Monday, December 1, 2014

Formalisme

Entah mengapa orang cenderung suka dengan segala macam yang sifatnya penghargaan, juara ini dan itu, awarding, dan sebagainya. Ketika rapat kumpulan kepala sekolah dan membahas kegiatan setahun, yang selalu dimunculkan adalah kejuaraan A sampai Z. Seolah jika sudah mengadakan itu dan ada hasil yang juara, itu sudah. Dari kesan yang agak "nyinyir" ini aku kemudian mengkaitkan dengan sebuah pengalaman diskusi tentang formalisme yang melanda negeri ini. Juga, bahwa kita tak bisa menghindar dari sebuah fenomena yang menghantui tetapi sekaligus dinikmati oleh sekian massa di bumi ini, yaitu tradisi lisan yang diteknologikan. Apa itu dan bagaimana itu terjadi, dalam tulisan ini aku tidak akan sampai sedetail-detailnya, namun aku hanya menumpahkan uneg-uneg yang setiap kali meluber dan harus kukatakan dalam untaian ide dalam bentuk tulisan. Dulu aku hanya punya media cetak langsung dengan buku dan ballpoint tetapi sekarang aku punya media sosial dan elektronik ini. Orang menyebutnya citizen journalism, "curcol" di zaman ini atau entahlah.

Kurikulum 2013 ternyata masih tetep menjadi trending topic di mana-mana. Bahkan hari ini tadi setelah aku berbagi oleh-oleh dan pemikiran, muaranya adalah bagaimana kita menghadapi K-13 itu. Dalam diskusi Jumat lalu, sebuah tema diangkat yaitu "Formalisme dalam Dunia Pendidikan" dan itu tak lain juga mengangkat soal K-13 ini karena dirasa oleh sementara orang dalam K-13 ini apa-apa harus diukur, distandarkan, dinilai. Memang dalam standar evaluasi ada banyak sekali instrumennya: ada evaluasi diri, evaluasi rekan sebaya, evaluasi dari observasi tentang ketrampilan spiritual, kognitif, dan yang lain lagi. Di sini guru dan praktisi pendidikan dibuat puyeng dan mabok oleh begitu rupa banyaknya instrumen itu. Yang namanya praktisi pasti akan ribut dulu karena tidak diberitahu dengan pasti dan jelas. Apalagi sekarang guru direndahkan martabat dan levelnya oleh pemerintah dengan hanya dijadikan pelaksana kurikulum saja karena dari sylabus sudah dibuatkan, sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran guru yang buat. Nah, ketika dari situlah guru tidak lagi tahu apa yang harus dibuat. Guru direndahkan hanya jadi tukan pengajar di kelas saja tanpa tahu banyak filosofi dan rationale dari sylabus bahkan maksud dari kurikulum yang diwajibkan ini. Sekali lagi di situlah formalisme sudah membuat guru mandeg dan kalau sudah menjalankan instruksi ya sudah, itu saja. Ketika diajak untuk berubah, isinya mazmur ratapan dan keluhan. Berubah itu sakit.

Aku bicara soal standard dan formalitas yang menjad "isme". Ketika segala sesuatu menjadi -"isme", maka cenderung akan monolitik dan mengaggungkan klaim kebenaran sendiri. Formalisme menjadi peyoratif karena itu cenderung membenarkan dirinya bagi atau di atas kebenaran yang lain. Ketika itu terjadi, maka orang akan menganut faham (yang "isme" tadi). Contohnya, ketika zaman Orde Baru, dalam pelajaran PMP, apa yang kita pelajari? Setidaknya aku hanya belajar rumusan yang panjang-panjang dan itu yang benar. Kebenaran ada pada rumusan panjang dan itu yang dinilai guru paling benar. Lebih lanjut lagi, kita tahu yang baik, maka kita sudah "dinilai" bermoral baik karena labelnya pedidikan "moral" dengan embel-embel Pancasila. Terjadi kesalahkaprahan, kesalahajaran, kesalahkonsepsi tentang moralitas. Tak mengherankan generasi yang dihasilkan adalah generasi yang sebenarnya tak bermoral karena hanya tahu moral saja. Dalam pelajaran seni rupa, kebenaran rupa ditentukan oleh warna yang dipilih. Jika melukis gunung, maka warna gunung itu biru atau hijau. Jika warna yang dipilih merah, maka nilainya kurang atau tidak mendapat nilai seperti yang diharapkan.

Pertanyaannya kemudian: apakah sesuatu yang formal itu perlu? Apakah standard itu perlu? Jawaban yang aku temukan masih ya, sejauh tidak sampai pada "isme" tadi. Mengapa? Formal berasal dari kata "form" atau "forma". Artinya bentuk. Tentu dalam kehidupan kita masih perlu adanya bentuk dengan embel-embel yang jelas. Pendidikan pun tak lepas dari pembentukan (karakter - misalnya). To educate sekaligus punya tanggung jawab to form. Buah dari pendidikan itu bentuknya seperti apa, selalu akan diarah oleh setiap lembaga pendidikan. Justru tantangannya adalah formalitas itu harus disadari dengan baik agar tidak terjebak dalam ketidaksadaran formalisme. Guru sering mengeluh jika diminta membuat administrasi sekolah karena tidak sadar akan pentingnya sebuah dokumentasi. Dokumentasi itu dibuat sejak persiapan/perencanaan, pelaksanaan, dan akhir dari proses yang dibuat evaluasi. Proses ini yang sering tidak dibuat catatan/dokumentasi. Kesadaran sepenuhnya bahwa dengan menulis persiapan (RPP), melaksanakan pembelajaran di kelas, dan mengevaluasinya adalah sebuah proses berkesinambungan dan integral dalam mendidik.

Tantangan dunia zaman ini sekali lagi orang sulit diajak untuk merumuskan ide secara lebih sistematis karena terbiasa (habit) hidup dalam dunia serba lisan. Walau alat komunikasi itu canggih, ternyata alat itu hanya "membentuk" habit lisan. Memang ada embel-embel text tetapi text ini tidak membantu manusia untuk duduk, tenang, menulis dengan baik. Isinya hanyalah obrolan daam peranti media sosial (sosmed). Sekian miliar text message yang melayang di udara setiap detiknya karena orang senang ngobrol, chatting, berkicau (nge-twitt), dan sebagainya. Mungkin jika diminta untuk menjelaskan dengan sms atau LINE, atau medsos yang lain tentang RPP-nya guru-guru yang melek medsos akan menjelaskan tetapi kalau diminta mengerjakan di word atau excell maka kelabakan ditambah lagi dengan deadline dari kepala sekolah. Belum lagi bagi kalangan guru yang usianya uzur, penggarapan RPP dan sebagainya tambah mumet karena mereka sudah tidak connect dengan perkembangan super cepat di dunia ini.

