Kedua, adanya sebuah sistem yang dibangun bersama dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kelola komunitas. Contohnya, bagaimana seorang pemimpin dihasilkan. Ada sebuah mekanisme pemilihan. Mekanismenya, ada waktu pemilihan yang bertahap dan rentang waktu tertentu. Ada badan yang mengelola sistem pemilihan. Ada cara pencalonan dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya warga negara Indonesia yang sah, sehat fisik-mental, berkelakuan baik (secara hukum dan penilaian publik), mempunyai visi-misi yang jelas. Itu contoh sederhana. Sistem juga membutuhkan sebuah perencanaan pelaksanaan, pengawalan secara intensif saat pelaksanaan, dan evaluasi pasca pelaksanaan. Ada lembaga pengawal dan penjaga kemurnian sistem agar berjalan baik. Adanya mekanisme terbuka secara publik supaya dinilai masyarakat luas juga menjadi keterbukaan ini.Ketiga, saat pelaksanaan, sistem selayaknya berjalan dengan bersih. Tak ada intervensi dari berbagai kalangan atau kepentingan yang merusaknya. Sistem terbangun dari kehendak. Kehendak membuat sebuah kesepakatan bersama, maka kesepakatan ini menjadi pertaruhan apakah sungguh mau taat sistem atau hanya ingin menangnya sendiri. Perlu diingat juga bahwa tujuan membuat sistem adalah demi kemaslahatan bersama (bonum commune). Kebaikan bersama dalam berkomunitas inilah yang harus diperhatikan. Ini bukan soal klaim sana sini tetapi sekali lagi jelas harus dimanifestasikan dalam kehidupan real. Poin ketiga ini mau mengatakan bahwa itikad/niat baik harus disertai dengan tindakan yang baik pula. Tak cukup hanya niat atau bahkan janji-janji tetapi sudah sejauh manakah itikad itu terlihat dari track record yang salama ini ada. Hal ini juga akan kelihatan dari berbagai aktivitas reaktif selama dan pasca pelaksanaan sebuah sistem, apalagi saat menentukan sebuah keputusan. Di sini ada tegangan yang dihadapi oleh siapapun yang mengharapkan sesuatu (kemenangan demi kekuasaan). Indikasi apakah seseorang/kelompok itu mempunyai moralitas (niat dan perilaku yang sesuai) adalah mampu/tidakkah mereka menerima dan mengakui segala yang akan terjadi. Kedewasaan pribadi atau komunitas akan terlihat di sini.
Adanya situasi dalam masyarakat sekarang ini yang bernuansa "tergantung siapa dan kepentingan apa" sangat merusak kehidupan komunitas. Suasana mengambang ini sangat disukai pihak-pihak yang provokatif dan reaktif ambisius berkuasa. Dengan situasi macam ini masyarakat diombang-ambingkan dalam ketidakpastian. Padahal sistem dibuat agar masyarakat terbantu kepastian hidupnya. Bagaimanapun juga hal ini haruslah diperhatikan karena eksistensi sebuah komunitas tidak tergantung siapa dan kepentingan apa namun dapat dipastikan karena adanya kehendak yang baik yang tertuang dalam sistem yang baik dan dijalankan dengan perilaku yang baik juga.
Tidak dipungkiri bahwa selama masih hidup di dunia, yang ideal itu tidak mudah dicapai, bahkan tak ada. Yang dapat dibuat adalah mendekati yang ideal itu. Pasti akan banyak yang merecoki. Biasanya yang diidekan baik itu banyak musuhnya. Yang berbuat baik tak semua mendukung. Orang baik jika tidak dibarengi dengan tindakan yang baik juga tidak mudah diterima. Oleh karena itu perlu ada kehendak baik (good will). Kehendak baik itu tertuang dalam mufakat dalam sistem yang baik. Sistem yang baik dijalankan dengan cara yang baik dan oleh pihak-pihak yang baik pula. Harapannya dengan demikian akan terbentuklah bonum commune, kebaikan bersama.
*in our community, we need good will to create bonus commune. Good will should be implemented on good system. And good system has to be run by good people.
Sunday evening in my room.
No comments:
Post a Comment