Bulan Agustus tahun ini sudah mulai akan berkahir. Namun yang namanya persoalan di negeri ini tidak kunjung selesai. Entah itu yang isunya internal, entah itu yang katanya dipengaruhi oleh kekuatan penumpang gelap. Namun tentu antara internal dan eksternal selalu saja ada kaitanya. Persoalan internal yang mau melepaskan diri dan merdeka itu akan selalu saja ada ketika kekuatan dari dalam itu belum solid. Ujian nyata dalam hidup keseharian adalah ujian bagi hidup interior kita sebenarnya, maka tidak mengherankan bahwa diri interior kita ini sering kali masih terrusak oleh kekuatan-kekuatan lain entah sadar atau tidak kita sadari. Aku sendiri melihat bahwa bangsa ini belum selesai dan belum kelar dengan berbagai pergulatannya. Sekian lama terkurung dalam imperialisme dan penindasan, lahir berjuang pun masuk kembali dalam kurungan tirani kediktatoran. Ketika sebuah bangsa belum sadar akan keberadaannya sudah keburu terdampak oleh penindasan, maka kemerdekaan pun masih dari harapan. Kemerdekaan masih ada dalam utopia, dunia harapan dan ideal. Kemerdekaan sejati masihlah merupakan cita-cita nun jauh di sana.Beberapa saat lalu aku dan saudaraku berdiskusi bersama di WhatsApp. Setelah ngobrol ngalor ngidul, muncullah perbincangan mengenai perayaan 17an. Kami memang sama-sama tidak suka protokoler. Kami suka apa adanya, walau kadang ada perbedaan namun kecil. Lalu tiba-tiba dia mengatakan bahwa aku sebel dengan protokoler, perayaan yang menghabiskan waktu, dana, dan menguras emosi karena harus ini dan itu. Harus bersama pasangan karena di dalam sebuah institusi, ada perayaan ini dan itu yang "gak banget deh", harus pakai pakaian adat yang dipaksakan,tidak otentik, karena hanya tuntutan "bendoro dinas" alias tututan formal kantor yang adalah milik negara. Dan kebanyakan dari semua itu, perayaan hanya sebuah formalisme semu. Perayaan hanya protokoler. Itu diadakan karena sebuah instruksi terstruktur, yang harus diadakan. Semua harus seragam. Semua harus memiliki ini dan itu. Semua harus sama dari warna dan coraknya. Saudaraku memang tidak suka yang seperti itu. Dan lebih baik mengisi waktu dengan belajar dan membaca buku daripada berramai-ramai dalam seremoni "murahan" yang memakan biaya mahal. Aku pun muak. Bangsa ini adalah bangsa yang gaduh.
Ketika hari Minggu itu ke luar kota, perayaan kemerdekaan itu memacetkan jalan di mana arus lalu lintas berlangsung. Batinku, "perayaan yang namanya untuk kemerdekaan pun sudah membuat orang lain tersumbat jalannya sehingga tidak merdeka". Kalau ungkapan ini kusebarkan tentu akan ada yang berkomentar, "Ah, itu kan hanya sekali setahun. Moso untuk perayaan yang sekali setahun dan itu untuk kegembiraan karena kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dikeluhkan." Bagiku bukan lagi hanya sebuah keluhan, ini adalah sebuah pertanda bahwa belum ada kesadaran hakiki tentang kemerdekaan itu sendiri. Ketika aku menyatakan sebuah kemerdekaan, aku pun selayaknya memberi kemerdekaan bagi sesama. Ketika aku merayakan kemerdekaan pun selayaknyalah aku menginformasikan itu kepada khalayak supaya pengguna fasilitas umum pun merdeka mempergunakan haknya berjalan atau bekerja sebagaimana mestinya. Seolah kalau itu "demi" negara semua boleh disumbat. Tidak! Negara ada karena kemerdekaan manusia, bukan kemerdekaan seluas lahan dan bumi yang ditempati. Bumi merdeka karena manusianya merdeka. Kemerdekaan bukan diartikan picik bahwa semua itu demi bumi, demi sistem kekuasaan tertentu, tetapi demi manusia yang merdeka.
Masih banyak pula manusia-manusia picik yang mengatasnamakan kepercayaannya atau legitimasi surga dan neraka memaksa dan menindas sesamanya. Masih banyak orang yang dengan pongahnya menyombongkan diri atas nama agama. Masih banyak juga penindas-penindas yang sebenarnya mereka sendiri tak merdeka dengan hidupnya. Mereka ibarat zombie yang digerakkan karena motivasi-motivasi fana yang memuaskan tubuh mereka. Energi kemarahan, nafsu kekuasaan, dan nafsu beringas seolah terus dikacau untuk menggerakkan mereka. Tiada hari tanpa kekerasan bagi mereka. Seolah kekerasan itu adalah senjata untuk berkuasa. Seolah dengan kekerasan itu mereka jumawa. Padahal tidak. Justru dengan kekerasan mereka itulah mereka sebenarnya lemah. Keras secara fisik adalah lemah secara batin. Kekejaman penindasan karena keinginan berkuasa biasanya tidak bertahan lama. Bangsa ini sekali lagi masih mudah dikuasai dan ditaklukan karena kurang kuat batin dan budinya. Artinya bahwa ada kelemahan dan kekurangan dalam hal olah budi dan olah batin.
Ketika olah budi dan batin lemah, di sanalah bangsa itu rapuh. Mudah sekali rongsongan terhadap bangsa ini menjadi nyata. Mudah sekali sekelompok orang mengacau dan menjadi teror. Mudah sekali bangsa ini diombang-ambingkan oleh rumor dan amuk massa. Dan itulah pertanda bahwa untuk menyelesaikan persoalan diri bangsa ini dibutuhkan olah budi dan olah batin. Olah raga akan menyusul. Olah rasa menyatu raga dengan ketiganya yang lain. Kesadaran akan olah budi dan batin itu seolah dibungkam oleh serbuan kebutuhan raga yang selalu saja ada. Padahal kebutuhan raga ini tidak perlu banyak-banyak. Ketika harta benda hanya sebagai ilusi yang membangkitkan hawa nafsu ragawi, maka di sanalah orang belum merdeka dengan dirinya. Orang menjadi keropos luar dalam. Luarnya tak kelihatan karena ada penyandang yang dipakai. Namun seperti kuburan yang dilabur putih, maka di dalamnya sebenarnya kebusukan bangkai mayat. Bangsa ini belum merdeka kala semua hanya ilusi dan hidup dalam kedagingan ragawi tanpa sadar akan olah budi dan olah batin.
Pertanda kepicikan bangsa ini yang kurang pandai, kurang pinter dalam budinya adalah kecintaanya pada keseragaman dan penindasan. Tiadanya kemerdekaan ada di sana. Mengapa bani Israel tidak suka dibawa ke tanah terjanji, karena mereka tidak mau susah-susah menziarahi pergulatan hidup. Sukanya hidup dalam alam perbudakan. Mengapa orang tidak suka kemerdekaan, karena kemerdekaan itu perjuangan dan kerja keras, harus mencari sendiri jati dirinya, tidak mau hanya sekedar sama dengan yang lain. Ketika orang suka dengan keseragaman, di sana ada kebodohan hakiki.
Merdeka itu bukan seragam. Merdeka itu pinter. Merdeka itu berjuang. Merdeka itu tidak keropos batin dan budinya. Merdeka itu tidak gaduh. Merdeka itu bukan receh dan murahan.
#morning time#