaatkan orang dalam. 

Keterasingan itulah yang akhirnya dialami oleh si Bung Besar. Keterasingan di masa muda ternyata berlainan ketika di masa tuanya. Kerapuhan dirinya tak bisa melindunginya. Ia pun diserang dengan berbagai propaganda hitam untuk mengakhiri kekuasaannya. Ia diserang dengan kemarahan dan protes besar yang melengserkan kekuasaanya. Dan yang sangat tragis adalah ia diporak-porandakan oleh keculasan pihak-pihak yang memakai suratnya untuk melumpuhkan dirinya. Senjata makan tuan. Ia "terganyang" oleh surat yang dibuatnya, walau sebenarnya itu tidak dimaksudkan untuk hal seperti itu. Surat itu akhirnya dipakai yang menerima mandat dengan motivasinya sendiri yang sangat berbeda dari yang dimaksud si Bung Besar. 

Sebenarnya para pengikutnya masih ingin si Bung melawan. Bahkan ada yang berhasil menyusup ke Wisma Yasso yang dijaga ketat oleh aparat. Si Bung dengan sangat hati-hati dan akhirnya merelakan semua dilucuti dari dirinya dengan mengatakan bahwa sebagai saudara tidak boleh terjadi perang antar saudara. Bahkan si Bung mengatakan kepada pengkutnya supaya tidak terjadi pertumpahan darah antar mereka. Walau apa yang diharapkan si Bung tidak terjadi. Pertumpahan darah tetap terjadi. Balas dendam berdarah pun terjadi: kematian tujuh orang perwira tinggi dibalas dengan jutaan nyawa rakyat jelata yang dianggap membangkang oleh penguasa dan para musuh si Bung. Itu yang membuat negeri ini sampai saat ini tetap menyembunyikan kekejian yang pernah dibuatnya sendiri. Jadi pertumpahan darah itu tetap saja terjadi, bahkan lebih mengerikan daripada yang dikhawatirkan si Bung. Si Bung bisa saja dianggap bersalah. Namun demikian tetap saja ada yang lebih bersalah ketika ada yang mau jadi jagal bagi saudaranya sendiri. Dan karena hal ini, bangsa ini masih tetap saja merasa tak mau membongkar dan mengakui bahwa telah ada kesalahan karena kekejaman yang memakan nyawa saudara sendiri. Hanya pengasinganlah yang bisa membunuhnya. Sebenarnya saat demo besar-besaran dan propaganda hitam itu hampir saja membunuh karakternya. Entah dia disebut tukang kawin, anjing Peking, dan sebagainya,  namun ternyata pembunuhan karakter tidak segampang itu untuk sekelas si Bung. 

Yang pasti, di masa tuanya, dia dan keluarganya tidak memakan uang rakyat. Bahkan yang paling mengharukan adalah dia tidak punya uang sepeserpun untuk membeli buah. Ia meminjam atau meminta uang ajudannya untuk membeli sesuatu. Ia dimiskinkan atau tidak punya harta material sebagai orang yang disebut pendiri bangsa, mantan pemimpin negeri, pemimpin besar. Dan kiranya itulah yang tertanam kuat di seluruh negeri ini bahwa seburuk-buruknya karakter si Bung, ia pada akhir hidupnya tidak punya apa-apa selain kecintaannya pada rakyat dan negeri ini. Semua dilucuti. 

Ah, masih banyak sebenarnya yang ingin kuungkapkan namun pasti tak cukup untuk cerita di lembar ini. Aku mengingat sebuah kuburan massal di daerah kelahiranku dan itu cukup untuk mengenang bagaimana banyak saudaraku yang terbunuh karena tragedi penjagalan nyawa manusia sebelum aku lahir. Mengenang si Bung, aku jadi mengenang Mbah Jenggot dan banyak saudara tak kukenal dalam lubang yang kuburan massal itu. Aku masih ingat ungkapan dari salah seorang yang aku lupa namanya, menulis demikian: "Indonesia ini lahir dari penculikan (peristiwa Rengas Dengklok), dibaptis dengan darah pembantaian (tragedi 1965)". Dan itu bisa diteruskan, "... dibesarkan dengan darah sekian nyawa selama 32 tahun". Negeri ini masih terasing dengan dirinya karena masih banyak nyawa diasingkan dalam lubang kuburan massal yang sudah banyak tak dikenali dan tidak mau mengakui bahwa adanya kesalahan karena pembantaian besar-besaran itu. Kesalahan itu ditutupi dan entah sampai kapan mau diakui.


#malamhari#

 

Saturday, September 24, 2022

Pengasingan

Aku menyatakan diri bahwa manusia itu jauh dari sempurna. Namun demikian adagium ini tidak mudah diterima begitu saja. Sejak manusia berkisah pun itu sudah terjadi. Ketidakmudahan menerima bahkan saudaranya sendiripun terbukti. Teringat ini, aku pun mencoba menelusur perjalanan kisah manusia sejak ada dalam narasi. Aku hanya bersumber dari satu narasi yang cukup dikenal. Sedangkan aku percaya tentu masih ada narasi-narasi primordial asali lain yang tentu senada. 

Karena kecemburuan hati seorang Kain maka Habel pun disingkirkan. Mereka ada saudara. Persembahan Habel lebih diterima Allah daripada milik Kain. Itulah sebabnya kedua saudara ini menjadi bermusuhan. Kisah ini sepertinya bernada (seolah-olah, jika dilihat dari pihak yang tidak terima) Allah pilih kasih ketika menerima dua persembahan dari dua saudara ini. Inilah pembunuhan pertama, "the first murderer" dalam narasi peradaban manusia. Kain sebenarnya tahu bahwa ketidakmurahan hatinya bukan terjadi begitu saja. Ia melatih diri untuk tidak murah hati, ia tidak melakukan apa-apa untuk murah hati. Iri hati bukanlah perasaan yang muncul begitu saja, tetapi suatu kesengajaan. 

Oleh karena itu, yang terjadi adalah bagaimana menyingkirkan Habel, adiknya. Ia mencoba membungkam Habel. Ia menghapus keberadaannya. Ia membunuhnya. Membunuh bisa dimulai dengan memperkeras suara kepada pihak lain, marah. Membunuh bisa dengan mengatakan hanya yang ada di kepalaku sendiri dan tidak mempertimbangkan sudut pandang orang yang kuajak bicara. Membunuh bisa saja dengan berbagai cara yang membuat orang lain sakit, terluka, marah, trauma, kecewa, cemas, tidak nyaman, mengintimidasi, dan berbagai tindakan yang ujungnya meniadakan orang lain karena demi keberadaan dirinya dan memuaskan kehendak dirinya. Bisa saja orang terus-menerus mengulang permintaan atau penjelasan atau tuntutan kepada pihak lain.

Padahal Allah sudah bertanya kepada Kain, "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Hal itu tidak dihiraukan Kain lagi. Ia pun segera menerima godaan dan hanya ada kemarahan, sehingga tindakan pembunuhan pun terjadi. Ketika di padang itu, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 

Karena Kain membunuh, darah Habel pun bertetiak sehingga Allah mendengar. Ia bertanya, "Apakah yang telah kau perbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu...; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." Kain menjadi terasing dari dirinya. Kain terasing dari tanah dia berpijak asalnya. Kain terhempas karena ia bersekutu dengan kemarahan dan iri hatinya.  

