Saturday, April 20, 2019

Jalan

Seminggu ini perjalanan seolah menjadi tema utama hidupku. Berjalan bukan hanya sendiri namun berjalan bersama dengan sesama dan banyak pihak. Perjalanan bukan sekedar berjalan tanpa arah namun perjalanan yang punya arah. Arahnya bukan hanya satu namun bisa beberapa arah yang dituju. Antara pejiarahan (siji sing diarah, Jawa) dan beberapa yang diarah memang jadi bersambung di sana. Di sana ada ketidakpastian walau kita sudah mencanangkan yang dituju. Di sana juga ada kelelahan karena berjalan dan atau naik kendaraan. Di sana ada fokus yang dituju karena tanpa fokus biasanya kita menjadi buyar dalam membuat konsentrasi diri. Namun di sana juga ada pertolongan di tengah-tengah saat kita berada dalam kesulitan mencari. Ya, perjalanan adalah juga sebuah pencarian. Dan itulah yang selalu kuperhatikan saat berjalan.

Ketika ada yang mengajak mencari sebuah makam dari keluarganya, aku pun menyanggupi untuk menemani. Pada dasarnya aku suka berjalan. Aku suka petualangan. Aku suka mencari hal-hal yang belum pernah kuhadapi, walau itu resikonya capai, tetapi tidak menjadi masalah. Memang ada saat-saat di mana badan ini kecapaian, ada saat-saat di mana mood tidak bisa disembunyikan.Namun syukur bahwa masih ada orang baik di tengah perjalanan yang kemudian membantu. Bukankan itu sama dengan menemukan Simon dari Kirene saat Joshua bin Josep kelelahan memanggul beban papan palang di jalan? Simon menjadi orang baik yang "dipaksa" untuk membantu mengangkat beban papan palang itu. Saat mencari hal yang belum kita ketahui secara pasti dan terarah dengan jelas, yang terjadi adalah mencari dan terus mencari. Saking luasnya area pencarian biasanya bisa-bisa kita patah semangat untuk segera mencari dan menemukan dengan kemudahan yang kita bayangkan. Bahkan orang di tengah jalan pun menawarkan kepada kita kemudahan itu. Memang membantu namun bantuan bukan hanya dengan kemudahan sarana, namun kemudahan mencari arah itulah yang kita butuhkan saat berjalan.

Kami sampai di area luas itu sore hari, walau agak siang. Namun suasana takut kemalaman memang menjadi pengaruh yang agak negatif membawa dalam diri kami untuk segera menemukan yang kita cari. Kami datang hanya berdasarkan cerit
a dari keluarga bahwa letaknya di sana, ada temboknya dan jalannya ke san lalu ke sini belok ka sana lagi. Namun tidak semuanya jelas. Kami sempat komunikasi dengan HP namun itu pun hanya awangan. Sedangkan kami berada di tempatnya secara langsung. Kadang ada yang tidak nyambung ke mana arah yang harus dituju. Kami terus mencari dan mencari. Perjalanan adalah mencari, bukan sekedar berjalan. Kepastian dalam perjalanan adalah ketidakpastian itu sendiri. Saat lelah mulai menyesah, ada beberapa penjaga dan orang yang membersihkan makam. Lalu kami bertanya, "Pak, makam dari keluarga kami berada di mana ya?" Kami menyebut keluarga dan menjelaskan makamnya. Lalu bapak itu masih mengkonformasi, dan kemudian menyebutkan arahnya. Kami dituntun dengan penjelasannya bahkan kami sempat ditawari untuk diboncengkan dengan motor karena jarak agak jauh. Hampir saja aku mengiyakan namun kemudian sahabatku menolak dan mengajak berjalan saja. Akhirnya bapak-bapak itu hanya memandu dengan berjalan dan ada yang naik motor. Akhirnya kami menemukan tempat itu. Syukur akhirnya tecurah dalam doa kami di makam keluarga.

Selang dua hari aku dan beberapa teman berjalan lagi. Berjalan dalam arti yang lebih bernuansa rohani. Jalan salib di tempat umum yang tidak biasa orang pakai. Perasaan yang muncul hanyalah bagaimana nanti membuat jalan salib itu? Bagaimana orang akan melihat kami yang akan melakukan jalan dan berdoa itu? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam diriku. Aku kadang memang serba kuatir ini dan itu. Dan itu secara naluriah spontan yang muncul. Namun akhirnya kami berjalan dengan rencana yang ada. Perhentian demi perhentian kami jalani dengan berhenti di sebuah tempat yang ada tempat duduknya kecuali di area yang hanya ada jalan tanah dan pepohonan di bukit itu. Dari apa yang kemudian kualami itu tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Hanya tidak enak saja yang muncul dalam perasaan karena asing. Biasa kita jalani di tempat ekskluif, perasaan terancam tidak ada, lantas kali ini dibuat di tempat yang inklusif, bahkan tempat umum.

