Kematian itu begitu dekat. Kematian itu begitu cepat. Aku yang mengikuti berita dari grup angkatan dan perbincangan antar pribadi dari beberapa yang kukontak, aku menduga-duga ada apa. Namun tetap saja itu dugaan. Aku tak mau masuk terlalu dalam. Yang pasti adalah bahwa kematian itu sudah kami peringati hari ini di tujuh harinya. Tentu ada narasi di balik atau di belakang itu semua. Namun sekali lagi narasi itu entah akan berbicara dan mengungkapkan dirinya kapan. Aku juga hanya bisa berdoa bagi jiwa sang sahabat yang kepergiannya seperti tanpa sebab. Itu yang kurenungkan hari ini.
Banyak hal kami kisahkan dari kepergian sahabat ini. Ada yang berkisah tentang kebaikan. Ada yang berkisah tentang penyesalan karena tidak menggubrisnya. Ada yang berkisah tentang passionnya. Ada yang berkisah tentang dampaknya bagi kami yang bersolider dan berempati atas segala macam hal yang kami buat terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Apresiasi terhadap apa yang kami buat adalah bahwa kami tidak menilai kematian itu dari sebabnya, narasi di belakangnya, dan sebagainya. Kami melihat kematian sebagai kematian, dan narasi yang lain adalah narasi akan manusia yang menjadi bagian dari kematian itu. Itu yang diapresiasi dari salah seorang rekan. Dan yang begitu mengesan adalah dari kematian ini kami ingin membangun narasi yang lain, yang lebih menunjukkan ada makna baik dalam kerapuhan kami sebagai manusia.
Orang bisa saja menyebut sebagai solidaritas. Dan dari kacamata biasa, solidaritas itu kemudian bisa diartikan dengan membantu, menyokong, mensuport keluarga yang ditinggalkan, apalagi dengan kebutuhan yang mendera di depan mata. Kematian itu yang menghadirkan solidaritas. Dari kematian, orang bersolider. Orang melayat. Orang memberi dukungan satu dengan yang lain. Orang bisa saja menjadi pragmatis. Apa yang harus dengan segera ditangani itulah yang harus dibuat. Itu baik. Tidak ada yang salah. Gerak cepat perlu dibuat.
Kematian itu yang mengumpulkan. Orang berbondong-bondong melayat karena ada kematian. Orang berkumpul untuk menyatakan belasungkawa. Orang datang untuk mengiringi kepergian. Kematian memang kadang mengumpulkan yang tercerai berai. Dan itulah kisah anak manusia. Orang datang juga untuk mengenang. Di saat pandemi ini orang tak lagi bisa berbondong-bondong. Melayat hanya terbatas yang diundang. Itulah ironi di masa pandemi.
Sore ini aku hanya bisa berdoa bersama. Itulah seungkap kata dan karsa yang menyingkap makna. Kematian tetaplah kematian. Ingatan akan kematian hanya ada pada makhluk manusia. Ada makam. Ada tanda. Ada ritual. Ada peringatan. Ada makna. Aku akhirnya juga mengingat bahwa suatu saat akan mengalami yang sama, kematian. Oleh karena itu, ingatanku hanya pada "memento mori" (ingatlah bahwa suatu saat kamu (akan) mati). Selamat jalan, sobat.
*Catatan tambahan: Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau penyebab kematian yang dicari memang perlu ketekunan dan perjuangan. Di (sejarah) bangsaku ini sudah terlalu biasa dengan sebab yang tak terjawab. Bahkan untuk kematian sekian juta nyawa di suatu masa, tak ada yang mau bertanggungjawab, seolah tanpa sebab. Apalagi hanya satu nyawa yang ditemukan di bengawan solo. Jika memang penyebabnya adalah hal pribadi, ya sudahlah. Tetapi kalau penyebabnya adalah sebuah intrik, itu yang kadang tidak fair secara kemanusiaan.
#sore hari#