Formalisme ternyata membawa banyak dampak dari efek samping A sampai Z. Hanya satu kata untuk melawannya: Kesadaran! Sadar bahwa diri kita yang membutuhkan sebuah format atau standar bukan dari luar. Sadar bahwa ada kebutuhan tertentu maka dibuatlah standar atau bentuk tertentu. Ketika kesadaran itu ada, maka tidak lagi menjadi sebuah bumerang lagi apa yang dinamakan formalisme. Paulo Freire ketika melawan penindasan yang menstruktur di Brazil dengan akibat kebodohan karena banyak orang miskin yang buta huruf, membuat pedagogi yang intinya penyadaran atau conscientization. Penyadaran ini yang kemudian mengajak masyarakat tertindas tahu siapa dirinya, apa perannya, dan bagaimana selayaknya dia harus hidup. Penyadaran secara pedagogis juga dapat disebut sebagai proses refleksi. Kesadaran dibangun lewat kebiasaan berefleksi setelah mempelajari sesuatu, memberi makna dari pengalaman sebelumnya dan membuat aksi apa yang selanjutnya dibutuhkan. Orang yang sungguh belajar dan mengajak belajar haruslah sampai pada pembentukan kesadaran dan teraplikasi dalam tindakan. Jika orang belajar hanya untuk mengejar nilai angka akademis dalam tes, maka itu bukan proses belajar yang baik dan benar.




Some people said about conscientization, some people said about reflection. Both for me are needed when our community or ourselves live unconsciously. Especially in our educational institution, we need to create or develop reflective and conscious milieu for better life, understand more what is our purpose, how we do live, what is our tools to gain our purpose.



in the beginning of December 2014
in my room

Sunday, November 16, 2014

Kekuatan Tradisi

Aku memang bukan orang yang tradisionalis. Walau demikian, aku selalu sadar bahwa kehidupan ini selalu akan ada dialektika atara tradisi dan inovasi. Aku masih ingat ketika diskusi dalam dunia pendidikan pun demikian adanya. Pendidikan selalu akan ada dialog antara tradisi dan inovasi. Tradisi memperkuat fundamen asali tentang jatidiri. Inovasi berbicara soal perkembangan dan kreativitas zaman. Tanpa keduanya pasti akan ada ketimpangan. Tanpa tradisi orang lupa akan sejarah dan fundamennya, berjalan tanpa dasar. Tanpa inovasi, orang akan mandeg dan tidak berkembang.

Bayangkan ketika dunia berisik dengan teriakan-teriakan kembali ke tradisi di sebagian kalangan. Ada yang melawan bahwa dunia akan selalu berkembang. Kita tidak hidup di masa lampau saja tetapi hidup kita juga punya cita-cita yang artinya masa depan. Memang kita menghidupi kekinian atau hic et nunc (di sini dan saat ini) tetapi sekali lagi dimensi masa lalu yang mempengaruhi diri kita tetap ada. Demikian juga dimensi masa depan dengan segala impian, harapan, cita-cita.

Aku mencoba menuliskan ini karena ada berbagai ide tentang keluarga, tentang kemajuan, tentang tradisi, tentang situasi yang banyak memberi contoh dalam hidup ini. Aku menyebut tradisi karena tradisi dimulai dari masyarakat/komunitas yang paling awali yaitu keluarga. Tradisi lahir dan dipelajari di sana. Tak mengherankan Taurat orang Yahudi sangat kuat dipraktikkan karena keluarga mereka kuat menularkan dari waktu ke waktu. Dalam makan bersama, saat itulah tradisi lisan itu selalu ditanamkan sejak nenek moyang mereka ribuan tahun sebelum Masehi sampai saat ini. Tradisi keluarga China/Tiongkok juga selalu mengatakan serupa bahwa kekuatan tradisi dalam keluarga itu tak boleh ditinggalkan. Sepertinya tetangga berseberangan dengan laut Jepang dan Semenanjung Korea, yaitu Jepang juga sama. Tradisi kuat menjamin komunitas kuat. Misalnya saja, tradisi menghargai yang lebih tua melahirkan sikap hormat kepada orang yang senior. Bukan berarti aku suka akan senioritas tetapi bahwa menghargai pribadi yang lebih tua berarti juga menghargai sebuah pengalaman. Ada pengalaman yang dibawa oleh orang-orang tua. Mereka dapat menjadi sumber atas apa yang terjadi di masa lampau. Menghargai mereka juga sebenarnya menanamkan semangat menghargai hidup karena hidup akan berjalan dan dari muda ke dewasa dan menjadi tua. Aku tertarik dengan sebuah pemandangan di sebuah sudut jalan di Yokohama beberapa waktu lalu. Ada bapak dan dua anaknya. Kedua anaknya cewek masih kecil-kecil. Yang menarik buatku adalah bahwa baak menuntun anaknya yang lebih besar dan kakaknya menuntun adiknya yang kecil. Sayang itu tak kufoto. Inspirasi ini membawa sebuah kesimpulan sementara: tradisi menuntun dari yang lebih tua ke yang lebih muda yang ada dalam pemandangan itu juga terjadi di kalangan masyarakat setempat.

Aku mencoba membandingkan dengan kegaduhan yang selama ini terjadi di negeri ini. Ada fenomena ekstrim satu dan ekstrim yang lain. Ada sebuah suasana di mana keluarga-keluarga muda saat ini tidaklah mempunyai kekuatan dalam menanamkan tradisi. Mereka telah terpola hidupnya dengan segala fasilitas yang ada. Kemudahan hidup telah melunturkan kekuatan tradisi dan tak mau lagi menghidupi tradisi itu. Oleh karena itu, Thomas Lickona, seorang ahli pendidikan karakter, mengatakan bahwa salah satu booming munculnya pendidikan karakter adalah karena keluarga saat ini tidak kuat dalam menanamkan tradisi karena di sana ada prinsip, pendidikan iman, dan norma-norma moral. Unsur-unsur tersebut tidak lagi digubris oleh keluarga-keluarga muda sehingga menyerahkan segala sesuatunya kepada sekolah. Muncullah pendidikan karakter.

Ekstrim yang lain adalah berisiknya kelompok-kelompok tradisionalis yang sebenarnya setengah-setengah menjalankan tradisi dan cenderung munafik dan eksklusif. Mereka hanya mementingkan kelompoknya dan cenderung memakai alasan agamis untuk menilai ini dan itu. Mereka sangat sentimen. Mereka tidak mau diajak diskusi dan dialog. Sebenarnya mereka tidak sangat paham akan kehidupan bersama. Mereka hanya hidup berdasar insting bestial (binatang buas), siapa kuat dia menang. Siapa berteriak keras, dia menang. Kekuasaan bagi mereka adalah kerasnya suara. Biar berisik asal berkuasa. Itu prinsipnya. Mereka tidak belajar dari sejarah bahwa dengan begitu mereka sebenarnya dikuasai oleh kekuasaan yang lebih berkepentingan. Mereka dimanipulasi dengan uang. Asal muasal mereka adalah kepentingan dan bukan tradisi. Kepentingan itu adalah kepentingan untuk melawan, kepentingan untuk tidak mau dipimpin oleh kelompok lain, kepentingan untuk selalu tidak mau diajak maju.