Punctum yang pertama adalah bahwa perjalanan itu mengandung resikonya. Entah resiko dalam diri maupun resiko yang bisa datang dari luar diri. Resiko harus dihadapi, bukan dihindari. Kita harus terus berjalan dan tidak menyerah, walau lelah. Punctum lain yang bisa kuambil adalah bahwa saat berjalan tentu ada orang-orang baik di sekitar kita yang akan membantu dan menemukan yang kita cari. Dan selanjutnya adalah bahwa ketika saat berjalan kita tidak sendirian. Ada teman dalam perjalanan. Ada sahabat dalam perjalanan, yang kadang menjadi yang mendukung dan kadang juga mengingatkan kita. Orang lain pun menjalani hal yang sama. Kita masih berjiarah di dunia ini. Dan pejiarahan kita belum selesai. Sambil bermenung di hari ini, aku bersyukur atas pengalaman perjalanan, pejiarahan hidup. Terima kasih sahabat dan semua yang sempat menjadi bagian hidupku dalam pejiarahan ini. Thanks, fren, sis, bro, bu, pak, mbah, bulik, pakde dsb. Kalian semua menjadi bagian dari perjalanan ini. Sambil bermenung kuingat lagi pengalaman berbagai perjalanan di sana sini yang pesannya sangat kaya. Ada selalu hal yang baru atau memperdalam pengalaman sebelumnya.


#silent-time in my room#

Monday, April 15, 2019

Konsisten

Mengamati bulan April ini, rasanya udara makin panas. Suhu politik semakin tinggi. Banyak hal terjadi dengan cepat. Banyak orang berkometar dengan berbagai ide dan kemampuannya. Sering orang merasa tidak siap menerima kejadian yang ia lihat atau baca, walau itu kejadian yang dirancang dan dikomersialkan. Ada orang yang terguncang. Ada yang terkejut. Ada pula yang biasa saja. Tergantung dari apa yang diolah dalam hidup yang kemudian dimiliki sebagai alat menilai keadaan. Yang sering terdengar dan muncul adalah orang mudah terombang-ambing keadaan. Dan ketika terombang-ambing itulah orang mudah percaya ini dan itu yang belum jelas dan belum diamini dirinya. Penilaian menjadi hal yang tidak mantap. Dan itu seperti syndrom jaman ini ketika segala sesuatu serba cepat dan manusia tidak mempunyai pendirian yang teguh dengan akal budi dan prinsip hidup. Segala sesuatu yang tidak mempengaruhi dirinya pun dijadikan alasan mengada-ada yang menimbulkan situasi tidak nyaman.

Aku belajar dari situasi yang serba cepat dan harus mempunyai kemampuan cepat juga untuk menentukan dan memilih. Belajar  bukan berarti lantas mengiyakan semua yang ditawarkan jaman ini namun bagaimana mensikapi itu. Dan aku bersyukur bahwa masih ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dengan hati dan akal budi bahwa tidak semua harus diselesaikan dengan kecepatan. Kecepatan bisa membuat orang terperosok dalam keadaan tanpa pengendapan yang cukup dan semua ada dalam permukaan (supervisial). Aku belajar juga untuk mengendalikan waktu dan bukan waktu yang mengendalikan aku. Walau memang hukum waktu tidak bisa kita tolak kalau sudah harus bergulir. Kronos memang kejam. Dia rela memakan anak-anaknya kalau tidak seturut dengan aturannya. Oleh karena itu, hanya dengan senjata kemampuan mengatur diri dan sadar akan hal-hal yang harus dikerjakan maka sang Kronos tidak akan memakan diriku. Kronos, sang dewa waktu, memang membuktikan bagaimana seseorang itu mempunyai pengalaman atau sekedar berjalan dengan ide-ide spontan yang kurang tertata dan tak ada prioritas. Kronos juga memberi kita tuntutan untuk membatasi diri dalam ruangnya. Tidak ada yang menguasai ruangnya kecuali dewa para dewa yang di luar ruang dan waktu itu sendiri. Kronos telah membatasi kita.

