Wednesday, August 19, 2015

15-08-15

Aku ingin menuliskan hal ini sudah beberapa waktu lalu. Tetapi baru malam ini kesampaian. Ada dua peristiwa menarik dalam tanggal itu. Supaya tidak kehilangan momentum, aku mencoba menuliskan hal itu. Setidak-tidaknya, momentum bagiku cukup berbicara. Jika orang lain tidak, bagiku ya. Peristiwa demi peristwa tentu terjadi dan terus akan berbagai macam ragam. Tetapi juga ada yang mengulang intinya. Sejarah dapat saja berulang. Prinsip sama tetapi mungkin luarannya yang berbeda. Peristiwa itu mungkin diamati oleh orang lain dapat dikatakan, "ah, itu mah biasa saja." Orang lain menyebut, "oh, baik, itu pantas diperhatikan." Tinggal bagaimana orang melihatnya, dari mana sudut pandangnya, apa kepentingannya. 

Bagi orang Kristiani khususnya yang Katolik, 15 Agustus adalah tanggal untuk memperingati Maria diangkat ke Surga. Bukan soal teologis njlimet tulisan ini. Bukan soal dogma. Bukan soal konsep. Bukan soal teori ini dan itu. Tulisan ini bukan mau membahas dan menguak diangkatnya Maria itu tetapi lebih hanya sekedar sharing pribadiku melihat 2 peristiwa yang terjadi di tahun 2015 ini. Khususnya di tempat berbeda yang hampir berdekatan. Satu di Ambarawa, kota Palagan itu. Satunya di Jogjakarta, kota Gudeg, kota Pelajar? Entah apa sebutannya sekarang. 

Apa sih dua kejadian itu? Koq tidak segera disebut? Yah, pertama, pemberkatan patung Maria yang tinggi megah di Gua Maria Kerep Ambarawa oleh beberapa uskup dan diikuti oleh ribuan umat yang hadir dalam perayaan pemberkatan patung itu. Kedua, pencegatan rombongan Moge alias Motor Gede oleh Elanto. Waktunya hampir bersamaan. Sore atau siang hari terjadi. Bayanganku lantas membandingkan dua peristiwa "besar" itu. Besar karena kubesarkan dalam tulisan dan memori peristiwaku. Kubayangkan waktu itu, setelah membaca berita dan mendengar percakapan di meja makan, karena saat terjadi 2 peristiwa itu, aku sedang berolah raga, sore hari keduanya terjadi. Di Ambarawa dengan kemeriahan dan kemegahan, misa berlangsung dan pemberkatan ternyata memakai crane untuk mengusung uskup yang memberkati patung ke atas karena tingginya 42 meter. Wow... aku hanya mengucap dalam hati. Aku mencoba mengkopi keterangan dari sebuah blog demikian: "Inilah Patung Bunda Maria tertinggi di dunia. Patung Bunda Maria Assumpta dibangun di Komplek Wisata Religi Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dengan ketinggian 42 meter. Patung ini dibuat oleh seniman patung asli dari Ambarawa. Patung ini memiliki ketinggian 23 meter dengan  ketinggian penopang 19 meter yang apabila ditotal menjadi 42 meter."


Di satu sisi, sore itu aku juga mendengar dan melihat dari tempatku di pinggir jalan, deru Moge yang berkonvoi ke arah Jogjakarta karena hari itu menjelang tanggal 17 Agustus. Aku pikir ya mereka paling memanfaatkan momentum tanggal itu untuk konvoi atau touring kalau istilah untuk "mocil" (motor kecil maksudnya). Ternyata sore itu, Elanto mencegat konvoi Moge yang dikawal polisi (forider). Tepat di traffic light perempatan Condong catur ia berhasil "menyetop" kawanan konvoi Moge itu yang ternyata mau berkumpul mengadakan gathering di Prambanan. Ia sempat beradu argumen dengan salah satu pengendara Moge. Ia juga selalu menyerukan, "Stop, berhenti! Merah, pak! Stop!" Itu yang kelihatan di youtube. Ia mencoba menggugat polisi. Ia mencoba menertibkan yang selama ini seharusnya terjadi. Ia mencoba memperjuangkan pelaksanaan peraturan di jalan raya. Yang ia perjuangkan hanya hal biasa yang "mendadak" menjadi seperti luar biasa. Ia ingin semua dihargai, dihormati di jalan raya. Jika motor dan mobil saja harus taat aturan, mengapa Moge yang konvoi harus diperlakukan khusus? Apa karena mereka membayar pengawalan? Ia selalu mengatakan "kita juga bayar pajak, pak!" 

