Tuesday, February 19, 2019

Gunung

Pasca debat kedua capres hari Minggu lalu - walau aku sendiri tidak menonton - suasana panasnya masih tetap terasa. Sampai dengan hari ini, ulasan demi ulasan yang menarik maupun tidak menarik, yang hanya asal njeplak maupun yang ada analisisnya semua masih bertebaran di media online maupun cetak. Aku sebenarnya capai dengan segala macam uraian dan cuitan berbagai komentar yang kadang banyak tidak mutunya di atmosfer media ini. Apa-apa serba mudah sekali menyebar dengan tanpa ada filter. Bahkan apa-apa mudah sekali direaksi. Dan sikap reaktif ini menandakan orang gaduh dan suka keramaian. Salah sedikit tidak sesuai keinginan pun kemudian dilaporkan ke polisi. Seolah polisi hanya menerima aduan saja pekerjaaanya. Hari ini juga aku mecari-cari artikel atau opini untuk dibaca bersama. Salah satu yang kutemukan adalah tulisan Sindhunata tentang Jokowi dengan judul "Jokowi dan Gunung Jamurdipa". Tulisan 4 tahun lalu yang mengingatkanku pada sosok pemimpin saat ini yang bernama Jokowi ditulis oleh seorang budayawan dan sastrawan. Tentu dengan makna dan bukti-bukti berdasarkan narasi mitologi tanah Jawa ini.

Adalah gunung yang dipakai Sindhu untuk menyimbolkan perjalanan demi perjalanan manusia. Aku tertegun dan makin tidak menyukai sosok penguasa yang tarogan yang salah satunya adalah lawan Jokowi.  Mengapa aku menyebut penguasa? Karena sosok yang satu ini tidak mau mengalah, ia terus menguasai atmosfer nusantara dengan keangkuhan dan sebenarnya sangat jelas motif-nya yaitu nafsu berkuasa. Apalagi setelah debat kedua dengan telak memunculkan apa yang dinamakan pengakuan dari dirinya yang memang menguasai lahan sekian ratus ribu hektar di pulau Kalimantan dan Sumatra. Artinya adalah bahwa penguasa itu bukan saja menguasai manusia namun juga tanah tempat hidup makhluk-makhluk yang ada. Jelas, yang kita hadapi dan Jokowi hadapi adalah penguasa yang tamak dan sudah kelihatan dari gerak-gerik dan motivasinya. Penguasa jahanam ini diikuti oleh sekian pengikut yang terus-menerus memuja junjungannya agar terus berkuasa dengan berbagai macam cara. Bahkan kekuasaannya seperti tanpa batas, dan Jokowi sedang menghadapi musuh yang kekuatannya luar biasa hebatnya.


Jokowi dalam tulisan Sindhu ibaratnya mengamban misi mengembalikan rasa percaya diri rakyat jelata yang sudah dirampas oleh penguasa tadi karena penguasa tadi sudah menduduki kursi rakyat yang mengaku diri wakil rakyat namun tidak bekerja mewakili rakyat. Wakil rakyat bahkan sudah menjadi musuh rakyat sendiri. Ini hal yang ironis. Jokowi yang bukan siapa-siapa telah menjadi pemimpin saat ini bagi sekian ratus juta rakyat. Ditulisakan di sana demikian: "Bagi sejarah bangsa Indonesia, fenomena dukungan fantastis itu merupakan sebuah kairos. Dalam filsafat sejarah, kairos dibedakan dari chronos. Chronos adalah waktu biasa, semacam urut-urutan waktu belaka, sementara kairos adalah waktu yang luar biasa, waktu yang dinanti-nantikan, waktu yang punya daya dobrak, semacam waktu sejarah yang bisa mengubah bahkan menjungkirkan keadaan yang usang dan rusak menjadi keadaan yang total baru. Baik filsuf eksitensialis religius, misalnya Paul Tillich, maupun filsuf kiri ateis, seperti Walter Benyamin, sama-sama yakin, dalam kairos tersembunyi harapan, dan begitu kairos datang, harapan itu menguak jadi kekuatan yang bisa mengubah masyarakat secara drastis dan revolusioner..... Fenomena Jokowi adalah fenomena kairos itu. Kalau harapan rakyat tertumpah padanya, itu tak berarti dia memang luar biasa, tetapi bahwa daya kairos sedang turun atasnya sehingga ia dianggap mampu memperbarui sejarah. Dalam arti itu, kairos adalah berkah dan anugerah yang tak boleh disia-siakannya. Tetapi ini juga tak berarti kairos itu seluruhnya mistis. Kairos ada di dalam kehidupan individual dan membuat orang menanti-nantikan perubahan. Begitu melihat Jokowi sebagai fenomen kairos, kairos yang individual itu berkumpul jadi satu, menjadi sebuah kairos kolektif yang bersama-sama ingin menjungkirkan keadaan dan mengubahnya menjadi keadaan yang penuh harapan."


