Monday, July 12, 2021

Ketika "Travelling is Suffering"

Di saat berangkat ke bandara, aku sudah yakin tapi juga memikirkan sesuatu. Temanku yang akan ke Manila pun mengalami penundaan dan akhirnya menglihkan tujuan ke Cebu. Ketika aku menulis ini ceritanya sudah lain, karena dia juga dibatalkan atau ditolak perjalanan ke Cebu. Dalam hati aku sudah mengatakan bahwa "travelling is suffering now." Aku padahal sudah kontak dia di saat aku sudah ada di cabin pesawat yang mau membawaku terbang. Aku membayangkan dia juga dalam perjalanan ke bandara atau sedang check in atau ruang tunggu, tetapi belum ada balasan sampai hari berikutnya dia mengatakan: "Welcome to your contry. Me, I am still in Canisio. Refused boarding yesterday. Looooong story, I will tell you why when I am ready. Now very stressed." Aku hanya menjawab bahwa itu menyedihkan dan aku akan mendoakanmu". 

Apa yang kubayangkan kemarin mungkin hampir saja terjadi padaku. Ketika petugas check in menanyai salah satu penumpang dari Jepang di depanku dan sempat berdebat lama sampai dia harus menyelesaikan permasalahannya, aku akhirnya juga mendapat giliran check in dengan berdegup-degup, "Jangan-jangan persyaratanku juga belum beres". Ketika aku ditanyai petugas, aku mencoba menjelaskan dan memberi apa yang dimaui. Aku persiapkan seluruh senjata dokumen yang ada. Bahkan kalau itu menyangkut kebijakan negara, aku siapkan dengan print beberapa dokumen.

Akhirnya aku lolos dari tahap check in. Tahap selanjutnya adalah security check, aku coba patuhi dan lolos. Tidak ada barang yang membuat alarm berbunyi saat discan. Tas-tas pun tidak ada barang berbahaya. Lolos juga akhirnya dari tahap security check. Selanjutnya adalah tahapan imigrasi, maka aku hanya memberi passport yang ada visanya. Sempat ditanya petugas, "Hanya visa?". Aku menjawab "iya". Lalu dicaplah. Lolos juga tahap imigrasi. Lalu sampailah di toko/ souvenir shops. Aku hanya membayangkan nanti ada regulasi yang harus berbelit di dalam negeri, maka aku tidak banyak belanja. Namun bersyukur bahwa sampai atas di ruang tunggu pun juga lolos dan bisa masuk pesawat dengan nyaman. Saat sebelum transit, perjalanan nyaman, karena relatif kosong.

Pengalaman lain adalah di saat transit. Aku sudah melihat hal yang tidak mengenakkan. Kerumunan orang-orang kita sudah kelihatan aslinya. Kita sebagai bangsa yang bergerombol, suka "ubyang-ubyung" (dalam bahasa Jawa: bergerombol ke sana ke mari). Sepertinya sebagai pribadi, kita ini bangsa yang minder untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Dengan bergerombol, orang menjadi pemberani dan berkuasa. Dengan bergerombol, orang jadi tidak memperhatikan sekitar. Dengan bergerombol, orang bersembunyi dalam anonimitas. Itulah kata lain dari tidak bertanggungjawab. Dan benar apa yang terjadi saat di pesawat, mau duduk saja masih mencari-cari nomer kursi, membawa bawaan per orang lebih dari 1 tas. Akibatnya bagasi cabin menjadi penuh sesak. Waktu untuk boarding jadi lama. Belum lagi pelanggaran lain yaitu tidak memakai masker dengan baik sehingga pramugari harus mengingatkan terus.

Hal yang sama pun terjadi saat terbang. Pramugari harus mengingatkan supaya masker dipakai. Dan saat mendarat, aku sudah memastikan kekacauan pasca penerbangan, yaitu kabin penuh dengan sampah berserakan di bawah kursi. Kesan jorok itu sungguh asli karakter orang-orang yang seperjalanan denganku. Itulah bangsaku, saudara-saudaraku.

Saat di bandara dalam negeri, ketidaknyamanan lain pun terjadi. Antrean panjang untuk mengurus kelengkapan dokumen terjadi. Baik penumpang maupun petugas bandara juga kulihat pelayanan tidak profesional. Tidak ada kerapian. Orang tidak mudah antre dan jaga jarak. Kedisiplinan pun minim. Sekali lagi itulah bangsaku, saudaraku. Sifat jorok juga dipertontonkan di saat antrean. Kadang sampah dan menyampah sering terlihat. Walau ada peringatan soal penipuan karantina di bandara, aku tidak percaya pada peringatan itu, karena yang membuat peringatan juga penjahatnya. Aku percaya pada kejahatan sistematis dan itu sebenarnya dipertontonkan di bandara. 

Oleh karena itu, covid-19 ini memberi pelajaran berharga. Namun sementara orang masih saja belum belajar untuk itu. Bangsa yang besar selalu juga bangsa yang besar dengan permasalahannya. Oleh karena itu, aku tidak lagi bangga menjadi bangsa yang besar. Itu nonsense belaka. Ketika orang semaunya sendiri, antre tidak mau, belajar tidak mau, bertanggung jawab tidak bisa, entah mau jadi apa bangsa ini. Aku serba mengeluh karena aku punya impian. Impian itu adalah bangsa ini maju pemikirannya. Bangsa ini menjadi bangsa yang bertanggung jawab. Bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik dan jujur. Semoga dengan itu semua bisa membangun sistem kehidupan yang juga sama: jujur, tertata, dan bertanggung jawab. Mengakui sakit covid-19 saja tidak mudah karena rasa malu, minder, takut disalahkan, namun tidak sadar bahwa itu semua tidak bertanggung jawab kalau menulari yang lain. 

Tulisanku kali ini hanya mau berbincang soal itu saja. Selebihnya, aku juga mendapatkan pengalaman dengan orang Philipin yang ketemu di bandara dan cerita bahwa dirinya baru kali ini travelling sendiri. Biasanya dengan grupnya, dan ini pengalaman berharga karena tahu kalau shampo harus ditaruh dibagasi bukan dibawa ke cabin, karena akan dibuang oleh petugas...hahahaa....dalam hal ini aku tertawa. 


#noon time in quarantine#

No comments:

Post a Comment