Membunuh atau dibunuh itu tergantung dari sudut pandang siapa yang akhirnya lebih kuat, lebih berkuasa. Semula bisa saja orang dituduh sebagai pembunuh, tapi di periode yang lain, ia dibunuh karena situasi politik berlawanan dari situasi yang membuatnya berkuasa sebelumnya. Bahkan narasi bisa saja dibelokkan karena kekuasaan narasi itu dibangun demi kepentingan tertentu. Dalam sebuah keluarga besarpun ada yang menjadi pembunuh dan ada yang menjadi pihak yang terbunuh. Kisah Kain dan Habel menjadi terus berulang dalam bilangan kisah sejarah manusia dari zaman ke zaman. Membunuh dan dibunuh itu sesuatu yang terus berulan, dan kata Pengkotbah tidak ada yang yang baru di bawah matahari. Dan segala sesuatu ada waktunya. Perpolitikan telah membuktikan bahwa yang dianggap berkuasa pun bisa terbunuh secara massal dan dihilangkan demi kepentingan politik kekuasaan yang lebih besar. Bahkan mengakui bahwa yang membunuh dan pembunuhan massal telah terjadi itu adalah kesalahan itu pun sampai saat ini belum dibuat. Masih ada balok besar yang menghalangi untuk sebuah pengakuan dan meminta maaf. 

Manusia masih memilih mengasingkan diri dari tanahnya dan lebih memilih mengembara dalam keterasingannya. Mengasingkan orang lain dengan meniadakan keberadaannya seperti sebuah pola yang sejak adanya manusia sudah diturunkan. Dirinya pun akhirnya terasing. Aku sadar bahwa diasingkan itu tidak mudah. Diasingkan itu harus berhati-hati. Diasingkan itu selalu diawasi dan dicurigai. Hidupnya seolah diawasi dan disorot. Geraknya dibatasi. Hidupnya rentan. Keselamatannya tidak terjamin. Seolah-olah yang mengasingkan itu mau mengurusi setiap gerak geriknya. 

Aku sadar bahwa sering banyak orang (mungkin diriku juga) menganut aliran ideologi "Kainisme dalam perbuatan dan kata-kata". Aku mengakui bahwa tentu ada pihak-pihak yang telah kulukai dan kusingkirkan secara sengaja atau tidak. Aku bahkan menemui sendiri bagaimana kainisme itu sudah mempengaruhi pola perilaku manusia dari zaman ke zaman yang karena kemarahannya, ia sebenarnya belum berdamai dengan kesakitan, trauma, kecemasan, ketakutan dan frustrasinya. Itu semua diproyeksikan kepada pihak lain ke semua arah dan seperti api yang memercik semua terkena dampaknya. Tersulut sedikit, api kemarahan itu membakar semua hal di sekitarnya. 

Aku akhirnya hanya bisa menengok pada diriku. Kucoba berserah dan memohon rahmat ilahi agar keluar dari keterkurungan "tanah asing" karena aku seperti "pelarian" yang terbuang sehingga menjadi "pengembara". Aku sadari bahwa diri ini jauh dari sempurna, orang lain pun juga. Harapannya adalah ada waktu yang akan menjawab kegelisahan orang di tanah terasing ini. 



#gotinspirationinthenite#

 

Wednesday, August 31, 2022

Antara Marah dan Ramah

Salah seorang ekspatriat yang tinggal di rumahku sedang belajar bahasa Indonesia. Banyak kata dipelajari. Banyak kalimat diucapkan untuk melatih berbahasa. Dari sana aku menyadari bahwa ada kata yang bunyinya mirip-mirip namun artinya berbeda. Bagi orang asing yang sedang belajar bahasa ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Pernah ia mengatakan antara "marah" dan "ramah" itu terbalik. Ketika ia memuji keramahan seseorang, ia malah mengatakan "Dia sangat marah padaku". Sedangkan ketika ia melihat seseorang marah di jalan, ia berkata "Tadi ada orang ramah di dekat sana." Kami semua tertawa. Namun dari kesalahan-kesalahan ini kita belajar dan memberi tutorial kepada dia. Ada lagi juga yang ia katakan memang hampir mirip yaitu antara "pesawat" dan "perawat". Dia dengan santai mengatakan "tadi ada banyak perawat di airport ya". Kami tertawa juga. Lalu kami ada yang nyeletuk, "Kalau perawat banyak di Rumah Sakit". Dia ikut tertawa. 

Setidaknya, melihat dan memperhatikan orang belajar bahasa itu aku juga ikut belajar memahami orang lain dan juga bahasaku sendiri. Banyak di antara kata-kata itu hampir mirip bunyinya. Apalagi bagi orang asing yang harus memasukinya. Belajar bahasa bukan hanya belajar cara berpikir dan budaya sebuah bangsa. Belajar bahasa juga akhirnya belajar mengucap dengan benar, penuh kepekaan dan paham makna sejatinya. 

Ketika mengingat banyaknya bahasa di dunia ini, betapa keragaman itu sangat hakiki. Ketika yang bunyinya sama pun berbeda makna dan bahkan berseberangan/ bertolak belakang, ini menjadi sebuah hal yang kadang bisa dipakai sebagai pemaknaan tersendiri. Ada selalu bunyi kata yang bisa dimaknai dalam proses refleksi bahwa kita bisa membolak balik hurufnya agar mencapai makna yang berbeda. Bisa saja orang sedang "marah" namun di balik itu ada "ramah" yang tersembunyi. Mungkin juga "ramah" bisa berbalik jadi "marah" karena tersulut luka. 

Ramah yang disalahartikan pun bisa menjadi masalah, apalagi marah. Aku ingat akan kemarahan yang bahkan menjadi sebuah sumpah sampai kemarahan itu mendapatkan lawannya yaitu kematian yang menjemput si empunya kemarahan. Kemarahan datang dari sebuah pengkhianatan. Luka yang tak tersembuhkan itu menular ke generasi berikutnya dan menjadikan ia selalu ingin membunuh yang dijumpainya. Entah salah atau benar atau salahnya besar atau kecil, tak pandang bulu, semua harus mati di tangannya. Rupanya, kemarahan yang dilampiaskan itu tak menjadikan obat baginya dan bagi sumpahnya karena ia menantikan sampai ketemu yang bisa mengalahkan kemarahan yang disumpahkannya. 

Semua orang memang tak ada yang tak punya salah. Dan itu adalah keniscayaan. Bahkan sebuah institusi yang sudah ribuan tahun pun mengajarkan dalam doktrinnya bahwa ada kesalahan genetik yang dibawa dari leluhurnya. Itu menandakan bahwa semua orang itu punya, pernah, dan berpotensi bersalah. Ya, itu semua karena manusia itu tidak sempurna. Tidak selalu kita ini hidup dengan kesadaran. Bahkan hidup seseorang pun kadang menenggelamkan kesadaran. Atau dengan kata lain membuat rasionalisasi yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Itulah sekali lagi manusia dengan segala carut marutnya. 

Oleh karena itu, dalam ungkapan singkatku ini aku hanya mau mengatakan bahwa selalu ada kesalahan yang sudah aktif terjadi dan mungkin potensi terjadi. Orang bisa saja mengatakan "kilaf", "tak sadar", "lalai", "ceroboh", dan sebagainya. Idealnya memang hidup ini harus sadar sesadar-sadarnya. Namun demikian toh tak selamanya kita itu menjadi seperti itu. Bahkan ketidaksadaran pun juga perlu disyukuri agar kita bisa mengalami bahwa sadar itu adalah penting dan perlu. Bukan lantas melegitimasi bahwa aku permisif dengan kesalahan dan ketidaksadaran. Sekali lagi, di dunia ini masih saja banyak halangan dan rintangan dalam berziarah. Sejarah membuktikan bahwa dunia ini tidaklah hanya diukir dari mereka-mereka yang suci dan sempurna. Selalu saja ada mereka yang terjerumus, penjahat, pendosa, namun yang menjadi penting adalah kembalinya kesadaran untuk berjalan di jalan yang selayaknya dijalani. Di sanalah juga ajaran dari tradisi-tradisi kerohanian mengatakan bahwa "mengampuni", "mengasihi", "memaafkan," "wawuh", "rekonsiliasi" dan lain-lain itu mendapat tempatnya. Namun demikian, konsekuensi dari perbuatan salah juga tentu ada. Bukan lantas menghilangkan adanya konsekuensi itu. Tak dipungkiri bahwa tak mudah untuk melakukan semua yang disebut sebelumnya itu ("mengampuni", "mengasihi", "memaafkan," "wawuh", "rekonsiliasi"). 

