Gelar adalah nama seorang anak manusia. Dia anak (Wira)Galeng dan Idayu. Aku tertegun dengan ceritanya, kisah hidupnya. Kisahnya membuatku tertegun, entah kenapa. Namun, di saat membaca kisah itu rasa haru dan campur aduk pun muncul. Di akhir hidupnya, ia adalah pembalas dari kebencian dan pergulatan bapak dan ibunya. Namun demikian karena itulah justru perubahan yang tragis pun harus ia jalani. Hidupnya di zaman pergolakan dan perubahan. Di zamannya, ia hidup dalam arus besar zaman yang sedang bergolak. Pergolakan yang pada akhirnya membuat dirinya, keluarganya adalah bagian kecil dari perubahan itu sendiri. Jatidirinya pun selalu dia pergulatkan sebelum ia akhirnya menutup kisah itu dengan kisah-kisah lain yang besar dari kisah bapaknya, ibunya, dan berbagai pribadi zamannya yang melingkupinya.
Namanya disematkan sebagai Paulus di akhir kisah itu. Dari Gelar ke Paulus ada kisah panjang seorang anak manusia yang mencari jatidirinya. Dalam kisah besar itu, yang menjadi tulisan besar adalah kisah bapaknya yang bernama Galeng yang kemudian menjadi Wiranggaleng yang juga adalah Hang Wira. Bapaknya adalah pegulat Tuban yang hidup di masa pergolakan ketika Majapahit - yang nota bene imperium maritim besar di zamannya - runtuh dan surut seiring waktu. Itulah masa di mana Tuban, kota pelabuhan utama imperium itu menjadi penting di zamannya. Mengisahkan hidup anak manusia di masa keruntuhan peradaban memang tidak mengenakkan. Bapaknya adalah seorang juara gulat di Tuban dan ibunya adalah penari yang juga tersohor karena kemampuannya dan kecantikannya yang tak tertandingi di seantero Tuban. Karenanya, pernikahan Galeng dan Idayu adalah pernikahan dua pribadi rakyat biasa yang karena kemampuannya dirayakan dengan gegap gempita oleh rakyat Tuban.
Kisah hidup manusia memang membawa misterinya sendiri-sendiri. Setelah menikah, kedua insan itu tidak segera akan menikmati hidup yang layak. Galeng, dengan kemampuannya, diminta Adipati untuk bekerja sebagai telik sandi ke Malaka karena Portugis sudah mulai melanglang buana mejelajahi nusantara. Tuban, sebagai pelabuhan yang mulai surut pamornya, harus menelisik penyebab dari kemerosotan perdagangan rempah selama ini. Oleh karena itu, sebelum pasangan pengantin baru ini bisa menikmati masa indahnya, Galeng, sang suami harus merelakan waktunya pergi menaati perintah sembahannya. Akibatnya, ia meninggalkan istrinya, Idayu di Tuban sendirian. Di sinilah, petaka itu mulai. Idayu ternyata dirudapaksa oleh Tholib Sungkar Az Zubaid atau yang terkenal dengan Almasawa, seorang Moor yang dipercaya sang Adipati menjadi Syahbandar di Tuban waktu itu. Idayu yang sendirian, membuat Almasawa tak dapat menahan nafsu bejatnya untuk membujuk rayu Idayu dan dengan kelicikannya, ia membius Idayu sehingga tak sadarkan diri dan di saat itulah aib itu terjadi.
Itulah yang kemudian, dalam kisah hitam dan putihnya manusia, atau abu-abu bahkan, apapun bisa terjadi. Kisah Gelar tertimbun sementara oleh kisah bapak dan ibunya. Kisah Gelar adalah kisah anak manusia yang baru pada saat remajanya, ia mendengar selentingan dari sana sini mengenai hidupnya yang tidak mengenakkan. Dia dikatakan anaknya ini dan itu. Ia sendiri waktu itu hanya merasa bahwa apakah benar itu adalah bagian hidupnya. Ia belum bisa berbuat apa-apa. Ia saat beranjak dewasa makin merasa bahwa pendengarannya makin tidak mengenakkan. Selentingan orang mengatakan bahwa bapaknya bukanlah Galeng sang senopati yang merebut "kekuasaan" dari ketidaktahanannya akan sikap sang Adipati yang peragu. Ia terpaksa membunuh Adipati karena seorang muda yang ingin segera mendapat kepastian menyerang atau diserang. Kalah atau menang di zaman kalabendu itu. Akhirnya dengan keterpaksaan yang melayangkan kerisnya dan menusuk tubuh sang pemimpin tak tegas itu, ia akhirnya disegani dan dipercaya prajurit Tuban untuk menyerang musuh yang memang sudah merangsek. Ia lari ke tempat lain guna memimpin pasukan Tuban yang harus mempertahankan diri. Namun apa yang terjadi kemudian, ia harus merelakan dirinya diketahui bahwa dirinyalah yang membunuh sang adipati tak becus memimpin itu. Maka, sebagai hukuman, ia harus rela pergi jauh meninggalkan istriya ke Malaka sekedar untuk mencari informasi mengenai sepak terjang Portugis.Di sisi lain, Idayu sudah mencoba memberitahukan kepada suaminya, Galeng tentang situasi kelamnya. Ia bahkan rela untuk dibunuh suaminya karena aibnya. Namun, Galeng tidak melakukannya. Ia tetap menerima Idayu sebagai istrinya, sepulangnya dari Malaka, dan bahkan ketika istrinya direnggut nafsu oleh Almasawa itu. Hatinya hancur berkeping, namun kedua insan ini tetap menjalani hidup sebagai suami istri. Kerelaan mengampuni dan meminta maaf telah mengutuhkan mereka.
