Bagi orang Kristiani khususnya yang Katolik, 15 Agustus adalah tanggal untuk memperingati Maria diangkat ke Surga. Bukan soal teologis njlimet tulisan ini. Bukan soal dogma. Bukan soal konsep. Bukan soal teori ini dan itu. Tulisan ini bukan mau membahas dan menguak diangkatnya Maria itu tetapi lebih hanya sekedar sharing pribadiku melihat 2 peristiwa yang terjadi di tahun 2015 ini. Khususnya di tempat berbeda yang hampir berdekatan. Satu di Ambarawa, kota Palagan itu. Satunya di Jogjakarta, kota Gudeg, kota Pelajar? Entah apa sebutannya sekarang.
Apa sih dua kejadian itu? Koq tidak segera disebut? Yah, pertama, pemberkatan patung Maria yang tinggi megah di Gua Maria Kerep Ambarawa oleh beberapa uskup dan diikuti oleh ribuan umat yang hadir dalam perayaan pemberkatan patung itu. Kedua, pencegatan rombongan Moge alias Motor Gede oleh Elanto. Waktunya hampir bersamaan. Sore atau siang hari terjadi. Bayanganku lantas membandingkan dua peristiwa "besar" itu. Besar karena kubesarkan dalam tulisan dan memori peristiwaku. Kubayangkan waktu itu, setelah membaca berita dan mendengar percakapan di meja makan, karena saat terjadi 2 peristiwa itu, aku sedang berolah raga, sore hari keduanya terjadi. Di Ambarawa dengan kemeriahan dan kemegahan, misa berlangsung dan pemberkatan ternyata memakai crane untuk mengusung uskup yang memberkati patung ke atas karena tingginya 42 meter. Wow... aku hanya mengucap dalam hati. Aku mencoba mengkopi keterangan dari sebuah blog demikian: "Inilah Patung Bunda Maria tertinggi di dunia. Patung Bunda Maria Assumpta dibangun di Komplek Wisata Religi Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dengan ketinggian 42 meter. Patung ini dibuat oleh seniman patung asli dari Ambarawa. Patung ini memiliki ketinggian 23 meter dengan ketinggian penopang 19 meter yang apabila ditotal menjadi 42 meter."

Di satu sisi, sore itu aku juga mendengar dan melihat dari tempatku di pinggir jalan, deru Moge yang berkonvoi ke arah Jogjakarta karena hari itu menjelang tanggal 17 Agustus. Aku pikir ya mereka paling memanfaatkan momentum tanggal itu untuk konvoi atau touring kalau istilah untuk "mocil" (motor kecil maksudnya). Ternyata sore itu, Elanto mencegat konvoi Moge yang dikawal polisi (forider). Tepat di traffic light perempatan Condong catur ia berhasil "menyetop" kawanan konvoi Moge itu yang ternyata mau berkumpul mengadakan gathering di Prambanan. Ia sempat beradu argumen dengan salah satu pengendara Moge. Ia juga selalu menyerukan, "Stop, berhenti! Merah, pak! Stop!" Itu yang kelihatan di youtube. Ia mencoba menggugat polisi. Ia mencoba menertibkan yang selama ini seharusnya terjadi. Ia mencoba memperjuangkan pelaksanaan peraturan di jalan raya. Yang ia perjuangkan hanya hal biasa yang "mendadak" menjadi seperti luar biasa. Ia ingin semua dihargai, dihormati di jalan raya. Jika motor dan mobil saja harus taat aturan, mengapa Moge yang konvoi harus diperlakukan khusus? Apa karena mereka membayar pengawalan? Ia selalu mengatakan "kita juga bayar pajak, pak!"
Kiranya dengan peristiwa yang dimunculkan Elanto ini kita semakin disadarkan akan penghargaan dan hak dasar manusia: saling hormat akan keberadaan dan perilaku di tempat publik. Ada yang mengatakan dalam nada sinis: "Yah, pencegat itu kan iri saja karena gak bisa membeli Moge". Persoalannya bukan iri hati tetapi rasa keadilan yang dilecehkan. Tentu ada rasa tak diperlakukan semestinya. Ada pengkhususan bisa dimaklumi tetapi mengapa itu hanya pada kalangan orang berduit, orang kaya?
Koq rasanya jauh sekali dengan sebuah bacaan yang kurenungkan pagi harinya: "... Perkasalah perbuatan tanganNya: dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya. Orang berkuasa diturunkanNya dari tahta; yang hina dina diangkatNya. Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan; orang kaya diusirNya dengan tangan kosong..." Sepenggal kidung Maria, Magnificat. Ya, Maria yang patungnya sedang diberkati para uskup. Ya, Maria yang dipuja-puji kalangan Kristiani, khususnya Katolik. Kidung revolusioner dari seorang Maria, yang ditulis Lukas. Kidung seorang kecil yang mendamba kekuasaan yang ilahi mengalahkan kebatilan. Kidung yang mengajak umat manusia untuk tetap tabah setia menjalani kehidupan yang serba berjuang dan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan kekuasaan yang kejam dan rakus. Keperkasaan manusia bukan pada dirinya sendiri namun pada kekuatan ilahi yang menaungi dirinya. Itu Kidung Maria, kidung orang kecil, papa miskin.
Sedang yang terjadi, Moge dengan membayar polisi dapat perlakuan khusus menerjang lampu merah. Maria, sang orang kecil dengan kidungnya yang melawan kekuasaan, kadang tidak lagi dihormati sebagai orang kecil namun dibesar-besarkan demi kepentingan modal semata, jika tidak hati-hati. Orang kaya, orang yang mempunyai banyak kepentingan, sehingga bisa apa saja, sering tidak peka dengan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya mau berbagi keprihatinan ketidakpekaan manusia di antara manusia yang lain. Sayang jika Maria hanya dijadikan proyek mercusuar dengan mengatasnamakan kesucian, tokoh agama, dan sebagainya. Kebesaran Maria justru ada dalam kesederhanaannya. Ia tidak dapat membeli karena miskin dan tak dapat dibeli karena keagungannya. Ia besar karena ia seorang miskin dan kecil. Elanto mewakili ketertindasan masyarakat yang rasa keadilannya terusik oleh perlakuan khusu aparat kepolisian yang mengawal motor gede yang mahal dan jarang dipakai di jalan kalau tidak ada acara khusus bersama komunitas mereka. Inilah keangkuhan itu, inilah kesombongan itu. Manusia ingin diakui kebesarannya di antara manusia lain. Inilah kisah menara Babel untuk kesekian kalinya. Aku tidak rela Maria dijadikan menara Babel di zaman ini. Banyak masyarakat dan umat berbeda pandangan. Banyak orang miskin yang masih ditipu dengan omong suci saja. Tetapi tidak bisa ditipu kalau sudah menyangkut harkat mereka sebagai orang miskin, yang lapar, yang butuh sesuatu, dan jika tidak hati-hati disulut akan membakar apapun di sekitarnya. Kepekaan terhadap keberbedaan liyan dan saling menghormati lebih jauh akan membantu kehidupan ini. Hidup lebih nyaman dengan kesederhanaan.
Simple is better. Demikian kata Paus Fransiskus. Mari kita hidup bersama dalam keberagaman dan kepekaan satu dengan yang lain. Itu saja pesan tulisan ini. Simple saja.
*Arrogance. It is about how to make myself look better, higher, richer, more powerful than others. But not that attitude we need in our life. We need to live humbly. As we learned from Mother Mary, she is humble mother who become a Mother of God. She became a queen because of her simplicity.
#evening in my room#

