Wednesday, July 23, 2014

Syukur dan Tafakur

Bersyukur ternyata tidak semua orang menjalankan. Boro-boro menjalankan, kadang hal itu pun tak sampai pada sebuah ingatan. Kalaupun ingat, itu tak menjadi bagian penting dalam hidup. Aku ingat tetapi itu tidak menjadi sesuatu banget. Jika hari ini ada beberapa rekan yang menelpon atau mengucapkan "selamat" atas peristiwa hidup tertentu, bagiku ini menjadi dukungan mengingat dan menjalankan rasa syukur itu. Syukur memang tidak sekedar rasa tetapi perbuatan. Sykur meluap lantaran orang sadar akan dirinya, tempat ia hidup, bagaimana ia bekerja, apa dan siapa yang di sekitarnya, mau kemana dirinya dan sebagainya. Syukur lahir lantaran olah hidup yang ia jalani, bukan spontan saja.

Di tengah bangsaku yang ribut-ribut dengan pilihan presiden baru dan kemarin walau dengan alot perhitungannya ditambah dengan mundurnya salah satu calon dan tidak mengakui perhitungan resmi KPU, akhirnya sekitar pukul 20.15, pengumuman pun dilaksanakan. Perhitungan tidak banyak berubah. Selisih tipis. Tetapi yang menarik bagiku adalah partisipasi rakyat. Baru kali ini aku merasakan semangat yang menggelora rakyat berpartisipasi dalam pemilihan presiden dan itu seperti moment penting yang mau tidak mau hak harus dipakai. Walau secara matematis, angka golput masih juga ada.

Masih ada rasa was-was, karena dengan kemenangan ini kadang euforia ini dimanfaatkan kubu yang tak suka (bukan hanya menuding kubu yang kalah) untuk memperkeruh suasana. Saat ini masih bulan puasa Ramadhan. Sebentar lagi lebaran. Banyak pemudik bersepeda motor, naik pesawat, naik bus, kereta atau kapal. Suasana Jakarta masih rentan bahaya kerusuhan. Bromocorah masih berkeliaran memanfaatkan situasi. Orang kadang lupa jika sudah senang dan berjejal-jelal. Ada yang tengah menyelesaikan administrasi politis. Ada yang lega setelah penghitungan setelah berhari-hari tertekan untuk segera melayani publik degan sebuah keputusan.

Di sisi lain aku membayangkan masih ada orang yang kecewa. Masih ada orang berkumpul untuk merencanakan sesuatu yang jahat. Masih ada rasa getir dan kecewa. Rasa kecewa akan dikemanakan, kita tidak tahu. Apakah akan diwujudkan dengan merecoki secara terang-terangan? Atau akan merecoki secara sembunyi-sembunyi? Apakah akan merecoki dengan taraf kecil atau besar? Semua tidak ada yang tahu. Aku hanya berpatokan bahwa penjahat akan beraksi pada saat tak terduga. Sekali lagi Bromocorah perwujudan Dasamuka itu masih terus bergentayangan. Mungkin sementara ini masih tiarap atau masih berwujud wajah malaikat manis yang diam. Sekali lagi, aku tak tahu dan tak ingin lengah.

Sykurku pun harus dibarengi tafakur. Tafakur bukan hanya bersujud tetapi menyatukan akal budi dan hati untuk beriman dan mendekatkan diri pada Allah. Berpikir-pikir dan merenungi hidup ini dan konteks yang melingkupiku: aku ada di mana, sedang apa, mau apa. Kusadari diriku dan keberadaanku di sini dan saat ini, inilah tafakurku. Aku tak ingin banyak orang mengalami penderitaan karena ada pihak yang lalai dan tak tafakur. Durga Umayi sekali lagi ada dalam hidup kita. Selalu ada dua wajah jahat dan baik.

Mari bersyukur tetapi tetap sadar diri akan masih adanya bahaya. Orang Jawa mengatakan "kowe iso kesandhung ing tawang" (bisa tersandung di awang-awang). Padahal sudah di awang-awang, itu pun masih bisa terjadi halangan. Itulah wujud kewaspadaan diri kita. Jangan sampai gerombolan Bromocorah mengacaukan hidup kita. Salam buat kita semua. Peace. Salam persatuan.


