Monday, May 27, 2024

Cari Enak

Suatu kali ada orang berkata, "mau cari tempat yang view-nya bagus koq selalu harus nanjak, bikin ga "pede" ke sana." Orang mau  liat pemandangan indah tidak bisa hanya dari medan yang enak dan nyaman saja. Itu baru hal sederhana dalam hidup. Belum lagi soal urusan detail dan sebutannya "thethek bengek". Aku ingat akan banyak hal yang selalu akan berurusan dengan ketidaknyamanan, deatil, rumit, kompleks, dan semacamnya. Apalagi urusan dengan manusia yang multi dimensi. Mengurus barang mungkin lebih mudah tetapi urusan yang harus dengan manusia itu pasti tidak sekali jadi. Urusan barang yang diurus manusia pun akhirnya juga ujung-ujungnya sama: ribet. Namun demikian, bukankah kita itu dipanggil dalam dan mengurus keribetan dalam hidup? (setidaknya itu pertanyaan tesis utamanya).

Aku pernah sinis dengan orang yang maunya merdeka tapi tidak mau ribetnya. Kemarin aku munculkan lagi dalam sebuah pertemuan dengan mengatakan " Emang enak merdeka itu?" Merdeka itu penuh keribetan, mulai dari nol, mulai dengan karut marut keadaan pasca perang, karut marut urusan manusia yang banyak maunya tapi tidak mau kerja kerasnya. Aku makin sadar bahwa hidup itu inginnya yang enak-enak doang, namun kerjanya tidak. Atau ada seorang guru yang pernah berkata, "Pestanya mau, cuci piringnya yang ogah." 

Mau lihat view dari atas bukit atau gunung pasti harus kerja keras naik, entah keberanian naik mobil nanjak atau naik gunung dengan bersusah payah jalan, angkut barang dan sebagainya. Tipe orang yang cari enaknya pasti akan bayar porter, atau naik mobil dan tinggal bayar jadinya saja. Tipe orang pejuang tentu mau bersusah payah jalan, menggendong tas, dan berjuang naik sampai bisa menikmati puncak dan melihat view dari atas. Mau ke sebuah pertapaan atau kastil di atas bukit atau gunung, di sana adalah tempat terisolasi supaya tidak diganggu banyak kesibukan dan kerunyaman, pastilah harus ada kerja keras untuk mewujudkannya. 

Hidup ini adalah pilihan. Tidak semua pilihan kita ambil. Pasti ada yang lain yang harus kita sisihkan. Pilihan itu mengandung resiko dan konsekuensi. Mau lihat pemandangan indah dari atas harus naik. Mau hidup dalam kesunyian maka harus menyingkirkan keramaian. Orang saat ini inginnya adalah memilih semua dengan cara "icip-icip". Banyak orang berbondong ke tempat-tempat ziarah dengan rombongan, lalu diadakanlah ziarah dan rekreasi. Maka itulah "icip-icip", menikmati tempat-tempat yang seharusnya sunyi namun masih nego dengan kerumunan dan keramaian. 

Ketika dalam sebuah komunitas banyak unsur bersinggungan sana sini, maka yang harus dibangun adalah banhwa hidup adalah urusan. Urusan perlu dikomunikasikan. Komunikasi adalah sarana membangun jalur dan rambu-rambu. Ketika yang dikomunikasikan tidak jelas rambu-rambunya, maka akan terjadi tabrakan. Ketika urusan itu bersinggungan satu dengan yang lain maka harus ada saling pengertian satu dengan yang lain. Yang jadi persoalan (kalau boleh disebut itu) adalah jika anggotanya adalah yang sulit berkomunikasi, tidak mau tahu soal rambu, yang penting jalan, maka pasti lambat atau cepat pasti ada tabrakan atau setidaknya srempetan. Dan srempetan itu karena adanya pengandaian. Memastikan di awal tidak terjadi. Karut marut terjadi. Seni hidup bersama adalah sebuah perjuangan untuk mengkomunikasikan segala sesuatu sampai tidak ada satu pertanyaan dari salah satu anggota. Itu saja sebenarnya. Namun demikian, untuk sampai ke sana, tidak semua orang paham dan sadar. Kadang ada yang merasa tak pentinglah untuk selalu mengkomunikasikan ini dan itu. Sedangkan akhirnya yang terjadi adalah kasak-kusuk atau "ngrasani" di belakang, karena saluran komunikasi tidak ada, cara mengkomunikasikan kurang dan banyak pengandaian. Kadang orang kurang rendah hati atau bahkan mala atau malah malu untuk berkomunikasi. Saluran mampet akhirnya. Jalan terjal itu makin berliku dan berbatu karena mampetnya saluran komunikasi. Ada yang mudah berkomunikasi namun tak sistematik. Ada yang tak mau berkomunikasi dan itu makin membawa tak adanya struktur jelas. Kerja keras berkomunikasi adalah perlunya struktur jelas, pesan sampai dengan jelas, tak ada penyelesengan pesan atau tafsiran macam-macam. 

Itulah yang aku urai mengenai keribetan manusia. Sebenarnya hanya soal komunikasi, tapi karena saking berbagai macam dimensi manusia, maka keribetan itu terjadi. Salah persepsi terjadi karena berbagai macam hal tadi. Oleh karena itu, memakai alat komunikasi yang ada di dalam tubuh kita ini perlu kita latihkan pula. Belum lancar memakai mulut, mata, dan telinga, tiba-tiba harus pakai jempol untuk berkomunikasi, maka akan banyak terjadi kekacauan. Namun ada pula yang sebaliknya jika sejak lahir sudah tuna wicara mungkin. Itu keadaan yang disebut anomali.  

Intinya bagiku adalah hidup ini memang ribet. Kita buat sederhana juga bisa. Namun kesederhanaan itu tidak muncul begitu saja sebelum kita masuk dalam keribetan hidup ini. Kemampuan seseorang merumuskan dengan sederhana itu pasti ia pernah mengalami hal dengan berbagai keribetan. Orang yang selalu ribet perlu berlatih hidup sederhana. Jadi kedua kutub itu perlu saling menyeimbangkan. Hidup ini perlu berani ribet, namun juga perlu sederhana. 


#morningtime#