Jelas, bahwa sekali lagi musuh utama Jokowi adalah penguasa yang menyebut diri wakil rakyat namun tidak merakyat dan hanya memushi rakyat. Dituliskan Sindhu demikian: " Sekarang rakyat sedang tak percaya kepada DPR sebab lembaga perwakilan rakyat itu lumpuh dalam menjalankan fungsi representasi kepentingan rakyat karena hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompok. Kata ahli hukum dan politik Ernst Fraenkel: di mana ada rakyat tak percaya terhadap kemampuan parlemen dalam menjalankan fungsi representasinya, di sana rakyat sesungguhnya sedang menderita minderheid-kompleks.

Adalah tragis, rakyat yang mayoritas itu menjadi minoritas yang minder. Sebagai presiden, Jokowi bertanggung jawab mengembalikan rakyat sebagai mayoritas dan menghilangkan minderheid-kompleksnya. Untuk itu, Jokowi perlu meraih kembali momen kairos dan percaya bahwa dalam kairos terhimpun kekuatan politik rakyat yang punya satu-satunya kehendak, yakni perubahan. Jika mau melakukan ini, Jokowi berpeluang besar merebut kembali kepercayaan rakyat, yang kini sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap para wakilnya di DPR."

Sindhu memberi akhiran dalam tulisannya menyarankan supaya Jokowi berziarah gunung, karena gunugn adalah tempat wng cilik tinggal. Wong gunung adalah simbol rakyat kecil. Maka ia mengusulkan supaya Jokowi berziarah dari barat pulau Jawa ke timur sehingga melewati gunung-gunung yang membawa makna dalam bagi rakyat kecil: mulai dari Gunung Prau di barat ke Gunung Kendil lalu ke Gunung Slamet. Itulah panyuwun awal dari rakyat kecil, yaitu hidup bekerja naik perahu kehidupan, supaya kendil-nya (periuk), simbol rumah tangga dan kehidupannya itu tetap menyala dan mengepul. Dan satu-satunya permohonan manusia adalah keselamatan (slamet). Ia juga harus sampai berjalan ke Gunung Petarangan sebagai simbol tempat ayam mengerami, memelihara sampai kehidupan itu menetas. Jokowi adalah rakyat biasa. I bukan keturunan bangsawan. Maka ia harus menjalani laku sebagai wong cilik seperti biasa, tidak menakut-nakuti rakyat. Bahkan lebih lanjut Sindhu menyebut bahwa Jokowi dari Solo di mana Solo itu dekat Gunung Lawu. Solo adalah tempatnya thukul, tumbuh, seperti Wiji Thukul. Hanya satu kata, "Lawan!" yang harus diungkapkan. Yang dilawan adalah kekuatan-kekuatan jahat dalam berbagai macam bidang dan bentuknya.

Itulah sebentuk temuan hari ini yang membawaku merangkai tulisan ini. Hati sudah terasa tak sabar untuk melawan kebatilan oleh penguasa jahanam yang terus bergentayangan seperti ruh gendruwo ke sana kemari. Nafsu berkuasa mereka itu tak kepalang tanggungnya. Setelah mengadakan ontran-ontran ini dan itu mereka tidak berhenti. Namun makin hari makin menjadi. Dan kita yang melawannya memang tak boleh lelah dan tak boleh menyerah.  

#Menjelang Siang#

Friday, February 15, 2019

Kontes

Memilih dan menentukan adalah sebuah praktik hidup manusia setiap saat. Namun di saat tertentu, pilihan itu harus dibuat semacam pesta rakyat besar-besaran. Itulah waktu-waktu ini yang sarat dengan keramaian untuk sebuah pilihan presiden. Orang dibawa pada kegaduhan sana sini. Bahkan saking ramainya, orang dibawa pada sentimen sana dan sini. Permusuhan demi permusuhan dilontarkan dengan kata-kata yang berserakan di sana sini. Jika dihitung dengan mesin, mungkin sudah trilyunan kata dan ungkapan permusuhan dan sentimen perseteruan itu. Yang selalu membuat aku menjadi tidak habis pikir adalah ungkapan salah data dan penuh dengan yang tak logis meluncur begitu saja. Dan orang juga mau menelan mentah-mentah karena sudah terkontrol oleh sentimennya.