Pantas aku mempertanyakan, merenungkan, meresapkan lagi atau apapun dengan rumusan doa ini: "Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami". Benarkah? Beranikah? Ndak iyo? Ah, tenane? Really?


#eveningtime#

Sunday, July 17, 2022

Ruang

Ini bukanlah sesuatu yang menyangkut tiga dimensi. Bukan pula yang menyangkut sesuatu yang kelihatan oleh mata. Aku masih tetap tertegun oleh apa yang sedang kualami dalam hidup dan aku merasakan campuraduknya segala sesuatu. Saat kuingat kejadian yang kualami beberapa waktu lalu, aku memasuki sebuah ruang gelap yang tak bisa kuukur luasnya. Ruang itu hanya gelap. Itu yang kumasuki. Dari situ aku hanya mendengar suara yang warnanya sama seperti suara bapakku. Aku tak tahu datangnya dari mana, namun suara itu jelas terdengar dan aku pun masih ingat sampai sekarang. "Katresnan iku ya labuh labete urip." Aku tak mau bicara tentang apa itu "katresnan", namun aku hanya mengingat saat itu, saat setelah suara itu terdengar dalam ruang gelap yang nan luas tak terukur, aku hanya bisa menangis. Aku tidak sampai sesenggukan namun air mataku berlinang saat itu. Mungkin itu adalah saat kuingat terakhir kali aku meneteskan air mata. 

Aku seperti mengingat ke belakang lagi. Aku ingat saat bapakku membawakan roti bolu sendiri, sore-sore dan aku menemuinya saat di asrama. Saat itulah, aku meneteskan air mata setelah bapakku pulang. Aku hanya bisa mengenang bahwa bapak ternyata mencintaiku. Aku yang semula tak pernah setersentuh ini, justru dengan apa yang dibuat bapak itu, dan tentu kukaitkan dengan suara yang terdengar dalam ruang gelap yang luas itu, aku akhirnya sadar bahwa saat itulah aku mengalami rekonsiliasi. Entah mengapa, aku juga tidak sepenuhnya memahami. 

Di saat ini, saat di mana beban hidup makin terasa nyata, aku kembali mendapatkan ruang itu. Ruang dimana aku memang sedang "to give space for time and time for interior space" di sini. Di saat segalanya seperti runtuh, gelap, hancur, kotor, meaningless, aku pun mencermati diriku: "Apa yang sedang terjadi?" Aku mencoba "wiweka" apakah aku akan hancur oleh kegagalanku? Apakah aku was-was dengan segala yang akhirnya membuat aku terlihat buruk? Aku makin disadarkan oleh kenyataan diriku bahwa ada hal-hal yang tak bisa dikontrol oleh diriku semua. Semula yang kuanggap baik-baik saja, ternyata tidak. Semula yang kuanggap bisa dipercaya, ternyata tidak. Semula yang kuanggap sudah bisa diminimalisir, ternyata karena satu dan lain hal, tentu ada persoalan yang diriku tak paham seluruhnya, akhirnya merusak. Aku sadar sepenuhnya bahwa ada kesalahan itu pasti. Kesalahan yang terus direproduksi dan dimonitor kemudian diangkat terus tentu akan membuat hidup ini tak tahan. Tentu, tidak mengapa bahwa diri ini sedang tidak baik-baik saja. Pergumulan yang dihadapi tentu memakan waktu. Ada saat di mana ruang kesalahan itu dimasuki, bukan karena itu diproduksi terus-menerus, namun jika hal itu terjadi secara kasunyatan, aku pun juga harus siap memasukinya.

Di mana ada ruang kesalahan, (aku berharap) di situ ada ruang pengampunan. Dan siang ini aku tersentuh dengan ungkapan ini: "For where love is concerned, silence is always more eloquent than words." Aku hanya menyambungkan puzzle-puzzle dalam kepingan-kepingan hidupku dari memasuki ruang gelap yang luas kemudian ingatan akan bapakku yang membawakan roti bolu dan suara-suara yang terngiang dalam benakku yang sampai saat ini masih membekas. Di saat aku mengalami "down", rupa-rupanya ada sebuah memori yang menggerakkanku untuk tetap mampu menapaki hidup walau itu berat. Saat ini aku memang diam. Aku lebih banyak beban yang membuatku harus diam. Diam bukan berarti terbungkam namun diam karena aku memang harus diam. Diam itu diam bukan pasif tetapi diam untuk lebih memberi ruang bagi waktu dan waktu bagi "jagad cilik" berbicara lebih tajam bagi nuraniku. Diam ini adalah diam untuk mendengarkan lebih tajam dan teliti. 

Mungkin suara di ruang gelap yang luas dan memori bapakku yang membawa roti bolu itu adalah sebuah rentang waktu dalam ruang dan sekaligus ruang dalam waktu yang menyadarkanku akan kerapuhan, rekonsiliasi, dan "katresnan". Dan aku sadar bahwa seburuk-buruknya diriku, sejatuh-jatuhnya diriku, sekotor-kotornya diriku, dan apapun yang dikatakan itu jelek, aku masih harus sadar aku ini sudah tercipta dan dicipta oleh karena "katresnan" itu sendiri. Aku terhubung dengan rantai ruang dan waktu dengan seluruh rantai ruang dan waktu kehidupan itu sendiri. Rantai ruang dan waktu yang tercipta oleh Sang Pencipta dan itu kusebut untaian "katresnan" dari yang mencipta, lewat para leluhur dan keluargaku. Leluhur tidak terbatas di lingkup keluargaku namun leluhur seluruh ciptaan dari bermilyar-milyar tahun yang lalu sebelum dan setelah terciptanya homo sapiens

Malam ini, kurenungkan diriku dan segala kerentanan hidup dan segala resiko yang harus dihadapi. Malam ini kubawa seluruh pergulatan dalam diam. 


#inmyroom#

Wednesday, June 29, 2022

Kotoran

Ibaratnya kotoran, hidupku ini hanya menunggu. Entah itu masih berguna ataupun tidak. Kotoran itu hanya siap dibuang. Syukur-syukur masih dipakai sebagai pupuk, sampah dipakai sebagai penyubur tanah,  menambah humus atau unsur hara bagi tanah dan itu diserap oleh tanaman. Kotoran hanya sampah yang tidak bisa lagi membanggakan dirinya dan tidak boleh membanggakan diri. Kotoran hanyalah kotoran. Aku pun sadar sesadar-sadarnya bahwa seandainya yang mempunyai hidup ini mengambil kapanpun dan seperti apapun, diriku tak bisa apa-apa. Bahkan melalui peristiwa apapun, oleh siapapun yang merenggut hidup ini sepertinya aku juga tak berdaya apa-apa. Aku juga sadar bahwa banyak manusia juga hidup dari kotoran (sampah). Bahkan kotoran itu bisa mendatangkan rejeki, konflik, kepentingan politik dan kekuasaan. Di tumpukan menggunungnya sampah, di sana masih ada kekuasaan, intrik-intrik, dan bahkan rebutan penghasilan. Aku ingat di daerah Bantargebang yang saat ini entah masih dipakai atau sudah ditutup oleh pemerintah atau belum. Tapi bisa saja itu masih menjadi kancah perebutan kekuasaan antara yang satu dengan pihak yang lain, bahkan di kalangan para pemulung sekali pun. 

