Saturday, June 29, 2019

Transisi

Dalam semua hal tentu ada transisi. Perpolitikan negeri ini ada transisi walau pemimpin tetap sama. Keinginan untuk berubah dan mengubah dari yang lama ke yang baru akan selalu ada. Setiap fase kehidupan ada transisinya. Ada peralihan dari yang sebelumnya ke yang akan datang. Setiap akhir tahun pelajaran tentu juga ada transisinya dari yang sebelumnya dijalani ke yang akan dibuat. Ya, semua akan mengalami itu dengan perasaan apapun yang akan muncul. Bahkan saat mengalami trauma-trauma masa lalu pun akan ada fase transisi ketika orang mau berubah dan menyembuhkan dirinya dengan berdamai dengan masa lalu traumatik itu. Transisi ini sangatlah penting dan mungkin dapat dikatakan saat kritis untuk menentukan situasi ke depannya. Hampir saja saat yang dijalani bangsa ini hancur jika tidak ada proses peralihan yang melulu ingin digantikan oleh kepentingan yang  merusak. Banyak negara gagal karena proses transisi yang tidak mudah, bahkan bangsa ini pun hampir menjadi bangsa yang gagal berjalan. Saat ini belumlah optimal jalannya.

Pengalaman bulan ini mengatakan padaku bahwa banyak hal telah dikerjakan namun kadang juga ada yang tidak menyenangkan. Aku harus berhadapan dengan situasi harus memilih dan memutuskan nasib orang. Selain itu berhadapan dengan gangguan-gangguan di antara para komentator dan yang berkepentingan. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada tindakan, ada pula konsekuensi. Dan itulah yang sempat membuat diriku harus tabah menghadapinya. Ada pula hal-hal rutin yang biasa dilakukan namun sayangnya kurang optimal untuk dijadikan sebuah acuan kerja. Kadang yang rutin sudah menenggelamkan hidup. Belum lagi kita perlu membuat yang monumental dan sangat berpengaruh. Ternyata itu tidaklah mudah.

Ketika ada orang-orang yang baru pun itu adalah salah satu contoh transisi. Transisi itu bagi kedua belah pihak, yang menerima dan yang datang. Adaptasi menjadi salah satu situasi transisi. Memberi arahan dan pedoman bagi yang baru itu juga perlu, dan itulah situasi transisi. Banyak contoh bisa dipakai. Bahkan ada seorang teman yang tidak biasa kerja dengan orang-orang dan forum yang formal, harus mengalami itu. Itu adalah transisi yang harus ia jalani. Ada ketidaknyamanan, ada pergulatan, ada perjuangan, ada situasi kritis di sana. Namun semua harus menjalani dan dijalani. Ada hal yang tidak boleh dilupakan pada saat transisi: belajar. Mentalitas belajar atau pembelajar inilah yang dibutuhkan. Tiada yang lain. Orang yang bertahan dan kuat adalah orang yang bisa belajar dari situasi apapun. Bahkan transisi ditentukan oleh kemampuan ini, yaitu belajar.

Kecepatan dan kecekatan dalam bertindak juga menentukan proses transisi ini. Aku sadar bahwa kecepatan antara satu dengan yang lain berbeda. Oleh karenanya, transisi pun juga ada warnanya sendiri-sendiri. Ada yang cukup cepat. Ada yang sedang. Ada yang lambat. Transisi akan menentukan kehidupan selanjutnya. Itulah masa kritis yang harus dilewati oleh siapapun. Aku menulis ini karena banyak hal dan pengalaman bulan ini yang terkait dengan transisi. Aku pun ingat akan renungan 11 tahun lalu ketika Yakob menyeberang ke sungai Yabok. Di sana ada situasi transisi ketika ia harus bertarung dengan Malaikat (kepanangan tangan Allah) dan membawa keluarganya menyeberang sungai itu. Transisi yang berasal dari "trans" yang berarti menyeberang dan "ire" yang berarti pergi. Pergi menyeberang berarti pergi melampaui batas dari titik awal ke titik selanjutnya. Ada pertarungan di sana. Ada ketidaknyamanan yang memang dari zona nyaman ke titik kritis yang membuat ketidaknyamanan.