#6 anno in presbyter
@my office

Sunday, July 13, 2014

Pertaruhan: Lanjutan "Pertandingan"

Sekali lagi aku tergelitik untuk menuliskan hal ini, yaitu tentang sarang-surupnya sebuah mekanisme dimana sistem tak kuat, tak baik. Pertama-tama saya melihat dari sebuah kehendak membangun sebuah komunitas. Dalam komunitas, hiduplah berbagai kalangan atau kelompok atau bahkan individu. Kesemuanya butuh tata aturan yang harus jelas dalam perjalanannya. Tata aturan dibuat bukan untuk mengekang tetapi untuk mengatur lalu lintas dan kepantasan dalam kehidupan. Kehendak baik untuk membangun dan menata diri ini masih minim dalam masyarakat yang bernama komunitas negara Indonesia ini. Terlalu banyak kepentingan yang dibiarkan bersliweran ke sana ke mari. Memang ada kehendak satu agar negara ini bertahan hidup. Itu pun tak cukup, maka harus ada sistem yang mengatur dan mempertahankan kehidupan itu.

Kedua, adanya sebuah sistem yang dibangun bersama dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kelola komunitas. Contohnya, bagaimana seorang pemimpin dihasilkan. Ada sebuah mekanisme pemilihan. Mekanismenya, ada waktu pemilihan yang bertahap dan rentang waktu tertentu. Ada badan yang mengelola sistem pemilihan. Ada cara pencalonan dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya warga negara Indonesia yang sah, sehat fisik-mental, berkelakuan baik (secara hukum dan penilaian publik), mempunyai visi-misi yang jelas. Itu contoh sederhana. Sistem juga membutuhkan sebuah perencanaan pelaksanaan, pengawalan secara intensif saat pelaksanaan, dan evaluasi pasca pelaksanaan. Ada lembaga pengawal dan penjaga kemurnian sistem agar berjalan baik. Adanya mekanisme terbuka secara publik supaya dinilai masyarakat luas juga menjadi keterbukaan ini.

Ketiga, saat pelaksanaan, sistem selayaknya berjalan dengan bersih. Tak ada intervensi dari berbagai kalangan atau kepentingan yang merusaknya. Sistem terbangun dari kehendak. Kehendak membuat sebuah kesepakatan bersama, maka kesepakatan ini menjadi pertaruhan apakah sungguh mau taat sistem atau hanya ingin menangnya sendiri. Perlu diingat juga bahwa tujuan membuat sistem adalah demi kemaslahatan bersama (bonum commune). Kebaikan bersama dalam berkomunitas inilah yang harus diperhatikan. Ini bukan soal klaim sana sini tetapi sekali lagi jelas harus dimanifestasikan dalam kehidupan real. Poin ketiga ini mau mengatakan bahwa itikad/niat baik harus disertai dengan tindakan yang baik pula. Tak cukup hanya niat atau bahkan janji-janji tetapi  sudah sejauh manakah itikad itu terlihat dari track record yang salama ini ada. Hal ini juga akan kelihatan dari berbagai aktivitas reaktif selama dan pasca pelaksanaan sebuah sistem, apalagi saat menentukan sebuah keputusan. Di sini ada tegangan yang dihadapi oleh siapapun yang mengharapkan sesuatu (kemenangan demi kekuasaan). Indikasi apakah seseorang/kelompok itu mempunyai moralitas (niat dan perilaku yang sesuai) adalah mampu/tidakkah mereka menerima dan mengakui segala yang akan terjadi. Kedewasaan pribadi atau komunitas akan terlihat di sini.

Adanya situasi dalam masyarakat sekarang ini yang bernuansa "tergantung siapa dan kepentingan apa" sangat merusak kehidupan komunitas. Suasana mengambang ini sangat disukai pihak-pihak yang provokatif dan reaktif ambisius berkuasa. Dengan situasi macam ini masyarakat diombang-ambingkan dalam ketidakpastian. Padahal sistem dibuat agar masyarakat terbantu kepastian hidupnya. Bagaimanapun juga hal ini haruslah diperhatikan karena eksistensi sebuah komunitas tidak tergantung siapa dan kepentingan apa namun dapat dipastikan karena adanya kehendak yang baik yang tertuang dalam sistem yang baik dan dijalankan dengan perilaku yang baik juga.

Tidak dipungkiri bahwa selama masih hidup di dunia, yang ideal itu tidak mudah dicapai, bahkan tak ada. Yang dapat dibuat adalah mendekati yang ideal itu. Pasti akan banyak yang merecoki. Biasanya yang diidekan baik itu banyak musuhnya. Yang berbuat baik tak semua mendukung. Orang baik jika tidak dibarengi dengan tindakan yang baik juga tidak mudah diterima. Oleh karena itu perlu ada kehendak baik (good will). Kehendak baik itu tertuang dalam mufakat dalam sistem yang baik. Sistem yang baik dijalankan dengan cara yang baik dan oleh pihak-pihak yang baik pula. Harapannya dengan demikian akan terbentuklah bonum commune, kebaikan bersama.





*in our community, we need good will to create bonus commune. Good will should be implemented on good system. And good system has to be run by good people.





Sunday evening in my room.