Sunday, May 30, 2021

Memento Mori

Ketika sebuah kematian itu hadir, tak kan ada seorang pun bisa menolaknya. Apapun itu bentuknya, caranya, di mananya, dan kapannya, kematian tetaplah kematian. Sore ini aku baru saja bersama rekan-rekan mengingat akan sesosok teman yang kematiannya mengagetkan kami. Tak tahu dinyana, kami dikejutkan dengan peristiwa hilangnya dia sebelum ada acara konser yang akan diselenggarakan dengan kelompoknya. Selang sehari setelahnya, ada kabar bahwa ada sesosok mayat ditemukan di bengawan Solo. Akhirnya keluarga mengkonfirmasi, dan sosok itu adalah tubuh sang sahabat. Kami semua kaget dan tidak tahu harus menyebutnya sebuah tragedi apa. Setidaknya, kematian itu menggerakkan kami. Berita demi berita kami ikuti. Arus informasi yang begitu masif di era saat ini memang membuat kami harus memilah-milah. 

Kematian itu begitu dekat. Kematian itu begitu cepat. Aku yang mengikuti berita dari grup angkatan dan perbincangan antar pribadi dari beberapa yang kukontak, aku menduga-duga ada apa. Namun tetap saja itu dugaan. Aku tak mau masuk terlalu dalam. Yang pasti adalah bahwa kematian itu sudah kami peringati hari ini di tujuh harinya. Tentu ada narasi di balik atau di belakang itu semua. Namun sekali lagi narasi itu entah akan berbicara dan mengungkapkan dirinya kapan. Aku juga hanya bisa berdoa bagi jiwa sang sahabat yang kepergiannya seperti tanpa sebab. Itu yang kurenungkan hari ini. 

Banyak hal kami kisahkan dari kepergian sahabat ini. Ada yang berkisah tentang kebaikan. Ada yang berkisah tentang penyesalan karena tidak menggubrisnya. Ada yang berkisah tentang passionnya. Ada yang berkisah tentang dampaknya bagi kami yang bersolider dan berempati atas segala macam hal yang kami buat terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Apresiasi terhadap apa yang kami buat adalah bahwa kami tidak menilai kematian itu dari sebabnya, narasi di belakangnya, dan sebagainya. Kami melihat kematian sebagai kematian, dan narasi yang lain adalah narasi akan manusia yang menjadi bagian dari kematian itu. Itu yang diapresiasi dari salah seorang rekan. Dan yang begitu mengesan adalah dari kematian ini kami ingin membangun narasi yang lain, yang lebih menunjukkan ada makna baik dalam kerapuhan kami sebagai manusia. 

Orang bisa saja menyebut sebagai solidaritas. Dan dari kacamata biasa, solidaritas itu kemudian bisa diartikan dengan membantu, menyokong, mensuport keluarga yang ditinggalkan, apalagi dengan kebutuhan yang mendera di depan mata. Kematian itu yang menghadirkan solidaritas. Dari kematian, orang bersolider. Orang melayat. Orang memberi dukungan satu dengan yang lain. Orang bisa saja menjadi pragmatis. Apa yang harus dengan segera ditangani itulah yang harus dibuat. Itu baik. Tidak ada yang salah. Gerak cepat perlu dibuat. 

Kematian itu yang mengumpulkan. Orang berbondong-bondong melayat karena ada kematian. Orang berkumpul untuk menyatakan belasungkawa. Orang datang untuk mengiringi kepergian. Kematian memang kadang mengumpulkan yang tercerai berai. Dan itulah kisah anak manusia. Orang datang juga untuk mengenang. Di saat pandemi ini orang tak lagi bisa berbondong-bondong. Melayat hanya terbatas yang diundang. Itulah ironi di masa pandemi. 