Aku ingat peristiwa pertikaian antar keluarga di Firenze di abad pertengahan, yaitu keluarga Medici dan Pazzi. Keduanya keluarga berpengaruh di kota itu. Keduanya keluarga bankir. Pada saat tertentu mereka pernah bersekutu tapi pada saat seterusnya bersaing mendapat nasabah dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah dari kepausan. Kota sangat tergantung dari pengaruh kekuasaan dan kekayaan dari keluarga-keluarga bangsawan kaya yang silih berganti saling bertikai atau bersekutu. Dewan kota adalah kumpulan keluarga-keluarga kaya yang menentukan tata kehidupan kota. 

Sampai pada suatu saat, keluarga Pazzi mencelakai keluarga Medici karena persaingan usaha yang semakin memuncak. Di saat misa di katedral atau basilik Firenze itulah, peristiwa pembunuhan terjadi. Salah satu dari anak keluarga Medici terbunuh. Sebenarnya semua keluarga hampir terbunuh tetapi hanya satu yang terbunuh. Karena peristiwa itulah, keluarga Medici balas dendam di saat yang tidak lama setelah terjadinya pembunuhan itu. Keluarga Medici masih bisa menyelematkan kekuasaannya di Dewan Kota. Dengan kekuasaan itulah, Medici menyuruh tentaranya menangkap seluruh keluarga Pazzi dan menggantungnya di depan gedung pusat kota. Seluruh kekayaan keluarga Pazzi direbut dengan penjarahan seluruh warga kota. Dan yang tak kalah mengerikan adalah menghapus seluruh sejarah keluarga Pazzi dari catatan sejarah kota Firenze. Itulah sebentuk kemarahan dari balas dendam kesumat yang tak bisa dipulihkan lagi. 

Keluarga Pazzi ibaratnya kotoran yang tak berguna lagi, bahkan namanya pun dihapus dari peradaban bumi. Aku hanya bisa membayangkan diriku yang ibaratnya dihapus dari peradaban bumi ini. Tak ada orang yang kenal lagi siapa dan apa diriku. Aku menyadari diri sebagai yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Hidup ibaratnya debu yang mudah diterpa angin dan hilang ditelan waktu. Kotoran itu hal yang sama. Hanya menciptakan bau tak sedap, pandangan tak indah. Hanya berguna bagi tanah jika itu organik. Jika sampah tak terurai, maka api yang menghabiskan atau pengolahan lain yang dibutuhkan. Selebihnya, kotoran yang harus disingkirkan dari peradaban.

Ya, aku harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa aku hanya kotoran. Debu yang kembali menjadi debu. Jika dicerca dan dilukai pun selayaknya hanya sadar akan hal ini. Jika aku yang melukai pun juga harus sadar dan layak dibuang, disingkirkan, dimusnahkan. Apalah aku ini, karena aku hanya kotoran. Hidup hanya mengharapkan belas kasih dan rahmat dari yang melihat kotoran itu berharga. 


#ciawi#

Wednesday, May 25, 2022

Menghadapi dan Menerima

Setiap orang punya jalannya. Setiap orang punya tahap-tahapnya. Bisa saja orang berharap sesempurna mungkin terhadap dirinya dan orang lain tapi kenyataanlah yang menentukan. Orang bisa saja berharap lebih atau setinggi-tingginya dan kalau tidak terjadi seperti yang diharapkan, maka orang bisa saja marah. Marah karena ia tidak kesampaian harapan (ekspektasinya). Marah karena ia tidak kenal diri. Marah karena suatu tahap belum ia masuki yaitu tahapan ketika ia menemui kejatuhan dan harus menerima itu sebagai kegagalan dan kegagalan itu bagian dari perjalanannya. Orang yang optimis mengatakan bahwa kegagalan, bahkan kegagalan yang paling menyakitkan pun adalah bagian dari proses yang harus dilalui. Tahap menerima diri dan menerima "liyan" yang juga salah dan gagal itu adalah tahap yang sangat krusial dalam hidup. Pola bahwa yang salah dihukum, yang benar diberi apresiasi, itu ada benarnya. Namun demikian, hidup tidak semudah dan tak sehitam putih itu. Ada hal-hal yang baru kelihatan ketika ada penderitaan, kesengsaraan, penindasan, persekusi atau bahkan diperas dalam perjuangan yang sangat kritis. Sebuah hal yang sangat manusiawi ketika aku juga hanya menuntut yang gampang-gampang saja template-nya: all for one, one for all.

Di waktu yang kebanyakan orang sedang berharap adanya perubahan dari masa pandemi ke masa yang "relatif normal" ini, orang berharap-harap memastikan supaya keadaan seperti dulu lagi. Keramaian sudah mulai hadir. Sekolah mulai buka. Kantor sudah buka. Semua masih belum pasti. Semua masih harus pakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan kesadaran protokol kesehatan yang masih perlu diperkuat. Orang tidak boleh lengah. Orang boleh saja mendengarkan kebijakan pemimpin dengan penuh antusiasme ketika diperbolehkan membuka masker di ruang-ruang terbuka. Namun orang perlu sadar diri bahwa semua itu ada batasnya. Kita perlu kenal diri dan dengan siapa kita berhadapan. Ada orang-orang yang memang tidak mudah diberitahu atau diberi masukan. Sedangkan akibat di belakang tentu juga akan ditanggung banyak orang juga. 

Menghadapi realitas yang serba tidak pasti, bahkan kadang atau sering orang melihat realitas itu selalu yang buruk, hal ini membuat orang menjadi marah, tidak puas, kecewa, dan itu bisa menyebabkan trauma yang tak tersembuhkan. Banyak orang ketika menghadapi perubahan karena satu dan lain hal (misalnya pandemi ini) menjadi kehilangan orientasi hidup. Ada yang menjadi kecewa. Ada yang merasa semua habis. Lalu, hidupnya juga tidak tahan lama dan akhirnya meninggal. Ada juga yang berada di posisi kecewa namun bisa menghadapi dengan jatuh bangunnya. Ada yang merasa bahwa perubahan ini adalah peluang. Itulah yang optimis. 

Orang yang optimis melihat, menghadapi, dan akhirnya menerima dengan lapang dada. Intinya berjiwa besar menghadapi realitas. Ketika berjiwa besar menghadapi perubahan, menghadapi ketidaknyamanan, menghadapi masa kelam, bahkan itu bisa saja disebut kegagalan, kerapuhan, keberdosaan sekalipun, orang mampu bangkit. Pertama-tama, bolehlah kemarahan dan kekecewaan itu yang muncul. Namun jika kemarahan dan kekecewaan terus yang hidup dan menguasai dirinya, maka pintu neraka itu sudah ada di situ. Di sisi lain, jika kemarahan dan kekecewaan diubah menjadi kesadaran akan memahami hidup ini tidaklah "super dan perfect", maka ada pertumbuhan yang akan kelihatan, entah seberapa pun wujudnya. Hidup ini tentu ada resikonya. Resiko hidup itu yang sepengalaman diriku adalah berani gagal bahkan berani untuk direndahkan sekalipun. Menerima atau tidak, itu urusan masing-masing. Sesadar-sadarnya seseorang dalam menjalani hidup, tentu ada suatu tahap dalam menjalaninya itu ada lalainya. Kelalaian itulah yang bisa menjadi bahan penghakiman diri atau dari orang lain. Itu baru karena kelalaian. Apalagi kalau kesalahan itu memang sebuah tindakan yang intensional, dilakukan secara sadar, sadar bahwa itu adalah buruk secara moral ataupun dalam arti yang lain, jelas orang akan menghakimi salah. 

