Ketika membaca berita, melakukan observasi, dan mendapatkan masukan dari salah satu guru, saya mendapatkan insight ini. Pendidikan yang sudah pongah di berbagai macam titik dan sisinya ini akhirnya menghasikan buktinya. Dengan membaca berita perkelahian a la Gladiator zaman Romawi (https://news.detik.com/berita/d-3644117/aktor-intelektual-tawuran-gladiator-di-bogor-bisa-dipidana?_ga=2.109952325.113851839.1505279778-2002911370.1490323246), dan juga situasi yang tak jauh dari tempat ini (http://regional.kompas.com/read/2017/04/06/18524191/kasus.pembunuhan.siswa.sma.taruna.nusantara.segera.disidangkan) aku langsung bisa merasakan adanya ketidakberesan di sana-sini dalam pendidikan negeri ini. Aku pun ingat apa yang pernah kutulis di blog ini, judulnya "Bersama Mereka Yang Miskin". Akhirnya apa yang kupikir dan kurasakan itu jadi kenyataan.
Apakah ini sebuah firasat? Jika firasat sekalipun ini semacam suasana yang tak pernah akan dikenali banyak orang, orang bakalan akan menyorot sesaat kemudian melupakannya lagi. Dan suasana semacam ini sebenarnya sudah beranak pinak sejak zaman sejarah negeri ini sebelum menyatu yang disebut nuswantara. Sejarah dari kelamnya para bangsawan dalam mengurus negeri. Hal yang ada adalah intrik dan saling bunuh. Darah menjadi pemandangan setiap saat ketika saling membunuh menjadi cara memenangkan sebuah kekuasaan. Tidak ada rasa malu. Hal yang ada hanyalah bagaimana mampu menguasai yang satu dan yang lain.
Hari ini aku kadang malu dan geram dengan segala macam yang terjadi dan itu akibat dari pendidikan, entah dari pola asuh keluarga atau juga karena ketidakmampuan yang karena ketidakmauan untuk berubah dan mengubah diri. Orang sudah tahu kalau itu tidak tepat namun tetap saja dilakukan karena orang tidak mau berubah. Berubah itu memang tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Hal-hal yang kulihat adalah demikian. Pertama, ada kekurangtepatan dalam pola asuh yang diterakan kepada jiwa muda (anak) sehingga mempunyai tabiat untuk berperilaku kurang pas juga. Misalnya, seorang ibu memperlakukan anak dengan memanja atau terlalu dominan sehingga anak menjadi tidak berkembang dalam pemikiran dan sikapnya. Anak menjadi akan sangat terlindungi dan tidak mau salah karena takut ibunya marah dan ia kehilangan zona nyamannya. Hal yang salah adalah segala sesuatu di luar ibunya dan dirinya. Ini akan sangat berbahaya jika ia hidup bersama yang lain selain lingkupnya tadi.
Kedua, guru di sekolah cenderung puas diri dengan apa yang sudah dikerjakan selama ini. Mengapa ini saya masukkan dalam ranah ini? Ada kecenderungan bahwa pola perilaku mendidik pun berpengaruh pada perilaku anak didik. Ketika di kelas hanya disodori materi yang bergunung-gunung dan tugas yang berjibun, akhirnya anak hanya terbebani. Ada keterbelengguan dalam dirinya ketika harus belajar. Boleh jadi guru atau orangtua mengatakan sebagai doktrin ideologi pendidikan: "Kalian harus belajar keras, berjuang, karena di sinilah kalian sedang dibentuk dan diberi mengalahkan diri sendiri." Kemudian yang terjadi adalah bahwa anak menjadi bosan, malas, dan tidak bersemangat. Anak tidak dibawa pada pemahaman terlebih dahulu mengenai apa yang sedang dilakukan, mengapa ini dilakukan, untuk apa ini dilakukan atau dipelajari. Itulah yang bisa berpengaruh pada hal-hal yang terbukti saat ini sedang terjadi di manapun dan bisa akan terjadi lagi di manapun dan kapanpun jika hal-hal itu tidak diwaspadai dan diperhatikan.
Ada maksud yang perlu dijelaskan. Pendidikan selayaknya perlu membawa orang mencapai kebenaran yang ia cari. Pendidikan bukanlah penguasaan namun pelibatan.Bagaimana pelibatan antara murid dan guru dalam berinteraksi, berkomunikasi, mengungkapkan pendapat, sampai pada menghasilkan sebuah karya atau setidaknya hal yang membekas untuk dimiliki. Hal itu bisa saja pemahaman, bisa saja konsep, bisa saja cara berpikir, cara bertindak, lukisan, tulisan, dan lain sebagainya. Sayangnya, ada juga yang hanya semaunya bertindak dan berpikir. Sayang, ada juga pendidik yang menikmati kenyamanan berpikir dan bertindak sehingga yang terjadi adalah kemandegan. Orang mandeg akhirnya berkubang dalam zona nyaman. Ada yang mengatakan itu tak hidup dengan roh yang bergerak bebas. Imaginasi dan kemauan untuk memperdalam diri dan belajar dari zamannya itu perlu dibutuhkan. Oleh karena itu, orang tak bisa lagi berpuas diri.
Jika ada bukti dan hasil bahwa di sana sini masih ada pembunuhan dan nyawa melayang dalam dunia pendidikan, itulah bukti akan didikan bukan saja karena situasi lain. Jika ada bullying dan akhirnya kekerasan di antara sesama, itu disumberi oleh cara didik dan pola asuh di mana tidak ada penghargaan pada nyawa atau kehidupan. Hal yang diketahui dan diberikan hanyalah "kamu tidak boleh salah dan kalah. Kamu tidak bisa hidup dengan yang lain, yang menghidupimu adalah lingkup kita. Kami tidak boleh kalah, karena bebanmu ini demi kehidupanmu nanti." Sedangkan realitasnya anak-anak jiwa muda ini harus didalami situasinya, kebutuhannya, dan juga mungkin "desire" zaman anak zaman ini. Sedangkan yang terjadi adalah ketidaksinkronan antara hal dan cara pendidik itu mendidik dan kebutuhan anak zaman ini.
Di akhir tulisan ini aku tertawa dalam hati karena diskusi pemikiran juga sedang terjadi di komunikasi yang lain: "Kami (guru) belum sampai mencipta sebuah kurikulum, pelaksana kurikulum pun belum, maka kami ini tidak gelisah." Beralasanlah sekarang, mengapa pendidikan menjadi seperti ini: "guru bukan lagi menjadi pencipta kurikulum namun pelaksana saja (juklak dan juknis). Itu saja masih banyak yang belum sampai menjadi pelaksana yang baik."
#en todo amar y servir#