Dari dua kutub sama-sama ekstrimnya ini, aku selalu bermuara pada sebuah PR besar dalam dunia pendidikan. Pendidikan macam apa yang cocok di negeri ini? Sepertinya tanpa harapan untuk mendidik bangsa ini. Jika dididik baik di komunitas sekolah, hasilnya akan dirusak oleh komunitas keluarga (yang lebih kecil) dan komunitas masyarakat (yang lebih besar).  Dirusak artinya keluarga hanya menitipkan anaknya di sekolah dan hanya menuntut ini dan itu. Sedangkan orangtua tidak sepenuhnya concern dengan persoalan inti dalam pendidikan karakter. Masyarakat akan mudah merusak karena masyarakat menjadi ajang konkrit memberi teladan: korupsi, kekerasan, nepotisme, tak menghargai kehidupan dan sebagainya. Inilah yang membutuhkan kerja besar. Jika tidak berhasil, maka usul dalam benakku adalah dipecahnya wilayah yang terlalu luas dalam hal geografis maupun urusan negara. Pemecahan itu dapat lewat diplomasi tetapi juga dapat lewat peperangan saudara. Tinggal mana yang mudah dan berefek kuat entah positif maupun negatif.

Mengapa aku mengusulkan sebuah "pemecahan" wilayah? Terlalu luas juga tidak efektif. Terlalu luasnya wilayah urusan maupun geografis menyebabkan banyaknya hambatan dan tantangan dari sana sini. Butuh kontrol yang kuat. Sedangkan kita perlu realistis dengan luasnya wilayah dan urusan ini. Pertanyaanku selanjutnya: tradisi macam apa yang kuat untuk negeri ini? Sedangkan tradisi kita banyak sekali.


*keep moving to find an answer to build a better community and nation state.







#in my room, evening after raining

Wednesday, October 15, 2014

Jika Semua Dikelola dengan Spontan dan Mendadak

Aku selalu merasa jengkel jika ada undangan via sms dari Diknas yang mengajak rapat, mengumpulkan ini dan itu, mengadakan pelatihan ini dan itu tetapi informasinya mendadak. Seiring dengan pekerjaan yang aku emban saat ini, aku merasa bahwa tak bisalah komunitas ini dikelola dan diatur hanya dengan spontanitas dan tanpa perencanaan. Tak bisalah sebuah negara ini dikelola dengan mentalitas dadakan dan spontanitas. Akibatnya akan amburadul. Aku sendiri mengalami setidaknya bekerja sama dengan negara (karena perspektifku sebagai warga negara) selama ini tak memuaskan. Sampai seumurku ini, aku mengamini bahwa yang dibuat oleh negara selalu akan berujung buruk dan tak menguntungkan sama sekali. Aku bahkan sempat mengatakan kepada salah satu kenalan yang sempat jengkel dengan perilaku Dinas Pendidikan bahwa negara lebih banyak mengganggu daripada membantu. Dia sangat setuju dengan pendapatku ini.

Nah, dengan pengalaman yang serupa, Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) dulu Depdiknas (karena tidak ada Budaya) atau Depdikbud (karena ada Kebudayaannya) selalu membuatku malas untuk bekerja sama dengan mereka. Bekerja sama atau membantu itu yang diharapkan oleh sekolah-sekolah swasta. Kenyataannya, selama ini yang terjadi adalah undangan-undangan Dinas selalu via sms. Selama ini undangan-undangan atau informasi itu mendadak dan terkesan spontan. Mungkin bagi mereka direncanakan tetapi tanpa adanya sosialisasi jika setahun ini ada undangan atau agenda ini dan itu, sama sekali kami yang harus kelabakan menyanggupi atau tidak sama sekali. Prinsipku saat ini, jika mengganggu dinamika dan kinerja di unit kerjaku, sebisa mungkin tidak disanggupi. Jika itu diminta dan masih bisa ditangani orang lain, aku lebih menyerahkan kepada guru atau orang lain. Secara pribadi koq aku kurang respect dengan cara kerja dan cara bertindak Dinas.

Aku mempunyai pengalaman pribadi maupun bersama yang tak mengenakkan. Pertama, negara yang bertingkah mau mengatur segalanya dalam pendidikan ini tidak belajar dari sejarah dan tidak rendah hati bahwa sebelum ada sekolah-sekolah negeri, sekolah-sekolah swasta yang usianya tua sudah terlebih dahulu bekerja untuk mendidik anak bangsa pada zaman dahulu. Sedangkan saat ini dengan ideologi pasar bebas dan memang pemerintahan negara ini cenderung liberal, mematikan sekolah-sekolah swasta yang sudah ada. Negara tidak memikirkan bahwa dalam wilayah/regio tertentu harus dihitung jumpal sekolah yang sudah ada dan jumlah penduduk usia sekolah, sehingga ketika mendirikan dan mengizinkan sekolah baru tidak mematikan sekolah-sekolah yang sudah ada. Saat ini, siapapun yang punya duit dan dapat izin mendirikan bisnis sekolah, sekolahnya dapat dibangun. Akibatnya, sekolah-sekolah swasta yang tak kuat modal duitnya mati dan tak dipikirkan untuk dihidupkan. Inilah yang sudah kelihatan dengan sekolah-sekolah swasta miskin yang "dulu" pernah berjaya, tetapi karena kebijakan liberal pemerintah, mereka mati. Yah, memang ada faktor lain, yaitu KB berhasil tetapi toh itu hanya untuk merasionalisasi bahwa pemerintah tak punya pemikiran dan rencana yang baik untuk warga negaranya dan sejarah yang sudah berbicara. Sejarah sudah dihapus.

Kedua, beberapa waktu lalu saat halal bihalal di salah satu keluarga guru, kami sempat ingin protes dengan Dinas karena (1) pejabat-pejabat negara ini justru yang banyak merusak tatanan kebijakan yang sudah dibuat sendiri yaitu dengan menambah jumlah kelas tiap tahunnya sehingga murid tersedot ke negeri daripada swasta lain di sekitarnya. Para kepala sekolah swasta berteriak-teriak untuk hal ini. Mereka mengatakan bahwa "kami ini jungkir balik untuk mendapatkan murid, eh, justru sekolah negeri malah menambah lokal dengan sembunyi-sembuyi. Ya, kami kehilangan murid, bahkan yang sudah diterima di sekolah kami pun pindah ke negeri." Ada jeritan yang sering tak digubris negara. (2) Dari keprihatinan yang pertama, para kepala sekolah akhirnya juga menilai bahwa setiap kali rapat dinas, justru pejabat-pejabat negeri ini yang terlambat dan tidak disiplin. Oleh karena itu, kami sepakat bahwa jika masih demikian kebiasaannya, kami akan menunggu sampai setengah jam, kami presensi sendiri, lalu kami akan pulang ke sekolah kami masing-masing karena kami juga punya pekerjaan yang tidak dapat ditinggal seenaknya sendiri.

Protes itu mengatakan bahwa negara seperti mau menggantikan peran kami. Kami dikalahkan. Swasta tak dianggap. Kalau memang demikian maksudnya, apakah kami akan menyerah(kan) kepedulian kami semua kepada negara? Artinya, jika memang demikian, bayanganku ya silakan saja negara membuat semua sekolah negeri. Swasta tidak perlu mengurusi lagi pendidikan di negeri ini. Sayangnya, masih ada kekhawatiran: benarkah negara akan berbuat demikian dan bermutu? Siapakah negara itu? Jangan-jangan di balik negara, ada kepentingan partisan yang justru merusak negeri ini! Aku akhirnya tidak ingin menyerah dengan hal ini.