Semakin hari semakin aku disadarkan bahwa hidup ini tak selalu idealis. Hidup ini juga realistis. Dua kubu itu akan selalu ada. Kita hidup di tegangannya. Aku akan banyak kecewanya kalau menuruti paham bahwa hidup harus idealis, super, sempurna. Di sisi lain, aku juga akan tidak banyak berkembang jika hanya apa adanya, tidak mau dituntut lebih dan menerima dalam arti tidak mau berubah. Idealisme dan realisme masih diperlukan. Aku adalah makhluk yang ingin maju dengan segala cita-cita idealnya, di sisi lain aku adalah makhluk yang harus berani masuk dan menerima diri jika keadaan memang menuntut untuk mendarat, down to earth. Aku harus mengakui bahwa yang Mahabesar pun mengalami resiko rapuh ketika harus turun menjadi manusia, dihina, dihukum, dibunuh, dan mati. Aku sadar bahwa hidup (di dunia) terikat ruang dan waktu, maka jadi terbatas. 



#noontimeinmyroom#
 

Saturday, April 30, 2022

Rapuh

Di akhir bulan ini, aku mencoba menenangkan diri. Rasanya aktivitas demi aktivitas sudah mulai terasa lagi. Berbarengan dengan banyaknya saudara yang sudah, sedang dan akan mudik karena lebaran, rasanya kembali aku mengalami yang namanya lelah. Melihat mobilitas orang dari satu tempat ke tempat yang lain menjadikan badan ini lelah. Ada sisi-sisi kerapuna dalam diriku yang mana ketika kelelahan itu belum sembuh benar, mau berbuat sesuatu pun tidak sanggup. Lebaran bagi sementara orang diartikan sebagai "lebar" (bubar atau selesai-nya) sebuah perhelatan yaitu puasa. Lebaran juga diartikan sebagai "lebur"-nya perbuatan salah yang dimaafkan satu sama lain. Lebaran bisa saja diartikan sebagai selesainya sebuah tahapan yang mengembalikan orang pada sebuah awal mula, "fitrah" yang membuat orang mengucapkan permintaan maaf dan memberi maaf. 

Sayangnya, bahwa kembali ke fitri hanya dipahami sebagai me-reset sementara dan di kemudian hari tindakan salah itu dilakukan kembali. Apakah memang demikian? Entah sadar atau tidak kembali seperti mengulang dosa yang sama. Orang mereset dirinya, lalu membuat dirinya terpuruk dalam perbuatan yang mengulang kesalahan. Apakah orang atau manusia itu hanya semudah itu dan sesederhana itu? Apakah kerapuhan manusia itu membuat dalam dirinya pola-pola yang menjadikannya kembali dan kembali ke kesalahan yang sama lalu meminta maaf lalu berbuat itu lagi? Itulah pertanyaanku jika pola yang dihidupi hanya seperti itu. 

Aku pun sadar sesadar-sadarnya bahwa diriku tidaklah sebaik dan semulia seperti idealnya yang diharapkan banyak orang. Semua itu masih utopia bagiku untuk menjadi yang ideal. Aku bukan orang yang baik-baik juga maka aku pun bertanya tentang pola-pola kemanusiaanku. Di sisi lain, orang hanya melihat hidup seperti lingkaran roda berputar, hidup bisa di atas atau di bawah. Artinya, orang bisa saja mengulang pola perilaku, pola-pola yang dibuatnya. Dengan demikian, ia terpaku pada pola dan menyerah pada "nasib", sebuah kata yang bagiku tidak aku sukai karena sepertinya hidup ini hanya sebuah aliran pasif yang diikuti manusia dan ia hanya menjalankan sesuai skenario atau bahkan terdampak dari skenario yang datangnya dari luar dirinya. Seolah "nasib" itu hanya menimpa dirinya dan manusia itu pasif, tidak bisa mengubah dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi merdeka yang berdaulat. Nasib atau takdir bagiku adalah sama, istilah yang cenderung meremehkan martabat manusia. 

Kerapuhan memanglah bagian dari hidup manusia itu sendiri. Aku pun menyadarinya sebagai bagian dari hidup dan keberadaanku. Aku mengakui bahwa dalam perjalanan ini kerapuhan itu sering mengganggu namun di sisi lain aku harus akrab dan mengolahnya sehingga bukan hanya menjadi bagian yang memberatkan diri. Kerapuhan, meski menyakitkan, bisa menjadi bagian yang memberi kekuatan jika disadari, diolah, diintegrasikan dengan proses penerimaan diri. Tidak mudah memang. Orang cenderung melihat ini dengan ketidakmauan menerima. Jarang orang menerima kerapuhan dengan cepat. Perlu adanya proses waktu yang membawanya pada kesadaran akan kerapuhan ini. 

Yang rapuh bertemu dengan yang rapuh, maka ini yang akan menentukan perjalanan relasi antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Karena yang rapuh bertemu yang rapuh, bisa saja keadaannya membuat orang yang lemah menjadi terkorbankan. Yang kuat menjadi pemenang atau penjajah. Oleh karena itu, kerapuhan menjadi penting kita perhatikan dan olah. Namun kerapuhan bukanlah komoditas yang harus selalu diutak-atik sampai jenuh karena orang bisa saja muak dan tak bisa keluar dari keadaannya yang memang rapuh. Bahkan seorang Paulus sampai mengatakan "aku berbangga karena kerapuhanku karena di dalam kerapuhanku itulah rahmat berkuasa atas diriku". Itu ungkapan yang menandakan bahwa ia menyadari kerapuhannya. Ia tidak saja menyadari lebih dalam tidak semua kerapuhan dalam dirinya itu bisa ia kuasai dan kendalikan. Bahkan ia menyebut kerapuhan itu seperti "duri dalam daging". Ia ingin berbuat A (idealnya) tetapi B (real) yang ia lakukan. 

Dari kelelahan, aku mencoba merenungkan akan kerapuhan diriku. Aku pun belum tahu apakah besok aku mengiyakan ajakan beberapa rekan yang mengajak pergi ke luar kota. Aku masih mempertimbangkan kelelahan diriku yang masih harus kupulihkan. Yah, lelah kaitannya dengan rapuh, karena kerapuhan bertemu dengan kerapuhan maka akan ada akibat-akibat yang ditimbulkannya, secara sadar ataupun tidak. Aku mencoba menyadari ini dengan konteks saudara-saudari yang tengah menjalani mudik berjamaah dalam waktu yang tak mudah ini. Tentu akan ada resiko-resiko yang dialami dalam perjalanan mereka. Kemacetan. Kepanasan. Waktu tempuh lama. Situasi tidak sehat. Itu semua serba mungkin terjadi. 


#siangharidalamruangku#

Monday, April 11, 2022

Masuk dalam Kesusahan

Hidup ini sudah susah mengapa dibikin ribet. Begitu kata sebagian orang. Memasuki pekan yang dihayati orang-orang kristiani dinamakan pekan suci atau semana santa, pekerjaan masuk dalam kesusahan kiranya menjadi bagian dari hari-hariku. Pekerjaan itu selalu relasional. Artinya, hal itu terkait dengan orang, dengan manusia. Manusia itu selalu kompleks, multi dimensi, dan itu sendiri sudah bermasalah jika dilihat dari sudut pandang persoalan atau tidaknya. Hadirnya manusia di dunia itu sendiri adalah masalah. Masalah bisa saja sebagai kutuk, bisa saja sebagai berkat. Atau malah keduanya bisa bersamaan hadir. 

