Friday, December 30, 2022
Perputaran
Monday, December 19, 2022
Pertolongan dari Atas
Mungkin ini adalah sebuah pembuktian sekaligus pemenuhan. Setelah 36 tahun lalu juara itu diraih, saat ini baru kembali. Aku telah menulis di coretanku sebelumnya, ketika itu aku masih 10 tahun, sebagai anak kecil. Entah mengapa legenda sang juara itu akhirnya membuatku harus jatih cinta pada sepakbola dan negaranya setiap kali ikut kejuaraan dunia. Aku sendiri tidak fanatik dengan negaraku tapi dengan negara sang legenda ini. Ketika juara aku ikut senang, ketika kalah aku ikut sedih. Apakah pengalaman membekas 36 tahun lalu itu yang membuatku demikian? Aku sendiri tidak tahu. Dan malam dini hari tadi, negara sang legenda telah menorehkan diri sebagai juara ketiga kalinya. Sang legenda melahirkan legenda baru, "sang Messiah". Aku pun menonton pertandingan dari awal sampai akhir, bahkan sampai penyerahan piala karena mengingat 36 tahun lalu aku melihat hal yang sama.
Ada sebuah foto menarik di sebuah majalah mainstream. Foto itu seolah mewakili kegembiraan hari ini karena pembuktian dan pemenuhan itu terjadi dini hari ini tadi. Setelah itu dirindukan selama 36 tahun dan akhirnya terwujud. Dalam foto itu, ada sang legenda baru dengan piala benuanya dan sang legenda lama dari atas dengan piala dunianya. Itu merupakan gaya dari gambar Michaelangelo tentang penciptaan Adam, sebuah fresco di dinding langit-langit kapel Sistina di Vatikan. Nah, kalau kita ingat akan gaya itu, maka lukisan itu dibuat sama gaya penampakkannya. Sang legenda lama menjadi "Allah" yang memang disebut-sebut sebagai "el Dios" dari negeri ini. Sedangkan legenda baru menjadi "Adam"-nya. Tulisan di bawahnya disebutkan "Mandas en mi corazon". Aku mencoba mencari tahu terjemahannya. Arti secara umumnya adalah "you rule my heart". Memang rakyat negeri itu memohon dengan sangat setelah sekian lama kehausan jadi juara. Ketika sebuah negeri yang sering dilanda pergolakan, di sanalah sosok legenda, pahlawan itu diimpikan.Menunggu sekian lama dan tentu itu tidak mudah. Lebih banyak menyakitkannya daripada menyenangkannya adalah hal yang terjadi saat orang menunggu. Menunggu pun penuh ketidakpastian. Seorang sastrawan pun menyebutnya sebagai "jangan sampai saat menunggu itu kita dihempaskan oleh harapan itu sendiri" (walau ia menyebutnya "terhempas oleh cinta"). Ya, kadang saat menunggu itu kita seolah diombang-ambingkan oleh harapan dan cinta. Bisa saja karena saking berharap itulah kita juga terhempas. Iya kalau harapan itu segera dipenuhi oleh waktu. Jika tidak, maka kita pun dituntut untuk bersabar dan menunggu lagi dan lagi. Entah sampai kapan. Dini hari tadi adalah pembuktian dari kegigihan dan ketekunan berusaha dalam penantian. Terlepas dari semua hal yang ada, apa yang didoakan, diharapkan, didaraskan setiap saat di hati ini tentu akan terdengar oleh semesta, entah kapan semesta akan memenuhinya. Aku tak pantas mengutuk pada semesta dan waktunya ketika harapan itu sering kandas. Waktu akan menjawab dengan pemenuhannya sendiri. Waktu yang kuharapkan sering tidak seperti yang sang waktu jawab.
Dalam sebuah pertandingan hanya ada kalah, menang, dan atau seri, tergantung sistem kompetisinya. Dengan "nasib" itu semua, kita hanya bisa menyiapkan diri untuk menerima manakah yang akan kita terima di akhir. Jika menang, kita akan bergembira. Jika kalah, kita tentu sedih. Jika seri, di sana masih ada harapan untuk menang. Aku sadar bahwa hidup ini harus menyiapkan semua itu. Hidup yang disiapkan akan jauh lebih antisipatif daripada tidak. Apapun yang akan terjadi dan dihadapi pastilah konsekuensi dari apa yang kulakukan, dengan segala hal yang menyertainya (keluarga, anak, suami, istri, rekan kerja, komunitas, situasi politik dan lain-lain). Hidup ibaratnya sebuah pertandingan itu sendiri. Aku harus siap kalah, menang, atau seri.
Dulu motto hidupku adalah "aku suka kemenangan karena dunia suka kemenangan". Itu adalah motto yang kuadopsi dari seorang pemain bola asal Bulgaria, Khristo Stoijkov. Dia haus goal. Dia penyerang yang juga pemain Barcelona. Pada eranya, Bulgaria menjadi negara yang disegani dan dia sangat ambisius dengan kemenangan. Saat ini, aku perlu mengoreksi diri bahwa hidup ini bukan hanya kemenengan demi kemenangan namun ada juga kekalahan demi kekalahan. Kegagalan dalam hidup bukanlah akhir dari segala. Walau aku harus terpuruk, aku mencoba bangkit lagi walau itu tidak mudah. Ketika mengalami tentu banyak hal yang kualami: malu, malas, sakit, kecewa, murung, tak semangat, dan segala macam suasana hati yang gelap. Bahkan bisa jadi orang mau mengakhiri hidupnya ketika gagal dalam hidup. Itulah sebab karena saking gelapnya dunia.
Hari ini aku merasa bahwa seluruh doa-doa rakyat Argentina didengarkan Diego Maradona dari atas. Messi telah terpenuhi keinginannya untuk mengangkat piala dunia itu. Itulah pertolongan "el Dios". Seterpuruk-terpuruknya dan "desperate"-nya hidup tentu ada pertolongan, entah itu akan terjadi kapan. Itu bisa saja dalam hitungan bulan, tahun, abad, dan sebagainya. Yang kukatakan ini adalah sebenarnya cerminan dari harapan itu sendiri. Tanpa harapan, aku tidak bisa menuliskan apa yang kuocehkan ini. Harapan itu melahirkan pertolongan dari atas. Itulah kado terindah di akhir tahun 2022 ini. Kemenangan ini akan diingat oleh banyak orang dan akan selalu abadi.
Muchas gracias, Messi. Muchas gracias, Don Diego...!! Bravo, Argentina !! Mandas en mi corazon...
#inmyroom#
Monday, November 7, 2022
Hupokrinesthai
Aku lantas menjadi semakin bertanya, sebenarnya apa sih yang dicari selama orang suka masuk dalam dunia platform itu? Atau setidaknya mengapa orang suka mengekspose dirinya sehingga menjadi "sorotan" di seantero media? Apakah ketersohoran itu sebuah pencarian yang berujung pada tujuan?
Aku lantas ingat sebuah kata, "hipokrit". Apakah ini sebuah bagian dari kemunafikan? Orang cenderung menutupi, memulas, memoles, bersolek dengan foto dan video dengan editan daripada kehidupan real yang dialami. Bisa jadi awalnya adalah memudahkan orang untuk melaporkan bahwa "saya sudah mengerjakan ini dan itu, saya berada di sini dan situ, saya sedang ini dan itu". Lantas karena menjadi keseringan, dan itu sangat mudah, tinggal "klik" dan "send" maka apa yang dilakukan sudah dilihat pimpinan, rekan, dan keluarganya.
