Aku ingat akan sebuah doa yang berbentuk narasi berjudul "Di Rumah Luar Kota". Dalam sebuah baris ada ungkapan, "Dia bukan masalahmu. Dia kenyataan hidup." Manusia bukan masalah namun kenyataan hidup. Itulah yang kupakai saat ini. Jika hanya masalah, maka tidak ada selesainya. Jika hanya masalah, hanya akan cari kemudahan saja. jika hanya masalah, manusia tidak akan bisa apa-apa. Jika hanya masalah, maka semua sepertinya harus lurus-lurus saja atau tidak ada apa-apa. Bergerak atau tidak bergerak, masalah itu akan selalu ada.
Orang yang tidak berbuat apa-apa juga bermasalah. Orang yang berbuat apa-apa dan harus melalui tahap salah, itu juga masalah. Masalah akhirnya adalah kenyataan hidup juga. Masalah itu menyusahkan. Kenyataan hidup itu juga sifatnya menyusahkan. Hidup dan kenyataannya adalah tegangan. Selalu aku menilik dan merefleksikan akhirnya dan ujungnya adalah tegangan itu. Hidup dalam tegangan adalah masuk dalam kesusahan. Masuk dalam kesusahan itu butuh waktu. Tidak bisa hal itu selesai begitu saja dalam hitungan menit, jam atau bahkan hari. Bisa saja tegangan itu seumur hidup, selesai ketika manusia itu mati.
Masuk dalam kesusahan adalah sebuah keberanian. Mau mati adalah keberanian memilih dan memutuskan. "Urip iku nggoleki dalaning pati" seperti yang diungkapkan Rama Bargawa pun adalah sebuah keberanian dalam kesesakan, kemarahan, keputusasaan, perjuangan, peziarahan. Ketika kemarahan hanya bisa dilampiaskan dengan membunuh, itu pun adalah pilihan. Pilihan ke sana adalah keberanian. Keberanian membunuh sesama yang dibenci menjadi alat untuk mencari jalan itu. Memang itu adalah sebuah kisah dan makna yang bisa kuambil adalah tentang hidup manusia yang tidak sederhana. Ada luka. Ada kemarahan. Ada kebencian. Ada balas dendam. Namun di sisi lain ada penyesalan. Ada keinginan untuk berhenti membunuh, mendedam, dan carut marut yang lain. Dia menyimpulkan bahwa pada akhirnya manusia lahir untuk mati. Mati adalah kelahiran kembali. Kelahiran kembali adalah sebuah perubahan hidup yang sebagian orang mempercayai sebagai kembali ke fitrah, kembali ke asal mula.
Perubahan hidup manusia perlu sampai pada dasar yang paling dalam supaya tidak hanya bungkusnya saja. Ada manusia-manusia yang menamakan perubahan itu dari bungkusnya. Jika sudah berubah pakaian, lantas disebut sebagai taubat. Ketika taubat itu hanya supervisial maka tidak akan menyentuh kedalaman hidup. Pasti akan ada kecenderungan yang muncul lagi dari pola-pola lama yang sebenarnya ingin diubah. Nah, untuk itu, permenunganku adalah keberanian mengubah, ada saatnya untuk berani menghadapi kenyataan hidup yang tidak semua itu baik (secara moral), lurus saja atau damai-damai saja. Ada kalanya kesalahan itu fatal dan mencengangkan banyak orang. Namun kalau itu sebuah jalan yang harus dilalui, kita pun hanya bisa memaklumi. Perubahan orang itu berbeda-beda. Setiap pribadi itu unik, tidak bisa disamaratakan.
#pagiharidalamruangan#
No comments:
Post a Comment