Orang tua menjadi tema yang menarik. Ada orang yang di masa tuanya itu menyenangkan. Dia bisa menerima ketuaanya. Dia tidak membebani anak cucunya. Dia bisa tinggal dengan siapa saja. Itu adalah anugerah masa tua yang menyenangkan. Ada juga yang sebaliknya. Di masa tuanya orang menjadi sensitif. Banyak beban dan pikiran melanda hidupnya. Sepertinya ada hal yang tidak mau dia lepas. Dan bahkan sampai sakit pun tidak mati-mati. Hal itu sangat menyusahkan hidupnya, anak cucu dan orang lain. Orang yang seperti ini kadang disebut "punya aji-aji". Dalam hati aku kadang tidak percaya. Ya, bisa jadi ada kekuatan adi kodrati yang membuat orang jadi sakti, tetapi itu semua kadang tidak masuk dalam nalarku.
Ketuaan menjadi titik kesadaran bahwa diri manusia punya batasnya. Semakin kita merayakan ulang tahun, semakin kita merayakan pendeknya umur kita walau nyanyiannya adalah "panjang umurnya". Apalah arti panjang umur jika malah menyusahkan diri dan orang lain? Apalah arti umur panjang jika hidup ini cukup dijalani dengan kebijaksanaan bukan panjangnya umur? Suatu saat aku didekati orang tua yang mengatakan, "Sepengetahuan saya, karya itu mengikuti orangnya, karya akan mati dengan orangnya." Dalam hati aku mengatakan, "Orang ini tidak tahu diri. Apa kata hukum kehidupan, jika semua hanya yang tua yang hidup dan mati. Lantas apa arti orang muda?" Namun waktu itu, aku hanya menjawab, "Oooo, begitu ya." Ketika orang menjadi sensitif dengan usia dan karya yang dipeganya, maka di situlah aku menjadi melihat lebih dalam bahwa ada sesuatu yang perlu disikapi dengan lebih bijaksana.
Kukira bukan hanya orang yang membaktikan diri dalam komunitas religius atau yang mendedikasikan diri dalam hidup berkeluarga akan mengalami hal ini. Aku juga bisa melihat bagaimana ketuaan ini bisa menjadi beban ketika di masa tuanya seorang ayah tidak siap untuk meninggalkan pekerjaan rutinnya dan akhirnya "post power syndrom" dan tak lama kemudian jatuh sakit yang membuat dirinya drop secara fisik dan mental. Aku juga bisa melihat bagaimana orang berjuang untuk melepaskan atau merelakan urusan rumah dengan segala macam tetek bengeknya kepada yang lebih muda. Contoh konkretnya adalah nenekku sendiri. Dia tidak mudah hanya untuk urusan dapur dan masakan. Sampai pada akhirnya waktu menantukan lain dengan jatuhnya dan lama sakit berbulan-bulan tidur di ranjang sampai akhirnya dipanggil Tuhan.
Dalam diri manusia akhirnya ada saja hal-hal yang menjadi "pegangan", entah itu kebiasaan, hobby, pekerjaan, rutinitas, barang, dan sebagainya. Justru ketika kita menjadi tua, hal-hal itu baru sangat kelihatan apakah sikap terhadap "pegangan" itu kita menjadi lebih "sumeleh", merelakan diri dan berpindah ke keberterimaan akan apa yang dialami sekarang. Tua kadang tidak menjadikan orang bijaksana. Tua bisa hanya karena umur fisik yang dipaksa oleh waktu. Namun kebijaksanaan dan keberserahan diri menerima estafet ke generasi selanjutnya kukira itu adalah perjuangan juga. Bukan berarti perjuangan dan segala macam hal itu buruk namun di sanalah aku belajar akan ujian berat dalam hidup.
Kemarin aku melihat orang tua dan anjingnya. Orang tua itu menuntun anjingnya di pedestrian. Ya, memang banyak orang menuntun anjing kulihat. Namun aku tertarik memotret orang tua dan anjingnya. Entah kenapa. Di masa tua, dia masih bisa berjalan dan menuntun anjing. Itu sebuah hal yang kukira baik. Tentu orang tua itu akan menuntun di jalan di mana ia akan berjalan, dan bukan di mana anjingnya akan berjalan. Tentu kadang ada saat anjingnya tertarik dengan sesuatu lalu berhenti. Kadang anjingnya kencing di jalan atau berak, maka orang tua itu berenti juga. Atau bahkan kadang orang tua itu harus menarik anjingnya agar tidak membuat hal yang mengganggu orang atau barang milik umum di situ. Suatu hal yang menarik yang bisa dipotret dari orang tua dan anjingnya. Di sana masih ada potret tentang orang tua yang berjalan. Di sana ada anjing yang dituntun atau anjing itu menuntun orang tua itu, bisa sebaliknya tentunya. Anjing menjadi sahabat manusia. Manusia menjadi sahabat anjing.
Dari sana aku bisa lebih sadar bahwa kadang aku bisa menarik sesuatu yang kutuntun, namun di sisi lain aku yang harus ditarik karena faktor usia yang renta sudah menyergapku. Orang tua dan anjingnya menjadi kesan yang menarik setelah aku merenungkan siang ini dan juga melihat kembali gambar-gambar yang kupunyai. Selain itu, ada Kidung Simeon yang selalu dikumandangkan sebagai pujian penutup hari para pertapa atau para biarawan-biarawati. Itulah kidung yang mau mengungkapkan keberterimaan atas rahmat Tuhan yang sudah mempertemukan dengan Masa Depan dan sekarang saatnyalah untuk undur diri supaya Masa Depan itu yang bekerja.
- Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang *
- dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu.
- Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu *
- yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa:
- Cahaya untuk menerangi para bangsa, *
- dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.
#Buona Notte#