Para pasukan oranye atau yang berwarna apapun di Jakarta ini sudah sering kulihat melakukan hal yang sama untuk sekedar melaporkan atau mengupdate pimpinan atau grup-nya tentang apa yang dikerjakan. Memang mudah dan praktis, "klik" dan "kirim", seolah semua itu sah. Aku kemudian menjadi sanksi dengan kualitas kerja mereka yang hanya formalitas kirim-kirim foto ke sana ke mari hanya untuk memoles bahwa seolah-olah itu sudah terjadi. Perkara kualitasnya nomer sekian, itu mah nanti.
Nah, persis di situlah kata "hupokrinesthai" yang adalah akar kata dari hipokrit itu. Artinya sendiri adalah berpura-pura menjadi atau berperan atau melakukan seperti... Atau kata lainnya adalah aktor dalam seni teater. Kepura-puraan itulah yang kemudian didukung oleh teknologi saat ini yaitu teknologi informasi dan telekomunikasi dengan media yang super canggih.
Kemunafikan sudah mendapat wadahnya. Kemunafikan sudah difasilitasi. Orang tidak kenal lagi atau sangat amat asing dengan otentisitas diri dan aktivitasnya. Semua itu polesan dan serba hiasan luaran belaka. Orang lebih senang memoles daripada hidup dalam keaslian diri. Walau itu baru mulai, tetapi sudah difoto dan video, seolah-olah aktivitas itu sudah "marketable". Orang lupa pada kesejatian. Memang ini berbeda pendekatan. Ada yang mementingkan isi. Ada yang mementingkan bungkus. Namun kalau keduanya hanya pepesan kosong, lantas apa yang bisa dipegang?
Kemunafikan sudah menguasai hidup. Oleh karenanya, orang cenderung hanya bangga dengan foto yang menjadi "status" luaran yang nampak. Orang menjadi puas seolah ia sudah melakukan yang terbaik. Orang bangga karena bisa update status dengan segala manipulasinya. Orang cenderung terasing dari kesejatiannya. Ia tak kenal lagi siapa dirinya. Dan bisa jadi dirinya adalah yang carut-marut, bisa jadi ia adalah psikopat akut yang memoles diri dengan manipulasi canggih, bisa jadi ia adalah yang berlawanan dari apa yang ia gambarkan dalam "statusnya".
Pagi ini, diiringi hujan, aku hanya menuangkan sekdar pikiran dan pertanyaan yang tadi sempat tersirat dalam benakku. Dan mungkin ini sebagai bagian dari refleksiku dalam perjalanan hidup ini.
#morningrain#
Wednesday, November 2, 2022
Recuérdame
Kisah ini hanya dari sebuah cerita dari film tahun 2017. Namun kisah itu sudah beberapa kali kuulang dalam sebuah moment berbagi. Terlebih untuk hari ini aku memang mendedikasikan bagi seluruh pribadi atau jiwa-jiwa yang sudah dimuliakan Hyang Kuasa ke haribaanNya. Aku perlu mengingat karena mengingat itu adalah sebuah tindakan itu sendiri. Mengingat adalah cara bertindak untuk merengkuh dan menyatukan kembali. Mengingat adalah menghadirkan kembali (anamnese). Mengingat adalah sebentuk mencintai itu sendiri. Tanpa sebuah ingatan akan sebuah hal, kejadian atau sosok pribadi atau banyak pihak lain yang singgah dalam perjalanan hidup, rasanya kehidupan ini hanya sebuah slide yang berjalan tanpa makna. Ingatan itu membantu memaknai. Oleh karena itu, bagian dari sejarah yang terpenting adalah ingatan. Sejarah bukan menghafal walau itu juga harus memakai ingatan. Ingatan jauh lebih dalam daripada sekedar hafalan.
Seorang bocah bernama Miguel itu akhirnya berjumpa dengan leluhurnya karena ada sebuah ingatan yang awalnya dipertanyakan. ia bertanya mengapa ada leluhur yang dalam foto di rumahnya, bagian kepalanya disobek. Waktu itu, ia ingin mengikuti lomba seni musik. Namun sayang ia tidak punya alat musik. Ketika di sebuah makam, ia menemukan di sebuah nisan, ada gitar putih yang diletakkan di situ. Ia bergembira karena ia akhirnya menemukan alat musik yang hendak dipakainya untuk lomba. Namun sayangnya, ketika menyentuh gitar itu, ia justru dibawa ke alam kematian. Ia berjumpa dengan jiwa-jiwa yang ada di sana. Dan karena itulah, ia kemudian bisa merunut, siapa sebenarnya sosok foto keluarga yang bagian kepala (wajah) disobek. Ternyata itu adalah foto ayah dari nenek buyutnya. Ia bertemu "Mbah Canggah"-nya (dalam istilah Jawa-nya). Ternyata "Mbah Canggah"-nya adalah seborang musikus, setidaknya gitaris pada zamannya. Namun demikian, keahlian "Mbah Canggah"-nya itu justru yang menjadikan keluarga mereka menyobek foto itu. Mengapa demikian?Keluarga tidak selalu menginginkan anggotanya menjadi seorang musikus karena alasan bahwa musikus itu profesi yang tidak menghasilkan uang. Menjadi musikus itu ibaratnya profesi yang tidak bisa diharapkan mampu menghidupi keluarga. Itulah mengapa keluarga besar membenci Mbah Canggahnya itu. Namun demikian, bagi Miguel, justru peristiwa itulah yang kemudian menyadarkan dirinya untuk mengingat keluarganya itu. Dalam tradisi Katolik Mexico, ketika orang tidak lagi mengingat salah seorang anggota keluarganya, ibaratnya ia sudah tidak lagi dianggap dalam kalangan keluarga besar atau kecil. Bahkan saat mendoakan arwahnya pun ia tidak diingat lagi karena tidak memenuhi harapan keluarga. Inilah yang menyadarkan Miguel untuk kembali membangkitkan harapan dalam keluarganya supaya tidak meniadakan atau mengasingkan atau membunuh bahkan ingatan itu. Sejelek-jelek atau setidak baiknya pribadi dalam keluarga itu dan tidak mampu ia memenuhi tuntutan keluarga, tidak baiklah jika pribadi itu dilupakan dari memori keluarga. Melupakan itu sama saja dengan meniadakan atau mengubur dalam ketidakingatan. Digambarkan dalam film itu, ketika jiwa-jiwa tidak lagi diingat atau didoakan atau diperingati, maka mereka akan terhapus dari dunia orang-orang mati dan entah kemana kita tidak tahu. Maka jiwanya akan menghilang seperti lenyap dalam asap dan tidak kelihatan lagi.
Entah itu keluarga dekat atau hanya kenalan atau saudara jauh sekalipun, jika itu ada dalam ingatan kita, maka kita tetap memberi kehidupan baik di dunia dan di akhirat. Di dunia ini, kita masih berziarah dalam perjuangan hidup. Di akhirat, kita tidak tahu seperti apa situasinya, setidaknya kita memberi asa bahwa kita mengingat mereka. Mengingat adalah menghidupi, menghadirkan, merengkuh, mendukung, memberi sapaan, dan kita percaya bahwa mereka adalah pendoa bagi kita yang masih berziarah di dunia ini. Aku lantas terngiang bahwa kita semua masih berada dalam perjuangan dan seperti terhempah dalam lembah kedukaan di dunia ini. Seperti dalam kidung Salve Regina, kita bernafas terengah-engah dan menangis dalam lembah air mata, "gementes et flentes in hac lacrimarum valle."