Sayangnya, keutuhan relasi mereka tidak dibarengi dengan apa yang dialami Gelar, si anak yang terus mencari siapakah sebenarnya dirinya. Seorang anak yang karena tragedi bapak ibunya, mendengar ejekan dan cemoohan dari orang lain tentang dirinya. Ia pun membandingkan wajahnya dan wajah bapaknya. Ia pun akhirnya menyadari bahwa wajahnya memang mirip wajah Moor ketimbang wajah Jawa dari perpaduan bapak ibunya. Ia terus merangsek bertanya pada ibunya, siapakah bapak kandungnya yang sebenarnya. Dan ketika tiba saat ia dewasa dan punya Kumbang sebagai adinya, ibunya menceritakan semua karena terpaksa dan didesak Gelar sendiri. Memang, Idayu tak sampai hati sebenarnya untuk cerita, namun daripada terdesak terus, maka ia pun membuka aib dan kenyataan itu. Gelar pun mendendam karena ibunya juga merasakan hal itu. Namun apa daya ia hanya wanita yang tak bisa berbuat banyak. Lalu ketika, mendapatkan kesempatan, di tangan Gelarlah, si Almasawa, bapak kandungya, si orang Moor itu, pecah kepalanya oleh tangan anaknya sendiri dari perbuatan bejatnya pada ibunya.
Demikian pula, Gelar tak tanggung-tanggung, ia pun masih merasakan bagaimana ia terasing dengan identitasnya dan ditinggal lama pergi oleh bapaknya ke Malaka. Baru ketemu lagi ketika ia sudah dewasa. Bapaknya adalah pribadi yang setia baik pada keluarga maupun pada Tuban dan Majapahit. Ia pun galau dengan kekuasaan Demak yang memang sudah meruntuhkan kekuasaan Majapahit karena Kerajaan Islam Demak itu. Namun, ia masih hormat pada pemimpin Demak pertama, yang masih mau menyerbu Portugis di Malaka, yaitu Patiunus. Namun "Pangeran Seberang Lor" itu tak sanggup mengalahkan "Lelananging Jagat" dari semenanjung Malaka. Patiunus kalah. Penggantinya Sultan Trenggono justru tidak meneruskan cita-cita kakaknya ini dan malah menginginkan bersatunya seluruh kerajaan Jawa di bawah kekuasaan Demak. Inilah yang malah melemahkan persatuan untuk mengusir Portugis yang mengangkangi pusat-pusat perdagangan rempah di nusantara. Dan apa yang dialami oleh bapaknya ini pun akhirnya dituntaskan oleh Gelar. Kebencian pada Trenggono dari bapaknya dituntaskan oleh Gelar melalui tangan orang lain, dan tumpaslah Trenggono, musuh bapaknya.
Kebanggaan telah menumpas mereka yang menjadi pihak yang merugikan hidup bapak ibunya, bukan dipuja oleh kedua orangtuanya, justru ini malah menjadi petaka bagi Gelar yang akhirnya harus terusir dari rumah karena sebenarnya orangtuanya tak ingin dia melakukan hal itu. Gelar yang ingin berbakti itu harus merasakan penderitaan orangtuanya karena ulahnya.
Ia pun mengasingkan diri, mencari penghidupannya sendiri. Ia lahir dari keluarga Hindu. Ia sendiri pemuja Budha. Namun, karena pengalaman pahitnya, ia mengubah haluan ikut arus besar pembalikan peradaban yang akhirnya dimenangkan oleh bangsa kulit putih. Ia pun mengubah haluan menjadi Kristen, dengan nama Paulus. Nama yang sarat makna, karena membawa pesan dengannya, perubahan radikal itu ia wujudkan. Arus yang semula dari tradisi keluarganya, ia balik ke arah asur besar zaman bergolak pada waktu itu, dan ia pun menaiki atau ikut dalam arus besar itu dengan identitas Paulus-nya. Paulus adalah rasul besar yang bertobat dari pembunuh dan musuh yang selama ini ia incar, sekarang menjadi bagian dari yang dulunya dikejar-kejar.
Di akhir kisah besar itu, si penulis mencatat: "Demikianlah cerita tentang seorang anak desa lain yang mengemban cita-cita menahan arus balik. Berbeda dari anak desa lain, yang seorang ini tidak berhasil, patah di tengah jalan, namun ia telah mencoba." (Toer, Arus Balik, hlm. 752). Catatan itu memang untuk bapaknya, namun demikian kisah Gelar alias Paulus itu pun adalah kisah arus balik itu sendiri di mana ia merenangi dan menari di kala arus besar itu berbalik mengubah segalanya, mengubah arah hidupnya, mengubah tradisi besar bangsanya, dan mengubah haluan hidupnya, sehingga kapalnya pun mengarungi samudera hidup entah akan berlabuh di mana.
#relungmalamhari#