Sore ini aku hanya  bisa berdoa bersama. Itulah seungkap kata dan karsa yang menyingkap makna. Kematian tetaplah kematian. Ingatan akan kematian hanya ada pada makhluk manusia. Ada makam. Ada tanda. Ada ritual. Ada peringatan. Ada makna. Aku akhirnya juga mengingat bahwa suatu saat akan mengalami yang sama, kematian. Oleh karena itu, ingatanku hanya pada "memento mori" (ingatlah bahwa suatu saat kamu (akan) mati). Selamat jalan,  sobat. 



*Catatan tambahan: Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau penyebab kematian yang dicari memang perlu ketekunan dan perjuangan. Di (sejarah) bangsaku ini sudah terlalu biasa dengan sebab yang tak terjawab. Bahkan untuk kematian sekian juta nyawa di suatu masa, tak ada yang mau bertanggungjawab, seolah tanpa sebab. Apalagi hanya satu nyawa yang ditemukan di bengawan solo. Jika memang penyebabnya adalah hal pribadi, ya sudahlah. Tetapi kalau penyebabnya adalah sebuah intrik, itu yang kadang tidak fair secara kemanusiaan. 



#sore hari#

Saturday, May 1, 2021

May Day

Hari ini sudah memasuki bulan Mei. Waktu berjalan cepat rasanya. Kemarin setelah istirahat sejenak dari aktivitas biasa, kami bertiga mencari pizza dan hang out sejenak. Ada alasan supaya tidak hanya ngendon di kamar, seperti rahib saja. Hari ini nanti kami juga janjian akan keluar jalan-jalan ke suatu tempat. Tidak ada intensi khusus yang ada dalam benak kami. Yang kemarin sempat mencuat keluar adalah kita berbagi rahmat untuk ngobrol dan sekedar makan pizza dan menikmati bir di senja hari. Kita sulit membedakan antara sore dan malam karena musim yang berbeda dan terang bisa sampai jam yang bagi sebagian tempat sudah malam sebenarnya. Dan hari ini adalah hari buruh sedunia, hari peringatan St Joseph pekerja dan sebagian negara sosialis/komunis merayakan hari pentingnya. 

Sebenarnya ketika makan pizza kemarin, aku sudah merasakan ada yang tidak beres saat mengunyah. Pizza yang dibeli memang krispi karena dipanaskan dulu setelah dipesan. Ada yang pecah di sebelah kiri bawah. Namun di atas kanan juga ada yang rapuh. Dan aku pun seperti biasa mengabaikan itu. Gigiku memang sudah lama mengalami karies dan sepertinya seperti genetik dalam keluarga, tidak ada yang punya gigi awet. Setelah menikmati pizza sambil ngobrol ke sana kemari, kami bertiga berjalan ke gelatteria untuk melanjutkan "perjamuan" sore itu dengan gelatto. Di sebuah piaza kecil kami ngobrol lagi sambil menikmati gelato sebelum meleleh. Obrolan tentang Gereja, keluarga, aktivitas kami dan sebagainya sebagai bumbu sore itu dalam berbagi berkah. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang dengan anaknya. Ada yang hanya berdua atau sendirian. Dalam situasi pandemi ini memang semua mengalami kerapuhan dan penderitaan. Banyak yang tidak seperti biasanya. Kami harus berjarak. Kami harus memperhatikan kesehatan dan sebagainya. 

Sambil memperhatikan berbagai pengalaman dalam obrolan kami, aku melihat banyak hal yang terjadi di sekitar kami. Banyak keluarga yang juga mengalami beratnya situasi karena harus bekerja keras mencari nafkah. Ada juga yang selama ini harus berjibaku dengan kesetiaan perkawinan dalam membangun keluarga. Di negara maju atau miskin masalahnya sama saja. Ada poin di mana manusia saat ini mengalami keterasingan dengan dirinya. Ketika banyak pilihan dan fasilitas yang diterimanya begitu mudah, orang juga mudah beralih dari satu hal ke hal lain. Di Singapura, negaranya maju. Kalangan tua suka untuk mengalami sistem tertata dan terkontrol seperti saat ini. Namun kalangan muda, mereka tidak suka. Mereka mendambakan kebebebasan. Negara dengan pelayanan prima kepada warga negaranya menjadi penting dan patut diapresiasi. Namun berbeda dengan generasi saat ini, mereka ingin bebas. Namun dengan kebebasan itu, kesetiaan dan ketertiban tidak bisa lagi terjamin. Ini akhirnya juga sama dialami dengan keluarga.