Aku ingat akan sebuah doa yang berbentuk narasi berjudul "Di Rumah Luar Kota". Dalam sebuah baris ada ungkapan, "Dia bukan masalahmu. Dia kenyataan hidup." Manusia bukan masalah namun kenyataan hidup. Itulah yang kupakai saat ini. Jika hanya masalah, maka tidak ada selesainya. Jika hanya masalah, hanya akan cari kemudahan saja. jika hanya masalah, manusia tidak akan bisa apa-apa. Jika hanya masalah, maka semua sepertinya harus lurus-lurus saja atau tidak ada apa-apa. Bergerak atau tidak bergerak, masalah itu akan selalu ada. 

Orang yang tidak berbuat apa-apa juga bermasalah. Orang yang berbuat apa-apa dan harus melalui tahap salah, itu juga masalah. Masalah akhirnya adalah kenyataan hidup juga. Masalah itu menyusahkan. Kenyataan hidup itu juga sifatnya menyusahkan. Hidup dan kenyataannya adalah tegangan. Selalu aku menilik dan merefleksikan akhirnya dan ujungnya adalah tegangan itu. Hidup dalam tegangan adalah masuk dalam kesusahan. Masuk dalam kesusahan itu butuh waktu. Tidak bisa hal itu selesai begitu saja dalam hitungan menit, jam atau bahkan hari. Bisa saja tegangan itu seumur hidup, selesai ketika manusia itu mati. 

Masuk dalam kesusahan adalah sebuah keberanian. Mau mati adalah keberanian memilih dan memutuskan. "Urip iku nggoleki dalaning pati" seperti yang diungkapkan Rama Bargawa pun adalah sebuah keberanian dalam kesesakan, kemarahan, keputusasaan, perjuangan, peziarahan. Ketika kemarahan hanya bisa dilampiaskan dengan membunuh, itu pun adalah pilihan. Pilihan ke sana adalah keberanian. Keberanian membunuh sesama yang dibenci menjadi alat untuk mencari jalan itu. Memang itu adalah sebuah kisah dan makna yang bisa kuambil adalah tentang hidup manusia yang tidak sederhana. Ada luka. Ada kemarahan. Ada kebencian. Ada balas dendam. Namun di sisi lain ada penyesalan. Ada keinginan untuk berhenti membunuh, mendedam, dan carut marut yang lain. Dia menyimpulkan bahwa pada akhirnya manusia lahir untuk mati. Mati adalah kelahiran kembali. Kelahiran kembali adalah sebuah perubahan hidup yang sebagian orang mempercayai sebagai kembali ke fitrah, kembali ke asal mula. 

Perubahan hidup manusia perlu sampai pada dasar yang paling dalam supaya tidak hanya bungkusnya saja. Ada manusia-manusia yang menamakan perubahan itu dari bungkusnya. Jika sudah berubah pakaian, lantas disebut sebagai taubat. Ketika taubat itu hanya supervisial maka tidak akan menyentuh kedalaman hidup. Pasti akan ada kecenderungan yang muncul lagi dari pola-pola lama yang sebenarnya ingin diubah. Nah, untuk itu, permenunganku adalah keberanian mengubah, ada saatnya untuk berani menghadapi kenyataan hidup yang tidak semua itu baik (secara moral), lurus saja atau damai-damai saja. Ada kalanya kesalahan itu fatal dan mencengangkan banyak orang. Namun kalau itu sebuah jalan yang harus dilalui, kita pun hanya bisa memaklumi. Perubahan orang itu berbeda-beda. Setiap pribadi itu unik, tidak bisa disamaratakan.


#pagiharidalamruangan#

Monday, March 7, 2022

Krupuk

Pelajaran berharga tidak harus lewat teori yang sangat tinggi dan "ndakik-ndakik" dengan segala kompliasinya. Pelajaran berharga itu adalah ruang pemaknaan dari hal-hal yang sederhana karena direkfleksikan. Krupuk adalah contohnya. Beberapa hari lalu, seorang senior kami gelisah dan merasa ada "sabotase" di ruang makan. Tiba-tiba di meja untuk makanan yang biasa ada beberapa wadah krupuk lenyap. Dia melihat koq berpindah ke ruang karyawan. Kemudian, di hari berikutnya dalam WAG ada komentar dari dia, yang intinya "Koq saya melihat di meja tempat makanan yang biasa ada krupuk tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Apakah karena kita krisis minyak goreng lalu harus menghilangkan makan krupuk yang menurut beberapa informasi juga tidak sehat karena minyaknya." Aku langsung ingat waktu itu dalam WAG juga ada pembicaraan tentang kelangkaan (krisis) minyak di swalayan-swalayan. Aku hanya nyeletuk dalam WAG itu, "Mungkin ini saatnya kita hidup tanpa minyak". Ada banyak variabel yang kemudian muncul dari absennya si krupuk. Ada banyak hal yang menimbulkan keriuhan di antara kami gara-gara si krupuk menghilang. Adakah teori konspirasi dalam hilangnya si krupuk? Apakah ada kaitannya perang Rusia vs Ukraina dalam hilangnya si krupuk?

Telusur punya telusur memang ada hal yang tidak terkomunikasikan selama ini sehingga menimbulkan reaksi yang berbeda satu dengan yang lain. Aku sendiri tidak mempersoalkan apakah akan ada krupuk atau tidak. Bagiku ada ya syukur, tidak juga tidak ada persoalan. Ternyata, di kalangan para yunior yang bersepakat bahwa selama masa sebulan ini kita tidak mengkonsumsi krupuk dan tiap Rabu dan Jumat tidak makan daging. Kami memang komunitas yang unik karena satu rumah dengan dua komunitas yaitu senior dan yunior. Ruang makan kami barengan. Nah, karena ada miskomunikasi di sini maka ada hal yang tak tersampaikan dengan baik. 

Ada satu hal yang terlewati di sini, yaitu soal komunikasi. Ada satu hal yang membawa dampak bagi hilangnya sesuatu yang biasa ada yaitu krupuk. Namun karena ada kesepakatan untuk meniadakan selama sebulan ini, maka krupuk itu tidak eksis di tempat biasanya. Ketiadaan inilah yang mengundang reaksi karena ketiadaannya tidak terkomunikasikan ke pihak lain yang serumah namun beda komunitas. Senior belum diberi informasi yang cukup mengenai absennya si krupuk selama sebulan ini. Itulah sebabnya ada komentar dan sekaligus pertanyaan yang mengandung keheranan dari salah seorang senior. 

Kemarin, aku mencoba memahami ini dan mengkait-kaitkan dengan apa yang terjadi. Ternyata, ada miskomunikasi di sini. Oleh karena itu, aku bersegera mengkomunikasikan ini pada wakil ketua yunior untuk menginformasikan raison d'etre absesnnya si krupuk. Aku menyarankan agar ditulis di papan komunitas agar dibaca oleh semua. Pagi tadi, aku sudah melihat adanya pengumuman yang seharusnya mendahului absennya si krupuk. Walau telat, tetapi itu bisa lebih membuat semua paham akan absennya si krupuk. 

