Manusia itu biasanya rempong dengan dirinya. Baru dengan dirinya sendiri aja sudah rempong, apalagi dengan orang lain. Biasanya akan menambah rempongnya persoalan dan urusan. Kebanyakan dari kita sering tidak sadar dan tidak mau sadar dengan diri sendiri. Apalagi kalau kelakuan sudah menjadi kebiasaan yang tak disadari maka apapun yang kulakukan adalah ketidaksadaranku. Orang biasanya hanya mengandalkan kemampuan diri yang sebenarnya di balik itu ada kerapuhan juga. Orang yang kerjaanya bagus dan rapi, di balik itu ada juga (kadang) kecenderungan perfeksionis. Perfeksionis itu bukan hal yang baik walau tampilan yang dibuatnya baik, karena itu adalah kebutuhan psikologis yang justru bisa membunuh dirinya dan orang lain. Seorang yang perfeksionis bisa jadi akan banyak mengatur dan ingin mengontrol semua hal. Siapa yang akan tahan dengan hal itu?
Banyak di antara kita melihat fenomena di luaran (tampilan) kadang tidak selalu sama dengan yang ada di dalamnya. Maka ada ungkapan "jangan menilai dari bungkusnya". Kembali ke orang yang perfeksionis tadi, bisa saja bungkusnya adalah kerapian dan ketertataan dalam segala. Namun demikian bisa saja hal itu adalah penyakit patologis dalam dirinya yang ingin mengungkapkan sisi ritualisme obsesifnya. Memang aku sendiri tak boleh menghakimi begitu saja kecenderungan spontan melihat penampilan seseorang. Nah, yang perlu dilihat lagi adalah bahwa kita bisa menilai seseorang dari dalamnya adalah ketika sudah hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika hanya melihat sebentar, itu belum kelihatan. Hidup bersama dan kerja bersama biasanya akan membantu melihat keaslian seseorang dari perilaku dan cara bertindaknya.
Aku ingat akan seorang aktivis yang heroik membela kebenaran dan keadilan. Obsesinya adalah memang jika melihat ketidakadilan lalu ia akan melawan. Bahkan ia berani bertarung secara fisik. Bahkan seperti Moses yang melihat ada mandor memukuli budaknya dan akhirnya ia membunuh mandor Firaun itu. Si aktivis ini akhirnya berefleksi dalam hidupnya. Ia mengatakan bahwa memang ketika dia melihat ketidakadilan yang ada adalah inginnya melawan dan perangai pemberontak itu muncul. Ia ingat masa kecilnya yang memang melihat kejadian traumatis baginya. Keluarganya dipersekusi oleh seseorang yang berkuasa dan dikucilkan. Posisi tinggi dalam pemerintahan, akhirnya hancur karena persekusi itu dan dijadikan tahanan politik. Karier bapaknya menjadi hancur. Memang tidak sampai dibunuh bapaknya oleh seorang yang berkuasa itu, tetapi kehidupan keluarganya hancur karena hal itu.
Ia cukup lama melihat proses kejadian itu dari SD sampai ia dewasa. Keluarganya selalu menjadi incaran intel karena tragedi masa lalu. Walau situasi negara sudah berbeda politiknya, namun labeling dan trauma itu masih terbawa oleh keluarganya. Bahkan dirinya pun mengalami trauma yang cukup lama. Mencuatnya heroisme untuk melawan setiap ketidakadilan itu terus menjadi obsesinya. Ia mempunyai banyak jaringan yang aktif mengadakan advokasi dan pembelaan pada kalangan tersingkir yang ditindas orang-orang yang berkuasa. Ia sangat getol menyuarakan kebenaran untuk membela keadilan, bahkan ia pun sempat jadi incaran orang-orang sewaan pihak yang ia lawan.
