Wednesday, July 14, 2021

Bernalar dengan Akal Sehat

Beberapa waktu ini, aku selalu menjumpai kejadian yang sangat memalukan dan memilukan. Kejadian yang selalu terkait dengan akal alias nalar. Cara berpikir memang penting sekali dikedepankan daripada penampilan. Sore tadi, saudaraku cerita sedikit tentang orangtua yang pertemuan dengan guru-guru di sekolah yang baru. Sekolahnya adalah sekolah internasional. Bahasa pengantarnya tentu bahasa Inggris. Namun ketika sampai pada sesi tanya jawab, mungkin karena bahasa Inggris hanya satu atau dua orang yang bertanya. Itu hanya salah satu contoh terdekat. Contoh kedua, berkaitan dengan covid-19 ini, Indonesia sedang panen rekor kasus dan tentu penderitanya. Kabar publik tentu juga dari laporan harian dari data pemerintah yang tentu kredibel. Dari semula pun banyak orang yang pikirannya masih pro dan kontra. Namun kontranya pun di sini tanpa nalar. Semisal menganggap covid ini sebagai yang tidak ada. Banyak yang tidak percaya. Ketika terkena, lantas ngamuk-ngamuk. Bahkan ketika di pesawat pun seorang cendekia yang belajar di Cairo merasa tidak percaya bahwa covid ini sekedar dibesar-besarkan. Itu contoh lain juga.

Aku menyorot contoh-contoh itu sebagai yang memalukan sekaligus memilukan karena bisa saja dengan penampilan sok intelek dan sok elit, orang bisa saja tak punya akal sehat. Nalar selama ini hanya dicatat sebagai raport angka di selembar kertas sertifikat atau ijasah atau lembar nilai yang lain. Sedangkan cara berpikir yang konkrit dan dasariah saja koq rasanya runyam. Bertanya saja kita tidak mampu, bagaimana akan menjawab. Oleh karena itu, aku merasa bahwa entah dari mana akar dari ketercerabutan pendidikan nalar sehingga bangsa ini menjadi sedemikian dungu dan memilukan cara berpikirnya. 

Sebagai contoh konkrit yang aku sendiri mengalami adalah saat SD sampai SMP, pelajaran PMP selalu identik dengan pelajaran yang harus menjawab dengan panjang lebar dan bagus-bagus. Artinya, dengan nilai bagus di PMP seolah "jaminan" moralnya juga bagus. Ternyata NONSENSE besar. Moralitas tidak identik dengan penjelasan panjang lebar bagus-bagus seolah-olah dengan mengerti atau tahu tentang yang baik itu dapat menjalankan yang baik pula. Ini salah satu contoh yang aku pandang juga mendasar di karakter bangsa ini.

Hal lain adalah kurangnya sambungan antara teori dan praktik dalam belajar. Asosiasi dalam proses pembelajaran di sekolah itu jarang dijalankan sehingga teori tinggal teori sehingga hanya hapalan akhirnya. Baik itu jurusan IPA dan IPS itu sejatinya hapalan. Sering dulu anak IPA menuduh kalau di IPS itu hanya belajar hapalan. Tidak menurutku. Semua pelajaran di sekolah itu hapalan karena pedagoginya tidak sampai pada membawa orang pada asosiasi dalam penalaran yang merangsang orang berpikir, bernalar. Di jurusan IPA, orang menghapal rumus-rumus kimia, matematika, fisika, dan yang lain. Di jurusan IPS, hapalannya banyak. Itu hal lain. Asosiasi ini terkait dengan bagaimana implementasi dari rumus atau konsep yang dipelajari. Akhir-akhir ini ada metode inquiri. Sebenarnya hal ini mau mengarah ke situ. Namun apa daya guru-guru kita selama ini banyak nerocos menjelaskan soal ini dan itu dari teori ke soal latihan. Atau teori hanya diberi daging satu contoh. Setelah itu, murid ditinggalkan dengan banyak pertanyaan yang menguap atau tertekan di batok kepalanya. Tidak ada diskusi. Tidak ada tanya jawab yang membuat diskursus saat belajar. 

Ketidakmampuan bertanya karena represi guru terhadap murid menyebabkan kemandulan bernalar. Hal ini penting seperti yang diceritakan saudaraku tadi. Bertanya itu bagian dari belajar. Bertanya itu bagian dari ilmu pengetahuan. Tanpa bertanya maka tidak akan ada logika-logika bertahap yang menghasilkan penjelasan runut dan sistematis. Pertanyaan boleh tidak runut dahulu, namun keberanian bertanya itu sudah membawa orang memperhatikan yang sedang dipelajarinya. Pelajaran bertanya kiranya menjadi penting. Banyak mahasiswa yang bahkan tidak mampu bertanya sehingg skripsinya kacau, tidak selesai-selesai, merumuskan masalah saja tidak mudah. Ini menandakan bahwa bertanya itu penting. Sedang dalam budaya kita selama ini bertaya itu dominan dianggap tabu. Oleh karena itu, Romo Mangun membuat kebiasaan tiap hari Sabtu di Mangunan waktu itu ada pelajaran bertanya. Seharian itu untuk mencari pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang apa yang ingin ditanyakan, yang belum diketahui, dan tentu ada arahan bertanya dengan baik. Tidak ada pertanyaan bodoh, bagi beliau. 