Ketiga, seperti awal keprihatinanku di atas yaitu soal spontanitas dan dadakan-nya negara adalah dalam hal mengundang ini dan itu yang buat aku jadi malas untuk ikut atau menugaskan guru/karyawan untuk ikut. Aku hanya membayangkan bagaimana negara ini akan maju dan berkembang jika agenda yang dibuat negara untuk kemaslahatan bersama saja dilaksanakan dengan dadakan dan spontan? Ketika ambisi kurikulum 2013 ini dijalankan, sejak awal pun masyarakat sudah pesimis. Lha wong yang direncanakan dengan detail saja masih ada celahnya, apalagi yang dadakan dan spontan. Aku pun pesimis walau harus terpaksa menjalankan. Pesimisnya ya karena dijalankan dengan spontan dan mendadak. Segala sesuatu tak direncanakan dengan matang dan baik. Dari sosialisasi ini dan itu, pelatihan ini dan itu, informasi ini dan itu, pengisian form ini dan itu, semua dilakukan dengan dadakan dan spontan. Apapun idenya, tujuannya, tidak akan tercapai dengan tata laksana seperti ini.

Dengan demikian, aku makin mengkukuhkan kesimpulanku terhadap pengelolaan negara ini yaitu TIDAK SERIUS. Negara tidak serius mengelola dirinya. Rakyat dapat menilai. Negara dalam hal ini setidaknya pihak Disdikpora. Pendidikan tidak dikelola dengan baik. Pendidikan hanya permainan kebijakan dan proyek bagi sejumlah pejabat negara. Ketidakseriusan ini akibatnya nanti sangatlah kompleks. Salah satunya negara tidak dipercaya sebagai organisasi/lembaga. Masyarakat tak lagi puas dengan apa yang dikerjakan oleh negara maka mengambil inisiatif membuat sendiri. Tak mengherankan apa yang dibuat oleh swasta cenderung banyak dapat dinikmati. Sayangnya hal ini justru memperkuat liberalisasi negara di segala bidang. Negara tak kuat. Negara hanya membuat kebijakan bagi kepentingan swasta yang menjalankan macam-macam sektor. Negara menjadi rayahan swasta. Sayang memang.






#noon time, in my office #

Friday, September 19, 2014

Kurikulum dan Guru

Teh Botol "Sosro" mengiklankan "Apapun makanannya, minumnya teh botol Sosro". Jika itu disejajarkan dengan situasi pendidikan atau kehidupan guru dengan kurikulum saat ini, aku mungkin akan mengungkapkan, "Apapun kurilulumnya, gurulah yang menentukan jalan tidaknya kurikulum itu". Hal itu kutulis karena hari ini aku diingatkan oleh rekan guru sekaligus mantan guruku ketika aku belajar di sekolah di tempat aku bekerja sekarang.

Bermula dari penentuan kriteria kenaikan bagi kelas satu dan dua SMA saat ini yang memakai jenjang berkelanjutan dari SD sampai SMA adalah I sampai XII. Pagi tadi aku mendapatkan masukan yang sebenarnya bagi semua orang yang terlibat dalam pendidikan saat ini. Pating blasurnya pelaksanaan mengenai evaluasi (ulangan atau tes) dan penilaiannya bermula dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang "dilaksanakan secara kurang tepat" di negara ini. Mengapa bermula dari sana? Aku hanya mengambil salah satu contoh saja, yaitu soal perolehan nilai dan cara mencapainya. Prosesnya sangat halus sehingga yang kita lihat sekarang adalah hasil dari pelaksanaan dan kurangnya memahami dan menangkap filosofi atau ruh dari kurikulum itu sendiri.

Orang waktu itu mengeluhkan kurikulum sebelumnya sarat materi dan semua dari atas/negara dan dicekokkan ke guru-guru sehingga cara yang sama diberlakukan kepada murid-murid. Ya, itu memang benar. Ketika perubahan terjadi, masih banyak guru yang tidak sepenuhnya menangkap ruhnya. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi memunculkan semangat bahwa murid tidak boleh dikorbankan karena banyaknya materi. Penilaian berdasarkan kompetensi. Kompetensi Dasar harus menjadi arah yang dituju sehingga itu yang dikejar. Murid belajar agar menghasilkan kompetensi tertentu. Muncullah KKM alias Kriteria Ketuntasan Minimal. Ketika ditanya itu ruhnya apa? Tak semua orang tahu, termasuk pembuat kurikulumnya atau orang-orang yang dipercaya untuk mensosialisasikannya. Berbagai tafsiran muncul. Salah satu yang kemudian menjadi trend sampai sekarang adalah bahwa KKM itu ya nilai yang harus dicapai murid supaya dikatakan lulus dari kompetensi yang diharapkan.

Kriteria dipersempit artinya menjadi nilai atau score. Jika dahulu dalam kurikulum yang diganti alias produk lama kriterianya (KKM) adalah 100 jika memakai rentang angka 10-100 atau 10 jika rentang angkanya 1-10. Jika murid sudah mencapai angka 6 atau 60, kriterianya sudah lebih dari 50% dan itu sudah cukup, layak dinyatakan (cukup) tuntas/memahami/menguasai bahan. Perubahan signifikan kemudian adalah orang berlomba-lomba menaikkan KKM sehingga dari 60 menjadi 70 atau 75. Oleh karena itu, awal-awal aku mengikuti perubahan demi perubahan bertanya-tanya, mengapa zaman dahulu nilai 6 atau 60 sudah disebut lulus, sekarang belum ketika KKM itu berubah menjadi 65 atau 70 atau 75? Orang kemudian diwajibkan oleh negara, karena berorientasi pada sekolah-sekolah negara, bahwa jika nilainya didongkrak (KKM maksudnya) maka sekolah itu akan "menabung" nilai banyak dan ketika akreditasi, aksesor akan menilai bagus. Juga kepentingan ketika kelulusan, nilai yang diperoleh banyak, perguruan tinggi negeri akan memperhitungkan lulusan dari sekolah itu. Nah, orientasinya menjadi score/nilai angka dan bukan lagi mutu atau kualitas pendidikan yang menghasilkan nilai angka atau score itu sendiri.

Guru senior tadi menceritakan bahwa itu awalnya bermula dari guru yang "berubah" dengan mentalitas di atas. Awalnya pelan-pelan dengan motivasi supaya tidak repot mengurusi murid, supaya tidak ada yang tinggal kelas, supaya orangtua melihat anaknya pintar. Sayangnya itu adalah kamuflase atau tak murni atau tak real. Seolah-olah angka 60 atau 6 itu saat ini kecil dan remeh. Orang sekarang cenderung ingin memperoleh nilai atau score yang besar-besar, konsumtif dan sangat kapitalistik. Aku jadi ingat pendapat seorang teman yang sudah meninggal tentang kesukaan orang Amerika pada basket dan American Football. Mereka lebih suka olah raga itu karena scorenya besar-besar. Orang Amerika tidak akan suka sepak bola (soccer) karena score-nya kecil atau bahkan hanya kacamata (0-0). Itulah mentalitas konsumtif dan kapitalistik dalam sebuah budaya. Dari pelaksanaan pendidikan dari kurikulumnya, kita belajar kultur yang dihasilkan.

