Seminggu ini perjalanan seolah menjadi tema utama hidupku. Berjalan bukan hanya sendiri namun berjalan bersama dengan sesama dan banyak pihak. Perjalanan bukan sekedar berjalan tanpa arah namun perjalanan yang punya arah. Arahnya bukan hanya satu namun bisa beberapa arah yang dituju. Antara pejiarahan (siji sing diarah, Jawa) dan beberapa yang diarah memang jadi bersambung di sana. Di sana ada ketidakpastian walau kita sudah mencanangkan yang dituju. Di sana juga ada kelelahan karena berjalan dan atau naik kendaraan. Di sana ada fokus yang dituju karena tanpa fokus biasanya kita menjadi buyar dalam membuat konsentrasi diri. Namun di sana juga ada pertolongan di tengah-tengah saat kita berada dalam kesulitan mencari. Ya, perjalanan adalah juga sebuah pencarian. Dan itulah yang selalu kuperhatikan saat berjalan.Ketika ada yang mengajak mencari sebuah makam dari keluarganya, aku pun menyanggupi untuk menemani. Pada dasarnya aku suka berjalan. Aku suka petualangan. Aku suka mencari hal-hal yang belum pernah kuhadapi, walau itu resikonya capai, tetapi tidak menjadi masalah. Memang ada saat-saat di mana badan ini kecapaian, ada saat-saat di mana mood tidak bisa disembunyikan.Namun syukur bahwa masih ada orang baik di tengah perjalanan yang kemudian membantu. Bukankan itu sama dengan menemukan Simon dari Kirene saat Joshua bin Josep kelelahan memanggul beban papan palang di jalan? Simon menjadi orang baik yang "dipaksa" untuk membantu mengangkat beban papan palang itu. Saat mencari hal yang belum kita ketahui secara pasti dan terarah dengan jelas, yang terjadi adalah mencari dan terus mencari. Saking luasnya area pencarian biasanya bisa-bisa kita patah semangat untuk segera mencari dan menemukan dengan kemudahan yang kita bayangkan. Bahkan orang di tengah jalan pun menawarkan kepada kita kemudahan itu. Memang membantu namun bantuan bukan hanya dengan kemudahan sarana, namun kemudahan mencari arah itulah yang kita butuhkan saat berjalan.
Kami sampai di area luas itu sore hari, walau agak siang. Namun suasana takut kemalaman memang menjadi pengaruh yang agak negatif membawa dalam diri kami untuk segera menemukan yang kita cari. Kami datang hanya berdasarkan cerita dari keluarga bahwa letaknya di sana, ada temboknya dan jalannya ke san lalu ke sini belok ka sana lagi. Namun tidak semuanya jelas. Kami sempat komunikasi dengan HP namun itu pun hanya awangan. Sedangkan kami berada di tempatnya secara langsung. Kadang ada yang tidak nyambung ke mana arah yang harus dituju. Kami terus mencari dan mencari. Perjalanan adalah mencari, bukan sekedar berjalan. Kepastian dalam perjalanan adalah ketidakpastian itu sendiri. Saat lelah mulai menyesah, ada beberapa penjaga dan orang yang membersihkan makam. Lalu kami bertanya, "Pak, makam dari keluarga kami berada di mana ya?" Kami menyebut keluarga dan menjelaskan makamnya. Lalu bapak itu masih mengkonformasi, dan kemudian menyebutkan arahnya. Kami dituntun dengan penjelasannya bahkan kami sempat ditawari untuk diboncengkan dengan motor karena jarak agak jauh. Hampir saja aku mengiyakan namun kemudian sahabatku menolak dan mengajak berjalan saja. Akhirnya bapak-bapak itu hanya memandu dengan berjalan dan ada yang naik motor. Akhirnya kami menemukan tempat itu. Syukur akhirnya tecurah dalam doa kami di makam keluarga.
Selang dua hari aku dan beberapa teman berjalan lagi. Berjalan dalam arti yang lebih bernuansa rohani. Jalan salib di tempat umum yang tidak biasa orang pakai. Perasaan yang muncul hanyalah bagaimana nanti membuat jalan salib itu? Bagaimana orang akan melihat kami yang akan melakukan jalan dan berdoa itu? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam diriku. Aku kadang memang serba kuatir ini dan itu. Dan itu secara naluriah spontan yang muncul. Namun akhirnya kami berjalan dengan rencana yang ada. Perhentian demi perhentian kami jalani dengan berhenti di sebuah tempat yang ada tempat duduknya kecuali di area yang hanya ada jalan tanah dan pepohonan di bukit itu. Dari apa yang kemudian kualami itu tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Hanya tidak enak saja yang muncul dalam perasaan karena asing. Biasa kita jalani di tempat ekskluif, perasaan terancam tidak ada, lantas kali ini dibuat di tempat yang inklusif, bahkan tempat umum.
Punctum yang pertama adalah bahwa perjalanan itu mengandung resikonya. Entah resiko dalam diri maupun resiko yang bisa datang dari luar diri. Resiko harus dihadapi, bukan dihindari. Kita harus terus berjalan dan tidak menyerah, walau lelah. Punctum lain yang bisa kuambil adalah bahwa saat berjalan tentu ada orang-orang baik di sekitar kita yang akan membantu dan menemukan yang kita cari. Dan selanjutnya adalah bahwa ketika saat berjalan kita tidak sendirian. Ada teman dalam perjalanan. Ada sahabat dalam perjalanan, yang kadang menjadi yang mendukung dan kadang juga mengingatkan kita. Orang lain pun menjalani hal yang sama. Kita masih berjiarah di dunia ini. Dan pejiarahan kita belum selesai. Sambil bermenung di hari ini, aku bersyukur atas pengalaman perjalanan, pejiarahan hidup. Terima kasih sahabat dan semua yang sempat menjadi bagian hidupku dalam pejiarahan ini. Thanks, fren, sis, bro, bu, pak, mbah, bulik, pakde dsb. Kalian semua menjadi bagian dari perjalanan ini. Sambil bermenung kuingat lagi pengalaman berbagai perjalanan di sana sini yang pesannya sangat kaya. Ada selalu hal yang baru atau memperdalam pengalaman sebelumnya.#silent-time in my room#
