Dalam sebuah artikel yang bernuansa anak muda dalam sebuah sekolah, nada serupa pun terjadi. Ketika sebuah anggaran dipangkas dalam sebuah perhelatan, maka terjadi protes yang senada karena hasrat keinginan supaya dipenuhi. Ketika proposal tidak dipenuhi, maka yang terjadi adalah protes. Merasa bahwa apa yang selama ini direncanakan tidak dihargai. Ada kesewenang-wenangan dari pihak lembaga. Lembaga dianggap sebagai yang berkuasa dan sewenang-wenang. Ibaratnya Gusti Allah yang Maha Besar berubah menjadi penguasa yang menindas, yang berubah kepada kekuasaan lembaga yang memangkas anggarannya.
Kisah yang lain, ketika sebuah pekerjaan tertentu selesai, ada waktu penerimaan honor untuk kepanitiaan. Honor didapat karena konsekuensi dari pekerjaan yang dibuat. Namun yang kadang atau sering terjadi adalah bahwa seluruh pernik-pernik pekerjaan disuruh memperhitungkan dalam hitungan nominal duit yang harus dibayarkan kepada pekerja itu. Persiapan yang terdiri dari beberapa kali harus dihitung. Pelaksanaan yang terdiri dari beberapa kali dan macam pekerjaan harus dihitung. Penyelesaian dari pelaksanaan tugas yang terdiri dari beberapa kali dan macamnya diminta menghitung. Semua serba dihitung dengan nominal duit.
Mengapa ada sikap perhitungan dan mudah menuntut atau protes dalam diri manusia? Itu yang menjadi pertanyaan dalam diri saya. Seolah-olah hidupku hanya sebatas hitungan duit. Hitungan itu adalah kehormatanku. Dan sepertinya tidak ada kehormatan yang lain selain pemenuhan atas perhitungan-perhitungan yang lain. Tidak ada kemurahan hati dan tidak ada pengertian bahwa semua itu tentu ada batasan dan alasannya. Ketika disebutkan bahwa Gusti Allah Maha Besar dan Kuasa dan Sempurna mengapa ada juga ciptaan yang tidak sempurna? Apa memang disengaja bahwa ada makhluk yang cacat? Apa memang sengaja bahwa ada bencana? Apa memang disengaja bahwa ada peperangan? Mengapa ada kejahatan (evil) di dunia ini kalau Gusti Allah katanya Maha segalanya?
Jawabannya bisa seperti ini kalau dilihat dari fenomena yang ada. Pertama, si manusia cenderung akan banyak menuntut karena paham di atas tadi dan menjadikan Gusti Allah adalah pihak yang harus memenuhi keinginan manusia. Kedua, si manusia kemudian hanya mau cuci tangan jika ada ketidaksempurnaan dalam kehidupan ini: sakit, kemiskinan, kejahatan, bencana, dan sebagainya, lantas menyalahkan pihak Gusti Allah. Padahal dalam sebuah tulisan refleksi Yohanes menanggapi persoalan orang buta sejak lahir itu demikian: "Orang buta sejak lahirnya itu bukan masalah dosa bapak-ibunya atau kutukan dari Allah namun supaya kasih Allah itu nampak dalam hal yang seperti itu." Benarkah? Lantas bagaimana itu nampak?
Gusti Allah yang direfleksikan Yohanes bukanlah Penguasa yang lantas menyelesaikan sendirian namun justru melibatkan manusia. Kasih Allah yang nampak itu justru harus mulai dari kesadaran manusia yang kemudian tergerak untuk membantu sesamanya. Kasih Allah yang nampak itu ada pada diri sesama yang membantu orang buta sejak lahir itu kepada Yesus. Yesus, Anak Manusia, tergerak untuk membantu dan menyembuhkan. Ibaratnya cara Gusti Allah itu adalah cara berbagi kehidupan dengan tindakan yang nyata. Tidak ada perhitungan untung rugi, aku dapat berapa dari manusia ketika aku membantu. Kemurahan hati itulah yang sebenarnya ada dalam kehidupan ini. Kasih Allah yang nampak itu ada dalam kemurahan hati.
Krisis dalam kehidupan ini sebenarnya adalah krisis kemurahan hati. Di sisi lain orang kemudian mengartikan bahwa kemurahan hati hanya demi kepentingan dirinya. Kemurahan hati harus dari pihak lain daripada diriku. Ini yang kemudian tidak fair. Kalau kemurahan hati hanya dari sisi di luar diriku, lantas bagaimana akan ada saling berbagi kehidupan? Yang terjadi adalah perhitungan-perhitungan. Perhitungan-perhitungan akhirnya juga akan membunuh salah satu dari pihak-pihak yang mengadakan pekerjaan bersama. Kemurahan hati pun kadang juga harus mengingat kekuatan dan kemampuan diri dari yang bisa memberi.
Aku mencurigai bahwa krisis ini bermula dari pola asuh dan pola relasi dalam keluarga. Krisis ini mulai karena sejak semula manusia terfasilitasi dan serba diumbar keinginannya. Semua serba dituruti. Kalau tidak dituruti, maka akan merengek dan ngambek. Seorang ayah yang tidak tega dengan anaknya yang merengek meminta mainan, maka ayah itu akan membelikan walau uangnya harus dari hutang. Sepertinya tidak ada cara lain yang bisa dibuat. Bolehlah kalau hanya sekali dua kali, dan suatu saat pola ini harus dikatakan kepada anaknya supaya anaknya pun tahu bahwa orangtua kerja keras dan berkurban demi cintanya. Walau tidak semuanya harus dikatakan. Tidak memenuhi rengekan anak sekali-kali pun juga perlu dibuat demi tujuan yang lebih luhur yaitu supaya anak tidak menjadi lembek dan manja. Tidak semua tumbuhan dapat air jika kemarau.
Oleh karena itu, dari keprihatinan ini, aku pun perlu berlatih murah hati namun berani untuk tidak selalu terpenuhi hidupnya. Kemurahan hati adalah salah satu bentuk berbagi sama seperti Bapamu adalah murah hati. Kemurahan hati adalah bentuk dari kasih Allah yang kelihatan pada sisi-sisi ketidaksempurnaan hidup di dunia ini, bukan soal perhitungan. Dalam sebuah film dokumenter tentang rekayasa genetika, sebenarnya peta genetika itu hampir semua tergambarkan. Namun dalam akhir refleksi film itu dikatakan: "Jika semua harus sempurna, dengan menggabungkan gen dan DNA yang serba sempurna, maka tidak ada lagi resiko dalam kehidupan ini. Kehidupan mengalami kekayaannya karena ada sisi resiko itu. Yang lemah mendapat bantuan dari yang kuat. Yang cacat mendapat bantuan dari yang sehat. Itulah kehidupan." Jika semua manusia itu sempurna: otaknya seperti Enstein, wajahnya rupawan seperti Marlyn Monroe, kekuatannya hebat seperti 100 ekor kuda, maka semua didesain dan diperhitungkan sedemikian rupa sampai-sampai ambisi semua sempurna itu menguasai kehidupan.
Kelemahan terjadi supaya energi kasih Allah itu nampak dalam kehidupan di alam semesta ini. Itulah sekilas aku merenung dan mencoba mencari jawab atas kecenderungan orang gampang menuntut dan selalu perhitungan dengan nominal (uang/waktu/urusan). Jadilah murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.
#morning time#