Inilah seninya hidup bersama. Ada sesuatu yang harus dikomunikasikan. Ada cara berkomunikasi yang membuat semua orang terbantu. Intinya adalah bagaimana menciptakan ruang bersama bagi kebaikan bersama. Ada memang hal yang hanya dikomunikasikan pada satu pihak, namun ada juga satu hal yang kedua pihak harus diberi informasi sehingga tidak ada pertanyaan yang bernada terkejut. Prinsip well informed menjadi penting di sini. Hal yang perlu dipunyai oleh kita semua adalah salah satunya hal ini tadi, yaitu bagaimana berkomunikasi, apa yang dikomunikasikan, bagaimana aku memilah mana dan kapan harus dikomunikasikan. 

Dewasa ini, aku tidak bisa mengandaikan lagi. Baik tua dan muda sama saja prinsipnya, semua harus berkomunikasi dengan jelas dan tepat. Jika kurang jelas, buatlah agar terpampang dengan sejeles-jelasnya di komunitas. Jika masih ada yang kurang paham, maka komunikasikanlah secara baik-baik dan pribadi. Kuakui kadang ada hambatan-hambatan berkomunikasi karena mungkin malas, trauma, ada permusuhan atau konflik, lupa, dan sebagainya. Mekanisme berkomunikasi inilah yang perlu menjadi kebiasaan baik yang dilatihkan dari waktu ke waktu agar semua tercerahi. 

Krupuk telah berharga memberi kami kuliah tentang komunikasi. Krupuk katanya tidak sehat karena mengandaung minyak jenuh dan karbo yang bisa menumpuk di tubuh. Padahal ia dicari banyak orang karena gurih, renyah, dan bikin berisik saat makan dicampur dengan soto, bakso, mie ayam atau yang lain. Di luar itu semua, setidaknya kali ini dia sudah memberi kami pencerahan mengenai komunikasi. Terima kasih, krupuk.



#eveninginmyroom#

Tuesday, March 1, 2022

Lupa

Entah mengapa bulan lalu yang baru saja berganti aku lupa mencortet-coret di blog ini. Apakah karena terlalu fokus? Ah, tidak. Apakah karena terlalu sering membaca berita yang isinya perang dan lainnya itu? Tidak juga. Apakah karena sesuatu yang lain? Aku sendiri memang punya niat di akhir bulan itu. Namun sayangnya satu kata yang biasa muncul yaitu: "lupa". Ah, memang kalau tidak bisa lagi berkilah, ya kata itu yang muncul kemudian. Mulai 24 Februari 2022 lalu memang Rusia menyerang Ukraina. Akibatnya salah satunya adalah pemilik klub sepak bola Inggris, yaitu Chelsea kehilangan ownernya yang adalah seorang Rusia.  Entah kemana arah politik perang antara Rusia dan Ukraina itu. Kebiasaanku saat ini yang kusadari dan kurasakan adalah membaca berita yang lebih hidup yaitu lewat berita tivi alias tivinya orang modern adalah tivi online. Berita yang menarik adalah berita yang disiarkan entah dengan "tabung" online atau yang dikenal banyak dengan sebutan "tube" itu. Ada juga berita yang sudah dianalisa, dikomentari dan sebagainya. Itulah menariknya gaya hidup saat ini. 

Bisa jadi yang membuatku lupa adalah karena terlalu asyik menikmati "tabung" modern dengan berbagai berita dan entertainmentnya menjadi lupa mau mencoret-coret dan menuangkan ide di sini. Namun demikian, akibatnya karena kelupaan itulah ide ini menjadi muncul. Memasuki Maret aku memaksa diriku mencoret-coret dengan jariku yang memencet tombol-tombol ketikan. Setidaknya aku menuangkan kelupaanku dalam bentuk tulisan. Aku baru ingat akan sebuah apps, yaitu "screen time". Dari sana aku mulai melihat diriku selama ini: apa saja yang kubuka dalam HP-ku, berapa lama. Misalnya, youtube (1h,2m), kompas.id (6m), mail (4m), DailyScripture (3m), google photos (3m), settings (3m), WhatsApp (4s). Sebenarnya aku dibantu untuk meng-konsiderasi diriku, melihat, mengeksamen, meniti bantin dengan bantuan itu. Namun sayangnya memang aku sekali lagi "lupa". Orang bisa menyebutnya "khilaf." Coba kalau dilihat dari contoh di atas, aku bisa saja terjebak dalam entertain dan kurang produktif dari apa yang kubuka dan kunikmati. Itu semua memperlihatkan apa yang kukerjakan dengan alat atau gawai yang mendata aktivitasku.

Orang-orang saat ini juga tidak lepas dari jeratan dan jebakan aktivitas yang kadang kurang produktif sehingga banyak waktu menjadi terbuang sia-sia. Di sisi lain ada juga yang over atau workaholik sehingga seolah hidup ini tidak ada waktu berhenti untuk beristirahat. Ada juga peran-peran yang kadang terbolak balik. Ada yang sebenarnya ksatria namun berperilaku seperti seorang resi yang lebih banyak bertapa. Atau sebaliknya seorang resi namun bertindak sebagai ksatria yang berperang dan membunuh orang. Aku terinspirasi dari kisah Anak Bajang Mengayun Bulan dari Sindhunata. Episode terakhir kemarin berkisah tentang perjumpaan antara Arjunasasrabahu yang adalah raja Maespati dan Resi Ramabargawa. Arjunasasrabahu  seharusnya bertindak sebagai raja memimpin rakyat agar sejahtera. Namun dia malah sering bertiwikrama. Segala peperangan dilakukan para pembantunya sampai pada akhirnya terjadilah bencana perang dan membasmi semua orang yang dicintainya saat ia bertapa. Sebaliknya Resi Ramabargawa adalah resi yang seharusnya bertiwikrama namun justru hidupnya dihabiskan dalam kemarahan dan membunuh setiap ksatria yang ia jumpai karena sumpahnya. Ia adalah sosok yang mengalami "trauma" akan situasi orangtua yang mana ayahnya dikhianati ibunya yang berselingkuh dengan ksatria lain. Ayahnya meminta dia untuk membunuh ibunya. Sejak saat itulah Rama Bargawa menjadi menyesal karena bagaimanapun ibunya yang tidak setia itu adalah seorang yang mengandung dan melahirkannya. Karena itulah ia bersumpah kelak setelah hidupnya hanya mencari kematian para ksatria yang ia jumpai, dan ia lelah, ia ingin meminta seorang ksatria menyudahi hidupnya. 

"... aku semata-mata hanya bersumpah hendak membunuh para satria. Tidak, hai Raja, aku berharap, ada satria yang akhirnya bisa membunuh aku, dan jika itu terjadi, selesailah sudah sumpahku. maka asal kau mengerti, perjalananku mengelilingi jagat ini bukan semata-mata untuk membunuh satria, tapi untuk nggoleki dalane pati, mencari jalan bagi kematianku sendiri...," kata Resi Ramabargawa. Hal inilah yang bagi Arjunasasrabahu juga mengingatkan akan perjalanan hidupnya. Seolah-olah ia adalah raja yang sakti mandraguna sebagai titisan dewa Wisnu. Namun selama ini ia tidak berbuat apa-apa dengan yang ia capai. Yang memenangkan sayembara memperoleh Dewi Citrawati adalah Sumantri. Yang menghadirkan taman Sriwedari dari kahyangan juga adalah Sumantri. Demikian juga dengan Sumantri mendapatkan semua itu karena bantuan adiknya, Sukrosono. Jadi kisah keduanya adalah kisah utang budi dari orang lain. Setidaknya Arjunasasrabahu diingatkan bahwa hidup tidaklah kekal dan bisa dipegang terus karena pada titik tertentu, manusia juga harus menyerahkan ke dalane pati. Tak bergunalah kesaktian, ketenaran, gelar, dan segala puja puji itu jika semua akan berakhir pada pati, kematian itu sendiri.