Mengingat banyak hal, banyak peristiwa, banyak pribadi-pribadi, baik yang masih hidup dan sudah meninggal, aku pun diajak mengingat banyak rahmat dan pergulatan yang pernah terjadi. Lagu "Remember me" atau "Recuérdame" itu mengajak bermenung tentang hidupku, peristiwa-peristiwa dan tentu relasi yang pernah kita buat. Keluarga akhirnya mengajarkan kepada kita untuk hidup dan berdamai dengan masa lalu juga. Jika ada kekurangan, tentu itu bagian dari peziarahan. Sesuatu yang pada masa lalu tidak diharapkan oleh keluarga bisa didamaikan asal kita semua terbuka dan mau rendah hati memeluk kerapuhan kita dan keluarga kita. Mengingat adalah menyembuhkan dan menyatukan.
Sambil mengingat dan mendoakan semua jiwa yang sudah dipanggil Tuhan, aku mengingat doa yang tiba-tiba dari kesadaran primordialku muncul kembali, yaitu Salve Regina (Salam, ya Ratu), karena sang Ibulah yang sudah mencarikan jalan lewat lorong-lorong lembah duka itu menuju kepada Firdaus kembali. Sang Ibu telah menjadi penolong dan pembelaku dalam menyusuri jalan setapak di dunia ini dari keterbuangan di lembah air mata. Tak lupa aku juga mengingat akan sekian banyak orang yang turut mendoakanku dalam pergulatan hidup ini, mereka yang dengan berani membelaku dan berkata bahwa mereka ada di sisiku dan mendoakanku. Maka doaku yang kubaharui lewat terjemahan dari bahasa asali dan nuansa yang lebih mengena, kutuliskan demikian:
Salam ya, Ratu. Ibu yang berbelaskasih, salam dari kami, hai Engkau yang hidup, yang manis, dan harapan kami. Kami, anak-anak Hawa yang terasing ini, menangis kepadamu. Kepadamu, kami bernafas terengah-engah dalam lembah air mata ini. Ya, Ibunda, pembela kami, arahkanlah matamu kepada kami yang malang ini. Dan tunjukanlah, Yesus, buah rahimmu kepada kami, agar kami diberkati dalam pengasingan ini. O, penyayang, O, engkau yang saleh, O, Perawan Maria yang manis.
#mementomori#
Saturday, October 29, 2022
Si Bung Besar
Tokoh kita tak lain adalah Si Bung Besar. Sosok ini telah membuat banyak orang di negeri ini terpana dan sampai saat ini telah dibuatnya jatuh hati. Dari rakyat jelata sampai tokoh publik pun tidak bisa mengelak bahwa Si Bung Besar itu telah berjasa walau tentu ada kekurangannya. Kalau kita hanya melihat sosok dari satu sisi, memang kita cenderung jadi fanatik atau sebaliknya: antipati. Kita perlu melihat secara berimbang segala sesuatunya. Seorang tak lepas dari kekuatan dan kelemahannya. "Never judge anyone shortly because every saint has a past, and every sinner has a future," kata Oscar Wilde.
Aku mencoba melihat dari akhir masa hidupnya. Dia masih sangat energik dan bersemangat untuk berjuang bagi negeri ini. Bahkan di masa akhir kepemimpinannya, ia masih berambisi untuk menyerang negeri seberang dengan kata-kata "ganyang!" Sebuah ungkapan kata yang agresif dan menakutkan. Agitasi yang dibuatnya memang membuat banyak pihak gentar dan marah. Kemarahan yang ditimbulkan dari ancaman si Bung Besar memang akhirnya memakan dirinya. Dirinya dimakan oleh kemarahan dan dendam orang-orang di sekitarnya. Dendam dan kemarahan orang-orang di sekitarnya telah membakar dan meluluhlantakkan segala yang dirancang si Bung Besar. Dan seolah-olah kata "ganyang" itu memakan dirinya sendiri yang "terganyang" oleh balas dendam dan kemarahan pihak lain.
Aku teringat bagaimana di masa mudanya, ia adalah sosok yang berjuang sampai diasingkan dan akhirnya di akhir masa kekuasaannya ia pun mengalami "pengasingan". Musuhnya tahu betul bahwa pengasingan yang sepi dan jauh dari siapapun membuatnya pelan-pelan mati karena semasa hidupnya ia pernah mengatakan, "Jika ingin membunuhku, jauhkanlah aku dari rakyatku". Dan seolah apa yang dikatakan itu jadi hal yang dipakai untuk membunuhnya sendiri. Ketika zaman kolonial Belanda, ia diasingkan ke berbagai tempat: Digul, Flores, Sumatra. Dan ketika di masa akhir kekalahannya, ia "diasingkan" sebagai tahanan rumah di Wisma Yasso. Itulah perjalanan hidupnya. Itulah perjalanan si Bung Besar yang ternyata ketika muda diasingkan dan di masa tua juga diasingkan.
Pengasingan bisa jadi penyemangat ketika masih bisa dekat dan berbuat sesuatu. Namun pengasingan bisa jadi senjata pembunuh ketika semua dibatasi dan diawasi, tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Ketika di Flores, si Bung Besar masih bisa menjalankan aktivitasnya sebagai pembaca buku, menulis, dan bermain teater bersama masyarakat sekitar. Pengawasan dari Belanda ada namun tidak seketat ketika di Wisma Yasso. Hidupnya di Flores masih bisa berdiskusi dengan warga sekitar. Ia masih bisa berdiskusi dan membaca buku di perpustakaan biara salah satu tarekat katulik. Ia berdiskusi dengan pastur Johanes Bouma dan Gerardus Huijtink. Keduanya pastur Belanda. Ketika di Ende Flores itu, ia masih bisa bermain dengan para nelayan dan anak-anak pantai. Ketika itu, ada juga tentara yang mengawasi namun masih bisa dikelabuhi.
Berbeda dengan waktunya di Wisma Yasso, ia sama sekali dipenjara di dalam rumah. Bertemu keluarganya pun dilarang kalau tidak penting. Bahkan bertemu dengan sahabatnya pun dilarang. Ia hanya bisa bertemu keluarganya kala mendapat kiriman makanan. Pembicaraan pun dilarang berlama-lama. Si Bung Besar mengalami keterasingan yang mematikan. Ia hidup dalam kesepian diri. Ia akhirnya tak kuasa menahan sepinya hidup yang terasing dan terpenjara. Ia dilumpuhkan dan dilucuti dari segala sesuatunya. Jasa-jasanya di saat membangun dari nol negeri ini seolah ditampik. Jasa-jasanya ketika memperjuangkan tegaknya sebuah bangunan negara bangsa ini seolah ditiadakan dari ingatan dan sosok dirinya. Ia dianggap sebagai sebatang tubuh reyot yang tidak berharga gara-gara keberaniannya menyerang mereka yang berkuasa dan yang punya senjata. Di sisi lain, ia juga sangat terbuka dan blak-blakan dengan dirinya dan ideologinya sehingga musuhnya pun mudah mengincarnya. Sosok yang dahulu berkobar-kobar dan bersemangat orasi, pidato, pada akhirnya tumbang oleh pengasingan dan dijauhkan dari rakyatnya. Akhirnya ia pun dibunuh oleh musuh dari dalam dan dari luar yang memanfaatkan orang dalam.Keterasingan itulah yang akhirnya dialami oleh si Bung Besar. Keterasingan di masa muda ternyata berlainan ketika di masa tuanya. Kerapuhan dirinya tak bisa melindunginya. Ia pun diserang dengan berbagai propaganda hitam untuk mengakhiri kekuasaannya. Ia diserang dengan kemarahan dan protes besar yang melengserkan kekuasaanya. Dan yang sangat tragis adalah ia diporak-porandakan oleh keculasan pihak-pihak yang memakai suratnya untuk melumpuhkan dirinya. Senjata makan tuan. Ia "terganyang" oleh surat yang dibuatnya, walau sebenarnya itu tidak dimaksudkan untuk hal seperti itu. Surat itu akhirnya dipakai yang menerima mandat dengan motivasinya sendiri yang sangat berbeda dari yang dimaksud si Bung Besar.