Kiranya dengan peristiwa yang dimunculkan Elanto ini kita semakin disadarkan akan penghargaan dan hak dasar manusia: saling hormat akan keberadaan dan perilaku di tempat publik. Ada yang mengatakan dalam nada sinis: "Yah, pencegat itu kan iri saja karena gak bisa membeli Moge". Persoalannya bukan iri hati tetapi rasa keadilan yang dilecehkan. Tentu ada rasa tak diperlakukan semestinya. Ada pengkhususan bisa dimaklumi tetapi mengapa itu hanya pada kalangan orang berduit, orang kaya?

Koq rasanya jauh sekali dengan sebuah bacaan yang kurenungkan pagi harinya: "... Perkasalah perbuatan tanganNya: dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya. Orang berkuasa diturunkanNya dari tahta; yang hina dina diangkatNya. Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan; orang kaya diusirNya dengan tangan kosong..." Sepenggal kidung Maria, Magnificat. Ya, Maria yang patungnya sedang diberkati para uskup. Ya, Maria yang dipuja-puji kalangan Kristiani, khususnya Katolik. Kidung  revolusioner dari seorang Maria, yang ditulis Lukas. Kidung seorang kecil yang mendamba kekuasaan yang ilahi mengalahkan kebatilan. Kidung yang mengajak umat manusia untuk tetap tabah setia menjalani kehidupan yang serba berjuang dan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan kekuasaan yang kejam dan rakus. Keperkasaan manusia bukan pada dirinya sendiri namun pada kekuatan ilahi yang menaungi dirinya. Itu Kidung Maria, kidung orang kecil, papa miskin. 

Sedang yang terjadi, Moge dengan membayar polisi dapat perlakuan khusus menerjang lampu merah.  Maria, sang orang kecil dengan kidungnya yang melawan kekuasaan, kadang tidak lagi dihormati sebagai orang kecil namun dibesar-besarkan demi kepentingan modal semata, jika tidak hati-hati. Orang kaya, orang yang mempunyai banyak kepentingan, sehingga bisa apa saja, sering tidak peka dengan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya mau berbagi keprihatinan ketidakpekaan manusia di antara manusia yang lain. Sayang jika Maria hanya dijadikan proyek mercusuar dengan mengatasnamakan kesucian, tokoh agama, dan sebagainya. Kebesaran Maria justru ada dalam kesederhanaannya. Ia tidak dapat membeli karena miskin dan tak dapat dibeli karena keagungannya. Ia besar karena ia seorang miskin dan kecil. Elanto mewakili ketertindasan masyarakat yang rasa keadilannya terusik oleh perlakuan khusu aparat kepolisian yang mengawal motor gede yang mahal dan jarang dipakai di jalan kalau tidak ada acara khusus bersama komunitas mereka. Inilah keangkuhan itu, inilah kesombongan itu. Manusia ingin diakui kebesarannya di antara manusia lain. Inilah kisah menara Babel untuk kesekian kalinya. Aku tidak rela Maria dijadikan menara Babel di zaman ini. Banyak masyarakat dan umat berbeda pandangan. Banyak orang miskin yang masih ditipu dengan omong suci saja. Tetapi tidak bisa ditipu kalau sudah menyangkut harkat mereka sebagai orang miskin, yang lapar, yang butuh sesuatu, dan jika tidak hati-hati disulut akan membakar apapun di sekitarnya. Kepekaan terhadap keberbedaan liyan dan saling menghormati lebih jauh akan membantu kehidupan ini. Hidup lebih nyaman dengan kesederhanaan.

Simple is better. Demikian kata Paus Fransiskus. Mari kita hidup bersama dalam keberagaman dan kepekaan satu dengan yang lain. Itu saja pesan tulisan ini. Simple saja.



*Arrogance. It is about how to make myself look better, higher, richer, more powerful than others. But not that attitude we need in our life. We need to live humbly. As we learned from Mother Mary, she is humble mother who become a Mother of God. She became a queen because of her simplicity.



#evening in my room#

Tuesday, August 11, 2015

Hilang

Menghilang tanpa izin, itulah yang terjadi beberapa hari lalu. Seorang anak "nyangkut" ke tempat kakeknya di sebuah desa. Alasannya sederhana, "Kalau aku harus izin dan bilang Pamong, maka akan tidak diperbolehkan." Anak itu sudah tidak krasan tetapi tidak mau bilang ke Pamong. Bahkan tidak pernah bilang. Ternyata dalam diamnya itu, ia merancang taktik untuk keluar dan  akhirnya menghilang untuk selanjutnya pamit memutuskan tidak mau meneruskan perjalanan di asrama. Hidup ini adalah perjuangan. Hidup adalah peziarahan. Hidup memang menantang dan penuh tegangan. Karena itulah aku hidup. Karena itulah kehidupan itu penuh dengan berbagai tawa, kesedihan, pengkhianatan, kekecewaan, kehilangan, kemurungan, tetapi juga ada yang sebaliknya: berani berjuang, tertantang, tergugah dan tergugat. Maukah berjalan?