Dia awal bulan ini, aku pun diajak menyadari agar tidak "lupa" bahwa hidup itu nggoleki dalane pati. Dan itulah yang justru membuatku berusaha untuk semakin sadar diri (jika tidak ingin menyombongkan diri dengan ungkapan "rendah hati").  Jika hidup hanya nggoleki dalane pati, seolah-olah nadanya adalah pesimistik. Bagiku tidak. Justru dalam kesadaran itu, ini merupakan jalan keutamaan agar manusia diriku ini tidak sombong dan terlalu ambisius dengan hidup; agar hidup tidak "lupa" dengan jatidirinya. Aku memang akhir-akhir ini dengan segala dinamikanya kadang takut dan merasa kecil dengan kemegahan apapun yang pada akhirnya aku adalah rapuh. Semegah apapun diriku, dasarnya adalah kerapuhan yang hakiki dan tidak bisa dipungkiri. Memang kerapuhan itu di sisi lainnya adalah kekuatan. Dua hal itu saling berkelindan. Kehati-hatian dan kepercayaan diri selalu ada. Orang bisa saja dibawa ke sisi satu dan ke sisi lain. Namun bagiku saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan itu. Di situlah keutamaan. 

Ya, dari "lupa" aku dibawa bermenung akan diriku. Aku tak lepas dari lingkup situasi jagat gede dan jagat cilik dalam diriku. Aku hanya berharap semakin hari semakin sadar diri akan diriku yang rapuh dengan keinginan-keinginan diri. Keinginan-keinginan yang kadang berpola dan tidak berpola itu seringkali membelenggu dan membuat "lupa". Setiap hari adalah medan pertempuran antara kesadaran dan "lupa". Di saat itulah aku perlu menegaskan diri dalam kesadaranku agar aku membebaskan diri dari pola-pola yang membelenggu. Hidup itu adalah jalan pemerdekaan diri. 


#kamarkudimalamhari#

Sunday, January 23, 2022

Setahun Yang Lalu

Hari ini aku diberi informasi dalam notfkasi google, bahwa setahun lalu aku travelling lumayan jauh. Bagiku ini sebuah rahmat sekaligus tantangan atau mungkin ancaman keamanan. Aku diingatkan oleh mesin yang punya memori. Memori mesin ini membantu manusia mengingat pengalaman dan perjalanannya. Di sisi lain, aku tidak bisa bersembunyi lagi. Semua perjalananku, kegiatanku, foto-foto yang terekam oleh mesin digital entah lewat gawai HP, laptop, desktop, dan sebagainya tidak bisa lagi hilang dari memori mesin yang sudah menyimpan dan kita setujui saat ia bertanya kepada kita "agree or not". 

Kadang ini membuat diriku tidak nyaman walau yang mengupload bukan diriku tetapi orang lain. Orang bisa saja menelusuri perjalananku dan melaporkan itu entah sebagai komentar atau jika berniat jahat ya bisa dikasuskan dan sebagainya. Orang dengan seenaknya bisa masuk dalam kawasan atau wilayah atau ruang orang lain. Antara privasi dan ruang publik sudah tercampur. Dan bagiku, aku masih rada-rada "trauma" dengan penerobosan atau "bludhusan" (dalam istilah Jawa-nya) ini. Aku sadar bahwa memang kita tidak bisa lagi bersembunyi. Bahkan seandainya tidak punya gawai pun orang lain yang mendokumentasikan kita dan mengupload di dunia maya, akhirnya juga membuat diriku terpampang di sana dan mudah diakses siapapun. Jadi, sikap hati-hati dan waspada itu perlu. Kecenderungan "kepo" orang saat ini sangat kuat. Kebiasaan melihat status di medsos itu sudah fenomena lumrah. Dunia semakin transparan. Itu baik. Namun di sisi lain, kebiasaan "kepo" dan "bludhusan", memantau, memata-matai (tentu dengan kepentingan dan muatan tertentu) itu tentu tidak bijaksana. Seandainya pun tahu, ya apa harus kemudian diangkat sebagai isu yang harus bernada "mengecek", menanyai kembali, menginvestigasi? Inilah yang bagiku sangat-sangat tidak menyenangkan, membuat sebuah rasa tidak nyaman. 

Semakin ke sini aku semakin disadarkan untuk berhati-hati, dengan semangat jongos tidak ingin "kemlinthi". Siapakah aku ini sehingga pamer-pamer diriku dan pekerjaanku, perjalananku, dan sebagainya. Aku merasa bahwa dengan notifikasi dari mesin itu, aku makin disadarkan bahwa diriku ini rapuh. Kerapuhan itu bisa menjadi senjata penyerang yang mematikan sekaligus lubang kelemahan yang diincar orang lain untuk menjatuhkan. Ketika euforia FB, aku senang sekali upload foto-foto pemandangan, aku berada di mana, apa saja kegiatanku, dan sebagainya yang nadanya pamer. Ketika aku menjalani pekerjaan yang lain terlebih membaca fenomena kejatuhan-kejatuhan tokoh-tokoh karena postingan-postingan entah ujaran kebencian, entah video tiktok, entah foto-foto pribadi yang kurang layak, aku baru menjadi sadar bahwa kita dibawa pada dunia absurd yang harus makin belajar hati-hati. Orang baru sadar ketika dirinya dikomentari orang lain itu tidak benar atau yang menohok atau melukai pihak lain tapi kita tidak peka. Dan aku tidak ingin seperti itu.

Penyalahgunaan kekuasaan atau power itu tentu mulainya dari yang sederhana. Orang tidak merasa lagi sensitif dengan penyalahgunaan itu. Kemudian ketika publik merespon, ia baru dihajar oleh cacian dan reaksi-reaksi negatif tentang dirinya dan apa yang dibuatnya. Orang pamer kekayaan. Orang pamer keberhasilan. Orang pamer hal-hal yang sifatnya kegiatan dan keberadaan atau status dirinya. Dan itu sangatlah umum lumrah di masa ini. Tapi bagiku semakin patut waspada (dan mungkin agak was-was juga) ketika aku diposting orang lain, walau itu hanya sekedar foto biasa, foto yang tidak ada nuansa ketidakpantasan, tetapi ketika dibaca oleh kaca mata orang lain yang punya kepentingan berbeda, pasti akan bernilai lain. Entah itu bernuansa menginvestigasi, entah itu sok ingin tahu, entah itu kepo, semua itu bisa saja terjadi di zaman serba informatif ini. 

Ya, aku hanya bermula dari notifikasi "setahun yang lalu" oleh google picture dan tiba-tiba aku juga merasa koq diriku tidak secure kadang. Dan ini kadang membuatku perlu siap-siap menerima berita yang tidak mengenakkan, entah dilaporkan atau dituduh, atau dapat pesan dari nomer tidak dikenal, atau penipuan-penipuan dalam bentuk apapun. Segala sesuatu itu mungkin terjadi. Namun sekali lagi, kewaspadaan itu penting. Walau aku sadar bahwa bahkan ketika orang sudah wasdapa pun, ada sandungan-sandungan yang kadang terjadi. Orang Jawa menyebut: "kesandhung ing tawang." Artinya, sehati-hatinya kita, ada saja halangan atau kegagalan yang bisa saja menghadang di jalan. Ibaratnya berjalan di udara atau di langit, koq ya bisa tersandung. 



#noontimeinmyroom#