Aku hanya bisa melihat semua itu sebagai hal yang biasa karena setitik info atau ketertarikan orang jadikan sebuah kebutuhan yang menjalar ke mana-mana. Eforia merayakan pergantian tahun adalah hal yang biasa. Kejadian yang sangat biasa sebenarnya, namun orang selalu akan merayakan itu. Dari sisi kebiasaan aku tidak mempermasalahkan, namun dari sisi cara biasanya aku sering melihat apakah ini wajar atau tidak. Malam itu orang penuh sesak dengan memakai bando atau hal-hal yang menyala, sebagaimana lampu kerlip-kerlip. Ya, karena saatnya adalah malam hari, orang membuat lampu. Dan itu dibuat sebuah kebutuhan. Orang banyak menjual itu. Orang juga banyak membelinya.
Ketika aku berdiam sesaat dan minum, di belakangku ada sepasang suami-istri tua yang sedang membuat lampion. Aku agak tertegun melihat mereka. Entah apa motivasi mereka berdua membuat lampion itu. Bisa jadi hanya iseng. Tetapi bagiku ini menarik, karena keduanya bekerja sama, membuat dari awal, menyalahkannya, dan menerbangkannya. Kami yang ada di sekelilingnya menjadi tertarik. Ada yang memotret, ada yang membantu menerbangkan, ada yang berkomentar. Aku tidak membawa kamera, hanya kamera HP yang kupakai mendokumentasikan itu. Selebihnya dokumentasi itu ada dalam benak dan hatiku.
Oleh karenanya, aku akhirnya berniat membuat sebuah tulisan di hari pertama tahun ini dari insight pemandangan itu. Oma opa dan lampion. Di tengah kebisingan bunyi petasan dan kembang api yang dinyalakan, juga lampu-lampu kerlip tadi, serta beberapa laser yang disorotkan ke langit, lampion itu terbang tinggi entah sampai di mana dan kapan berhentinya api. Aku hanya mengartikan dalam diriku, itulah lampion harapan yang diterbangkan tinggi menjelang pergantian tahun. Itu adalah nyala api yang hening untuk dinaikkan ke langit malam bersaing dengan kebisingan cahaya kembang api yang disoraki banyak orang karena dinikmati keindahannya. Sedangkan nyala api lampion adalah api yang tanpa suara. Ia menyalakan lampion itu, memanasi dan menerbangkan ke langit. Api lampion yang membawa kertas itu membumbung tinggi dalam waktu lama berbeda dengan kembang api yang nyala dengan indah tetapi penuh "kekerasan" bunyi yang mengagetkan. Dan itu hanya sesaat. Bahkan di jalan yang kelewatan, ada kembang api yang hampir menyasar orang karena salah arah. Itu sangat membahayakan.
Lampion harapan memberi ruang untuk melihat cahaya dengan kedamaian. Lampion harapan menaikkan cahaya kepada langit yang tinggi. Lampion harapan memberi pemandangan yang lebih tenang dari sekedar bunyi-bunyi yang membisingkan telinga. Itulah yang menginspirasiku menuliskan kesan semalam. Setelah itu, pasangan oma opa itu menikmati lampionnya yang membumbung tinggi dan oma itu, karena dia orang bule, merokok, menikmati langit tempat lampionnya naik. Entah bahasa apa yang mereka katakan, aku tidak memperhatikan. Setidaknya malam yang berisik itu sudah memberiku inspirasi bahwa masih ada harapan menikmati pergantian tahun di relung batinku sendiri karena dibantu oma opa yang membuat lampion. Siapapun mereka, aku pantas berterima kasih.
#pagi hari di hari pertama 2016#
Lampion of hope ........