Bersyukur ternyata tidak semua orang menjalankan. Boro-boro menjalankan, kadang hal itu pun tak sampai pada sebuah ingatan. Kalaupun ingat, itu tak menjadi bagian penting dalam hidup. Aku ingat tetapi itu tidak menjadi sesuatu banget. Jika hari ini ada beberapa rekan yang menelpon atau mengucapkan "selamat" atas peristiwa hidup tertentu, bagiku ini menjadi dukungan mengingat dan menjalankan rasa syukur itu. Syukur memang tidak sekedar rasa tetapi perbuatan. Sykur meluap lantaran orang sadar akan dirinya, tempat ia hidup, bagaimana ia bekerja, apa dan siapa yang di sekitarnya, mau kemana dirinya dan sebagainya. Syukur lahir lantaran olah hidup yang ia jalani, bukan spontan saja.Di tengah bangsaku yang ribut-ribut dengan pilihan presiden baru dan kemarin walau dengan alot perhitungannya ditambah dengan mundurnya salah satu calon dan tidak mengakui perhitungan resmi KPU, akhirnya sekitar pukul 20.15, pengumuman pun dilaksanakan. Perhitungan tidak banyak berubah. Selisih tipis. Tetapi yang menarik bagiku adalah partisipasi rakyat. Baru kali ini aku merasakan semangat yang menggelora rakyat berpartisipasi dalam pemilihan presiden dan itu seperti moment penting yang mau tidak mau hak harus dipakai. Walau secara matematis, angka golput masih juga ada.
Masih ada rasa was-was, karena dengan kemenangan ini kadang euforia ini dimanfaatkan kubu yang tak suka (bukan hanya menuding kubu yang kalah) untuk memperkeruh suasana. Saat ini masih bulan puasa Ramadhan. Sebentar lagi lebaran. Banyak pemudik bersepeda motor, naik pesawat, naik bus, kereta atau kapal. Suasana Jakarta masih rentan bahaya kerusuhan. Bromocorah masih berkeliaran memanfaatkan situasi. Orang kadang lupa jika sudah senang dan berjejal-jelal. Ada yang tengah menyelesaikan administrasi politis. Ada yang lega setelah penghitungan setelah berhari-hari tertekan untuk segera melayani publik degan sebuah keputusan.
Di sisi lain aku membayangkan masih ada orang yang kecewa. Masih ada orang berkumpul untuk merencanakan sesuatu yang jahat. Masih ada rasa getir dan kecewa. Rasa kecewa akan dikemanakan, kita tidak tahu. Apakah akan diwujudkan dengan merecoki secara terang-terangan? Atau akan merecoki secara sembunyi-sembunyi? Apakah akan merecoki dengan taraf kecil atau besar? Semua tidak ada yang tahu. Aku hanya berpatokan bahwa penjahat akan beraksi pada saat tak terduga. Sekali lagi Bromocorah perwujudan Dasamuka itu masih terus bergentayangan. Mungkin sementara ini masih tiarap atau masih berwujud wajah malaikat manis yang diam. Sekali lagi, aku tak tahu dan tak ingin lengah.Sykurku pun harus dibarengi tafakur. Tafakur bukan hanya bersujud tetapi menyatukan akal budi dan hati untuk beriman dan mendekatkan diri pada Allah. Berpikir-pikir dan merenungi hidup ini dan konteks yang melingkupiku: aku ada di mana, sedang apa, mau apa. Kusadari diriku dan keberadaanku di sini dan saat ini, inilah tafakurku. Aku tak ingin banyak orang mengalami penderitaan karena ada pihak yang lalai dan tak tafakur. Durga Umayi sekali lagi ada dalam hidup kita. Selalu ada dua wajah jahat dan baik.
Mari bersyukur tetapi tetap sadar diri akan masih adanya bahaya. Orang Jawa mengatakan "kowe iso kesandhung ing tawang" (bisa tersandung di awang-awang). Padahal sudah di awang-awang, itu pun masih bisa terjadi halangan. Itulah wujud kewaspadaan diri kita. Jangan sampai gerombolan Bromocorah mengacaukan hidup kita. Salam buat kita semua. Peace. Salam persatuan.
#6 anno in presbyter
@my office