Dari sini aku belajar banyak hal. Pertama, kurikulum apapun harus ditangkap rohnya, dasar filosofinya apa, tujuannya ke mana, dan baru pelaksanaannya bagaimana. Hal-hal yang praktis menyusul. Sekarang terbalik. Kurikulum berganti. Guru diminta berubah dengan perangkat-perangkat praktis administrasi daripada mengenali sampai sedalam-dalamnya ruh dan filosofi kurikulum itu. Guru tidak lagi menjadi pembelajar tetapi administratur yang nanggung karena pembekalan juga setengah-setengah. Sebenarnya apapun kurikulumnya, guru adalah person pelaku dan penerjemah di lapangan. Breakdown dari konsep itu terletak pada kelihaian guru melakukan bersama dan bagi para murid. Lalu bagaimana dengan administrasi? Hal itu perlu dibuat tetapi prinsip menguasai ruh dan konsep kurikulum harus sungguh-sungguh mumpuni.

Kedua, karena pelaksanaan perubahan yang tidak seutuhnya dipahami maka memunculkan ekses yang salah kaprah dalam membuat arti dari istilah-istilah yang ada. KKM menjadi nilai ketuntasan adalah salah satunya. Pemahaman yang sepotong-sepotong tentang perubahan menjadi sangat berbahaya untuk melaksanakan sebuah proyek tertentu.

Ketiga, kemunculan mentalitas yang konsumtif dan kapitalistik bermula dari "emohnya guru untuk repot mengurus murid". Guru tidak mau mengurus jika ada murid yang nilainya rendah terus sehingga efeknya tidak naik. Dahulu sekolah berani untuk tidak menaikkan murid jika memang nilainya tidak mencapai atau hanya sampai 50 saja rata-ratanya. Artinya bagi murid yang hanya menguasai 50% bahan ajar, maka tidak layak dinyatakan lulus. 60% sudah layak disebut cukup (lulus) tetapi masih minimal dan masih berbahaya. Saat ini 60% menguasai bahan masih disebut belum lulus.

Keempat, akibat mentalitas ini, keluarga-keluarga yang menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah juga terimbas hal yang sama. Jika anaknya tidak naik, guru atau sekolah yang didamprat. Jika score-nya tidak tinggi, guru yang dimarahi, sekolah dituntut. Jika sampai anaknya tidak naik, sekolah atau gurunya yang dianggap buruk. Benarlah akhirnya bahwa benih itu ditanam, buah akhirnya dipetik. Guru yang menanam, atau dipaksa menanam (oleh negara/struktur birokrasi) maka buahnya juga dipetik. Orangtua dan atau murid akhirnya berbalik memarahi atau melawan atau menuntut agar mereka pun dipermudah/diberi fasilitas. Gampangnya: "Lho kamu aja bekerjanya cari mudah, ngapain aku dikurbankan? Kamu yang seharusnya mempermudah saya juga." Kasarnya: "Lo sudah gue bayar untuk mendidik anak gue, kenapa lo gak bisa menaikkan anak gue?"

Inilah yang setidaknya aku tangkap dari belajar dari peristiwa ke peristiwa selama ini berkaitan dengan kurikulum dan guru. Ada ketidaksambungan antara filososi dari kurikulum dan pelaksanaan di lapangan. Guru di sini berperan. Mentalitas dihasilkan dari pelaksanaan itu. Mengerikan!





*Di kepalaku masih ada ide tentang pendidikan karakter setelah mencoba-coba mencari informasi dari seorang yang bernama Thomas Lickona. Ternyata apa yang dia tuliskan senada dengan apa yang menjadi pergulatanku.



#In my office#

Thursday, August 28, 2014

Ketika Semua Harus Diukur

Hari Selasa minggu lalu, aku ikut dalam sebuah acara yag diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Olah Raga (Disdikpora). Aku juga mulai harus mengenal istilah-istilah yang disingkat di birokrasi negara ini. Acara itu adalah acara yang judulnya "Sosialisasi Kurikulum 2013". Agenda ini termasuk bagian dari Bimbimbingan Teknis (Bimtek) di Kabupaten di mana aku tinggal dan bekerja.

Sejak awal aku sudah tidak tertarik dengan apa-apa yang berbau negeri/pemerintah/birokrat negara. Memang benar bahwa acara itu penuh dengan protokoler. Bahasa yang digunakan bahasa formal. Penyampaian bertele-tele. Presentasi dari pembicara pun sebenarnya tidak banyak menambah apa-apa karena bersifat informatif dan teoretis. Langkah yang diambil oleh Dinas sendiri terkesan (bagiku) selalu menghabiskan dana dan waktu bekerja. Sebenarnya kalau mau serius dan lebih berbobot adalah bagaimana pengawalan di setiap unit kerja dari sekolah-sekolah negeri dan swasta.

Terkesan dari apa yang dibuat dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 ini setengah-setengah. Di sisi lain juga tidak siap dengan landasan teori atau rasionale yang dirancang oleh kementrian. Ada ambisi yang keterlaluan bagiku yakni bahwa dengan kurikulum ini diharapkan generasi muda Indonesia yang akan memipin negara ini pada 2045, pada saat perayaan 100 tahun kemerdekaan nanti, menjadi generasi yang hebat, berkarakter dan bertakwa. Itulah ambisi yang terlalu ambisius. Oleh karena itu, kurikulum ini dirancang bahwa akan memuat pendidikan karakter yang lebih banyak, walau pendekatannya itu katanya scientific. Hal ini diambil karena ada keprihatinan bahwa bangsa ini mempunyai kepandaian intelektual tetapi kurang beriman, bertakwa dan kurang mempunyai budi pekerti. Dalam komponen kurikulumnya pun harus mengolah pengetahuan (akal), iman (hati), dan ketrampilan (tindakan).

Sayangnya ketika saya mendengarkan sejak masuk 3 bulan lalu di sekolah dan mau tak mau negara harus menuntut semua menjalankan kurikulum ini baik bagi swasta dan negeri tentu, saya kurang menemukan roh kurikulum ini sesuai harapannya. Saya hanya menemukan bahwa (1) administrasi guru semakin banyak, (2) metodologi dan pendekatan dalam psikologi perkembangan kurang pas, dan (3) kurangsiapnya komponen dalam pelaksanaan. Masalah banyaknya administrasi bagi guru, saya membayangkan demikian: guru dituntut untuk membuat persiapan (RPP) dengan segala macam kolom yang harus dibuat. Setelah itu RPP harus semua dikumpulkan ke Dinas, tak cukup di sekolah. Administrasi sebenarnya pekerjaan biasa bagi guru tetapi ketika semua harus dicatat dan diukur dengan detail baik kuantitatif dan kualitatif, saya mengibaratkan bahwa saat ini tiap guru butuh 1 orang asisten mengajar yang membuatkan administrasi dari persiapan, mengobservasi di kelas, dan akhirnya membuat assesment (penilaian dari ulangan harian, tugas, mid semester sampai ulangan akhir semester) yang dalam bentuk raport. Administrasi semakin bertambah dengan adanya kelas peminatan dan lintas minat karena ini juga membutuhkan pendokumentasian tersendiri yang relatif banyak dan "merepotkan" guru. Jam mengajar untuk matapelajaran sendiri saja sudah banyak, ditambah lagi dengan kelas peminatan yang ditujukan bagi murid dari jurusan lain agar mengalami jurusan yang lain. Misalnya dari IPA ke IPS atau sebaliknya IPS ke IPA.

