Tadi malam aku menonton untuk kedua kalinya film tentang pembunuhan JFK. Selalu yang aku tonton adalah potongan tengah sampai akhir. Awalnya aku selalu tidak menonton. Dalam menonton yang kedua kalinya, aku merenung dan mengamati film itu dan selalu bertanya mengapa "Parkland". Sebelum tahu persis bahwa itu nama tempat dan juga Rumah Sakit di mana jasad JFK dikirim pertama kali setelah penembakan itu, ternyata juga jasad pembunuhnya Oswald juga dikirim setelah ditembak, dua hari setelah penembakan Kennedy. Itulah Rumah Sakit Parkland, Dallas Texas.Kesan dari penonton yang sudah berjarak waktu dan ruang ini hanya menyaksikan alur yang diangkat dalam film itu mencoba melihat detail bagaimana seorang presiden, orang nomer 1 di Amerika Serikat pada waktu berhasil ditembak dan dibunuh. Pengawal presiden pun tak berhasil mengawal alias menyelamatkan dan akhirnya kehilangan orang yang dikawal. Perdebatan sengit terjadi dalam film itu, walau tidak diungkapkan dalam nada percakapan. Tetapi dalam adegan sungguh dinampakkan bagaimana kegagalan tim pengawal presiden dan pengawal pribadinya pun tidak berhasil menyelamatkan nyawa yang seharusnya dikawal dan diamankan.
Selain itu, tim medis, dokter dan perawat di Parkland Hospital pun tak kuasa mengembalikan nyawa presiden, orang nomer 1 di Amerika karena tembakan peluru itu. Dokter dan tim medis berusaha untuk menyembuhkan, mengeluarkan peluru, memompa jantung, dan menyadarkan JFK yang sudah tergeletak karena tertembak bagian kepalanya. Perawat pun akhirnya memohon agar segera memanggil pastor untuk perminyakan. Jacky (istri JFK) hanya bisa menyerahkan serpihan tulang kepala yang tercecer karena tembakan dan tertangkap tangan istrinya kepada perawat.
Tepat jam 13.00 waktu Dallas, JFK dinyatakan meninggal. Seluruh Amerika dan dunia kehilangan salah seorang pemimpin dunia. Namun sebelum jasad JFK diterbangkan ke D.C. masih ada insiden antara pengawal presiden yang akan segera menerbangkan peti jenasah itu dengan petugas forensik kepolisian federal Texas. Adu mulut pun terjadi. Pihak kepolisian Texas mempunyai wewenang untuk mengotopsi dahulu jasad jika ada pembunuhan di wilayahnya. Sedangkan pengawal presiden beralasan ini soal kemendesakan dan keamanan, maka jasad presiden tidak harus menginap lama dengan harus menunggu otopsi. Perdebatan sengit antara otoritas lokal dan pusat terjadi di situ. Yang akhirnya memang dimenangkan pusat dalam situasi darurat seperti itu. Bahkan ketika petugas yang ada di pesawat Air Force One pun bingung mau ditempatkan di mana peti yang berisi jasad presiden mereka, karena di kabin pesawat tidak ada space yang cukup untuk peti. Oleh karena itu, mereka langsung mengambil atau mencopot kursi penumpang sehingga ada ruang untuk peti. Bahkan ketika menaikkan peti pun karena pada waktu itu belum ada alat mekanis untuk menggotong, maka petugas-petugas menggotong peti yang berat itu naik tangga dan merusak pintu dalam sehingga peti dapat masuk. Sebuah pemaparan film yang luar biasa karena menampakkan detail bagaimana orang mati harus masuk ke dalam sebuah pesawat, lantaran tidak tega harus dimasukkan dalam bagasi.
Tulisan ini bukan mau meresensi film itu. Aku hanya mau melihat dari kacamataku tentang peristiwa itu. Peristiwa pembunuhan seorang pemimpin memang tidak hanya terjadi pada diri JFK. Beberapa pemimpin dunia juga mengalami kejadian serupa dengan cara berbeda. Tercatat dalam memoriku: Julius Caesar, Abraham Lincoln, Franz Ferdinand dari Austria, Mahatma Gandhi, Indira Gandhi, Benazir Bhuto. Itulah nama-nama yang masih dapat diteruskan daftarnya. Motivasinya macam-macam, dan aku tidak akan mengupasnya. Aku hanya menuliskan sebuah kesan dari apa yang kulihat semalam. Bisa jadi karena pertarungan politis. Bisa jadi karena sentimen pribadi. Bisa karena konspirasi ini dan itu. Ahh...aku tidak mau memasuki wilayah itu.
Di sisi lain, pemandangan sepi adalah pemakaman Lee Harvey Oswald, yang dituduh membunuh JFK. Ia sendiri dibunuh oleh Jack Ruby ketika akan dipindah ke penjara lain. Hanya ada kakaknya Robert Oswald, ibunya, istri Lee dan anak-anaknya yang masih kecil. Di makam itu, ada pendeta, petugas keamanan dan petugas makam yang sebenarnya juga agak sungkan mengangkat peti Lee, "si pembunuh". Beberapa jurnalis yang meliput pun akhirnya diminta Robert untuk membantunya mengangkat peti dan memasukkan dalam liang kubur. Petugas makam yang hanya berdua akhirnya membantu Robert menutup liang kubur dengan tanah urugan yang ada. Sebuah kejadian yang tragis di mana ada pemakaman yang sungguh sepi ketika Lee Oswald dikubur dan di sisi lain, di Washington D.C, berjuta orang kehilangan mengiringi pemakaman JFK.
Itulah tragedi Parkland, bagiku mempunyai arti lain, bukan sekedar nama sebuah Rumah Sakit tetapi Parkland adalah lahan parkir, tempat orang memarkir diri, tempat orang beristirahat, bahkan istirahatnya yang terakhir. Masih ada di sana ironi. Ironi di mana ada yang kehilangan dan ada yang menolak, menyingkiri. Parkland membawaku pada sebuah peristiwa hidup bahwa tidak dibenarkan bahwa nyawa seseorang dihilangkan dengan cara apapun. Tetapi peristiwa politik membenarkan kadang. Itulah hidup. Kadang ada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh kehendak kita. Dan di saat-saat kritis, kita baru tahu ada sebuah kebenaran yang tak terungkap (terispirasi oleh ungkapan Ignacio Ellacuria SJ, yang terbunuh di El Salvador).
#Morning in my office#
* in sense of death, every one faces something unpredictable, unspoken, ironic, absurd. But it is life, and death, as Homer said: “There will be killing till the score is paid."