Seorang teman mengatakan bahwa keluarga-keluarga di Singapura mengalami masalah (1) kaum perempuan menikah lebih tua umurnya karena mereka mengejar karier, (2) karena sibuk, maka mereka tidak mau repot dengan mengurus dan mendampingi anak, (3) sangat rentan dengan kekerasan dan kebosanan dalam berumahtangga karena kurang ada komitmen. Komitmen untuk setia (fidelity) menjadi hal langka karena mereka ketika menghadapi ketidaknyamanan bisa berpindah haluan ke pilihan yang lain. Kebertahanan dalam kesulitan menjadi hal langka. Ini menjadi persoalan dalam diri manusia modern yang mudah sekali berpindah dari satu ke yang lain.  Sebagai pribadi (persona), orang tidak lagi mudah menghayati kesetiaan dan komitmen. Sebagai keluarga tantangannya sama. Akhirnya ada sebuah hipotesa bahwa ini juga akan berpengaruh dengan panggilan dalam Gereja. Panggilan mulai menurun karena kesetiaan dan komitmen juga tidak mudah dihayati. 

Akhirnya sore itu kami berjalan ke stasiun metro mengantar salah satud dari kami yang harus top-up tiket bulanan. Dalam perjalanan kami melihat banyak tawaran produk-produk di sepanjang pertokoan yang ada. Itulah gambaran dunia saat ini. Kemajuan dengan berbagai tawarannya membawa kita pada kemudahan-kemudahan berpindah dari satu ke yang lain. Sayangnya memang tidak semua orang mudah untuk memproses bagaimana cara memilih dengan baik. Kita dibiarkan mengembara dalam lautan pilihan yang ada. Bisa saja kita tenggelam. Bisa saja kita terapung-apung. Banyak kemungkinan yang ada. 

Sesampai di kamar, aku pun merasakan gigiku kembali. Gigi atas goyang dan ternyata sudah harus ditanggalkan. Akhirnya dengan paksa kucabut. Ternyata dengan mudah walau pasti ada darah yang keluar karena dicabut dari gusinya. Gigiku tanggal. Dan aku ingat kebiasaan yang agak-agak mitos dalam tradisi orang jaman dulu, kalau giginya tanggal yang bawah harus dibuang ke atas stap rumah. Kalau yang tanggal yang atas, maka harus dibuang ke bawah. Aku tidak tahu maksudnya sampai sekarang. 

Bulan Mei bagi sementara orang juga penting karena mulai dengan bulan rosario, mendoakan untaian rosario sebagai devosi kepada Ibu Maria. Devosi sebagai kebiasaan populer (baca: populis/ rakyat) di kalangan orang Kristiani (baca: Katolik) adalah tradisi di kalangan rakyat. Devosi yang masih tetap ada sampai sekarang merupakan kekayaan Gereja yang mungkin bagi sementara keluarga modern sudah tidak begitu diperhatikan. Devosi itu menuntut kesetiaan, keajegan, rutinitas, dan itu membosankan. Orang modern mudah bosan, maka devosi bukan hal yang menarik. Lama di hal yang sama itu tidak menarik. Lebih menarik adalah hal yang berubah-ubah atau bisa memilih. Apalagi pilihannya itu membawa keuntungan (materi) yang besar, itu akan menambah daya tarik walau tidak lama. 


#buonagiornata#