Tahun ini, aku disodori pertandingan demi pertandingan. Di negaraku sendiri sedang ada pertandingan calon presiden dan wakilnya yang saling bertarung memperebutkan kemenangan kursi kepresidenan periode 2014-2019. Sedangkan dalam skala dunia saat ini aku juga tengah menyaksikan pertandingan demi pertandingan sepak bola antar negara di dunia, tentunya yang sudah melakoni dan lolos dalam babak kualifikasi sebelumnya. Piala Dunia di Brazil 2014 berlangsung dari tanggal 13 Juni-13 Juli 2014.Mengapa pertandingan ini membawaku untuk mencatat dalam tulisan ini? Pertama-tama, aku tertarik akan sebuah pertandingan karena ada dua kubu yang saling memperebutkan kemenangan. Oleh karena itu tim yang membawa kemenangan ini pun disebut tim pemenangan. Kedua, dalam sebuah pertandigan ada taktik yang harus dipakai untuk mengalahkan kubu yang lain. Taktik ini dibuat oleh tim maupun seorang pelatih. Ada pihak yang dianggap kompeten dalam membuat sebuah cara/jalan yang membawa pada sebuah tujuan yaitu kemenangan. Ketiga ada pelatih/tim sukses/tim pemenangan untuk membuat strategi tadi. Pihak ini akhirnya yang akan mengolah cara mempengaruhi publik atau situasi atau bahkan internal tim sendiri supaya dapat menaklukkan lawannya.
Perbedaannya sekarang, dalam pertandingan Piala Dunia adalah kemenangan di puncak dengan memboyong tropi/piala itu sendiri, sedangkan dalam pertandingan pemilu presiden adalah bahwa calon presiden dan wakilnya yang menang nanti masih harus membuktikan dalam kerja selama jangka tertentu untuk dapat menyejahterakan rakyat. Oleh karena itu, perbedaan inilah yang akhirnya membawaku ke tulisan ini sebenarnya. Di sini aku mau menunjuk prinsip hidup yang sering hilang dalam perjalanan kita. Ada sarana dan tujuan.
Hidup ini ada tujuan dan sarana. Tujuan dalam pertandingan bola adalah kemenangan, meraih tropi piala. Sedangkan dalam pemilihan presiden dan wakilnya adalah kesejahteraan bersama/bonum commune. Kemenangan pasangan capres bukanlah tujuan tetapi sarana untuk bonum commune. Oleh karena itu tujuan inilah yang perlu kupakai untuk patokan apakah "pertandingan"dalam pemilu capres ini cukup mengarah ke sana. Artinya, walau keduanya belum sama-sama bekerja sebagai presiden, namun dari program-program yang diutarakan, visi dan misinya, lalu pendukung dan perilaku selama kampanye apakah mengarah ke sana atau paling sedikit punya kehendak baik dan tulus untuk bonum commune. Yang tidak kalah penting adalah riwayat hidup kedua calon.
Mengapa aku sampai pada sebuah penilaian tentang riwayat hidup? Masa lalu tidak dapat dilupakan. Melupakan masa lalu hanya akan menyakiti hidup kita. Melupakan masa lalu tanpa mengolahnya berarti kita sebenarnya menolak diri kita sendiri yang selalu ada dalam tiga dimensi dahulu, kini dan masa depan. Bahkan tim-tim lawan dalam sepak bola juga akan melihat jejak sebuah tim dalam turnamen. Tim akan disegani jika pernah meraih juara dan sebaliknya, walau tak sepenuhnya ini menjamin. Di sini poinnya: di negara kita ini sistem pemilu masih harus diperbaiki. Bagaimana mungkin orang yang dinilai publik luas bermasalah hidupnya dapat mencalonkan diri dan lolos dalam kandidat seorang pemimpin publik? Itu poin yang sebenarnya ingin kutulis.
Seturut pengalamanku, dalam pemilihak ketua senat pun di sekolah, yang harus dibuat baku dan ketat adalah sistemnya. Sistem yang memungkinkan pihak-pihak ikut andil bagian namun juga tidak memungkinkan pihak yang studinya jelek (intelektualitas), raport sikapnya buruk (perilaku) dan kepemimpiannya kurang (leadership) tidak akan lolos sebagai kandidiat. Minimal 3 hal itu sebagai kriteria untuk pemilihan calon. Tahap yang lain adalah harus ada izin dari orangtua secara tertulis dan tes tertulis plus wawancara 3 tahap. Setelahnya dilakukan pelatihan kepemimpinan. Dalam pelatihan kepemimpinan pun masih ada catatan level kualitas kepemimpinannya. Itu yang pernah aku buat. Lha wong yang demikian pun masih banyak kekurangannya, apalagi tanpa itu. Perbaikan dan pembenahan sistem di negara ini merupakan kebutuhan mutlak secara pelan-pelan maupun cepat yang harus segera dijalankan.Alangkah akan menarik jika sistem sudah ada dengan baik dan dijalankan dengan konsekuen. Pertandingan pun akan berjalan dengan menarik pula. Pihak-pihak yang mendukung pun juga akan menjalankan dengan baik dalam niat yang baik pula. Segala macam cara yang tak terpuji sering terjadi karena sistem tidak kuat dan baik serta pelaku sistem tak konsisten. Masih ada muatan-muatan kepentingan pribadi atau golongan yang mengatakan bahwa "aku harus menang dengan segala cara". Itulah prinsip machiavellian, sebuah prinsip mencapai kemenangan yang ditawarkan oleh Nicolo Machiavelli dalam bukunya Il Principe.
Saat ini adalah saat hidupnya kinerja management yang kuat dengan sistem dan pelaku. Jika sistem dan pelaku kuat maka pengawalan dari awal, tengah dan akhir itu diharapkan juga kuat. Oleh karena itu pertandingan dapat dilihat dari tim yang ada. Apakah struktur tim dari lini belakang, tengah dan depan baik? Apakah persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi/pertanggungjawaban baik? Itu semua dapat dilihat dari kinerja saat ini dalam kampanye-kampanye yang ada. Kesalahan dan kekurangan tentu ada, namun apakah itu menjadi ciri khas atau hanya efek kekurangan dalam sistem? Nah, itu yang sebenarnya ingin kutulis saat ini. Dan aku hanya ingin mengungkapkan ini. Pertandingan, kompetisi bukan suatu yang hanya ingin cari menangnya tetapi di sanalah diriku dan pedukungku serta cara-caraku itu menunjukkan kualitas hidupku sebagai manusia (bermoral).* Competition brings me to write down this article. I just want to say about system and agent that make competition fairly. There are World Cup 2014 in Brazil and also general election for president in Indonesia between Prabowo-Hatta and Jokowi-JK.
#on Thursday evening in my room