Sebenarnya para pengikutnya masih ingin si Bung melawan. Bahkan ada yang berhasil menyusup ke Wisma Yasso yang dijaga ketat oleh aparat. Si Bung dengan sangat hati-hati dan akhirnya merelakan semua dilucuti dari dirinya dengan mengatakan bahwa sebagai saudara tidak boleh terjadi perang antar saudara. Bahkan si Bung mengatakan kepada pengkutnya supaya tidak terjadi pertumpahan darah antar mereka. Walau apa yang diharapkan si Bung tidak terjadi. Pertumpahan darah tetap terjadi. Balas dendam berdarah pun terjadi: kematian tujuh orang perwira tinggi dibalas dengan jutaan nyawa rakyat jelata yang dianggap membangkang oleh penguasa dan para musuh si Bung. Itu yang membuat negeri ini sampai saat ini tetap menyembunyikan kekejian yang pernah dibuatnya sendiri. Jadi pertumpahan darah itu tetap saja terjadi, bahkan lebih mengerikan daripada yang dikhawatirkan si Bung. Si Bung bisa saja dianggap bersalah. Namun demikian tetap saja ada yang lebih bersalah ketika ada yang mau jadi jagal bagi saudaranya sendiri. Dan karena hal ini, bangsa ini masih tetap saja merasa tak mau membongkar dan mengakui bahwa telah ada kesalahan karena kekejaman yang memakan nyawa saudara sendiri. Hanya pengasinganlah yang bisa membunuhnya. Sebenarnya saat demo besar-besaran dan propaganda hitam itu hampir saja membunuh karakternya. Entah dia disebut tukang kawin, anjing Peking, dan sebagainya, namun ternyata pembunuhan karakter tidak segampang itu untuk sekelas si Bung.
Yang pasti, di masa tuanya, dia dan keluarganya tidak memakan uang rakyat. Bahkan yang paling mengharukan adalah dia tidak punya uang sepeserpun untuk membeli buah. Ia meminjam atau meminta uang ajudannya untuk membeli sesuatu. Ia dimiskinkan atau tidak punya harta material sebagai orang yang disebut pendiri bangsa, mantan pemimpin negeri, pemimpin besar. Dan kiranya itulah yang tertanam kuat di seluruh negeri ini bahwa seburuk-buruknya karakter si Bung, ia pada akhir hidupnya tidak punya apa-apa selain kecintaannya pada rakyat dan negeri ini. Semua dilucuti.
Ah, masih banyak sebenarnya yang ingin kuungkapkan namun pasti tak cukup untuk cerita di lembar ini. Aku mengingat sebuah kuburan massal di daerah kelahiranku dan itu cukup untuk mengenang bagaimana banyak saudaraku yang terbunuh karena tragedi penjagalan nyawa manusia sebelum aku lahir. Mengenang si Bung, aku jadi mengenang Mbah Jenggot dan banyak saudara tak kukenal dalam lubang yang kuburan massal itu. Aku masih ingat ungkapan dari salah seorang yang aku lupa namanya, menulis demikian: "Indonesia ini lahir dari penculikan (peristiwa Rengas Dengklok), dibaptis dengan darah pembantaian (tragedi 1965)". Dan itu bisa diteruskan, "... dibesarkan dengan darah sekian nyawa selama 32 tahun". Negeri ini masih terasing dengan dirinya karena masih banyak nyawa diasingkan dalam lubang kuburan massal yang sudah banyak tak dikenali dan tidak mau mengakui bahwa adanya kesalahan karena pembantaian besar-besaran itu. Kesalahan itu ditutupi dan entah sampai kapan mau diakui.
#malamhari#
Saturday, September 24, 2022
Pengasingan
Aku menyatakan diri bahwa manusia itu jauh dari sempurna. Namun demikian adagium ini tidak mudah diterima begitu saja. Sejak manusia berkisah pun itu sudah terjadi. Ketidakmudahan menerima bahkan saudaranya sendiripun terbukti. Teringat ini, aku pun mencoba menelusur perjalanan kisah manusia sejak ada dalam narasi. Aku hanya bersumber dari satu narasi yang cukup dikenal. Sedangkan aku percaya tentu masih ada narasi-narasi primordial asali lain yang tentu senada.
Karena kecemburuan hati seorang Kain maka Habel pun disingkirkan. Mereka ada saudara. Persembahan Habel lebih diterima Allah daripada milik Kain. Itulah sebabnya kedua saudara ini menjadi bermusuhan. Kisah ini sepertinya bernada (seolah-olah, jika dilihat dari pihak yang tidak terima) Allah pilih kasih ketika menerima dua persembahan dari dua saudara ini. Inilah pembunuhan pertama, "the first murderer" dalam narasi peradaban manusia. Kain sebenarnya tahu bahwa ketidakmurahan hatinya bukan terjadi begitu saja. Ia melatih diri untuk tidak murah hati, ia tidak melakukan apa-apa untuk murah hati. Iri hati bukanlah perasaan yang muncul begitu saja, tetapi suatu kesengajaan.
Oleh karena itu, yang terjadi adalah bagaimana menyingkirkan Habel, adiknya. Ia mencoba membungkam Habel. Ia menghapus keberadaannya. Ia membunuhnya. Membunuh bisa dimulai dengan memperkeras suara kepada pihak lain, marah. Membunuh bisa dengan mengatakan hanya yang ada di kepalaku sendiri dan tidak mempertimbangkan sudut pandang orang yang kuajak bicara. Membunuh bisa saja dengan berbagai cara yang membuat orang lain sakit, terluka, marah, trauma, kecewa, cemas, tidak nyaman, mengintimidasi, dan berbagai tindakan yang ujungnya meniadakan orang lain karena demi keberadaan dirinya dan memuaskan kehendak dirinya. Bisa saja orang terus-menerus mengulang permintaan atau penjelasan atau tuntutan kepada pihak lain.
Padahal Allah sudah bertanya kepada Kain, "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Hal itu tidak dihiraukan Kain lagi. Ia pun segera menerima godaan dan hanya ada kemarahan, sehingga tindakan pembunuhan pun terjadi. Ketika di padang itu, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.
