Aku menyorot contoh-contoh itu sebagai yang memalukan sekaligus memilukan karena bisa saja dengan penampilan sok intelek dan sok elit, orang bisa saja tak punya akal sehat. Nalar selama ini hanya dicatat sebagai raport angka di selembar kertas sertifikat atau ijasah atau lembar nilai yang lain. Sedangkan cara berpikir yang konkrit dan dasariah saja koq rasanya runyam. Bertanya saja kita tidak mampu, bagaimana akan menjawab. Oleh karena itu, aku merasa bahwa entah dari mana akar dari ketercerabutan pendidikan nalar sehingga bangsa ini menjadi sedemikian dungu dan memilukan cara berpikirnya.
Sebagai contoh konkrit yang aku sendiri mengalami adalah saat SD sampai SMP, pelajaran PMP selalu identik dengan pelajaran yang harus menjawab dengan panjang lebar dan bagus-bagus. Artinya, dengan nilai bagus di PMP seolah "jaminan" moralnya juga bagus. Ternyata NONSENSE besar. Moralitas tidak identik dengan penjelasan panjang lebar bagus-bagus seolah-olah dengan mengerti atau tahu tentang yang baik itu dapat menjalankan yang baik pula. Ini salah satu contoh yang aku pandang juga mendasar di karakter bangsa ini.
Hal lain adalah kurangnya sambungan antara teori dan praktik dalam belajar. Asosiasi dalam proses pembelajaran di sekolah itu jarang dijalankan sehingga teori tinggal teori sehingga hanya hapalan akhirnya. Baik itu jurusan IPA dan IPS itu sejatinya hapalan. Sering dulu anak IPA menuduh kalau di IPS itu hanya belajar hapalan. Tidak menurutku. Semua pelajaran di sekolah itu hapalan karena pedagoginya tidak sampai pada membawa orang pada asosiasi dalam penalaran yang merangsang orang berpikir, bernalar. Di jurusan IPA, orang menghapal rumus-rumus kimia, matematika, fisika, dan yang lain. Di jurusan IPS, hapalannya banyak. Itu hal lain. Asosiasi ini terkait dengan bagaimana implementasi dari rumus atau konsep yang dipelajari. Akhir-akhir ini ada metode inquiri. Sebenarnya hal ini mau mengarah ke situ. Namun apa daya guru-guru kita selama ini banyak nerocos menjelaskan soal ini dan itu dari teori ke soal latihan. Atau teori hanya diberi daging satu contoh. Setelah itu, murid ditinggalkan dengan banyak pertanyaan yang menguap atau tertekan di batok kepalanya. Tidak ada diskusi. Tidak ada tanya jawab yang membuat diskursus saat belajar.
Ketidakmampuan bertanya karena represi guru terhadap murid menyebabkan kemandulan bernalar. Hal ini penting seperti yang diceritakan saudaraku tadi. Bertanya itu bagian dari belajar. Bertanya itu bagian dari ilmu pengetahuan. Tanpa bertanya maka tidak akan ada logika-logika bertahap yang menghasilkan penjelasan runut dan sistematis. Pertanyaan boleh tidak runut dahulu, namun keberanian bertanya itu sudah membawa orang memperhatikan yang sedang dipelajarinya. Pelajaran bertanya kiranya menjadi penting. Banyak mahasiswa yang bahkan tidak mampu bertanya sehingg skripsinya kacau, tidak selesai-selesai, merumuskan masalah saja tidak mudah. Ini menandakan bahwa bertanya itu penting. Sedang dalam budaya kita selama ini bertaya itu dominan dianggap tabu. Oleh karena itu, Romo Mangun membuat kebiasaan tiap hari Sabtu di Mangunan waktu itu ada pelajaran bertanya. Seharian itu untuk mencari pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang apa yang ingin ditanyakan, yang belum diketahui, dan tentu ada arahan bertanya dengan baik. Tidak ada pertanyaan bodoh, bagi beliau.
Bangsa ini akan makin menjadi dungu kalau hanya dinasehati dengan cekokan atau minuman agama yang soleh-soleh tapi semu. Nalar ditatapkan dengan norma-norma agama. Kalau terlalu kritis dengan memakai nalar lantas ditakut-takuti dengan hadiah surga atau neraka. Itu akan menambah semakin memalukan dan memilukan. Kesenjangan pendidikan terjadi di sana-sini. Pendidikan dari negara yang terdegradasi dan bahkan terkorupsi oleh mentalitas feodal dan normatif menjadikan pendidikan hanya formal belaka. Serba formalisme dalam pendidikan merusak esensi pendidikan yang membangun nalar. Pendidikan di Indonesia identik dengan seragamnya apa, buku paketnya apa, belum lagi keluhan pengajar: RPP-nya seperti apa, laporan ke Dinas seperti apa, akreditasinya harus berapa, dan sebagainya. Semua itu formalisme akut yang merusak nalar manusia Indonesia jadi dungu dan tumpul. Tau sopan santun hanya ketika suasana formal dan diharuskan. Namun ketika dalam keadaan sendiri, ya seenaknya sendiri. Semua buah dari formalisme feodal dan feodalisme formal.
Coba lihat ketika pejabat-pejabat atau birokrat berbahasa. Mereka akan "mundhuk-mundhuk" (Jawa sangat sopan) dan terkesan halus. Kemudian ada kata "mohon ijin, Komandan/Bapak/Yang terhormat". Dalam pidato pejabat, sapaan kepada Yth ini dan itu akan dua halaman sendiri. Isi pidato bahkan tidak jelas. Semua itu membikin mual dan muak.
Akhirnya, saat ini kita menuai badai. Badai itu bukan hanya soal covid-19 tetapi lebih pada cara mensikapi, cara menangani, cara menghadapi, cara bertindak mengobati, mencegah dan sebagainya. Selalu saja apa yang dibuat dalam kebijakan publik selalu saja identik dengan ketidakberesan. Setelah banyak yang tumbang, entah apa yang akan dilakukan kemudian. Mentalitas masih formalistik maka paling pulihnya keadaan bukan karena sistem pencegahan yang mantap tetapi karena alamiah saja. Mungkin baik jika dibiarkan saja banyak yang terseleksi oleh alam daripada kita mengeluhkan ini dan itu karena sistem mengandaikan cara berpikir yang matang, nalar yang sehat dan logika yang mau taat pada aturan. Biarkan angka kasus covid melonjak di Indonesia ini. Tentu nanti ada situasi melandai. Toh, nanti bangsa ini juga akan lupa bahwa pernah ada pandemi dan pernah ada yang mati. Bahkan yang matinya oleh manusia pun seolah tidak ingin diungkap lagi karena tidak ingin diungkap aibnya. Apalagi yang membunuh saat ini bukan manusia, ah...aku percaya akan segera dilupakan. Yang diingat adalah adanya covid-19 namun apa dan bagaimana itu, ah....masa bodoh tentu.
#di tengah pandemi#