Metodologi dan pendekatan yang psikologi perkembangan yang kurang pas adalah soal peminatan. Anak sampai dengan usia SMA adalah pribadi anak muda yang masih harus didampingi. Pilihan-pilihan dalam hal minat studi pun masih dalam batas pengawasan dan pendampingan guru. Oleh karena itu, dengan metode dan pendekatan minat, bagiku ini "ngayawara", terlalu dini dan mengada-ada bagi perkembangan anak. Mereka memilih pun juga sebenarnya karena diwajibkan. Minat pun akhirnya minat wajib. Alasan dari negara adalah agar murid dari jurusan IPA dan atau IPS dapat mengalami jurusan sebaliknya sehingga ketika masuk universitas nanti, mereka juga dapat masuk ke jurusan yang tidak selalu searah dengan jurusan ketika SMA. Terlalu dini sejak SMA sudah dijuruskan/dispesialisasi. Demikian pemikiran mereka. Dalam praktiknya di universitas pun jurusan IPA dapat masuk ke mana-mana. Memang dalam arti ini anak lulusan IPS yang dianaktirikan karena tidak dapat masuk ke jurusan MIPA di universitas. Apakah karena hal ini kemudian dibuat semacam ini?

Kekurangsiapan negara sebenarnya sudah awal diprediksi banyak orang. Buku yang sedianya sudah terdistribusi sejak pertengahan Juli tahun ini, dengan alasan adanya lebaran dan kendala teknis yang tak perlu sebenarnya, justru menjadi alasan utamanya, akhirnya tak terdistribusi sampai bulan Agustus ini. Kesan membuat-buat alasan selalu kami rasakan itu. dari segi konsep pun ketidaksiapan ini dirasakan. Ukuran rasa memang subjektif tetapi rasa itu juga adalah reaksi dari akal budi yang bertanya dan sanksi: "Koq seperti itu sih? Apakah pemerintah ini serius atau selalu cari proyek agar dirinya bekerja? Apakah kurikulum yang lalu sudah harus diganti atau dimodifikasi?" Kekuarangsiapan membuat sebuah ukuran pun terasa. Apa-apa harus diarahkan kepada Tuhan, Allah. Ujung-ujungnya kadang terasa dipaksakan. Bahkan ketika harus merangkum pembelajaran agar orang bertakwa kepada Tuhan, beriman lewat ilmu, rasanya memang aneh karena istilah dan cara yang dipakai itu dipaksakan. Cara beriman orang satu dengan yang lain akan diarahkan ke dalam ukuran yang sama dalam sebuah kurikulum. Ukuran keberhasilan iman dan takwa dimasukkan dalam sebuah kurikulum dan itu harus ada di setiap adminstrasi guru. Naif memang karena sering berurusan dan memasukkan Tuhan dalam "kendaraan" kecil yang bernama kurikulum karena dipaksakan.

Aku rasa ini sama seperti seseorang yang diperingati hari ini, Agustinus seorang dari Hippo Afrika Utara, yang pada abad ke-4 sudah mau memasukkan Allah dalam rumusan pikirannya. Memahami Allah yang Mahabesar itu dalam tempurung kepalanya. Ia disadarkan oleh peristiwa bertemu dengan anak kecil di pantai. Anak kecil itu memasukkan air laut ke dalam lubang yang ia buat. Air itu masuk tetapi meluber keluar karena sudah penuh. Ibaratnya seperti mau memasukkan air samudera ke dalam kepalanya, Agustinus sadar bahwa Allah melebihi ukuran kepala yang ia punyai.

Bukan aku tak setuju dengan tujuan baik bahwa setiap murid, setiap pribadi harus sampai pada tahap bersyukur atas hidup, ilmu, pengetahuan yang ia punyai. Yang pantas disayangkan adalah cara yang dipaksakan dan harus terukur secara terbatas dalam sebuah ukuran kurikulum. Menyadari dan memberi ruang untuk examen (memeriksa batin) ketika belajar bahwa Allah itu hadir dalam hidupku, itu harus dilakukan. Ilmu yang ada itu juga berasal dari hukum-hukum ilahi di alam semesta dan sebagainya, itu perlu disadari dan dibuat tetapi tidak lantas diukur sedemikian rupa sehingga ada hal yang dapat dipakai untuk menghakimi dan menilai berhasil atau tidaknya sebuah tindakan. Latihan refleksi dan menulis di SMA pun dalam rangka examen juga perlu dilatihkan dan masih banyak lubang, apalagi hanya sebatas diukur dengan angka dan narasi. Inilah kelamahan sebuah rumusan dan ukuran yang dibuat manusia. Ukuran dan rumusan itu tak mencakup dan tak mencukupi apa yang ia bayangkan. Maunya mengukur dan membuat penilaian karena metodenya scientific, harus ada bukti penilaian dari indikator, ternyata yang dinilai adalah sebuah kualitas dan bahkan sebuah penghayatan iman, bahkan relasi makhluk dan Penciptanya.Apakah ini tepat? Jangan-jangan kita sedang masuk tahap "atheisme praktis" lagi. Artinya memaksa-maksa diri untuk menyebut Tuhan, Allah tetapi kenyataannya kita berbuat yang sebaliknya: kejahatan tetap ada, korupsi merajalela, saling bunuh antar sesama, dan sebagainya.

Ah, itulah yang sedang terjadi di salah satu bagian yang dibuat di negara ini. Pendidikan menjadi ajang proyek dan rayahan elit birokrasi. Nalar kurang dipakai untuk kepentingan bersama dengan semestinya namun hanya sekedar menjalankan proyek, membuat rasionalisasi secukupnya, memakai otoritas yang harus memberlakukan secara paksa tanpa memandang keunikan dan keberagaman yang ada. Itulah yang terjadi.

O, iya...para perangkat birokratis selalu memakai ideologi perubahan untuk sosialisasi yang maunya menjadi sebuah propaganda yang setengah-setengah dalam menerapkan kurikulum ini. Sekarang zamannya perubahan. Semangat perubahan tidak disertai dengan cara mengawal yang baik sehingga masih terjadi ketimpangan di sana sini.



#in my office
Pada Peringatan St Agustinus

Thursday, August 7, 2014

Riuh

Semenjak Pemilu Presiden Juli lalu sampai saat ini dunia rasanya riuh. Keriuhan itu tak hanya di dalam negeri yang bernama Indonesia ini tetapi juga jagad ini sepertinya tak mau kalah riuhnya. Sampai-sampai saking riuhnya ada juga yang mengajak ricuh hehehe… Itu komentarku dalam hati.

Dunia ini begitu berisik. Tetapi itulah dunia. Tak ramai bukanlah dunia mungkin. Selama masih hidup di dunia, orang-orang masih butuh makan, masih ada persoalan ini dan itu, tandanya masih ada kehidupan.

Setelah pilpres pun masih ada sengketa. Pihak nomer 1 masih belum bisa menerima kekalahan dari nomer 2. Alasannya ada kecurangan dalam pemilu yang dibuat sistematis, masif dan terstruktur. Segala macam cara diupayakan agar kandidat nomer 1 bisa menang. Kubu nomer 1 dan pengikutnya sampai sebelum lebaran terus menerus mengusahakan agar terjadi kemenangan walau dalam perhitungan cepat sudah kalah bahkan sampai perhitungan KPU juga dinyatakan kalah namun hal itu belum dapat diterima kubu nomer 1. Kelompok ini merengek-rengek minta kemenengan, seperti anak kecil yang minta dibelikan gula-gula tetapi belum dikabulkan ibunya. Mereka terus merengek dan merengek agar diberi gula-gula.

