Friday, October 7, 2016

Bersama Mereka Yang Miskin

Aku sempat memperbincangkan dengan  beberapa rekan mengenai yang namanya pendidikan bagi kaum muda supaya dekat dan merasakan sendiri bagaimana hidup bersama dengan orang kecil dan terpinggirkan. Waktu itu kami hanya melihat dan merasakan sendiri bagaimana beberapa institusi pendidikan di negeri ini ternyata memang mendidik calon pemimpin yang lahirnya dari kaum muda ini terpisah dan steril dengan kaum mayoritas jumlahnya yaitu orang miskin. Waktu itu, aku dan rekanku hanya melihat kecenderungan di jalan raya ketika ada konvoi pejabat yang harus diistimewakan dengan kawalan foreider. Bukan hal yang baru, namun waktu itu kami menjadi bertanya: "Mengapa sekolah para elit negeri ini yang menghasilkan para pemimpin itu malah jauh dari rakyatnya?"

Itulah tesis kami. Dan memang apakah itu yang disasar dan menjadi orientasi kepemimpinan kita? Akhirnya jika ada kejadian-kejadian berkaitan dengan kepemimpinan dan juga persoalan ketimpangan di negeri ini saya kira tak jauh dari "pabrik" awal yang menghasilkan pemimpin itu sendiri. Orientasi dasar dari sekolahnya sudah tidak dekat dengan rakyat, bagaimana akan memimpin rakyat di sebuah negeri ini? Dari tesis kami ini, aku sempat mengecek salah satu sekolah yang memang eksplisit mengatakan sebagai sekolah calon pemimpin dan memang elit. Elit karena memang tidak ada kalangan miskin yang belajar di situ. Elit karena memang semua berfasilitas mewah dan nomor satu. Elit karena memang bermula dari keinginan kaum elit negeri ini pada waktu itu mendirikan sekolah itu. Yang kutanyakan adalah adakah program pendidikan yang bersentuhan dengan kaum miskin? Kemudian aku mendapat jawaban demikian: program itu ada. Namanya berkaitan dengan pelatihan kepedulian lingkungan bagi masyarakat. Spesifikasi yang dijalankan adalah memberi bantuan kepada orang miskin dan kegiatan membangun sarana fisik desa tertinggal, dan bantuan-bantuan sosial.

Itulah cara pikir orang kaya kepada orang miskin. Pertama, memilih mana sih yang miskin, siapa yang miskin. Kedua, apa kebutuhan mereka? Ketiga, mari kita buat program kegiatan untuk menjawab kebutuhan mereka. Setelah itu, kita sudah menjalankan program. Tahun depan kita cari orang miskin lain dan kebutuhannya. Apa yang kurang di sini? Kukira di sini kurang adanya tahapan di mana seorang mengalami hidup bersama, merasakan dan berkomunikasi bersama mereka yang dibantu itu. Artinya ada tahap di mana perlu bagi orang muda yang akan menjadi pemimpin merasakan kegelisahan orang miskin, orang kecil, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan, mereka sebenarnya butuh apa dari dirinya dan bagi hidupnya. Bantuan fisik dapat diusahakan sewaktu-waktu, namun yang namanya kebutuhan batin dalam arti merasakan dan hidup dalam  "jagad cilik" mereka, itulah yang tidak pernah dialami para calon pemimpin ini. Sudah layak dan pantas terjadi kesenjangan terus dalam kehidupan karena hal ini. Para elit hanya mampu memberi bantuan fisik, dana, bangunan, sarana lain tetapi kurang mampu menyelami dunia batin rakyatnya. Sudah semakin menipis para pemimpin yang lahir dari kalangan jelata. Sudah langkalah makhluk pemimpin yang lahir dari ketertindasan. Yang ada adalah pemimpin elit yang memang lepas dan tidak nyambung dengan kehidupan yang dipimpinnya.

Tak mengherankan pengkhususan secara jor-joran dan pamer kekuasaan dan kekayaan akan terus terjadi di negeri ini. Jika tidak ada yang menghentikan, ya adagium-nya adalah MENJADI PEMIMPIN HARUS SEKOLAH DI SEKOLAH ELIT. SEKOLAH ELIT HANYA BAGI MEREKA YANG KAYA. ORANG MISKIN DILARANG JADI PEMIMPIN. Itu sama dengan adagium ORANG MISKIN DILARANG SAKIT DAN SEKOLAH. Mengapa? Sakit itu obatnya mahal. Orang miskin tidak mampu bayar. Maka jangan sakit. Sekolah itu mahal, maka orang miskin tak mampu bayar.

Aku hanya mempunyai impian: suatu saat nanti, entah kapan, semoga situasi ini berakhir, entah dengan damai atau dengan peperangan. Revolusi perlu dibuat dengan radikal karena jika tidak maka yang terjadi adalah "survival of the fittest." Namun apakah hukum kehidupan memang demikian? Jika memang YA, mari kita hidup dengan ketahanan yang ekstra. Mereka yang lemah ketahanannya akan tersingkir. Saat ini kita terbelenggu dengan segala macam privatisasi/swastanisasi. Bahkan negara kita pun "swasta", karena semua serba privatisasi. Pemimpin yang akan mengembalikan ke negara yang menyejahterakan akan mendapat banyak tantangan dari para pemodal. Jangan sampai negara menyejahterakan rakyatnya karena kalau negara berhasil menyejahterakan rakyatnya maka pemodal tidak laku lagi menawarkan produknya dan tidak berhasil mendikte negara. Kepentingan mereka tidak berdaya guna lagi. Jika negara menjadi swasta, maka segala macam kebutuhan menjadi mahal. Dan kita sudah mengalami itu. Sekolah negeri pun yang nota bene gratis tetap saja sebenarnya mahal karena kualitas pendidikan yang kurang memperhatikan keseluruhan manusia, mereka hanya menilai manusia sebatas kognisi-nya. Kita tidak membayar sekolah dan seragam karena kita hanya dinilai kemampuan akademisnya. Nilai manusianya tidak dianggap.

Aku tersadar akan jargon sekolah elit adalah MENCAPAI KEMENANGAN MENCIPTAKAN GENERASI UNGGUL. Orientasinya adalah keunggulan dalam berbagai lomba. Jika kalah, maka manusia yang belajar ini tidak ada gunanya. Kekalahan adalah taraf paling hina, bahkan lebih hina daripada binatang. Kemenangan harus diraih bukan saja untuk keunggulan sebagai manusia yang punya kemampuan namun keunggulan kasta orang kaya yangpunya kuasa dibandingkan dengan orang miskin yang bisanya hanya dibantu. Hal ini sebenarnya mau mengukuhkan keangkuhan kekuasaan elit. Yang kaya yang menang. Yang kaya yang berkuasa.


Noon time
@offc