Sebenarnya ketika makan pizza kemarin, aku sudah merasakan ada yang tidak beres saat mengunyah. Pizza yang dibeli memang krispi karena dipanaskan dulu setelah dipesan. Ada yang pecah di sebelah kiri bawah. Namun di atas kanan juga ada yang rapuh. Dan aku pun seperti biasa mengabaikan itu. Gigiku memang sudah lama mengalami karies dan sepertinya seperti genetik dalam keluarga, tidak ada yang punya gigi awet. Setelah menikmati pizza sambil ngobrol ke sana kemari, kami bertiga berjalan ke gelatteria untuk melanjutkan "perjamuan" sore itu dengan gelatto. Di sebuah piaza kecil kami ngobrol lagi sambil menikmati gelato sebelum meleleh. Obrolan tentang Gereja, keluarga, aktivitas kami dan sebagainya sebagai bumbu sore itu dalam berbagi berkah. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang dengan anaknya. Ada yang hanya berdua atau sendirian. Dalam situasi pandemi ini memang semua mengalami kerapuhan dan penderitaan. Banyak yang tidak seperti biasanya. Kami harus berjarak. Kami harus memperhatikan kesehatan dan sebagainya.
Sambil memperhatikan berbagai pengalaman dalam obrolan kami, aku melihat banyak hal yang terjadi di sekitar kami. Banyak keluarga yang juga mengalami beratnya situasi karena harus bekerja keras mencari nafkah. Ada juga yang selama ini harus berjibaku dengan kesetiaan perkawinan dalam membangun keluarga. Di negara maju atau miskin masalahnya sama saja. Ada poin di mana manusia saat ini mengalami keterasingan dengan dirinya. Ketika banyak pilihan dan fasilitas yang diterimanya begitu mudah, orang juga mudah beralih dari satu hal ke hal lain. Di Singapura, negaranya maju. Kalangan tua suka untuk mengalami sistem tertata dan terkontrol seperti saat ini. Namun kalangan muda, mereka tidak suka. Mereka mendambakan kebebebasan. Negara dengan pelayanan prima kepada warga negaranya menjadi penting dan patut diapresiasi. Namun berbeda dengan generasi saat ini, mereka ingin bebas. Namun dengan kebebasan itu, kesetiaan dan ketertiban tidak bisa lagi terjamin. Ini akhirnya juga sama dialami dengan keluarga.
Seorang teman mengatakan bahwa keluarga-keluarga di Singapura mengalami masalah (1) kaum perempuan menikah lebih tua umurnya karena mereka mengejar karier, (2) karena sibuk, maka mereka tidak mau repot dengan mengurus dan mendampingi anak, (3) sangat rentan dengan kekerasan dan kebosanan dalam berumahtangga karena kurang ada komitmen. Komitmen untuk setia (fidelity) menjadi hal langka karena mereka ketika menghadapi ketidaknyamanan bisa berpindah haluan ke pilihan yang lain. Kebertahanan dalam kesulitan menjadi hal langka. Ini menjadi persoalan dalam diri manusia modern yang mudah sekali berpindah dari satu ke yang lain. Sebagai pribadi (persona), orang tidak lagi mudah menghayati kesetiaan dan komitmen. Sebagai keluarga tantangannya sama. Akhirnya ada sebuah hipotesa bahwa ini juga akan berpengaruh dengan panggilan dalam Gereja. Panggilan mulai menurun karena kesetiaan dan komitmen juga tidak mudah dihayati.
Akhirnya sore itu kami berjalan ke stasiun metro mengantar salah satud dari kami yang harus top-up tiket bulanan. Dalam perjalanan kami melihat banyak tawaran produk-produk di sepanjang pertokoan yang ada. Itulah gambaran dunia saat ini. Kemajuan dengan berbagai tawarannya membawa kita pada kemudahan-kemudahan berpindah dari satu ke yang lain. Sayangnya memang tidak semua orang mudah untuk memproses bagaimana cara memilih dengan baik. Kita dibiarkan mengembara dalam lautan pilihan yang ada. Bisa saja kita tenggelam. Bisa saja kita terapung-apung. Banyak kemungkinan yang ada.
Sesampai di kamar, aku pun merasakan gigiku kembali. Gigi atas goyang dan ternyata sudah harus ditanggalkan. Akhirnya dengan paksa kucabut. Ternyata dengan mudah walau pasti ada darah yang keluar karena dicabut dari gusinya. Gigiku tanggal. Dan aku ingat kebiasaan yang agak-agak mitos dalam tradisi orang jaman dulu, kalau giginya tanggal yang bawah harus dibuang ke atas stap rumah. Kalau yang tanggal yang atas, maka harus dibuang ke bawah. Aku tidak tahu maksudnya sampai sekarang.
Bulan Mei bagi sementara orang juga penting karena mulai dengan bulan rosario, mendoakan untaian rosario sebagai devosi kepada Ibu Maria. Devosi sebagai kebiasaan populer (baca: populis/ rakyat) di kalangan orang Kristiani (baca: Katolik) adalah tradisi di kalangan rakyat. Devosi yang masih tetap ada sampai sekarang merupakan kekayaan Gereja yang mungkin bagi sementara keluarga modern sudah tidak begitu diperhatikan. Devosi itu menuntut kesetiaan, keajegan, rutinitas, dan itu membosankan. Orang modern mudah bosan, maka devosi bukan hal yang menarik. Lama di hal yang sama itu tidak menarik. Lebih menarik adalah hal yang berubah-ubah atau bisa memilih. Apalagi pilihannya itu membawa keuntungan (materi) yang besar, itu akan menambah daya tarik walau tidak lama.
#buonagiornata#

No comments:
Post a Comment