Monday, March 27, 2017

Perang Hasil Pendidikan Nalar

Apa yang terjadi dalam masyarakat kita akhir-akhir ini saya menggarisbawahi persoalan nalar dalam kehidupan kita. Ada peperangan nalar dari satu ke pihak yang lain. Paradigma dipakai untuk sebuah hal tertentu yang sering saling mengacaukan namun juga saling mengoreksi. Adanya peperanan itu karena dipicu oleh hal tertentu. Bagaimana orang bisa mengatakan "kafir" bagi saudara yang lain walau itu seagama. Atau mengatakan "kafir" bagi saudaranya yang lain yang tidak seagama. Kalau yang kedua ini mungkin karena ada sebab yang lebih dalam dan eksistensial. Agama diperalat dalam kehidupan sebagai alat kekerasan (tertarik dengan tulisan Trias Kuncahyono dalam Kompas hari Minggu, 26 Maret 2017 berjudul "Adolf Eickman").

Persoalan yang sangat mencuat adalah peperangan nalar dalam Pilkada DKI tahun 2017 ini. Sebenarnya jika kita mau jujur dan sadar sepenuhnya, ini bukan soal PILKADA namun soal peperangan nalar dan peperangan antar manusia yang mengungkapkan hasil pendidikan selama ini. Orang yang mengatakan "kafir" kepada orang lain tentu ada hasil pendidikan di balik kata "kafir" yang ditanamkan dalam dirinya. "Kafir" mempunyai nuansa non muslim, yang menista agama (muslim), yang memakan babi, bangsa China atau Eropa, yang dekat dengan yang disebut sebelumnya itu. Oleh karena itu, makna "kafir" dalam khasanah perbendaharaan kata kita menjadi lebih spesifik. Kafir atau pagan sebenarnya hanya untuk mengatakan kaum di luar agamanya sebenarnya dan bukan lantas merembet ke kebangsaan tertentu, hasil dari budaya tertentu atau bahkan hal-hal yang berkaitan dengan praktik-praktik dari pribadi tertentu karena terimbas oleh daya kelompok tertentu atau bahkan pribadi tertentu.

Di sini ada loncatan yang terlalu jauh untuk memahami tuduhan seseorang menjadi "kafir" dalam pemahaman yang terlalu sempit tersebut.Ada kesenjangan pemhaman dan itu menjadi keprihatinan saya pribadi sampai sebuah pemahaman nalar harus dikurbankan dengan kebencian. Memang kebenaran nalar harus juga dibarengi dengan keyakinan namun keyakinan tanpa nalar dalam mempertanggungjawabkannya saya kira menjadi fanatisme sempit. Dan itulah yang sedang terjadi saat ini.Saya mengangkat bahwa situasi ini adalah peperangan hasil pendidikan nalar kita selama ini. Bahkan ketika Jokowi (presiden) mengatakan supaya agama dan politik harus dipisahkan pun masih dipahami sempit. Seolah seorang pelaku politik (pribadi manusia) tidak bisa memisahkan dirinya dari alam pikir berpolitik dengan keyakinan agamanya. Memang benar bahwa ada kelompok tertentu yang mengatakan bahwa agama adalah politik itu sendiri dan sebaliknya politik adalah agama itu sendiri. Oleh karena itu, sebenarnya ada paradigma (sekali lagi ini masalah nalar) bahwa ketika orang yakin akan paham tertentu dalam hidupnya, maka keyakinan itu dimasukkan dalam nalarnya untuk segala sesuatunya. Ketika ia bangun tidur sampai akan tidur lagi itu semua bercampur antara praktik politik dan berkeyakinan; ketika ia lahir sampai kematian menimpa dirinya itu adalah keyakinan dan politiknya. Di mana ketidaktepatan yang ada dalam praktik hidup semacam ini?

Kurangtepatnya adalah pada pencampuradukan ranah politik dan ranah agama. Mengapa itu kurang tepat? Ranah politik adalah ranah di mana seseorang mengusahakan kesejahteraan bersama sebagai satu komunitas dengan tujuan bonum commune (kebaikan bersama). Kebaikan bersama itu sifatnya universal. Orang tidak memandang suku, agama, status sosial dan sebagainya. Sedangkan ranah agama adalah ranah di mana orang itu mewadahi keyakinannya dengan wahana tertentu dengan label tertentu. Agama dengan keyakinan yang terwadahi dalam ajaran imannya tentu mengajarkan kebaikan. Jika ada ajaran yang kurang baik tentu manusianyalah yang membuatnya demikian. Ketika keyakinan itu dicampurkan dengan nalar politik maka akan terjadi kepentingan agama dijadikan kepentingan politik dan kepentingan politik dijadikan kepentingan agama. Ketercampuran kepentingan inilah yang jadi tidak tepatnya. Orang belum tentu akan mempunyai intensi yang sungguh murni, sehingga antara kepentingan agama dan politik dapat berjalan dengan murni pula tanpa ada kepentingan yang menunggangi. Intinya adalah pada person-nya. Ajaran agama dan ajaran politik bisa jadi baik adanya namun bisa jadi pribadi pelakunya yang kurang mampu mengakomodasi dengan kebaikan yang sama dan malah bisa jadi memakai agama dan politik untuk kepentingan tertentu.

Di sinilah nalar dan keyakinan itu harus saling mengoreksi dan mengkritisi, supaya tidak saling bercampur dalam ketidakjelasan. Dan yang terjadi di kalangan kita saat ini adalah luapan sebenarnya hasil sebuah pendidikan itu menjadi sangat memprihatinkan ketika nalar ternyata terkalahkan oleh hasil dari keyakinan yang fanatik dan ingin merusak daya nalar manusia. Nalar menjadi sebuah pertaruhan yang sungguh harus kita jaga kemurniannya karena ketika benteng nalar ini rusak dan jebol, maka kualitas kemanusiaan kita jadi terbelakang lagi. Orang diminta bunuh diri karena alasan keyakinan dan agama. Orang membunuh saudaranya dengan memakai simbol-simbol agama dan meneriakkan nama Tuhannya. Orang menindas sesamanya dengan dalih keyakinan dan agama. Itu semua yang kemudian menjadikan kita harus sadar sepenuhnya apa yang terjadi selama ini.

Oleh karena itu, pendidikan nalar selama ini ternyata banyak kegagalannya. Pendidikan oleh nagara maupun swasta tidak mengarah kepada pendidikan yang kritis dan membantu manusia untuk sungguh paham dengan dirinya dan dunia yang dihidupinya. Ke depan menjadi pekerjaan rumah adalah perwujudan untuk mendidik nalar manusia menjadi pribadi yang sungguh paham akan dirinya dan kritis akan apa yang dipahami, dihidupi dan apa yang harus dikerjakan. Pribadi yang sungguh mampu mengolah nalar dan keyakinan adalah pribadi yang sungguh paham akan hidup.




#Morning in my office#