Mengamati bulan April ini, rasanya udara makin panas. Suhu politik semakin tinggi. Banyak hal terjadi dengan cepat. Banyak orang berkometar dengan berbagai ide dan kemampuannya. Sering orang merasa tidak siap menerima kejadian yang ia lihat atau baca, walau itu kejadian yang dirancang dan dikomersialkan. Ada orang yang terguncang. Ada yang terkejut. Ada pula yang biasa saja. Tergantung dari apa yang diolah dalam hidup yang kemudian dimiliki sebagai alat menilai keadaan. Yang sering terdengar dan muncul adalah orang mudah terombang-ambing keadaan. Dan ketika terombang-ambing itulah orang mudah percaya ini dan itu yang belum jelas dan belum diamini dirinya. Penilaian menjadi hal yang tidak mantap. Dan itu seperti syndrom jaman ini ketika segala sesuatu serba cepat dan manusia tidak mempunyai pendirian yang teguh dengan akal budi dan prinsip hidup. Segala sesuatu yang tidak mempengaruhi dirinya pun dijadikan alasan mengada-ada yang menimbulkan situasi tidak nyaman.Aku belajar dari situasi yang serba cepat dan harus mempunyai kemampuan cepat juga untuk menentukan dan memilih. Belajar bukan berarti lantas mengiyakan semua yang ditawarkan jaman ini namun bagaimana mensikapi itu. Dan aku bersyukur bahwa masih ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dengan hati dan akal budi bahwa tidak semua harus diselesaikan dengan kecepatan. Kecepatan bisa membuat orang terperosok dalam keadaan tanpa pengendapan yang cukup dan semua ada dalam permukaan (supervisial). Aku belajar juga untuk mengendalikan waktu dan bukan waktu yang mengendalikan aku. Walau memang hukum waktu tidak bisa kita tolak kalau sudah harus bergulir. Kronos memang kejam. Dia rela memakan anak-anaknya kalau tidak seturut dengan aturannya. Oleh karena itu, hanya dengan senjata kemampuan mengatur diri dan sadar akan hal-hal yang harus dikerjakan maka sang Kronos tidak akan memakan diriku. Kronos, sang dewa waktu, memang membuktikan bagaimana seseorang itu mempunyai pengalaman atau sekedar berjalan dengan ide-ide spontan yang kurang tertata dan tak ada prioritas. Kronos juga memberi kita tuntutan untuk membatasi diri dalam ruangnya. Tidak ada yang menguasai ruangnya kecuali dewa para dewa yang di luar ruang dan waktu itu sendiri. Kronos telah membatasi kita.
Aku belajar juga untuk melihat bagaimana di bulan ini banyak pribadi berproses membuat pilihan dan komitmen namun di sisi lain ada keraguan yang absurd. Absurditas itu terjadi karena tidak ada alasan apapun di waktu sebelumnya kemudian menjadi berubah ketika ada konfirmasi pada ujung waktu. Aneh. Orang muda berubah. Orang tidak bisa atau kurang bisa berkomitmen gara-gara faktor-faktor yang dalam dirinya belum diamini namun dipaksa diamini atau karena ada faktor yang sebenarnya dirumuskan dirinya pada waktu sebelumnya namun tidak dirumuskan menjadi inti pergumulannya. Orang terombang-ambing karena temannya. Orang terombang-ambing karena ada yang motivasi tersembunyi yang di-design bersama dengan berbagai pihak sehingga di akhir waktu diadakannyalah alasan yang tidak ada dalam lini masa sebelumnya. Pertanyaannya: apa yang selama ini dibuat jika dalam lini masa tertentu hal itu tidak muncul namun kemudian menjadi faktor penentu dari sebuah keputusan? Pastilah ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus belajar banyak dari cara menyembunyikan dan pola hidup seperti itu yang kemudian menjadikannya tidak confirm dengan dirinya. Apakah karena masih belia? Apakah karena masih remaja? Apakah remaja tidak boleh dan tidak bisa memilih dan menentukan dan diajak berkomitmen untuk waktu jangka panjang? Apa yang bisa meminimalisir pola-pola mudah berubah, hidup dalam mood tertentu dan mood itu yang kemudian mempengaruhi seluruh keputusan yang sebelumnya dibuat?