Inilah yang kemudian menjadi penting karena sebagai keturunan Sapiens, aku menjadi terusik. Homo Sapiens yang memenangkan proses evolusi selama jutaan tahun hanya kemudian mau menjadi mundur peradabannya karena perseteruan tertentu. Ini kutulis karena tertarik dengan tulisan Yuval Noah Harari, seorang ahli sejarah dunia dari Oxford. Ada 3 tahap penting dalam proses revolusi manusia: revolusi kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun silam, revolusi pertanian mempercepat sejarah sekitar 12.000 tahun silam, dan revolusi sains yang baru mulai berlangsung 500tahun silam yang boleh jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang berbeda.

Fokus pada revolusi kognitif, sekitar 2,5 juta tahun silam otak manusia paling awal memiliki kira-kira 500-600 cc. Homo saipiens modern otaknya memiliki rata-rata 1200-1400 cc. Ini membawa banyak efek pada hidup Homo Sapiens. Ia tidak lagi mempunyai otot yang kuat seperti sebelumnya. Ia juga harus lama untuk mengusahakan makan dan meramunya bagi kehidupannya. Bayi sapiens pun seperti lahir "prematur". Artinya, ketika masih bayi, ia tidak bisa langsung bisa mandiri dan mencari makan sendiri. Ia harus dibantu oleh induknya sampai usia cukup mandiri untuk hidup. Namun kemampuan untuk berkomunikasi dan berpikirnya makin luas dan luar biasa. Dikatakan bahwa mutasi-mutasi genetik tanpa sengaja mengubah sambungan di dalam otak Homo Sapiens, memungkinkan mereka berpikir dengan cara-cara berpikir yang tak pernah ada sebelumnya dan berkomunikasi menggunakan jenis bahasa yang sepenuhnya baru.

Dari apa yang kupikirkan di awal, aku kemudian mau melihat kembali dengan pertanyaan-pertanyaan ini: apakah manusia (lanjutan dari Sapiens) kemudian mau menyusutkan kapasitas otaknya sehingga tidak berpikir panjang lagi untuk hidup bersama? Artinya apakah demi kemenangan kelompoknya lantas tidak berkembang pikirannya dan hanya berpikir untuk kalangan kelompok saja? Jika melihat gerakan-gerakan radikal sepertinya peradaban terancam oleh kepicikan cara berpikir kelompok tertetu. Apakah cc-nya mau disusutkan menjadi 500-600 cc lagi? Artinya ini menjadi lucu karena pada dasarnya makhluk itu selalu bereveolusi dan berkembang. Jika nalar tidak mau diajak berkembang, bagaiman peradaban akan berkembang? Keramaian kampanye pilpres ini membuktikan kemamuan kognitif sapiens yang menjadi aktor dan pendukung siapa dan mana yang cukup bernalar dan logis. Dan inilah yang kemudian menjadi memalukan jika manusia alias sapiens koq memilih yang tidak logis dan bahkan rekam jejak hidupnya jelas tidak menunjukkan ke-sapiens-an, yaitu mantan pembunuh, penculik, psikopat. Sapiens berarti cerdas dan bijaksana. Oleh karena itu, kecerdasan dan kebijaksanaan menjadi pertaruhan dalam pertarungan ini.

Relakah kita menjadi mundur dan tidak berarti lagi dalam hidup ini sebagai makhluk yang berpikir dan mempunyai kebijaksanaan? Kiranya kita perlu berpikir lebih dalam dan jernih bahwa kita adalah sapiens yang punya kemampuan berpikir dan bijak dalam bertindak, termasuk dalam memilih. Namun kadang ada fenomena yang ironis dalam hidup. Sama seperti kasus Jerman di era Perang Dunia II. Bagaimana bangsa Jerman yang terkenal dingin dan rasional, banyak ilmuwan datang dari sana, bisa memilih dan percaya pada Der Fuhrer si Hitler yang kejam dan irasional (dalam arti tertentu)? Di era itu kekejaman demi kekejaman bisa terjadi dan menghabiskan nyawa jutaan orang Yahudi karena dibantai. Alasannya, sentimen ras dan mungkin karena kepentingan politik-ekonomi. Itulah salah satu tragedi dalam sejarah Sapiens. Belum lagi kalau itu kita tarik di Indonesia pasca 1965, tentu juga ini bisa diperbandingkan dengan tragedi Nazi Jerman.

Dalam sebuah kontes, yang terpenting adalah bagaimana nalar dan kebijaksanaan itu menjadi penentu dalam pilihan kita. Pertimbangan nurani juga perlu melihat rekam jejak sejarah. Dan sekarang orang dengan mudah akan menilai sebenarnya. Jika hanya menutup mata (nurani) maka sejarah sapiens akan menjadi sejarah kemunduran peradaban.


#morning#