Aku suka lagunya "Scorpion"....Wind of change. Lagu tahun 90an awal itu melukiskan bagaimana runtuhnya Uni Soviet dan beberapa negara komunis di Eropa Timur. Lagu itu memang mengiringi atau hadir bersama dengan fenomena keruntuhan sistem politik komunis atau centralistik totalitarian di beberapa negara. Persatuan Jerman Barat dan Timur pun tak terelakkan lagi. Pecahnya negara Soviet menjadi negara-negara kecil pun tak terhindarkan, demikian juga Yugoslavia, Cekoslovakia. Ada yang bersatu dan ada yang terpecah. Itu fenomenanya. Namun lebih dari itu, yang aku rasakan adalah adanya perubahan. Perubahan itu bisa saja menyatukan, bisa saja memecah atau membagi.Dalam keseharianku beberapa waktu ini, aku pun sebenarnya merindukan itu. Kala situasi hanya berada dalam kemapanan, adem ayem saja, maka perubahan dirasa pasti akan menyakitkan, mengganggu, atau bahkan menjadi ancaman kehidupan. Banyak alasan dan juga dalih yang dikeluarkan bagi mereka yang tidak mau dan bila tidak siap. Oleh karena itu, aku selalu harus berpikir di satu sisi harus berani menentukan keputusan perubahan, di sisi lain juga mau melihat situasi yang ada. Ada seorang guru yang ketika disuruh membaca buku dan berbagi isinya pun merasa sudah tidak mau dan merasa tidak mampu. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Itu diungkapkan secara gamblang di hadapanku. Ada juga yang merasa perubahan itu untuk apa. Perubahan hanya membuat repot dan sebagainya. Memang orangnya pasif.
Ketika merancang program untuk pengembangan personalia dan demi kemajuan subjek yang dilayani, kita tidak bisa hanya menuntut subjek layanan saja. Aku sendiri sadar ketika menuntut orang lain berkembang dan berubah, maka dari dirikulah perubahan itu harus dimulai. Ketika aku hanya menuntut orang lain ini dan itu, maka tidak bisa tidak aku pun harus seperti itu juga. Percuma di depan orang-orang yang kita layani kita berteriak-teriak harus berkembang dan berubah, namun diri kita dituntut sedikit saja marah, nangis, merengek, menolak. Di sinilah terjadi inkonsistensi diri. Dosa dan kesalahan adalah hal ini, di mana manusia itu tidak konsisten dengan hidupnya. Aku tidak tahu apa yang ada dalam diri manusia seperti ini. Apakah karena berkubang di zona nyamannya saja? Mungkin saja orang punya tembok tebal dalam dirinya di mana orang lain tak boleh mengusik kemapanan itu, bahkan Gusti Allah sekalipun. Tembok itu ada keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk mendominasi, keinginan untuk menyelesaikan situasi keluarganya entah anaknya tidak segera mapan mungkin atau tidak segera mendapatkan jodoh yang sesuai pemikiran dirinya sebagai seorang tua, dan sebagainya. Pastilah ada sesuatu yang belum selesai dalam dirinya sehingga dituntut sedikit saja seperti menyingkirkan urusan dalam dirinya.
Aku percaya waktu yang akan menyelesaikannya. Entah caranya seperti apa, aku percaya itu. Aku hanya berdoa saja dalam hati semoga ketegaran tak mau berubah dan runtuh itu diruntuhkan oleh Bathara Kala, Sang Chronos. Bukan mau mendoakan yang jelek namun kalau lewat yang buruk itu harus terjadi, aku pun tidak menyesal. Aku dalam hal ini tega melihat kejadian buruk demi sebuah perubahan baik. Bukan sebaliknya, kejadian baik demi sebuah hal yang buruk. Ketika Uni Soviet dan komunisme bubar memang ada baiknya. Buruknya juga ada. Peperangan di sana-sini juga ada setelah itu karena saling memerdekakan diri. Ketika mau membuat sebuah Uni Soviet pun berapa nyawa yang harus dikorbankan. Ketika runtuh, memang tidak sebanyak ketika membuat Soviet nyawa yang melayang. Itulah konsekuensi dari perubahan. Sukarno pernah mengatakan: "Revolusi (perubahan) akan memakan anak-anaknya". Itulah yang memang aku yakini. Apapaun itu bentuknya, pasti akan ada harga yang harus dibayar. Bukan berarti ini menghalalkan segala cara namun apapun cara yang ditempuh pastilah ada pihak yang akan menjadi korban, entah korban perasaan, korban harga diri, korban waktu dan sebagainya.
Bagiku ungkapan ini selalu kuat dalam ingatan: "siapa yang punya ketahanan diri, maka ia akan selamat". Ketahanan diri untuk berubah memang dibutuhkan. Ketahanan diri membuat hidup ini terselamatkan. Ketahanan diri itu sesuatu yang perlu ada dalam diri manusia atau makhluk lain. Dengan hal itu ia akan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perubahan akhirnya membutuhkan ketahanan diri.
morning@my office