Di awal tahun ini dalam penantianku, aku harus bergerak dan berhadapan dengan situasi yang memang sedang menjadi trend banyak perhatian. Di beberapa belahan dunia, isu tentang pelecehan sexual terhadap anak dan orang dewasa rentan menjadi persoalan pelik. Pada tahun 1990an persoalan ini mencuat. Di awal 2000an menjadi makin booming dan akhirnya makin bermunculan pelaporan maupun aduan tentang pristiwa demi peristiwa akan hal ini. Ada korban. Ada pelaku. Pelaku bisa saja sedikit namun korban bisa saja banyak karena pelaku bisa berbuat kepada lebih banyak pihak. Bermula dari korban yang juga disebut sebagai penyintas (survivor) dan bukan lagi victima saja, aku ingin bergerak mengenali citra kehidupan ini dan apa yang bisa membantu menyelamatkan dari kesewenang-wenangan.Aku sendiri sedang mencoba masuk dalam permasalahan pelik ini. Tidak tahu harus mulai dari mana. Bagaimanapun juga aku perlu memasuki dunia yang sebenarnya tidak jauh dari setiap orang karena semua orang itu rentan. Demikian juga setiap orang itu juga ingin berkuasa dan menguasai. Tinggal sejauh mana kekuatan itu menang di sisi siapa dan mana. Itulah yang kemudian di sementara pihak yang dicuatkan ke permukaan bukan saja sisi kerapuhan manusia secara psikologis, namun di sisi lain bahwa kekuasaan itu juga ada kelemahannya. Power tends to corrupt. Itu jelas. Tidak bisa diperbantahkan lagi. Intinya bagaimana mengelola kedua sisi manusia ini agar seimbang. Kelemahan memang ada dalam kejiwaan manusia sehingga ia atau bisa menjadi korban atau bisa menjadi pelaku pelecehan.
Mungkin tulisanku ini masih singkat, namun aku percaya bahwa dari inspirasi yang sederhana di awal tahun penuh penantian ini aku masih akan terus berjuang melanjutkan perjalananku. Ikut dalam mendengarkan dan melihat setidaknya paparan berapa jumlah korban dan bagaimana situasi yang terjadi ketika ada trauma pelecehan ini, aku sendiri semakin disadarkan untuk terus berjuang termasuk bagi diriku sendiri untuk setidaknya menyadari dahulu bahwa aku rapuh. Aku bisa sangat ingin berkuasa, di sisi lain aku bisa saja jatuh menjadi korban atas kekuatan yang lain.
Menghargai citra diri, citra kehidupan yang nota bene adalah Citra Sang Pencipta inilah yang sedang kumasuki. Aku sedang dalam misi menyembuhkan atau memulihkan citra yang terusak oleh karena kelemahan. Karena kelemahan yang tak terolah mengakibatkan rusaknya kehidupan itu sendiri. Trauma pribadi individu itu mengerikan. Akibatnya bisa menjadi entah akan menciptakan predator yang lebih mengerikan atau menciptakan korban yang terpuruk hidupnya. Tidak ada lagi energi hidup karena prosentase kehidupannya didominasi oleh kegelapan.
Aku sedang mulai dengan melihat dan mendengarkan soal pemulihan citra kehidupan ini. Memulihkan keutuhan ciptaan mulai dari keutuhan citra kemanusiaan. Menyelamatkan jiwa manusia mulai dari situasi hancurnya citra kemanusiaan yang harus dibawa pada kesembuhan dirinya. Aku sekali lagi sedang mulai dari hal-hal yang kecil ini.