#evening time#

Tuesday, June 11, 2019

Tidak Kenal

Beberapa hari ini aku masih merasa kurang nyaman dengan situasi yang kuhadapi. Aku harus berurusan dengan sikap yang sebenarnya kurang pas dari orang lain yang harus kuterima. Ini soal orang hidup, bukan orang mati. Awalnya ada kontak dari teman yang punya teman. Temannya ini punya teman. Teman dari temanku ini pengin anaknya masuk dalam sebuah sekolah dengan sistem asrama dan perawatan (pendampingan khusus). Namun motivasi ini belum kuketahui di fase awal kontak ini. Aku ketika dihubungi teman ini pun tidak tahu sebenarnya mau apa dengan kontak ini. Tahu-tahu ada orang tua yang kotak bahwa anaknya mau masuk sekolah tempat aku bekerja yang memang asrama ini. Orangtua ini begitu ngotot. Aku menginformasikan bahwa pendaftaran di sini sudah tutup dan tidak bisa lagi ditawar. Namun orangtua ini ngotot banget.

Selang sehari kemudian, ada rombongan polisi dari polsek datang. Aku kaget. Aku menduga mau bertanya soal urusan sekolah dalam arti keamanan dan sebagainya tetapi bukan. Malah, polsek itu meminta-minta supaya anak dari ibu/orangtua yang kemarin kontak aku itu diterima. Aku sudah berargumen macam-macam tetapi tidak dipahami. Dan ternyata ada pressure kekuasaan bahwa kapolsek mendapat mandat dari kapolres dan kapolres dari wakapolda. Waduh, malah menjadi runyam. Aku makin merasa ini sebuah intimidasi kekuasaan bahwa aku harus menerima anak ini karena keluarganya adalah pejabat-pejabat penting keamanan negara. Ketika argumen ini dan itu kuberikan ada ketiakpahaman yang terjadi sehingga tidak nyambung. Negosiasi pun berjalan alot karena aku harus berhadapan dengan otoritas tinggi yang tidak nyambung dengan prinsip-prinsip yang diperjuangkan dalam pendidikan di tempat ini. Kekuasaan itu hanya tahu menang atau kalah. Kekuasaan itu hanya tahu teman atau lawan. Kekuasaan itu hanya tahu kepentinganku diakomodasi atau disingkirkan. Tentu kekuasaan itu dengan duit juga. Mau bayar berapapun asal kepentingannya jalan, duit akan diusahakan. Tidak melihat realitas pun akan dibayar berapapun. Keluarganya yang salah pun akan dibuat pembenaran sedemikian rupa asal kepentingan keluarga diakomodasi. Itulah kekuasaan, maka tidak mengherankan ada ungkapan dari Lord Acton, "Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely."

Dengan situasi terintimidasi ini aku hanya bisa cari cara ini dan itu agar lepas dari jerat perangkap. Aku berprinsip bahwa kalau pun nyawa dan institusi ini akan dihancurkan ya terserah. Toh semua ini hanya sarana. Aku sudah membayangkan hal-hal yang ekstrem jika berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. Aku bahkan sudah membayangkan jika di jalan aku dibunuh oleh orang tak dikenal gara-gara menolak salah satu keluarga kerabat pejabat negara pun, aku siap. Itu sembahyangku.

