Beberapa waktu ini aku belajar lagi dan lagi bersama rekan-rekan muda tentang filsafat. Ya, ilmu yang harus menjadi bagian dari perjalanan hidup ini, yang pernah kupelajari dan kukenal sejak 18 tahun lalu. Delapan belas tahun lalu ketika bangsa ini juga bertikai; bertikai dengan segala kebrutalannya dan kengerian yang ditimbulkannya walau hanya di beberapa wilayah ramai, seperti Jakarta, Solo, dan Jogjakarta. Beberapa daerah juga waktu itu memakan korban nyawa ketika sebuah kekuasaan dipaksa lengser dan harus diganti. Keinginan untuk berkuasa ternyata sudah disebut oleh seorang yang namanya Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang hidup di abad ke-19, menjelang abad ke-20 lalu. Mengapa aku menunjuk judul itu? Ternyata di bulan ini pun kekuatan itu terungkap kembalidalam ranah dunia yang selalu tidak pernah tidur rasanya. Kehendak untuk berkuasa ternyata membawa berbagai macam hal yang mulai dari motivasi, tanda-tanda, dan akibat.Motivasi ingin berkuasa bisa jadi memicu tindakan-tindakan lain yang nampak. Yang kubaca dan kulihat antara lain adalah sebuah motif self defense mechanism yang lebih bernuansa negatif karena masa lalu yang tidak ingin diungkap kebenarannya. Self defense ini bisa jadi akan berujung pada balas dendam. Mekanisme pembelaan diri ini sering akan membuat seseorang mengusahakan cara apapun supaya yang terjadi sebenarnya tidak diketahui orang lain. Dalam sebuah mekanisme kehendak ingin berkuasa juga ada keinginan untuk membentengi diri. Jika dilihat dari mantan penguasa yang punya kekuatan dan keinginan mempercantik citra dan melanggengkan kekuasaan, maka antara jelas dan tidak jelas akan ada tindakan yang diambil dengan memakai berbagai hal. Misalnya, mencari orang untuk menjadi trigger (pemicu) sehingga seolah-olah itu pemicunya dan nanti orang mengincar hanya pemicunya ini. Lalu dengan cara berpikir linear sebab akibat maka ada efek yang ditimbulkan, seperti : reaksi yang lebih banyak dari berbagai pihak. Ada demonstrasi, ada gerakan massa, entah itu dimobiliasi dengan apapun, yang pasti ada kesempatan, ada dana, ada penggerak, ada momentum, karena ada motifasi di balik itu semua.
Tanda-tanda yang dapat terlihat lainnya adalah benang merah dan reaksi-reaksi yang mengikuti selanjutnya. Baik itu dapat disembunyikan dengan samar atau dengan terang-terangan, pastilah kita perlu kritis melihatnya. Apalagi zaman sekarang segala sesuatu mudah terbaca dan cepat menyebar, terlihat terang benderang. Ketersebaran informasi yang begitu cepat juga perlu kita waspadai sehingga kita tidak juga terkendalikan oleh santernya penyebaran info. Dengan cepatnya penyebaran informasi dan tanggapan dari berbagai pihak, sekarang sepertinya kita perlu selektif dan kritis dengan segala sesuatu. Segala sesuatunya terang benderang namun juga harus kita kritisi.
Akibat dari kehendak berkuasa dan dicampuri dengan motif-motif lainnya itu, ternyata berdampak sosial tinggi. Aku dapat menyebutnya hal itu dapat disebut sebagai kejahatan yang terstruktur. Mengapa? Karena dengan ada langkah-langkah yang dibuat, indikator yang kelihatan dan efek yang ditimbulkan ditambah dengan tujuan yang ingin dicapai, maka itu semua terkoordinasi, tersistem dengan baik. Entah di lapangan ketika pelaksanaan ada gangguan atau hal lain yang membuat kacau, namun sistem itu sudah dibangun sedemikian rupa. Tentulah hasilnya mendekati apa yang dirancang.Memanfaatkan sekelompok orang yang "merasa" terzolimi atau diinjak-injak martabatnya atau memakai sentimen yang mudah tersulut atau murah dikonsumsi tentunya ini juga merupakan hal lain yang perlu kita lihat.
Ya, kehendak ingin berkuasa bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan yang ada saat ini. Sarana yang dipakai adalah sentimen murah meriah yang mudah tersulut. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa segala sesuatu ada asalnya, perangkat dan maksudnya. Sebagai orang yang mencoba bernalar dan melihat segala sesuatunya dengan lebih seksama, kita perlu melihat ini semua dengan lebih jernih. Efek kehendak itu bisa saja akan membuat diri kita takut, gentar, terteror. Dan oleh Thomas Hobbes itu sudah dikatakan bahwa untuk mencapai kekuasaan maka perlu dibuat teror dan ketakutan pada massa. Dalam masa yang damai, penguasa bisa memberi ketakutan sistemik pada rakyatnya agar teratur. Namun Hobbes mengidekan bahwa motifasi manusia adalah mempertahankan diri, maka manusia perlu dibuat takut agar mekanisme mempertahankan diri itu terus hidup. Nah, jika itu dikaitkan dengan kehendak ingin berkuasa memang agak klop. Yang satu ingin mempertahankan diri, yang lain ingin berkuasa.
Oleh karena itu, yang namanya "homo homini lupus" tak pelak akan terjadi karena dua kutub yang berbeda namun klop itu. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Yang satu memangsa yang lain. Tidak ada damai. Tidak ada ketenangan. Yang ada adalah perang dan konflik. Ketika konflik itulah, manusia menerima dampaknya yaitu ketakutan. Hidupnya ada dalam ketakutan. Pertanyaannya adalah apakah kita akan melanggengkan ketakutan yang ditimbulkan oleh rejim yang bernama kehendak ingin berkuasa itu? Ternyata menyuarakan perdamaian dan kesatuan masih tetap relevan dalam hidup ini. Walau ini tak mudah, dan terus menjadi perjuangan, kita selayaknya mengusahakannya. Peace!!!
@office in the morning