Bangsa ini akan makin menjadi dungu kalau hanya dinasehati dengan cekokan atau minuman agama yang soleh-soleh tapi semu. Nalar ditatapkan dengan norma-norma agama. Kalau terlalu kritis dengan memakai nalar lantas ditakut-takuti dengan hadiah surga atau neraka. Itu akan menambah semakin memalukan dan memilukan. Kesenjangan pendidikan terjadi di sana-sini. Pendidikan dari negara yang terdegradasi dan bahkan terkorupsi oleh mentalitas feodal dan normatif menjadikan pendidikan hanya formal belaka. Serba formalisme dalam pendidikan merusak esensi pendidikan yang membangun nalar. Pendidikan di Indonesia identik dengan seragamnya apa, buku paketnya apa, belum lagi keluhan pengajar: RPP-nya seperti apa, laporan ke Dinas seperti apa, akreditasinya harus berapa, dan sebagainya. Semua itu formalisme akut yang merusak nalar manusia Indonesia jadi dungu dan tumpul. Tau sopan santun hanya ketika suasana formal dan diharuskan. Namun ketika dalam keadaan sendiri, ya seenaknya sendiri. Semua buah dari formalisme feodal dan feodalisme formal. 

Coba lihat ketika pejabat-pejabat atau birokrat berbahasa. Mereka akan "mundhuk-mundhuk" (Jawa sangat sopan) dan terkesan halus. Kemudian ada kata "mohon ijin, Komandan/Bapak/Yang terhormat". Dalam pidato pejabat, sapaan kepada Yth ini dan itu akan dua halaman sendiri. Isi pidato bahkan tidak jelas. Semua itu membikin mual dan muak.

Akhirnya, saat ini kita menuai badai. Badai itu bukan hanya soal covid-19 tetapi lebih pada cara mensikapi, cara menangani, cara menghadapi, cara bertindak mengobati, mencegah dan sebagainya. Selalu saja apa yang dibuat dalam kebijakan publik selalu saja identik dengan ketidakberesan. Setelah banyak yang tumbang, entah apa yang akan dilakukan kemudian. Mentalitas masih formalistik maka paling pulihnya keadaan bukan karena sistem pencegahan yang mantap tetapi karena alamiah saja. Mungkin baik jika dibiarkan saja banyak yang terseleksi oleh alam daripada kita mengeluhkan ini dan itu karena sistem mengandaikan cara berpikir yang matang, nalar yang sehat dan logika yang mau taat pada aturan. Biarkan angka kasus covid melonjak di Indonesia ini. Tentu nanti ada situasi melandai. Toh, nanti bangsa ini juga akan lupa bahwa pernah ada pandemi dan pernah ada yang mati. Bahkan yang matinya oleh manusia pun seolah tidak ingin diungkap lagi karena tidak ingin diungkap aibnya. Apalagi yang membunuh saat ini bukan manusia, ah...aku percaya akan segera dilupakan. Yang diingat adalah adanya covid-19 namun apa dan bagaimana itu, ah....masa bodoh tentu.


#di tengah pandemi#


  

Monday, July 12, 2021

Ketika "Travelling is Suffering"

Di saat berangkat ke bandara, aku sudah yakin tapi juga memikirkan sesuatu. Temanku yang akan ke Manila pun mengalami penundaan dan akhirnya menglihkan tujuan ke Cebu. Ketika aku menulis ini ceritanya sudah lain, karena dia juga dibatalkan atau ditolak perjalanan ke Cebu. Dalam hati aku sudah mengatakan bahwa "travelling is suffering now." Aku padahal sudah kontak dia di saat aku sudah ada di cabin pesawat yang mau membawaku terbang. Aku membayangkan dia juga dalam perjalanan ke bandara atau sedang check in atau ruang tunggu, tetapi belum ada balasan sampai hari berikutnya dia mengatakan: "Welcome to your contry. Me, I am still in Canisio. Refused boarding yesterday. Looooong story, I will tell you why when I am ready. Now very stressed." Aku hanya menjawab bahwa itu menyedihkan dan aku akan mendoakanmu". 

Apa yang kubayangkan kemarin mungkin hampir saja terjadi padaku. Ketika petugas check in menanyai salah satu penumpang dari Jepang di depanku dan sempat berdebat lama sampai dia harus menyelesaikan permasalahannya, aku akhirnya juga mendapat giliran check in dengan berdegup-degup, "Jangan-jangan persyaratanku juga belum beres". Ketika aku ditanyai petugas, aku mencoba menjelaskan dan memberi apa yang dimaui. Aku persiapkan seluruh senjata dokumen yang ada. Bahkan kalau itu menyangkut kebijakan negara, aku siapkan dengan print beberapa dokumen.

