Saturday, April 30, 2022

Rapuh

Di akhir bulan ini, aku mencoba menenangkan diri. Rasanya aktivitas demi aktivitas sudah mulai terasa lagi. Berbarengan dengan banyaknya saudara yang sudah, sedang dan akan mudik karena lebaran, rasanya kembali aku mengalami yang namanya lelah. Melihat mobilitas orang dari satu tempat ke tempat yang lain menjadikan badan ini lelah. Ada sisi-sisi kerapuna dalam diriku yang mana ketika kelelahan itu belum sembuh benar, mau berbuat sesuatu pun tidak sanggup. Lebaran bagi sementara orang diartikan sebagai "lebar" (bubar atau selesai-nya) sebuah perhelatan yaitu puasa. Lebaran juga diartikan sebagai "lebur"-nya perbuatan salah yang dimaafkan satu sama lain. Lebaran bisa saja diartikan sebagai selesainya sebuah tahapan yang mengembalikan orang pada sebuah awal mula, "fitrah" yang membuat orang mengucapkan permintaan maaf dan memberi maaf. 

Sayangnya, bahwa kembali ke fitri hanya dipahami sebagai me-reset sementara dan di kemudian hari tindakan salah itu dilakukan kembali. Apakah memang demikian? Entah sadar atau tidak kembali seperti mengulang dosa yang sama. Orang mereset dirinya, lalu membuat dirinya terpuruk dalam perbuatan yang mengulang kesalahan. Apakah orang atau manusia itu hanya semudah itu dan sesederhana itu? Apakah kerapuhan manusia itu membuat dalam dirinya pola-pola yang menjadikannya kembali dan kembali ke kesalahan yang sama lalu meminta maaf lalu berbuat itu lagi? Itulah pertanyaanku jika pola yang dihidupi hanya seperti itu. 

Aku pun sadar sesadar-sadarnya bahwa diriku tidaklah sebaik dan semulia seperti idealnya yang diharapkan banyak orang. Semua itu masih utopia bagiku untuk menjadi yang ideal. Aku bukan orang yang baik-baik juga maka aku pun bertanya tentang pola-pola kemanusiaanku. Di sisi lain, orang hanya melihat hidup seperti lingkaran roda berputar, hidup bisa di atas atau di bawah. Artinya, orang bisa saja mengulang pola perilaku, pola-pola yang dibuatnya. Dengan demikian, ia terpaku pada pola dan menyerah pada "nasib", sebuah kata yang bagiku tidak aku sukai karena sepertinya hidup ini hanya sebuah aliran pasif yang diikuti manusia dan ia hanya menjalankan sesuai skenario atau bahkan terdampak dari skenario yang datangnya dari luar dirinya. Seolah "nasib" itu hanya menimpa dirinya dan manusia itu pasif, tidak bisa mengubah dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi merdeka yang berdaulat. Nasib atau takdir bagiku adalah sama, istilah yang cenderung meremehkan martabat manusia. 

Kerapuhan memanglah bagian dari hidup manusia itu sendiri. Aku pun menyadarinya sebagai bagian dari hidup dan keberadaanku. Aku mengakui bahwa dalam perjalanan ini kerapuhan itu sering mengganggu namun di sisi lain aku harus akrab dan mengolahnya sehingga bukan hanya menjadi bagian yang memberatkan diri. Kerapuhan, meski menyakitkan, bisa menjadi bagian yang memberi kekuatan jika disadari, diolah, diintegrasikan dengan proses penerimaan diri. Tidak mudah memang. Orang cenderung melihat ini dengan ketidakmauan menerima. Jarang orang menerima kerapuhan dengan cepat. Perlu adanya proses waktu yang membawanya pada kesadaran akan kerapuhan ini. 

Yang rapuh bertemu dengan yang rapuh, maka ini yang akan menentukan perjalanan relasi antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Karena yang rapuh bertemu yang rapuh, bisa saja keadaannya membuat orang yang lemah menjadi terkorbankan. Yang kuat menjadi pemenang atau penjajah. Oleh karena itu, kerapuhan menjadi penting kita perhatikan dan olah. Namun kerapuhan bukanlah komoditas yang harus selalu diutak-atik sampai jenuh karena orang bisa saja muak dan tak bisa keluar dari keadaannya yang memang rapuh. Bahkan seorang Paulus sampai mengatakan "aku berbangga karena kerapuhanku karena di dalam kerapuhanku itulah rahmat berkuasa atas diriku". Itu ungkapan yang menandakan bahwa ia menyadari kerapuhannya. Ia tidak saja menyadari lebih dalam tidak semua kerapuhan dalam dirinya itu bisa ia kuasai dan kendalikan. Bahkan ia menyebut kerapuhan itu seperti "duri dalam daging". Ia ingin berbuat A (idealnya) tetapi B (real) yang ia lakukan. 

Dari kelelahan, aku mencoba merenungkan akan kerapuhan diriku. Aku pun belum tahu apakah besok aku mengiyakan ajakan beberapa rekan yang mengajak pergi ke luar kota. Aku masih mempertimbangkan kelelahan diriku yang masih harus kupulihkan. Yah, lelah kaitannya dengan rapuh, karena kerapuhan bertemu dengan kerapuhan maka akan ada akibat-akibat yang ditimbulkannya, secara sadar ataupun tidak. Aku mencoba menyadari ini dengan konteks saudara-saudari yang tengah menjalani mudik berjamaah dalam waktu yang tak mudah ini. Tentu akan ada resiko-resiko yang dialami dalam perjalanan mereka. Kemacetan. Kepanasan. Waktu tempuh lama. Situasi tidak sehat. Itu semua serba mungkin terjadi. 


#siangharidalamruangku#

No comments:

Post a Comment