Ada sisi-sisi heroisme itu tentu bukan karena situasi eksternal yang memang mendukung. Sisi internal seseorang juga mempengaruhi dirinya. Memang jika obsesi itu tak terselesaikan dengan mengolah dan mengintegrasikannya dalam hidup, biasanya akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri. Namun masa tua juga tidak bisa dipungkiri. Usia tua akhirnya membuatnya tak bisa lagi seheroik dulu, apalagi dengan sakitnya. Heroisme itu memang ada masanya. Ketika muda itu orang bisa saja menjadi heroik dan itu luar biasa. Namun jika sampai tua ingin merasa heroik, ya itu malah seperti orang gila.
Yang mau kukatakan di sini adalah dalam diri manusia ada kerapuhannya. Kerapuhan ketika bertemu kerapuhan yang lain tentu akan ada aksi dan reaksi. Bisa saja orang itu bisa berelasi sepadan. Bisa saja orang berelasi tidak sepadan dan cenderung mengalahkan dan dikalahkan. Ada relasi-relasi yang tidak sepadan karena di sana ada posisi atau otoritas tertentu yang ia miliki dan menjadi penentu akan sebuah hal. Misalnya saja seorang guru dan murid. Guru tentu punya otoritas tinggi karena ia bisa mendidik muridnya. Murid menerima didikan guru. Nah, sering kali karena penyalahgunaan otoritas ini, maka terjadilah abuse. Abuse itu terjadi dalam urusan manusia dengan manusia yang lain. Di sana ada perjumpaan kerapuhan dan kerapuhan. Jika guru itu mendidik murid dengan biasa dan tidak aneh-aneh yang menyebabkan murid itu tidak dikorbankan atau diserang, maka tidak akan ada komplain. Namun bisa saja guru itu mendidik dengan kekerasan, sering memukul, atau meraba-raba murid perempuan, hal itu sudah bisa menjadi abuse. Bahkan dalam urusan itu, guru yang tidak memakai cara pedagogi dan metodologi yang benar pun bisa diperkarakan dan dituduh "abuse". Misalnya, terlalu menjejali murid dengan PR yang banyak namun tidak pernah dikoreksi dan dikembalikan. Hasilnya tidak pernah diumumkan. Belum lagi jika ada perbedaan persepsi antara orangtua dan pihak guru atau sekolah. Hal seperti ini akan memunculkan kerempongan-kerempongan yang lain.Oleh karena itu, saat ini kita perlu berhati-hati dan bijaksana. Bertindak bijaksana dan sesuai dengan kode etik profesi yang kita jalani itu perlu. Kita bukan bertindak atas dasar ketakutan (fear) namun mau bertindak seprofesional mungkin sehingga tidak melanggar batas wewenang kita. Seorang tukang kebon tidak akan bertindak seolah-oleh guru kelas. Guru kelas tidak akan bertindak seolah-olah kepala sekolah. Itulah sebabnya bertindak sesuai koridor dan kewenangan itu perlu dalam konteks sebuah lembaga tertentu dengan aturan main tertentu. Sadar akan hal ini, kita perlu menjaga agar urusan kita tidak tumpang tindih. Kita juga tidak melanggar batas yang ada sehingga tidak menjadi pelaku abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan).
Apa yang kupikirkan dalam tulisan sebelum ini ("Ruang Celah") terbukti. Ada ormas yang sangat abusive sejak kelahirannya. Atau bahkan identitasnya sebenarnya adalah kekuasaan itu sendiri. Saat ini ormas itu dituntut banyak orang untuk dibubarkan. Namun masih ada pihak-pihak yang membela atau menyayangkan kalau dibubarkan. Alasanya ada-ada saja, seperti karena ormas itu melahirkan atau di dalamnya ada orang-orang penting dalam pemerintahan negeri ini. Nah, kalau ada orang-orang penting emangnya tidak bisa dibekukan atau dibubarkan? Memang, pembubaran itu tidak semudah membalik telapak tangan. Mereka butuh mengubah orientasi dulu. Jika gagal dalam reorientasi, maka layaklah mereka disebut bedebah. Sekali lagi urusan manusia itu selalu terkait dengan kekuasaan.
#morning time#