Akhirnya aku lolos dari tahap check in. Tahap selanjutnya adalah security check, aku coba patuhi dan lolos. Tidak ada barang yang membuat alarm berbunyi saat discan. Tas-tas pun tidak ada barang berbahaya. Lolos juga akhirnya dari tahap security check. Selanjutnya adalah tahapan imigrasi, maka aku hanya memberi passport yang ada visanya. Sempat ditanya petugas, "Hanya visa?". Aku menjawab "iya". Lalu dicaplah. Lolos juga tahap imigrasi. Lalu sampailah di toko/ souvenir shops. Aku hanya membayangkan nanti ada regulasi yang harus berbelit di dalam negeri, maka aku tidak banyak belanja. Namun bersyukur bahwa sampai atas di ruang tunggu pun juga lolos dan bisa masuk pesawat dengan nyaman. Saat sebelum transit, perjalanan nyaman, karena relatif kosong.

Pengalaman lain adalah di saat transit. Aku sudah melihat hal yang tidak mengenakkan. Kerumunan orang-orang kita sudah kelihatan aslinya. Kita sebagai bangsa yang bergerombol, suka "ubyang-ubyung" (dalam bahasa Jawa: bergerombol ke sana ke mari). Sepertinya sebagai pribadi, kita ini bangsa yang minder untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Dengan bergerombol, orang menjadi pemberani dan berkuasa. Dengan bergerombol, orang jadi tidak memperhatikan sekitar. Dengan bergerombol, orang bersembunyi dalam anonimitas. Itulah kata lain dari tidak bertanggungjawab. Dan benar apa yang terjadi saat di pesawat, mau duduk saja masih mencari-cari nomer kursi, membawa bawaan per orang lebih dari 1 tas. Akibatnya bagasi cabin menjadi penuh sesak. Waktu untuk boarding jadi lama. Belum lagi pelanggaran lain yaitu tidak memakai masker dengan baik sehingga pramugari harus mengingatkan terus.

Hal yang sama pun terjadi saat terbang. Pramugari harus mengingatkan supaya masker dipakai. Dan saat mendarat, aku sudah memastikan kekacauan pasca penerbangan, yaitu kabin penuh dengan sampah berserakan di bawah kursi. Kesan jorok itu sungguh asli karakter orang-orang yang seperjalanan denganku. Itulah bangsaku, saudara-saudaraku.

Saat di bandara dalam negeri, ketidaknyamanan lain pun terjadi. Antrean panjang untuk mengurus kelengkapan dokumen terjadi. Baik penumpang maupun petugas bandara juga kulihat pelayanan tidak profesional. Tidak ada kerapian. Orang tidak mudah antre dan jaga jarak. Kedisiplinan pun minim. Sekali lagi itulah bangsaku, saudaraku. Sifat jorok juga dipertontonkan di saat antrean. Kadang sampah dan menyampah sering terlihat. Walau ada peringatan soal penipuan karantina di bandara, aku tidak percaya pada peringatan itu, karena yang membuat peringatan juga penjahatnya. Aku percaya pada kejahatan sistematis dan itu sebenarnya dipertontonkan di bandara. 

Oleh karena itu, covid-19 ini memberi pelajaran berharga. Namun sementara orang masih saja belum belajar untuk itu. Bangsa yang besar selalu juga bangsa yang besar dengan permasalahannya. Oleh karena itu, aku tidak lagi bangga menjadi bangsa yang besar. Itu nonsense belaka. Ketika orang semaunya sendiri, antre tidak mau, belajar tidak mau, bertanggung jawab tidak bisa, entah mau jadi apa bangsa ini. Aku serba mengeluh karena aku punya impian. Impian itu adalah bangsa ini maju pemikirannya. Bangsa ini menjadi bangsa yang bertanggung jawab. Bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik dan jujur. Semoga dengan itu semua bisa membangun sistem kehidupan yang juga sama: jujur, tertata, dan bertanggung jawab. Mengakui sakit covid-19 saja tidak mudah karena rasa malu, minder, takut disalahkan, namun tidak sadar bahwa itu semua tidak bertanggung jawab kalau menulari yang lain. 

Tulisanku kali ini hanya mau berbincang soal itu saja. Selebihnya, aku juga mendapatkan pengalaman dengan orang Philipin yang ketemu di bandara dan cerita bahwa dirinya baru kali ini travelling sendiri. Biasanya dengan grupnya, dan ini pengalaman berharga karena tahu kalau shampo harus ditaruh dibagasi bukan dibawa ke cabin, karena akan dibuang oleh petugas...hahahaa....dalam hal ini aku tertawa. 


#noon time in quarantine#