Sudah ada tiga anak belum sebulan ini yang jebling karena tidak krasan. Ada yang melihat memang motivasinya rendah. Ada yang memang motivasinya dari orangtua. Ada yang karena sudah terbiasa terfasilitasi di rumah ketika melihat kesederhanaan di asrama ini, lalu hatinya ciut dan memutuskan kembali ke zona nyaman sebelumnya. Bagiku ini sekarang adalah soal kesanggupan untuk berpindah. Pindah dari zona nyaman dalam hidup dan berpindah, menyeberang ke zona yang tidak nyaman dengan satu alasan, menjadi pejuang yang harus berziarah.

Mungkin waktu dulu belum pernah ada pikiran seperti anak-anak zaman ini yang makin kompleks dan canggih pemikirannya. Apalagi fasilitas hidup sangatlah melimpah. Fasilitas membantu orang hidup mudah. Fasilitas tak menantang orang berjuang. Fasilitas menjadikan orang pandai berpikir untuk mendapatkan kemauannya. Dari asrama penuh perjuangan, daripada tidak krasan, hati terus bergulat, kalau bilang ke Pamong pasti akan diulur-ulur, maka escape saja dari kelompok dan bilang kepada rekan-rekannya bahwa "kalau sampai jam 07.00 malam aku belum kembali, jangan cari aku. Aku tidak akan bersamamu lagi." Sebuah keputusan sudah dibuat. Mungkin ia akan menjadi pejuang di luar sana dengan hati yang teguh. Mungkin tempatnya memang bukan di sini. Aku hanya berharap saja.

Aku hanya membayangkan waktu itu, dalam kehidupan yang serupa, aku tak kepikiran akan menghilang atau escape atau lari bahkan. Yang ada dalam diri rekan-rekan dan aku sendiri paling hanya menangis saat kesepian, tak krasan dan memang ada temanku yang menangis di pojok kamar tidur. Dia tak krasan. Baru seminggu ia akhirnya pulang. Tak seperti awal nafsu menggebu, kemauan tinggi setingkat dewa. Ketika menjalani realitasnya, ternyata penuh perjuangan. Namun demikian, yang mampu merasakan didikan ketidakmapanan, keterasingan, kegundahan, ketidaknyamanan, kini aku merasakan rahmat itu ada di sana.

Aku dapat merasakan Pamong yang kehilangan. Saat ini aku berada dalam posisi yang merasakan kehilangan. Sama seperti kisah domba yang hilang, pemilik atau gembalanya sampai harus mencari sampai ketemu dan ketika ketemu, ia sangat bergembira. Ditemukannya yang hilang, walau tak akan kembali pun setidaknya sudah ayem. Merasa tenang karena setidaknya, ia bisa ngaruhke, melihat sendiri, dan tidak meninggalkan. Setidaknya ada kehendak, niat bahwa si empunya tidak membiarkan pergi begitu saja. Tidak membiarkan dombanya hilang.

Memilih hidup jauh dari keluarga memang tidaklah gampang. Pilihan dengan segala komitmen dan konsekuensinya hanyalah bagi orang dewasa. Orang dewasalah yang mau menghidupi kehidupan yang tidak nyaman. Ketidaknyamanan bukan berarti kesengsaraan. Ketidaknyamanan adalah bagian dari kehidupan ketika orang harus menyeberang. Ketika pengalaman menyeberang itu menang, ia menjadi pribadi yang menempuh jalan keluaran, exodus. Seperti bani Israel keluar dari Mesir, mereka pun harus bergulat 40 tahun lamanya. Musa yang memimpin pun tak sampai tanah terjanji. Di Masa dan Meriba pun mereka memberontak dan protes kepada YHWH. Pelajaran dan didikan YHWH saat exodus itulah yang menjadikan mereka bangsa yang teruji.

Tak bisa orang hidup hanya lari dari masalah. Tak mungkin orang hidup hanya memilih yang nyaman. Tak bisalah orang hidup hanya berdasar kesukaan. Tidak semua itu dapat kita pilih dan kontrol. Ada kalanya hidup kita sangat ditentukan orang lain atau kondisi atau situasi di luar batas kendali kita, dan kita harus menjalaninya. Itulah kiranya didikan saat merenungkan situasi anak menghilang dan Pamong kehilangan.



*Sometimes, we live just like the prodigal. We lost. We escaped from our problem. But actually, we have to face it till we can find ourselves.


#Evening in my room#