Aku lantas berpikir apakah harus ada rambu-rambu yang jelas dan ketat, dan harus "merugikan" pihak lain yang membuat keputusan? Kalau sebagai contoh kasus adalah KPK dengan para koruptor yang tertangkap. Mereka dimiskinkan jika hukuman itu dipandang lebih merugikan, daripada sekedar ditahan dan tidak ada konsekuensi yang lebih merugikan secara fisik. Apakah dengan demikian hukuman itu efektif? Tahanan karena kasus korupsi hanya akan memberi label bahwa ia pernah dipenjara karena kasus korupsi dan paling hanya malu secara moral. Namun malu secara moral pun tidak mempengaruhi apakah dia masih bisa menjadi pejabat publik atau tidak. Itu yang terjadi di Indonesia. Budaya malu lemah dan tidak ada efeknya. Lantas aku berpikir, apakah bagi mereka yang tidak tahu bahwa keputusan ini akan membawa konsekuensi institusional (bisa jadi tidak dipercaya lagi) juga perlu diberi sanksi sedemikian rupa sehingga merasakan "kerugian" entah materi, entah moral? Jika dalam sebuah lamaran orang berniat masuk dalam sebuah komunitas tertentu dan diterima namun pada akhirnya ia mundur dan tidak jadi masuk, maka hal ini dapat disebut sebagai inkonsisten. Inkonsistensi ini menandakan lemahnya integritas diri. Integritas diri yang lemah itu menjadi cacat moral yang perlu menjadi catatan serius bagiku. Sama dengan lembaga yang mengatakan "katakan tidak pada(hal) korupsi," menunjukkan bahwa di sana ada inkonsistesi akut. Ya, selama ini paling hanya cemoohan publik saja yang mengadili. Pelaku-pelakunya yang dihukum. Kurang ada sanksi yang jelas dan "mematikan".
Itulah bagiku yang juga melihat sisi kurangnya konsistensi dalam diri seseorang, namun juga sisi komunitas sebagai kumpulan orang-orang yang tentu akan sangat berpengaruh dalam hidup secara komunal. Jika secara pribadi lemah dan tidak confirm dalam dirinya, maka komunitas yang dilahirkan pun akan tidak kuat. Inkonsistensi akan merajalela. Inkonsistensi ini akan merayap dan mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan. Tidak konsisten dalam kerja di manapun akan muncul karena yang dilatihkan adalah inkonsistensi itu sendiri. Budaya lupa, inkonsisten, tidak kuat dalam menghayati nilai, terombang-ambing itu semua mulai dari latihan kecil-kecil. Akibatnya ya semua dalam arus tidak pernah akan pasti. Orang tidak siap dengan kepastian bahkan kecepatan-kecepatan yang kusebut di atas tadi. Hukuman dianggap sebagai yang menghabisi hidupnya. Padahal hukuman adalah konsekuensi dari tindakan yang tidak konsisten dengan apa yang menjadi aturan yang disepakati. Dan satu hal lagi yang kurang dalam berbagai sisi kehidupan ini, yaitu kurangnya kontrol yang menjaga konsistensi ini. Kontrol perlu orang dan perlu aturan jelas. Itu sering diabaikan. Banyak hal kita buat di awal namun rusak di tengah dan akhirnya tidak punya apa-apa sedikitpun karena tidak ada quality control atau assurance. Hidup kita hanya mengalir saja. Namun orang lebih suka demikian, entahlah.
Dari sini, aku hanya ingin mengajak untuk mencari manakah yang bisa kita buat untuk menanamkan konsistensi dalam hidup dan memperbaiki diri dengan segala yang ada. Inkonsistensi menunjukkan pribadi atau institusi yang kurang confirm dalam berjalan.
#morning time in room#
No comments:
Post a Comment