Kericuhan internal bangsa ini pun berpotensi konflik. Itu yang ditakutkan banyak pihak. Orang sudah muak dengan cara-cara kekerasan, intimidasi, teror, ancaman dan sebagainya. Justru karena kubu nomer 1 memakai hal itu, maka orang-orang banyak yang sinis dengan cara-cara itu. Ada ancaman "people power". Ada orasi-orasi yang bernada ngawur di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Ada praktik-praktik perdukunan/klenik dengan dukun-dukun yang didatangkan. Bahkan para pendemo yang dikupas Kompas hari ini, 7 Agustus 2014 disebutkan bahwa ada pihak-pihak yang memang dibayar oleh pihak kubu nomer 1 untuk beramai-ramai datang ke depan MK untuk sekedar beriuh-riuh ria. Tarifnya dapat Rp. 50.000,00. Ada juga yang seharian dibayar Rp. 200.000,00. Mereka hanya diminta datang dan berdemo, tanpa tahu sebenarnya acara itu untuk apa. Ironis memang. Bahkan sampai setelah lebaran yang fitri bulannya pun masih terus mengusik kefitrian itu…

Itu baru ricuh di intern bangsa ini. Di lain tempat tetapi juga berpengaruh bagi bangsa lain adanya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok radikal ini sudah memakan korban nyawa ribuan dan masih akan memangsa pihak-pihak yang tidak sejalan dengan garis mereka. Kelompok ini sudah meneror dunia dari Teluk, Timur Tengah. Timur Tengah bukan hanya soal Israel vs Palestina tetapi sudah terpecah ke konflik yang lain. Krisis Gaza bukan lagi isu sentral politik dunia tetapi ISIS ini juga menebarkan teror masif dan terstruktur. Video-video yang diunggah di youtube sudah mempengaruhi dunia. Bahkan rekrutmen mereka dengan cara membaiat anggotanya sudah sangat masif dan agresif. Warga Indonesia pun ada yang sudah mengaku diri menjadi anggota, belum mereka yang mendukung.

Pertanyaanku: dunia koq makin berisik ya? Apakah kecenderungan memangsa saudaranya semakin berkembang dalam diri manusia? Mengapa orang sering memaksakan kehendaknya ke orang lain dan kalau tidak mau, akan dibunuh? Ini sebuah hukum yang sedang berjalan. Kecenderungan memangsa rekannya menjadi jalan yang ditempuh manusia yang katanya beradab. Apakah keadaban ini sudah dilupakan manusia? Dalam tulisanku ini aku hanya dapat bertanya.

Mentalitas tak mau kalah juga merupakan hukum yang sekarang sedang ngetrend di kalangan manusia. Kalah itu ibaratnya salah. Kalah itu harus ditiadakan. Banyak pihak tak mau kalah. Bahkan hukum ini sudah diajarkan sejak kecil: "jangan sampai ada kata kalah/tak naik/tak lulus." Jika tak lulus, yang disalahkan adalah pihak yang tidak meluluskan. Jika tak menang, yang disalahkan adalah penyelenggara pemilu dan sebagainya. Itulah yang sedang dihidupi manusia.Tak ingat bahwa ia ada di antara manusia yang lain. Ia juga punya kelemahan. Ia hidup tidak selalu super, menang, berprestasi. Menghargai kekalahan, menyadari diri lemah sepertinya tidak lagi masuk dalam kamus hidupnya. Menghargai yang lemah apalagi, jika menyadari diri lemah saja tidak mau atau tidak bisa. Itulah yang terjadi saat ini.

Dalai Lama mengatakan bahwa "planet ini tidak butuh orang-orang yang sukses dan menang tetapi butuh dihidupi oleh orang-orang yang mengusahakan perdamaian." Bunda Teresa dari Kalkuta senada mengatakan bahwa "Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, tetapi untuk lebih setia dalam menjalani hidup". Kata-kata dari dua orang bijak menjadikan kita sadar bahwa hidup ini harus dijalani dengan realistis dan rendah hati. Tidak hanya kita mengumbar keriuhan hidup yang mengarah pada kericuhan tetapi juga perlu hidup lebih damai, merawat kehidupan bukan mengancam orang lain. Bukan budaya kematian yang kita buat tetapi budaya kehidupan, kata St. Yohanes Paulus II.

Harapan pribadiku saat ini "semoga dalam dunia yang berisik, Tuhan selalu berbisik," kata salah seorang anak yang kudengar kemarin. Dan semoga bisikan Tuhan itu kudengar, aku tidak tuli dan menyadarkanku akan kehidupan ini. Mari saling mendoakan dan megusahakan perdamaian. Syalom.





#Malam hari di kamarku#


Wednesday, July 23, 2014

Syukur dan Tafakur

Bersyukur ternyata tidak semua orang menjalankan. Boro-boro menjalankan, kadang hal itu pun tak sampai pada sebuah ingatan. Kalaupun ingat, itu tak menjadi bagian penting dalam hidup. Aku ingat tetapi itu tidak menjadi sesuatu banget. Jika hari ini ada beberapa rekan yang menelpon atau mengucapkan "selamat" atas peristiwa hidup tertentu, bagiku ini menjadi dukungan mengingat dan menjalankan rasa syukur itu. Syukur memang tidak sekedar rasa tetapi perbuatan. Sykur meluap lantaran orang sadar akan dirinya, tempat ia hidup, bagaimana ia bekerja, apa dan siapa yang di sekitarnya, mau kemana dirinya dan sebagainya. Syukur lahir lantaran olah hidup yang ia jalani, bukan spontan saja.

Di tengah bangsaku yang ribut-ribut dengan pilihan presiden baru dan kemarin walau dengan alot perhitungannya ditambah dengan mundurnya salah satu calon dan tidak mengakui perhitungan resmi KPU, akhirnya sekitar pukul 20.15, pengumuman pun dilaksanakan. Perhitungan tidak banyak berubah. Selisih tipis. Tetapi yang menarik bagiku adalah partisipasi rakyat. Baru kali ini aku merasakan semangat yang menggelora rakyat berpartisipasi dalam pemilihan presiden dan itu seperti moment penting yang mau tidak mau hak harus dipakai. Walau secara matematis, angka golput masih juga ada.

Masih ada rasa was-was, karena dengan kemenangan ini kadang euforia ini dimanfaatkan kubu yang tak suka (bukan hanya menuding kubu yang kalah) untuk memperkeruh suasana. Saat ini masih bulan puasa Ramadhan. Sebentar lagi lebaran. Banyak pemudik bersepeda motor, naik pesawat, naik bus, kereta atau kapal. Suasana Jakarta masih rentan bahaya kerusuhan. Bromocorah masih berkeliaran memanfaatkan situasi. Orang kadang lupa jika sudah senang dan berjejal-jelal. Ada yang tengah menyelesaikan administrasi politis. Ada yang lega setelah penghitungan setelah berhari-hari tertekan untuk segera melayani publik degan sebuah keputusan.