Lantas aku mencoba bernegosiasi dengan keluarga ini agar datang ke sekolah ini di hari berikut. Mereka datang. Dan kedatangan mereka, ibu dan anak ini, masih membawa kawalan polisi bahkan kapolres dan kapolsek datang juga. Namun aku meminta para pejabat ini pergi supaya bisa berbicara dengan kedua orang ini. Ketika kutanya ini dan itu, ibu ini serta-merta menceritakan hal-hal yang serba suci. Semua dispiritualkan. Bahkan semacam merengek-rengek supaya anaknya diterima dengan cara halus namun memaksa. Ketika kuberi argumen ini dan itu, tidak memahami apa yang kujelaskan. Lebih tepatnya tidak mau mengerti. Lalu aku buat kesepakatan: anak boleh live in tetapi tidak sekolah di sini. Kalau mau sekolah ya harus lewat pedaftaran sesuai prosedur. Tidak lewat jalur titipan atau suap atau sogokan. Ketika kucek berkas-berkasnya, ternyata anak ini sekolahnya homeschooling. Aku makin bertanya-tanya. Apalagi ibunya yang ngotot pengin dia jadi romo. Anaknya ketika kutanya, tidak menjawab dan terkesan tidak bisa menjawab. Lalu kuadakan perbincangan terpisah antara ibu dan anak. Anaknya tidak bisa menjawab hal-hal yang kutanyakan secara sederhana. Ibunya masih ngotot. Dan keluarlah sebagian misteri sejarah anak ini (namun tidak perlu kutulis di sini). Lalu aku meminta bantuan beberapa suster yang punya sekolah asrama. Ada yang menjawab tidak bisa membantu. Ada yang meminta mereka ini datang supaya kenal sekolahnya dan sebagainya. Intinya berurusan dengan anak didikan homeschooling itu tidak mudah.

Di hari lain, ada informasi dari suster yang didatangi anak dan ibu ini, dan informasinya adalah bahwa anak ini mempunyai kebutuhan khusus (ABK). Nah, makin jelas bahwa ada hal-hal yang harus diperlakukan khusus dari anak ini. Ibu itu ingin supaya anaknya menjadi mandiri, padahal di rumah ada 5 pembantu. Segala sesuatunya dicukupi dengan terlalu mewah. Ibu itu ibarat mau mengubah ikan menjadi sapi. Yang semula hidup di air menjadi yang hidup di darat. Aneh dan tidak realistik. Anak bekebutuhan khusus dipaksa menjadi romo. Haduh......ini gojegan macam apa!!!??

Dari situ aku makin menyimpulkan bahwa pertama, orangtua ini mau memaksakan dirinya kepada anak dan pihak lain. Kedua, orangtua ini tidak kenal sebenarnya apa yang terjadi dalam diri anak ini. Ketiga, orangtua ini supersibuk sehingga mau gampangnya saja yaitu menyerahkan anak dalam pendampingan pihak lain. Mereka tinggal bayar. Kalau terjadi apa-apa, mereka bisa saja komplain dan menuntut. Keempat, orangtua ini mudah sekali menspiritualkan pengalamannya yang sebenarnya tidak menjawab dirinya. Ada ketidakkenalan dalam diri orang ini terhadap diri dan anaknya. Ketika orang tidak mengenal diri maka itu merepotkan orang lain. Orang lain yang harus menanggung kelemahan ini. Bahkan tambahan info dari suster yang dikunjungi, orangtua ini sudah disarankan menyekolahkan di sekolah yang menangani ABK namun masih ingin supaya disekolahkan di asrama yang dikelola suster atau romo. Waduh....masih rempong juga... Memang secara fisik tidak difabel namun kemungkinan besar adalah autis anak ini. Maka tidak mampu fokus dalam segala perilakunya atau hal-hal yang dibuatnya.

Untuk sementara aku hanya bisa cari cara agar terselesaikan urusan ini dan aku selalu kontak dengan nada mengeluh pada teman yang sudah "mengirim urusan" ini kepadaku. Aku agak komplain juga sebenarnya. Harapannya semoga orangtua ini bisa lebih kenal anaknya dan kenal kebutuhan psikologis dirinya yang tak dikenali. Orang "sholeh" yang tidak kenal diri sendiri itu sudah menistakan kesholehan itu sendiri. Dan itu banyak terjadi pada orang jaman sekarang.


#Morning time#