Karena Kain membunuh, darah Habel pun bertetiak sehingga Allah mendengar. Ia bertanya, "Apakah yang telah kau perbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu...; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." Kain menjadi terasing dari dirinya. Kain terasing dari tanah dia berpijak asalnya. Kain terhempas karena ia bersekutu dengan kemarahan dan iri hatinya.
Membunuh atau dibunuh itu tergantung dari sudut pandang siapa yang akhirnya lebih kuat, lebih berkuasa. Semula bisa saja orang dituduh sebagai pembunuh, tapi di periode yang lain, ia dibunuh karena situasi politik berlawanan dari situasi yang membuatnya berkuasa sebelumnya. Bahkan narasi bisa saja dibelokkan karena kekuasaan narasi itu dibangun demi kepentingan tertentu. Dalam sebuah keluarga besarpun ada yang menjadi pembunuh dan ada yang menjadi pihak yang terbunuh. Kisah Kain dan Habel menjadi terus berulang dalam bilangan kisah sejarah manusia dari zaman ke zaman. Membunuh dan dibunuh itu sesuatu yang terus berulan, dan kata Pengkotbah tidak ada yang yang baru di bawah matahari. Dan segala sesuatu ada waktunya. Perpolitikan telah membuktikan bahwa yang dianggap berkuasa pun bisa terbunuh secara massal dan dihilangkan demi kepentingan politik kekuasaan yang lebih besar. Bahkan mengakui bahwa yang membunuh dan pembunuhan massal telah terjadi itu adalah kesalahan itu pun sampai saat ini belum dibuat. Masih ada balok besar yang menghalangi untuk sebuah pengakuan dan meminta maaf.Manusia masih memilih mengasingkan diri dari tanahnya dan lebih memilih mengembara dalam keterasingannya. Mengasingkan orang lain dengan meniadakan keberadaannya seperti sebuah pola yang sejak adanya manusia sudah diturunkan. Dirinya pun akhirnya terasing. Aku sadar bahwa diasingkan itu tidak mudah. Diasingkan itu harus berhati-hati. Diasingkan itu selalu diawasi dan dicurigai. Hidupnya seolah diawasi dan disorot. Geraknya dibatasi. Hidupnya rentan. Keselamatannya tidak terjamin. Seolah-olah yang mengasingkan itu mau mengurusi setiap gerak geriknya.
Aku sadar bahwa sering banyak orang (mungkin diriku juga) menganut aliran ideologi "Kainisme dalam perbuatan dan kata-kata". Aku mengakui bahwa tentu ada pihak-pihak yang telah kulukai dan kusingkirkan secara sengaja atau tidak. Aku bahkan menemui sendiri bagaimana kainisme itu sudah mempengaruhi pola perilaku manusia dari zaman ke zaman yang karena kemarahannya, ia sebenarnya belum berdamai dengan kesakitan, trauma, kecemasan, ketakutan dan frustrasinya. Itu semua diproyeksikan kepada pihak lain ke semua arah dan seperti api yang memercik semua terkena dampaknya. Tersulut sedikit, api kemarahan itu membakar semua hal di sekitarnya.
Aku akhirnya hanya bisa menengok pada diriku. Kucoba berserah dan memohon rahmat ilahi agar keluar dari keterkurungan "tanah asing" karena aku seperti "pelarian" yang terbuang sehingga menjadi "pengembara". Aku sadari bahwa diri ini jauh dari sempurna, orang lain pun juga. Harapannya adalah ada waktu yang akan menjawab kegelisahan orang di tanah terasing ini.
#gotinspirationinthenite#
Wednesday, August 31, 2022
Antara Marah dan Ramah
Salah seorang ekspatriat yang tinggal di rumahku sedang belajar bahasa Indonesia. Banyak kata dipelajari. Banyak kalimat diucapkan untuk melatih berbahasa. Dari sana aku menyadari bahwa ada kata yang bunyinya mirip-mirip namun artinya berbeda. Bagi orang asing yang sedang belajar bahasa ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Pernah ia mengatakan antara "marah" dan "ramah" itu terbalik. Ketika ia memuji keramahan seseorang, ia malah mengatakan "Dia sangat marah padaku". Sedangkan ketika ia melihat seseorang marah di jalan, ia berkata "Tadi ada orang ramah di dekat sana." Kami semua tertawa. Namun dari kesalahan-kesalahan ini kita belajar dan memberi tutorial kepada dia. Ada lagi juga yang ia katakan memang hampir mirip yaitu antara "pesawat" dan "perawat". Dia dengan santai mengatakan "tadi ada banyak perawat di airport ya". Kami tertawa juga. Lalu kami ada yang nyeletuk, "Kalau perawat banyak di Rumah Sakit". Dia ikut tertawa.
Setidaknya, melihat dan memperhatikan orang belajar bahasa itu aku juga ikut belajar memahami orang lain dan juga bahasaku sendiri. Banyak di antara kata-kata itu hampir mirip bunyinya. Apalagi bagi orang asing yang harus memasukinya. Belajar bahasa bukan hanya belajar cara berpikir dan budaya sebuah bangsa. Belajar bahasa juga akhirnya belajar mengucap dengan benar, penuh kepekaan dan paham makna sejatinya.
Ketika mengingat banyaknya bahasa di dunia ini, betapa keragaman itu sangat hakiki. Ketika yang bunyinya sama pun berbeda makna dan bahkan berseberangan/ bertolak belakang, ini menjadi sebuah hal yang kadang bisa dipakai sebagai pemaknaan tersendiri. Ada selalu bunyi kata yang bisa dimaknai dalam proses refleksi bahwa kita bisa membolak balik hurufnya agar mencapai makna yang berbeda. Bisa saja orang sedang "marah" namun di balik itu ada "ramah" yang tersembunyi. Mungkin juga "ramah" bisa berbalik jadi "marah" karena tersulut luka.
Ramah yang disalahartikan pun bisa menjadi masalah, apalagi marah. Aku ingat akan kemarahan yang bahkan menjadi sebuah sumpah sampai kemarahan itu mendapatkan lawannya yaitu kematian yang menjemput si empunya kemarahan. Kemarahan datang dari sebuah pengkhianatan. Luka yang tak tersembuhkan itu menular ke generasi berikutnya dan menjadikan ia selalu ingin membunuh yang dijumpainya. Entah salah atau benar atau salahnya besar atau kecil, tak pandang bulu, semua harus mati di tangannya. Rupanya, kemarahan yang dilampiaskan itu tak menjadikan obat baginya dan bagi sumpahnya karena ia menantikan sampai ketemu yang bisa mengalahkan kemarahan yang disumpahkannya.
Semua orang memang tak ada yang tak punya salah. Dan itu adalah keniscayaan. Bahkan sebuah institusi yang sudah ribuan tahun pun mengajarkan dalam doktrinnya bahwa ada kesalahan genetik yang dibawa dari leluhurnya. Itu menandakan bahwa semua orang itu punya, pernah, dan berpotensi bersalah. Ya, itu semua karena manusia itu tidak sempurna. Tidak selalu kita ini hidup dengan kesadaran. Bahkan hidup seseorang pun kadang menenggelamkan kesadaran. Atau dengan kata lain membuat rasionalisasi yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Itulah sekali lagi manusia dengan segala carut marutnya.
