Wednesday, May 31, 2017

Aku (Berusaha) Tak Lelah Mencintai Indonesia

Aku pernah lelah. Tulisan mengenai kelelahan pun pernah kubuat lebih dari sekali dalam blog ini. Pagi ini rasanya aku ingin mencurahkan hal yang sama. Namun ada penyemangat dan pendorong yang lain, yaitu para sobat pena di dunia maya menyerukan "jangan pernah lelah" mencintai Indonesia. Terima kasih Mas Alif dan juga sobat Patricia yang sudah mengingatkanmu untuk tak jemu-jemu mencintai Indonesia. Pernah suatu saat di tahun-tahun 2004-2014, aku merasa capai dan pesimis dengan Indonesia. Rasanya ketegaran dan kegagahan nama yang disandang dan disematkan oleh para pendiri bangsa ini sudah lemah dimakan kepentingan para bangsat. Aku pernah juga mempunyai usulan yang sebenarnya mau menyelamatkan bangsa ini dan ide itu terinspirasi dari Mangunwijaya dan Syahrir bahwa "kesatuan Indonesia bukan hanya terletak pada kesamaan dan keseragamannya secara fisik namun kesatuan lebih pada semangat dan mendukung kebhinekaannya". Negara Kesatuan yang ada sudah korup karena kesalahaman managemen dan kepemimpinan militeristik ala Suharto dan kroninya. Oleh karenanya, ide Syahrir tentang Republik Indonesia Serikat itu akan mewadahi kesatuan ini. Dan itu muncul di tahun-tahun 1998-2004 ketika aku sedang lelah dengan situasi bangsa ini. Tahun 2004-2014, kelelahan itu belumlah selesai karena pemerintahan sangatlah aneh dan terbuai dengan euforia "Reformasi" yang bagiku terlihat semu karena semua bisa omong tanpa ada yang mengatur.

Saat ini, 2014 sampai detik ini kiranya bangsa ini perlu dan harus bisa menemukan ketegasan diri. Penegasan diri perlu dibuat setiap saat. Tanpa ada penegasan diri, mau kemana bangsa ini? Justru tantangan sekarang adalah mau atau tidak untuk menegaskan diri? Tantangan sekarang adalah mau atau tidak bahwa kita punya visi yang sudah ada, dari semangat yang sudah ada, yaitu membawa bangsa ini kepada kelangsungan hidupnya. situasi diri adalah majemuk. Situasi diri adalah berbeda namun wadah itu satu, yaitu Indonesia yang dahulu dikenal dengan Nuswantara. Gegara pilkada Jakarta, eksistensi diri ini dipertanyakan. Layaknya manusia yang tengah mencari dan terus mencari, ia mempertanyakan jati dirinya. Apalagi di luar sana banyak euforia tentang bentuk jati diri yang lain, banyak pengaruh yang bisa membentuk jati diri yang berbeda dari semula. Ia tidak ingat bahwa ia lahir dan dibentuk dari rahim yang berbeda, dan itu sudah terbukti sampai saat ini. Imagi itu masih terasa di tulang sungsum dan nadi bangsa ini yaitu Nuswantara, Indonesia. Kita bukan Khilafah. Kita bukan bersyariah. Kita bukan menganut hukum dari sumber padang pasir sana. Kami lebih kaya. Kami bukan bertanah pasir. Kami bertanah air Nuswantara, kami bertanah dan berair di nusa yang berjajar dari lintang utara dan selatan, barat dan timur. Kami terhubung oleh air lautan. Kami bukan padang pasir dan unta sebagai binatangnya. Kami lebih kaya dengan berbagai flora dan fauna. Kami hidup dalam tiga zona waktu. Kami terdiri dari banyak suku. Kami bicara dengan banyak bahasa. Kami berpakaian dengan berbagai adat yang kami punya. Kami punya berbagai budaya yang kaya. Kami makan dengan berbagai masakan dan bumbunya. Kami tidak satu saja.

Hanya satu semangat kami, Nuswantara, Nusa di antara lautan dan samudera. Karena saking luasnya, kami sering lupa akan kekayaan kami. Karena saking kayanya, kami terlalu lena dengan luasnya diri kami. Karena saking majemuknya, kami sering lupa kebhinekaan kami hingga ada penyusup yang mau menyerang dengan identitas yang lain. Cukup bagi kami perang dan perpecahan itu. Cukuplah kami terbag-bagi dalam pulau dan bahasa dan budaya dan adat kami, tidak untuk berperang namun untuk kehidupan ini. Kami cinta kehidupan. Kami cinta semua yang majemuk itu. Dan dalam kemajemukan itulah kehidupan berlangsung. Perbedaan ada. Gesekan ada. Namun kami tak ingin itu jadi masalah. Itu adalah realitas dan bagian hidup kami. Jangan mempermasalahkan dan merekayasa kami untuk menjadi Khilafah. Kami tidak seragam. Kami tidak monolog. Kami adalah plural. Kami adalah jamak. Kami adalah bhineka. Kami adalah Indonesia. Kami punya Pancasila. Cukup sudah bualanmu untuk membentuk Khilafah. Cukup sudah pengaruhmu untuk menggodan dan merongrong kami untuk berjubah lain. Kami punya pakaian dan cara kami bertindak.