Aku belajar juga untuk melihat bagaimana di bulan ini banyak pribadi berproses membuat pilihan dan komitmen namun di sisi lain ada keraguan yang absurd. Absurditas itu terjadi karena tidak ada alasan apapun di waktu sebelumnya kemudian menjadi berubah ketika ada konfirmasi pada ujung waktu. Aneh. Orang muda berubah. Orang tidak bisa atau kurang bisa berkomitmen gara-gara faktor-faktor yang dalam dirinya belum diamini namun dipaksa diamini atau karena ada faktor yang sebenarnya dirumuskan dirinya pada waktu sebelumnya namun tidak dirumuskan menjadi inti pergumulannya. Orang terombang-ambing karena temannya. Orang terombang-ambing karena ada yang motivasi tersembunyi yang di-design bersama dengan berbagai pihak sehingga di akhir waktu diadakannyalah alasan yang tidak ada dalam lini masa sebelumnya. Pertanyaannya: apa yang selama ini dibuat jika dalam lini masa tertentu hal itu tidak muncul namun kemudian menjadi faktor penentu dari sebuah keputusan? Pastilah ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus belajar banyak dari cara menyembunyikan dan pola hidup seperti itu yang kemudian menjadikannya tidak confirm dengan dirinya. Apakah karena masih belia? Apakah karena masih remaja? Apakah remaja tidak boleh dan tidak bisa memilih dan menentukan dan diajak berkomitmen untuk waktu jangka panjang? Apa yang bisa meminimalisir pola-pola mudah berubah, hidup dalam mood tertentu dan mood itu yang kemudian mempengaruhi seluruh keputusan yang sebelumnya dibuat?

Aku lantas berpikir apakah harus ada rambu-rambu yang jelas dan ketat, dan harus "merugikan" pihak lain yang membuat keputusan? Kalau sebagai contoh kasus adalah KPK dengan para koruptor yang tertangkap. Mereka dimiskinkan jika hukuman itu dipandang lebih merugikan, daripada sekedar ditahan dan tidak ada konsekuensi yang lebih merugikan secara fisik. Apakah dengan demikian hukuman itu efektif? Tahanan karena kasus korupsi hanya akan memberi label bahwa ia pernah dipenjara karena kasus korupsi dan paling hanya malu secara moral. Namun malu secara moral pun tidak mempengaruhi apakah dia masih bisa menjadi pejabat publik atau tidak. Itu yang terjadi di Indonesia. Budaya malu lemah dan tidak ada efeknya.  Lantas aku berpikir, apakah bagi mereka yang tidak tahu bahwa keputusan ini akan membawa konsekuensi institusional (bisa jadi tidak dipercaya lagi) juga perlu diberi sanksi sedemikian rupa sehingga merasakan "kerugian" entah materi, entah moral? Jika dalam sebuah lamaran orang berniat masuk dalam sebuah komunitas tertentu dan diterima namun pada akhirnya ia mundur dan tidak jadi masuk, maka hal ini dapat disebut sebagai inkonsisten. Inkonsistensi ini menandakan lemahnya integritas diri. Integritas diri yang lemah itu menjadi cacat moral yang perlu menjadi catatan serius bagiku. Sama dengan lembaga yang mengatakan "katakan tidak pada(hal) korupsi," menunjukkan bahwa di sana ada inkonsistesi akut. Ya, selama ini paling hanya cemoohan publik saja yang mengadili. Pelaku-pelakunya yang dihukum. Kurang ada sanksi yang jelas dan "mematikan".

Itulah bagiku yang juga melihat sisi kurangnya konsistensi dalam diri seseorang, namun juga sisi komunitas sebagai kumpulan orang-orang yang tentu akan sangat berpengaruh dalam hidup secara komunal. Jika secara pribadi lemah dan tidak confirm dalam dirinya, maka komunitas yang dilahirkan pun akan tidak kuat. Inkonsistensi akan merajalela. Inkonsistensi ini akan merayap dan mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan. Tidak konsisten dalam kerja di manapun akan muncul karena yang dilatihkan adalah inkonsistensi itu sendiri. Budaya lupa, inkonsisten, tidak kuat dalam menghayati nilai, terombang-ambing itu semua mulai dari latihan kecil-kecil. Akibatnya ya semua dalam arus tidak pernah akan pasti. Orang tidak siap dengan kepastian bahkan kecepatan-kecepatan yang kusebut di atas tadi. Hukuman dianggap sebagai yang menghabisi hidupnya. Padahal hukuman adalah konsekuensi dari tindakan yang tidak konsisten dengan apa yang menjadi aturan yang disepakati. Dan satu hal lagi yang kurang dalam berbagai sisi kehidupan ini, yaitu kurangnya kontrol yang menjaga konsistensi ini. Kontrol perlu orang dan perlu aturan jelas. Itu sering diabaikan. Banyak hal kita buat di awal namun rusak di tengah dan akhirnya tidak punya apa-apa sedikitpun karena tidak ada quality control atau assurance. Hidup kita hanya mengalir saja. Namun orang lebih suka demikian, entahlah.

Dari sini, aku hanya ingin mengajak untuk mencari manakah yang bisa kita buat untuk menanamkan konsistensi dalam hidup dan memperbaiki diri dengan segala yang ada. Inkonsistensi menunjukkan pribadi atau institusi yang kurang confirm dalam berjalan.


#morning time in room#