Oleh karena itu, dalam ungkapan singkatku ini aku hanya mau mengatakan bahwa selalu ada kesalahan yang sudah aktif terjadi dan mungkin potensi terjadi. Orang bisa saja mengatakan "kilaf", "tak sadar", "lalai", "ceroboh", dan sebagainya. Idealnya memang hidup ini harus sadar sesadar-sadarnya. Namun demikian toh tak selamanya kita itu menjadi seperti itu. Bahkan ketidaksadaran pun juga perlu disyukuri agar kita bisa mengalami bahwa sadar itu adalah penting dan perlu. Bukan lantas melegitimasi bahwa aku permisif dengan kesalahan dan ketidaksadaran. Sekali lagi, di dunia ini masih saja banyak halangan dan rintangan dalam berziarah. Sejarah membuktikan bahwa dunia ini tidaklah hanya diukir dari mereka-mereka yang suci dan sempurna. Selalu saja ada mereka yang terjerumus, penjahat, pendosa, namun yang menjadi penting adalah kembalinya kesadaran untuk berjalan di jalan yang selayaknya dijalani. Di sanalah juga ajaran dari tradisi-tradisi kerohanian mengatakan bahwa "mengampuni", "mengasihi", "memaafkan," "wawuh", "rekonsiliasi" dan lain-lain itu mendapat tempatnya. Namun demikian, konsekuensi dari perbuatan salah juga tentu ada. Bukan lantas menghilangkan adanya konsekuensi itu. Tak dipungkiri bahwa tak mudah untuk melakukan semua yang disebut sebelumnya itu ("mengampuni", "mengasihi", "memaafkan," "wawuh", "rekonsiliasi").Pantas aku mempertanyakan, merenungkan, meresapkan lagi atau apapun dengan rumusan doa ini: "Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami". Benarkah? Beranikah? Ndak iyo? Ah, tenane? Really?
#eveningtime#
Sunday, July 17, 2022
Ruang
Aku seperti mengingat ke belakang lagi. Aku ingat saat bapakku membawakan roti bolu sendiri, sore-sore dan aku menemuinya saat di asrama. Saat itulah, aku meneteskan air mata setelah bapakku pulang. Aku hanya bisa mengenang bahwa bapak ternyata mencintaiku. Aku yang semula tak pernah setersentuh ini, justru dengan apa yang dibuat bapak itu, dan tentu kukaitkan dengan suara yang terdengar dalam ruang gelap yang luas itu, aku akhirnya sadar bahwa saat itulah aku mengalami rekonsiliasi. Entah mengapa, aku juga tidak sepenuhnya memahami.
Di saat ini, saat di mana beban hidup makin terasa nyata, aku kembali mendapatkan ruang itu. Ruang dimana aku memang sedang "to give space for time and time for interior space" di sini. Di saat segalanya seperti runtuh, gelap, hancur, kotor, meaningless, aku pun mencermati diriku: "Apa yang sedang terjadi?" Aku mencoba "wiweka" apakah aku akan hancur oleh kegagalanku? Apakah aku was-was dengan segala yang akhirnya membuat aku terlihat buruk? Aku makin disadarkan oleh kenyataan diriku bahwa ada hal-hal yang tak bisa dikontrol oleh diriku semua. Semula yang kuanggap baik-baik saja, ternyata tidak. Semula yang kuanggap bisa dipercaya, ternyata tidak. Semula yang kuanggap sudah bisa diminimalisir, ternyata karena satu dan lain hal, tentu ada persoalan yang diriku tak paham seluruhnya, akhirnya merusak. Aku sadar sepenuhnya bahwa ada kesalahan itu pasti. Kesalahan yang terus direproduksi dan dimonitor kemudian diangkat terus tentu akan membuat hidup ini tak tahan. Tentu, tidak mengapa bahwa diri ini sedang tidak baik-baik saja. Pergumulan yang dihadapi tentu memakan waktu. Ada saat di mana ruang kesalahan itu dimasuki, bukan karena itu diproduksi terus-menerus, namun jika hal itu terjadi secara kasunyatan, aku pun juga harus siap memasukinya.
Di mana ada ruang kesalahan, (aku berharap) di situ ada ruang pengampunan. Dan siang ini aku tersentuh dengan ungkapan ini: "For where love is concerned, silence is always more eloquent than words." Aku hanya menyambungkan puzzle-puzzle dalam kepingan-kepingan hidupku dari memasuki ruang gelap yang luas kemudian ingatan akan bapakku yang membawakan roti bolu dan suara-suara yang terngiang dalam benakku yang sampai saat ini masih membekas. Di saat aku mengalami "down", rupa-rupanya ada sebuah memori yang menggerakkanku untuk tetap mampu menapaki hidup walau itu berat. Saat ini aku memang diam. Aku lebih banyak beban yang membuatku harus diam. Diam bukan berarti terbungkam namun diam karena aku memang harus diam. Diam itu diam bukan pasif tetapi diam untuk lebih memberi ruang bagi waktu dan waktu bagi "jagad cilik" berbicara lebih tajam bagi nuraniku. Diam ini adalah diam untuk mendengarkan lebih tajam dan teliti.
Mungkin suara di ruang gelap yang luas dan memori bapakku yang membawa roti bolu itu adalah sebuah rentang waktu dalam ruang dan sekaligus ruang dalam waktu yang menyadarkanku akan kerapuhan, rekonsiliasi, dan "katresnan". Dan aku sadar bahwa seburuk-buruknya diriku, sejatuh-jatuhnya diriku, sekotor-kotornya diriku, dan apapun yang dikatakan itu jelek, aku masih harus sadar aku ini sudah tercipta dan dicipta oleh karena "katresnan" itu sendiri. Aku terhubung dengan rantai ruang dan waktu dengan seluruh rantai ruang dan waktu kehidupan itu sendiri. Rantai ruang dan waktu yang tercipta oleh Sang Pencipta dan itu kusebut untaian "katresnan" dari yang mencipta, lewat para leluhur dan keluargaku. Leluhur tidak terbatas di lingkup keluargaku namun leluhur seluruh ciptaan dari bermilyar-milyar tahun yang lalu sebelum dan setelah terciptanya homo sapiens.
Malam ini, kurenungkan diriku dan segala kerentanan hidup dan segala resiko yang harus dihadapi. Malam ini kubawa seluruh pergulatan dalam diam.
#inmyroom#
Wednesday, June 29, 2022
Kotoran
Aku ingat peristiwa pertikaian antar keluarga di Firenze di abad pertengahan, yaitu keluarga Medici dan Pazzi. Keduanya keluarga berpengaruh di kota itu. Keduanya keluarga bankir. Pada saat tertentu mereka pernah bersekutu tapi pada saat seterusnya bersaing mendapat nasabah dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah dari kepausan. Kota sangat tergantung dari pengaruh kekuasaan dan kekayaan dari keluarga-keluarga bangsawan kaya yang silih berganti saling bertikai atau bersekutu. Dewan kota adalah kumpulan keluarga-keluarga kaya yang menentukan tata kehidupan kota.
