Monday, May 1, 2017

Berdesakan dalam Waktu

Bulan April-Mei ini memang penuh dengan agenda kegiatan sampai-sampai tubuh ini rasanya tak beristirahat dalam damai. Memang istirahat dalam damai itu sebutan ketika tubuh ini sudah menjadi jenasah alias mayat. Aku sadar betul itu, namun kadang rupanya memang masih was-was juga kalau tubuh ini sudah menagih kapan istirahatnya, maka aku pun harus tahu diri. Ketika ingin menulis ini pun tidak sedikit gangguan yang ada, entah ada rekan datang, entah ada ini dan itu berdatangan. Aku pun tadi hampir ikut ajakan rekan untuk ini dan itu, lalu aku harus menyadari diri bahwa tubuh harus istirahat. Luar kota sejak dari hari Rabu, kembali hari Minggu kemarin. Badan masih capai.

April yang lalu baru saja kutinggalkan. April banyak pekerjaan dan aktivitas, mulai dari urusan dengan birokrasi pendidikan, urusan dengan lembaga lain yang sesama swasta, urusan dengan hal-hal yang sifatnya internal pekerjaan di unite kerja sendiri dan sebagainya. Berdesakan dalam waktu kumaksudkan adalah bahwa kegiatan tak pernah berhenti. Hanya diriku sendiri yang harus menghentikan dan sedikit menikmati dan memaknainya supaya waktu tidak memakanku. Aku tak ingn dikalahkan Chronos. Biar Chronos bekerja seperti adanya namun aku tetap waspada.

April kurasa sebagai bulan penuh warna, euforia pertarungan, euforia kalah menang, euforia yang ini adan itu. Berbagai kejadian di negeri ini maupun di belahan bumi ini tak henti tiap detiknya. Ada kecelakaan, ada bencana, ada pertarungan, ada perang, ada kegembiraan, ada pula sebaliknya. Kerja kerja dan kerja adalah intinya. Bukan soal istilah Jokowi. Bukan pula sebuah slogan biasa. Kerja adalah karunia. Kerja selalu ada dalam kehidupan ini.

Dengan menulis ini aku hanya ingin mengunggah ingatan pengalamanku. Dengan menulis ini aku hanya ingin berhenti sejenak pula. Dengan menulis ini aku juga hanya ingin melihat kembali. Hari ini 1 Mei adalah hari libur bagi peringatan Hari Buruh. Setidaknya aku pun boleh berhenti sejenak, walau di luar sana mungkin orang berdemo, walau di luar sana kemacetan menjadi acara di saat-saat "long weekend", walau di luar sana banyak orang sedang meratapi keadaannya karena bencana atau apapun yang terjadi. Setidaknya, aku punya waktu sendiri, merenung, menulis, menuangkan apa saja dalam kata.

Aku boleh bersyukur, ada prestasi yang boleh dibanggakan karena suatu target kecil tercapai walau itu hanya setetes air yang membasahi dahaga selama ini. Setetes kebanggaan supaya hidup lebih percaya diri. Namun itu semua juga karena kupikir harus realistis, melihat segala sesuatu dari kemampuan orang lain, situasi yang harus dibuat, usaha maksimal yang harus dibuat, dan yang penting juga rahmat yang harus dimohon. Pancangan harapan di awal sebagai target bisa saja lepas karena lalai, namun karena bisa saja oleh kemalasan, atau karena tidak ada saling dukungan satu dengan yang lain. Semua bisa terjadi.

Pekerjaan rumah pun masih ada. Impian tetap harus ada supaya asa tidak pernah berhenti. Artinya, hidup pun masih terus berlangsung. Oleh karena itu, setidaknya aku cukup menuliskannya sebagai tumpahan "kekecewaan" karena April tidak sempat kupakai duduk menulis, setidaknya cukup sudah aku menuangkan kata supaya ada frasa atau aksara yang bisa mewakili Aprilku yang terlewatkan.



#in my room#

No comments:

Post a Comment