Bukan kami mau memusuhi kalau caramu itu menghargai kehidupan. Bukan kami mau menyingkirkanmu jika hidup tidak jadi permainanmu. Kami berterima kasih kalau godaanmu justru menyadarkan kami dari tidur. Kami berterima kasih kalau semua omonganmu membuat kami makin dewasa dalam menata diri kami, menerima dan menyadari akan jati diri kami. Tapi sekali lagi jangan sekali-kali menyentuh landasan kami, dasar kami karena itu membuat kami semua terbangun, kami semua bergerak, kami semua akan melihat apa yang telah terjadi selama ini. Kami tak ingin pondasi kami hancur karena goncanganmu. Dasar kami jangan disentuh dan dikoyak-koyak. Kami punya rumah. Rumah kami punya pondasi. Pondasi itu yang menyokong kehidupan kami dalam bangunan Indonesia. Memang rumah ini hanya sarana kehidupan kami. Namun jangan membalikan dasar hidup kami. Dasar itu mendukung kami mencapai tujuan yaitu kehidupan yang lebih baik. Jangan menjadikan tujuan itu sebagai sarana kami. Rumah adalah sarana kami hidup. Jati diri kami sudah berbeda dan majemuk. Justru itulah kami mau berbagi hidup.

Itulah diriku. Aku berusaha tak lelah mencintai Indonesia. Hal ini kutulis di akhir bulan ini, sebelum besok kuingat lahirnya dasar hidup kami, Pancasila. Inilah aku. Aku Indonesia. Aku berdasar Pancasila.


Akhir Mei 2017
Menjelang peringatan lahirnya Pancasila

Monday, May 1, 2017

Berdesakan dalam Waktu

Bulan April-Mei ini memang penuh dengan agenda kegiatan sampai-sampai tubuh ini rasanya tak beristirahat dalam damai. Memang istirahat dalam damai itu sebutan ketika tubuh ini sudah menjadi jenasah alias mayat. Aku sadar betul itu, namun kadang rupanya memang masih was-was juga kalau tubuh ini sudah menagih kapan istirahatnya, maka aku pun harus tahu diri. Ketika ingin menulis ini pun tidak sedikit gangguan yang ada, entah ada rekan datang, entah ada ini dan itu berdatangan. Aku pun tadi hampir ikut ajakan rekan untuk ini dan itu, lalu aku harus menyadari diri bahwa tubuh harus istirahat. Luar kota sejak dari hari Rabu, kembali hari Minggu kemarin. Badan masih capai.

April yang lalu baru saja kutinggalkan. April banyak pekerjaan dan aktivitas, mulai dari urusan dengan birokrasi pendidikan, urusan dengan lembaga lain yang sesama swasta, urusan dengan hal-hal yang sifatnya internal pekerjaan di unite kerja sendiri dan sebagainya. Berdesakan dalam waktu kumaksudkan adalah bahwa kegiatan tak pernah berhenti. Hanya diriku sendiri yang harus menghentikan dan sedikit menikmati dan memaknainya supaya waktu tidak memakanku. Aku tak ingn dikalahkan Chronos. Biar Chronos bekerja seperti adanya namun aku tetap waspada.

April kurasa sebagai bulan penuh warna, euforia pertarungan, euforia kalah menang, euforia yang ini adan itu. Berbagai kejadian di negeri ini maupun di belahan bumi ini tak henti tiap detiknya. Ada kecelakaan, ada bencana, ada pertarungan, ada perang, ada kegembiraan, ada pula sebaliknya. Kerja kerja dan kerja adalah intinya. Bukan soal istilah Jokowi. Bukan pula sebuah slogan biasa. Kerja adalah karunia. Kerja selalu ada dalam kehidupan ini.

Dengan menulis ini aku hanya ingin mengunggah ingatan pengalamanku. Dengan menulis ini aku hanya ingin berhenti sejenak pula. Dengan menulis ini aku juga hanya ingin melihat kembali. Hari ini 1 Mei adalah hari libur bagi peringatan Hari Buruh. Setidaknya aku pun boleh berhenti sejenak, walau di luar sana mungkin orang berdemo, walau di luar sana kemacetan menjadi acara di saat-saat "long weekend", walau di luar sana banyak orang sedang meratapi keadaannya karena bencana atau apapun yang terjadi. Setidaknya, aku punya waktu sendiri, merenung, menulis, menuangkan apa saja dalam kata.

Aku boleh bersyukur, ada prestasi yang boleh dibanggakan karena suatu target kecil tercapai walau itu hanya setetes air yang membasahi dahaga selama ini. Setetes kebanggaan supaya hidup lebih percaya diri. Namun itu semua juga karena kupikir harus realistis, melihat segala sesuatu dari kemampuan orang lain, situasi yang harus dibuat, usaha maksimal yang harus dibuat, dan yang penting juga rahmat yang harus dimohon. Pancangan harapan di awal sebagai target bisa saja lepas karena lalai, namun karena bisa saja oleh kemalasan, atau karena tidak ada saling dukungan satu dengan yang lain. Semua bisa terjadi.

Pekerjaan rumah pun masih ada. Impian tetap harus ada supaya asa tidak pernah berhenti. Artinya, hidup pun masih terus berlangsung. Oleh karena itu, setidaknya aku cukup menuliskannya sebagai tumpahan "kekecewaan" karena April tidak sempat kupakai duduk menulis, setidaknya cukup sudah aku menuangkan kata supaya ada frasa atau aksara yang bisa mewakili Aprilku yang terlewatkan.



#in my room#