Sampai pada suatu saat, keluarga Pazzi mencelakai keluarga Medici karena persaingan usaha yang semakin memuncak. Di saat misa di katedral atau basilik Firenze itulah, peristiwa pembunuhan terjadi. Salah satu dari anak keluarga Medici terbunuh. Sebenarnya semua keluarga hampir terbunuh tetapi hanya satu yang terbunuh. Karena peristiwa itulah, keluarga Medici balas dendam di saat yang tidak lama setelah terjadinya pembunuhan itu. Keluarga Medici masih bisa menyelematkan kekuasaannya di Dewan Kota. Dengan kekuasaan itulah, Medici menyuruh tentaranya menangkap seluruh keluarga Pazzi dan menggantungnya di depan gedung pusat kota. Seluruh kekayaan keluarga Pazzi direbut dengan penjarahan seluruh warga kota. Dan yang tak kalah mengerikan adalah menghapus seluruh sejarah keluarga Pazzi dari catatan sejarah kota Firenze. Itulah sebentuk kemarahan dari balas dendam kesumat yang tak bisa dipulihkan lagi.
Keluarga Pazzi ibaratnya kotoran yang tak berguna lagi, bahkan namanya pun dihapus dari peradaban bumi. Aku hanya bisa membayangkan diriku yang ibaratnya dihapus dari peradaban bumi ini. Tak ada orang yang kenal lagi siapa dan apa diriku. Aku menyadari diri sebagai yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Hidup ibaratnya debu yang mudah diterpa angin dan hilang ditelan waktu. Kotoran itu hal yang sama. Hanya menciptakan bau tak sedap, pandangan tak indah. Hanya berguna bagi tanah jika itu organik. Jika sampah tak terurai, maka api yang menghabiskan atau pengolahan lain yang dibutuhkan. Selebihnya, kotoran yang harus disingkirkan dari peradaban.
Ya, aku harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa aku hanya kotoran. Debu yang kembali menjadi debu. Jika dicerca dan dilukai pun selayaknya hanya sadar akan hal ini. Jika aku yang melukai pun juga harus sadar dan layak dibuang, disingkirkan, dimusnahkan. Apalah aku ini, karena aku hanya kotoran. Hidup hanya mengharapkan belas kasih dan rahmat dari yang melihat kotoran itu berharga.
#ciawi#
Wednesday, May 25, 2022
Menghadapi dan Menerima
Di waktu yang kebanyakan orang sedang berharap adanya perubahan dari masa pandemi ke masa yang "relatif normal" ini, orang berharap-harap memastikan supaya keadaan seperti dulu lagi. Keramaian sudah mulai hadir. Sekolah mulai buka. Kantor sudah buka. Semua masih belum pasti. Semua masih harus pakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan kesadaran protokol kesehatan yang masih perlu diperkuat. Orang tidak boleh lengah. Orang boleh saja mendengarkan kebijakan pemimpin dengan penuh antusiasme ketika diperbolehkan membuka masker di ruang-ruang terbuka. Namun orang perlu sadar diri bahwa semua itu ada batasnya. Kita perlu kenal diri dan dengan siapa kita berhadapan. Ada orang-orang yang memang tidak mudah diberitahu atau diberi masukan. Sedangkan akibat di belakang tentu juga akan ditanggung banyak orang juga.
Menghadapi realitas yang serba tidak pasti, bahkan kadang atau sering orang melihat realitas itu selalu yang buruk, hal ini membuat orang menjadi marah, tidak puas, kecewa, dan itu bisa menyebabkan trauma yang tak tersembuhkan. Banyak orang ketika menghadapi perubahan karena satu dan lain hal (misalnya pandemi ini) menjadi kehilangan orientasi hidup. Ada yang menjadi kecewa. Ada yang merasa semua habis. Lalu, hidupnya juga tidak tahan lama dan akhirnya meninggal. Ada juga yang berada di posisi kecewa namun bisa menghadapi dengan jatuh bangunnya. Ada yang merasa bahwa perubahan ini adalah peluang. Itulah yang optimis.
Orang yang optimis melihat, menghadapi, dan akhirnya menerima dengan lapang dada. Intinya berjiwa besar menghadapi realitas. Ketika berjiwa besar menghadapi perubahan, menghadapi ketidaknyamanan, menghadapi masa kelam, bahkan itu bisa saja disebut kegagalan, kerapuhan, keberdosaan sekalipun, orang mampu bangkit. Pertama-tama, bolehlah kemarahan dan kekecewaan itu yang muncul. Namun jika kemarahan dan kekecewaan terus yang hidup dan menguasai dirinya, maka pintu neraka itu sudah ada di situ. Di sisi lain, jika kemarahan dan kekecewaan diubah menjadi kesadaran akan memahami hidup ini tidaklah "super dan perfect", maka ada pertumbuhan yang akan kelihatan, entah seberapa pun wujudnya. Hidup ini tentu ada resikonya. Resiko hidup itu yang sepengalaman diriku adalah berani gagal bahkan berani untuk direndahkan sekalipun. Menerima atau tidak, itu urusan masing-masing. Sesadar-sadarnya seseorang dalam menjalani hidup, tentu ada suatu tahap dalam menjalaninya itu ada lalainya. Kelalaian itulah yang bisa menjadi bahan penghakiman diri atau dari orang lain. Itu baru karena kelalaian. Apalagi kalau kesalahan itu memang sebuah tindakan yang intensional, dilakukan secara sadar, sadar bahwa itu adalah buruk secara moral ataupun dalam arti yang lain, jelas orang akan menghakimi salah.
Semakin hari semakin aku disadarkan bahwa hidup ini tak selalu idealis. Hidup ini juga realistis. Dua kubu itu akan selalu ada. Kita hidup di tegangannya. Aku akan banyak kecewanya kalau menuruti paham bahwa hidup harus idealis, super, sempurna. Di sisi lain, aku juga akan tidak banyak berkembang jika hanya apa adanya, tidak mau dituntut lebih dan menerima dalam arti tidak mau berubah. Idealisme dan realisme masih diperlukan. Aku adalah makhluk yang ingin maju dengan segala cita-cita idealnya, di sisi lain aku adalah makhluk yang harus berani masuk dan menerima diri jika keadaan memang menuntut untuk mendarat, down to earth. Aku harus mengakui bahwa yang Mahabesar pun mengalami resiko rapuh ketika harus turun menjadi manusia, dihina, dihukum, dibunuh, dan mati. Aku sadar bahwa hidup (di dunia) terikat ruang dan waktu, maka jadi terbatas.
#noontimeinmyroom#
Saturday, April 30, 2022
Rapuh
Sayangnya, bahwa kembali ke fitri hanya dipahami sebagai me-reset sementara dan di kemudian hari tindakan salah itu dilakukan kembali. Apakah memang demikian? Entah sadar atau tidak kembali seperti mengulang dosa yang sama. Orang mereset dirinya, lalu membuat dirinya terpuruk dalam perbuatan yang mengulang kesalahan. Apakah orang atau manusia itu hanya semudah itu dan sesederhana itu? Apakah kerapuhan manusia itu membuat dalam dirinya pola-pola yang menjadikannya kembali dan kembali ke kesalahan yang sama lalu meminta maaf lalu berbuat itu lagi? Itulah pertanyaanku jika pola yang dihidupi hanya seperti itu.
