Friday, January 26, 2018

Attentive

Persoalannya ada pada hati dan telinga. Namun demikian, dalam pengalamanku itu membuat seluruh hidup kadang tidak berjalan pada rel-nya. Aku mengangkat soal atensi, attentiveness, atau bisa saja dikatakan soal perhatian. Mengapa ini penting? Mengapa ini kutulis di awal tahun ini? Problem ini kuangkat karena memang zaman ini tidak mudah bagi siapapun untuk attentive mendengar, memerhatikan, mengamati, peduli, dan sebagainya. Attentiveness sebagai alat bantu menerima diri dan sesama pun sangatlah mahal. Aku merasakan beberapa fenomena yang serupa; bagaimana orang tidak mudah untuk mengikuti arahan atau petunjuk; di jalan orang tidak perhatian membaca atau perhatian pada TANDA; dalam sebuah mall tidak dengan mudah orang menemukan PETUNJUK peta dari mall ini, dan sebagainya. Bahkan seorang superior sekalipun tidak mudah untuk attentive dengan pekerjaan dari atasan ataupun anak buahnya. Seringkali yang ada dalam diri kita hanyalah apa yang kumau, kupikir, kuperhatikan, dan yang kuinginkan saja. Perkara lain di luar diriku kuanggap tidak penting. Itulah kekurangan sisi attentivitas.

Kurang peduli ini yang menjadikan orang tidak taat. Tidak taat bukan sekedar dengan orang atau pemimpin di atasnya namun juga tidak taat dengan sistem yang dihidupinya. Aku makin menjadi yakin bahwa problem utama orang tidak taat bukan karena tidak cocok pada sosok yang di atasnya namun sebenarnya soal tidak punya attentiveness ini. Pertanyaannya mengapa tidak ada attentiveness? Penyakit manusia sejak awal adalah karena ia hanya ingin hidup dengan aturan yang ia punya. Atau dengan lain kata, ia tidak mau diatur oleh apapun dan siapapun. Bahkan kalau jujur sekalipun orang perlu Pencipta sekalipun. Pencipta dan yang menentukan hidupnya hanyalah pihak yang terlalu membatasi dirinya. Pencipta dan pengatur hendaknya "dibunuh" agar ia mampu berkuasa. Setelah aku hidup, hanya akulah yang berkuasa atas hidupku dan kalau bisa hidup orang lain.

Orang tidak taat karena ia ingin berkuasa. Ketika tidak punya rasa peduli pada orang lain maka di sanalah rongrongan keinginan untuk berkuasa itu besar. Orang mudah cuek dan mudah sekali tidak perhatian pada sesama. Atau ekstrem lain yang ada adalah bahwa karena ia punya kemampuan yang lebih maka ia tidak segan-segan memanfaatkan pihak lain demi kepentingan dirinya. Problem yang dialami seorang pemimpin ketika menghadapi berbagai anggota adalah harus berani berhadapan dengan kelompok-kelompok keras dengan kemampuan intelektual tinggi, berhadapan dengan mereka yang kemampuannya rata-rata, dan mereka yang kemampuannya di bawah rata-rata. Itu pun masih dengan berbagai kehendak masing-masing yang serba tak beraturan. Dengan berbagai dalih yang ada, di sanalah seorang pemimpin itu diuji kemampuannya.

Ketika mengajak untuk berbuat sesuatu pun tidak mudah mengarahkan pada kehendak yang ada pada diri pemimpin itu sendiri. Pemimpin pun harus pandai-pandai melihat situasi yang ada pada kelompok tertentu yang tengah dihadapinya. Bisa jadi kelompok yang satu bisa diarahkan ke sana namun belum tentu dengan jalan yang sama di kelompok yang lain. Kejelian melihat karakter kerumunan ini penting. Mengarahkan pada tujuan yang sama dengan cara yang berbeda pantas dibuat juga.

Saat aku harus terbaring sebentar karena kecapaian, aku merenungkan hal ini. Betapa tidak mudah untuk attentive pada sebuah hal besar yang diajakkan oleh seorang pemimpin sekalipun itu pemimpin yang kalibernya Jendral (pemimpin umum). Ketika usaha untuk mengajak membaca keprihatinan seorang pemimpin diadakan, tidak semua menanggapi dengan antusias. Tidak semua punya sikap attentive. Semua hanya peduli dengan pekerjaanku. Semua hanya terpusat pada ideku. Semua hanya maunya sendiri. Dan kurasakan betapa krisis ketaatan ini sungguh kuat. Dari hal ini, aku lantas bertanya pada diriku: haruslah bagaimana membaca ketaatan orang pada zaman ini? Semakin orang maju dengan pemikiran dan sarananya, semakin orang tidak mudah diajak untuk merdeka dan mau attentively listening, caring, and thinking. Benarlah perkataan ini: " Kalian mendengar namun tidak mengerti, kalian melihat namun tidak percaya." Itulah persoalan ketiadaan attentiveness pada diri seseorang.

Ini soal serius yang bukan hanya kupikir dan kurasakan sat bed rest. Ini adalah tantangan sekian manusia yang masih menghuni planet biru yang bernama bumi ini. Orang makin rakus dengan keinginannya. Orang makin membangun sekat dalam dirinya dan tak peduli dengan yang lain.  Orang makin mengumbar nafsu perang dengan yang lain. Di sisi lain makin banyak orang tidak peduli lagi karena ada trauma masa lalu yang menyangkut hal personal dan itu sangat menyakitkan. Adanya keterpecahan dalam dunia ini makin membawa orang tidak lagi peduli satu sama lain. Sakitnya dunia ini bukanlah soal penyakit fisik namun lebih pada penyakit kronis mentalitas batiniah. Ada krisis spiritual di sana yang tidak boleh diabaikan. Maka dibutuhkanlah rekonsiliasi, pertobatan mulai dari diri, komunitas dan akhirnya lembaga. Inilah yang perlu diusahakan.


#noon time#