Dalam semua hal tentu ada transisi. Perpolitikan negeri ini ada transisi walau pemimpin tetap sama. Keinginan untuk berubah dan mengubah dari yang lama ke yang baru akan selalu ada. Setiap fase kehidupan ada transisinya. Ada peralihan dari yang sebelumnya ke yang akan datang. Setiap akhir tahun pelajaran tentu juga ada transisinya dari yang sebelumnya dijalani ke yang akan dibuat. Ya, semua akan mengalami itu dengan perasaan apapun yang akan muncul. Bahkan saat mengalami trauma-trauma masa lalu pun akan ada fase transisi ketika orang mau berubah dan menyembuhkan dirinya dengan berdamai dengan masa lalu traumatik itu. Transisi ini sangatlah penting dan mungkin dapat dikatakan saat kritis untuk menentukan situasi ke depannya. Hampir saja saat yang dijalani bangsa ini hancur jika tidak ada proses peralihan yang melulu ingin digantikan oleh kepentingan yang merusak. Banyak negara gagal karena proses transisi yang tidak mudah, bahkan bangsa ini pun hampir menjadi bangsa yang gagal berjalan. Saat ini belumlah optimal jalannya.Pengalaman bulan ini mengatakan padaku bahwa banyak hal telah dikerjakan namun kadang juga ada yang tidak menyenangkan. Aku harus berhadapan dengan situasi harus memilih dan memutuskan nasib orang. Selain itu berhadapan dengan gangguan-gangguan di antara para komentator dan yang berkepentingan. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada tindakan, ada pula konsekuensi. Dan itulah yang sempat membuat diriku harus tabah menghadapinya. Ada pula hal-hal rutin yang biasa dilakukan namun sayangnya kurang optimal untuk dijadikan sebuah acuan kerja. Kadang yang rutin sudah menenggelamkan hidup. Belum lagi kita perlu membuat yang monumental dan sangat berpengaruh. Ternyata itu tidaklah mudah.
Ketika ada orang-orang yang baru pun itu adalah salah satu contoh transisi. Transisi itu bagi kedua belah pihak, yang menerima dan yang datang. Adaptasi menjadi salah satu situasi transisi. Memberi arahan dan pedoman bagi yang baru itu juga perlu, dan itulah situasi transisi. Banyak contoh bisa dipakai. Bahkan ada seorang teman yang tidak biasa kerja dengan orang-orang dan forum yang formal, harus mengalami itu. Itu adalah transisi yang harus ia jalani. Ada ketidaknyamanan, ada pergulatan, ada perjuangan, ada situasi kritis di sana. Namun semua harus menjalani dan dijalani. Ada hal yang tidak boleh dilupakan pada saat transisi: belajar. Mentalitas belajar atau pembelajar inilah yang dibutuhkan. Tiada yang lain. Orang yang bertahan dan kuat adalah orang yang bisa belajar dari situasi apapun. Bahkan transisi ditentukan oleh kemampuan ini, yaitu belajar.
Kecepatan dan kecekatan dalam bertindak juga menentukan proses transisi ini. Aku sadar bahwa kecepatan antara satu dengan yang lain berbeda. Oleh karenanya, transisi pun juga ada warnanya sendiri-sendiri. Ada yang cukup cepat. Ada yang sedang. Ada yang lambat. Transisi akan menentukan kehidupan selanjutnya. Itulah masa kritis yang harus dilewati oleh siapapun. Aku menulis ini karena banyak hal dan pengalaman bulan ini yang terkait dengan transisi. Aku pun ingat akan renungan 11 tahun lalu ketika Yakob menyeberang ke sungai Yabok. Di sana ada situasi transisi ketika ia harus bertarung dengan Malaikat (kepanangan tangan Allah) dan membawa keluarganya menyeberang sungai itu. Transisi yang berasal dari "trans" yang berarti menyeberang dan "ire" yang berarti pergi. Pergi menyeberang berarti pergi melampaui batas dari titik awal ke titik selanjutnya. Ada pertarungan di sana. Ada ketidaknyamanan yang memang dari zona nyaman ke titik kritis yang membuat ketidaknyamanan.
#evening time#