Aku pun sadar sesadar-sadarnya bahwa diriku tidaklah sebaik dan semulia seperti idealnya yang diharapkan banyak orang. Semua itu masih utopia bagiku untuk menjadi yang ideal. Aku bukan orang yang baik-baik juga maka aku pun bertanya tentang pola-pola kemanusiaanku. Di sisi lain, orang hanya melihat hidup seperti lingkaran roda berputar, hidup bisa di atas atau di bawah. Artinya, orang bisa saja mengulang pola perilaku, pola-pola yang dibuatnya. Dengan demikian, ia terpaku pada pola dan menyerah pada "nasib", sebuah kata yang bagiku tidak aku sukai karena sepertinya hidup ini hanya sebuah aliran pasif yang diikuti manusia dan ia hanya menjalankan sesuai skenario atau bahkan terdampak dari skenario yang datangnya dari luar dirinya. Seolah "nasib" itu hanya menimpa dirinya dan manusia itu pasif, tidak bisa mengubah dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi merdeka yang berdaulat. Nasib atau takdir bagiku adalah sama, istilah yang cenderung meremehkan martabat manusia.
Kerapuhan memanglah bagian dari hidup manusia itu sendiri. Aku pun menyadarinya sebagai bagian dari hidup dan keberadaanku. Aku mengakui bahwa dalam perjalanan ini kerapuhan itu sering mengganggu namun di sisi lain aku harus akrab dan mengolahnya sehingga bukan hanya menjadi bagian yang memberatkan diri. Kerapuhan, meski menyakitkan, bisa menjadi bagian yang memberi kekuatan jika disadari, diolah, diintegrasikan dengan proses penerimaan diri. Tidak mudah memang. Orang cenderung melihat ini dengan ketidakmauan menerima. Jarang orang menerima kerapuhan dengan cepat. Perlu adanya proses waktu yang membawanya pada kesadaran akan kerapuhan ini.
Yang rapuh bertemu dengan yang rapuh, maka ini yang akan menentukan perjalanan relasi antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Karena yang rapuh bertemu yang rapuh, bisa saja keadaannya membuat orang yang lemah menjadi terkorbankan. Yang kuat menjadi pemenang atau penjajah. Oleh karena itu, kerapuhan menjadi penting kita perhatikan dan olah. Namun kerapuhan bukanlah komoditas yang harus selalu diutak-atik sampai jenuh karena orang bisa saja muak dan tak bisa keluar dari keadaannya yang memang rapuh. Bahkan seorang Paulus sampai mengatakan "aku berbangga karena kerapuhanku karena di dalam kerapuhanku itulah rahmat berkuasa atas diriku". Itu ungkapan yang menandakan bahwa ia menyadari kerapuhannya. Ia tidak saja menyadari lebih dalam tidak semua kerapuhan dalam dirinya itu bisa ia kuasai dan kendalikan. Bahkan ia menyebut kerapuhan itu seperti "duri dalam daging". Ia ingin berbuat A (idealnya) tetapi B (real) yang ia lakukan.
Dari kelelahan, aku mencoba merenungkan akan kerapuhan diriku. Aku pun belum tahu apakah besok aku mengiyakan ajakan beberapa rekan yang mengajak pergi ke luar kota. Aku masih mempertimbangkan kelelahan diriku yang masih harus kupulihkan. Yah, lelah kaitannya dengan rapuh, karena kerapuhan bertemu dengan kerapuhan maka akan ada akibat-akibat yang ditimbulkannya, secara sadar ataupun tidak. Aku mencoba menyadari ini dengan konteks saudara-saudari yang tengah menjalani mudik berjamaah dalam waktu yang tak mudah ini. Tentu akan ada resiko-resiko yang dialami dalam perjalanan mereka. Kemacetan. Kepanasan. Waktu tempuh lama. Situasi tidak sehat. Itu semua serba mungkin terjadi.
#siangharidalamruangku#
Monday, April 11, 2022
Masuk dalam Kesusahan
Monday, March 7, 2022
Krupuk
Telusur punya telusur memang ada hal yang tidak terkomunikasikan selama ini sehingga menimbulkan reaksi yang berbeda satu dengan yang lain. Aku sendiri tidak mempersoalkan apakah akan ada krupuk atau tidak. Bagiku ada ya syukur, tidak juga tidak ada persoalan. Ternyata, di kalangan para yunior yang bersepakat bahwa selama masa sebulan ini kita tidak mengkonsumsi krupuk dan tiap Rabu dan Jumat tidak makan daging. Kami memang komunitas yang unik karena satu rumah dengan dua komunitas yaitu senior dan yunior. Ruang makan kami barengan. Nah, karena ada miskomunikasi di sini maka ada hal yang tak tersampaikan dengan baik.
Ada satu hal yang terlewati di sini, yaitu soal komunikasi. Ada satu hal yang membawa dampak bagi hilangnya sesuatu yang biasa ada yaitu krupuk. Namun karena ada kesepakatan untuk meniadakan selama sebulan ini, maka krupuk itu tidak eksis di tempat biasanya. Ketiadaan inilah yang mengundang reaksi karena ketiadaannya tidak terkomunikasikan ke pihak lain yang serumah namun beda komunitas. Senior belum diberi informasi yang cukup mengenai absennya si krupuk selama sebulan ini. Itulah sebabnya ada komentar dan sekaligus pertanyaan yang mengandung keheranan dari salah seorang senior.
Kemarin, aku mencoba memahami ini dan mengkait-kaitkan dengan apa yang terjadi. Ternyata, ada miskomunikasi di sini. Oleh karena itu, aku bersegera mengkomunikasikan ini pada wakil ketua yunior untuk menginformasikan raison d'etre absesnnya si krupuk. Aku menyarankan agar ditulis di papan komunitas agar dibaca oleh semua. Pagi tadi, aku sudah melihat adanya pengumuman yang seharusnya mendahului absennya si krupuk. Walau telat, tetapi itu bisa lebih membuat semua paham akan absennya si krupuk.
Inilah seninya hidup bersama. Ada sesuatu yang harus dikomunikasikan. Ada cara berkomunikasi yang membuat semua orang terbantu. Intinya adalah bagaimana menciptakan ruang bersama bagi kebaikan bersama. Ada memang hal yang hanya dikomunikasikan pada satu pihak, namun ada juga satu hal yang kedua pihak harus diberi informasi sehingga tidak ada pertanyaan yang bernada terkejut. Prinsip well informed menjadi penting di sini. Hal yang perlu dipunyai oleh kita semua adalah salah satunya hal ini tadi, yaitu bagaimana berkomunikasi, apa yang dikomunikasikan, bagaimana aku memilah mana dan kapan harus dikomunikasikan.
Dewasa ini, aku tidak bisa mengandaikan lagi. Baik tua dan muda sama saja prinsipnya, semua harus berkomunikasi dengan jelas dan tepat. Jika kurang jelas, buatlah agar terpampang dengan sejeles-jelasnya di komunitas. Jika masih ada yang kurang paham, maka komunikasikanlah secara baik-baik dan pribadi. Kuakui kadang ada hambatan-hambatan berkomunikasi karena mungkin malas, trauma, ada permusuhan atau konflik, lupa, dan sebagainya. Mekanisme berkomunikasi inilah yang perlu menjadi kebiasaan baik yang dilatihkan dari waktu ke waktu agar semua tercerahi.
Krupuk telah berharga memberi kami kuliah tentang komunikasi. Krupuk katanya tidak sehat karena mengandaung minyak jenuh dan karbo yang bisa menumpuk di tubuh. Padahal ia dicari banyak orang karena gurih, renyah, dan bikin berisik saat makan dicampur dengan soto, bakso, mie ayam atau yang lain. Di luar itu semua, setidaknya kali ini dia sudah memberi kami pencerahan mengenai komunikasi. Terima kasih, krupuk.
#eveninginmyroom#