Di sisi lain aku membayangkan masih ada orang yang kecewa. Masih ada orang berkumpul untuk merencanakan sesuatu yang jahat. Masih ada rasa getir dan kecewa. Rasa kecewa akan dikemanakan, kita tidak tahu. Apakah akan diwujudkan dengan merecoki secara terang-terangan? Atau akan merecoki secara sembunyi-sembunyi? Apakah akan merecoki dengan taraf kecil atau besar? Semua tidak ada yang tahu. Aku hanya berpatokan bahwa penjahat akan beraksi pada saat tak terduga. Sekali lagi Bromocorah perwujudan Dasamuka itu masih terus bergentayangan. Mungkin sementara ini masih tiarap atau masih berwujud wajah malaikat manis yang diam. Sekali lagi, aku tak tahu dan tak ingin lengah.

Sykurku pun harus dibarengi tafakur. Tafakur bukan hanya bersujud tetapi menyatukan akal budi dan hati untuk beriman dan mendekatkan diri pada Allah. Berpikir-pikir dan merenungi hidup ini dan konteks yang melingkupiku: aku ada di mana, sedang apa, mau apa. Kusadari diriku dan keberadaanku di sini dan saat ini, inilah tafakurku. Aku tak ingin banyak orang mengalami penderitaan karena ada pihak yang lalai dan tak tafakur. Durga Umayi sekali lagi ada dalam hidup kita. Selalu ada dua wajah jahat dan baik.

Mari bersyukur tetapi tetap sadar diri akan masih adanya bahaya. Orang Jawa mengatakan "kowe iso kesandhung ing tawang" (bisa tersandung di awang-awang). Padahal sudah di awang-awang, itu pun masih bisa terjadi halangan. Itulah wujud kewaspadaan diri kita. Jangan sampai gerombolan Bromocorah mengacaukan hidup kita. Salam buat kita semua. Peace. Salam persatuan.


#6 anno in presbyter
@my office

Sunday, July 13, 2014

Pertaruhan: Lanjutan "Pertandingan"

Sekali lagi aku tergelitik untuk menuliskan hal ini, yaitu tentang sarang-surupnya sebuah mekanisme dimana sistem tak kuat, tak baik. Pertama-tama saya melihat dari sebuah kehendak membangun sebuah komunitas. Dalam komunitas, hiduplah berbagai kalangan atau kelompok atau bahkan individu. Kesemuanya butuh tata aturan yang harus jelas dalam perjalanannya. Tata aturan dibuat bukan untuk mengekang tetapi untuk mengatur lalu lintas dan kepantasan dalam kehidupan. Kehendak baik untuk membangun dan menata diri ini masih minim dalam masyarakat yang bernama komunitas negara Indonesia ini. Terlalu banyak kepentingan yang dibiarkan bersliweran ke sana ke mari. Memang ada kehendak satu agar negara ini bertahan hidup. Itu pun tak cukup, maka harus ada sistem yang mengatur dan mempertahankan kehidupan itu.

Kedua, adanya sebuah sistem yang dibangun bersama dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kelola komunitas. Contohnya, bagaimana seorang pemimpin dihasilkan. Ada sebuah mekanisme pemilihan. Mekanismenya, ada waktu pemilihan yang bertahap dan rentang waktu tertentu. Ada badan yang mengelola sistem pemilihan. Ada cara pencalonan dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya warga negara Indonesia yang sah, sehat fisik-mental, berkelakuan baik (secara hukum dan penilaian publik), mempunyai visi-misi yang jelas. Itu contoh sederhana. Sistem juga membutuhkan sebuah perencanaan pelaksanaan, pengawalan secara intensif saat pelaksanaan, dan evaluasi pasca pelaksanaan. Ada lembaga pengawal dan penjaga kemurnian sistem agar berjalan baik. Adanya mekanisme terbuka secara publik supaya dinilai masyarakat luas juga menjadi keterbukaan ini.

Ketiga, saat pelaksanaan, sistem selayaknya berjalan dengan bersih. Tak ada intervensi dari berbagai kalangan atau kepentingan yang merusaknya. Sistem terbangun dari kehendak. Kehendak membuat sebuah kesepakatan bersama, maka kesepakatan ini menjadi pertaruhan apakah sungguh mau taat sistem atau hanya ingin menangnya sendiri. Perlu diingat juga bahwa tujuan membuat sistem adalah demi kemaslahatan bersama (bonum commune). Kebaikan bersama dalam berkomunitas inilah yang harus diperhatikan. Ini bukan soal klaim sana sini tetapi sekali lagi jelas harus dimanifestasikan dalam kehidupan real. Poin ketiga ini mau mengatakan bahwa itikad/niat baik harus disertai dengan tindakan yang baik pula. Tak cukup hanya niat atau bahkan janji-janji tetapi  sudah sejauh manakah itikad itu terlihat dari track record yang salama ini ada. Hal ini juga akan kelihatan dari berbagai aktivitas reaktif selama dan pasca pelaksanaan sebuah sistem, apalagi saat menentukan sebuah keputusan. Di sini ada tegangan yang dihadapi oleh siapapun yang mengharapkan sesuatu (kemenangan demi kekuasaan). Indikasi apakah seseorang/kelompok itu mempunyai moralitas (niat dan perilaku yang sesuai) adalah mampu/tidakkah mereka menerima dan mengakui segala yang akan terjadi. Kedewasaan pribadi atau komunitas akan terlihat di sini.

Adanya situasi dalam masyarakat sekarang ini yang bernuansa "tergantung siapa dan kepentingan apa" sangat merusak kehidupan komunitas. Suasana mengambang ini sangat disukai pihak-pihak yang provokatif dan reaktif ambisius berkuasa. Dengan situasi macam ini masyarakat diombang-ambingkan dalam ketidakpastian. Padahal sistem dibuat agar masyarakat terbantu kepastian hidupnya. Bagaimanapun juga hal ini haruslah diperhatikan karena eksistensi sebuah komunitas tidak tergantung siapa dan kepentingan apa namun dapat dipastikan karena adanya kehendak yang baik yang tertuang dalam sistem yang baik dan dijalankan dengan perilaku yang baik juga.

Tidak dipungkiri bahwa selama masih hidup di dunia, yang ideal itu tidak mudah dicapai, bahkan tak ada. Yang dapat dibuat adalah mendekati yang ideal itu. Pasti akan banyak yang merecoki. Biasanya yang diidekan baik itu banyak musuhnya. Yang berbuat baik tak semua mendukung. Orang baik jika tidak dibarengi dengan tindakan yang baik juga tidak mudah diterima. Oleh karena itu perlu ada kehendak baik (good will). Kehendak baik itu tertuang dalam mufakat dalam sistem yang baik. Sistem yang baik dijalankan dengan cara yang baik dan oleh pihak-pihak yang baik pula. Harapannya dengan demikian akan terbentuklah bonum commune, kebaikan bersama.





*in our community, we need good will to create bonus commune. Good will should be implemented on good system. And good system has to be run by good people.





Sunday evening in my room.

Thursday, June 19, 2014

Pertandingan

Tahun ini, aku disodori pertandingan demi pertandingan. Di negaraku sendiri sedang ada pertandingan calon presiden dan wakilnya yang saling bertarung memperebutkan kemenangan kursi kepresidenan periode 2014-2019. Sedangkan dalam skala dunia saat ini aku juga tengah menyaksikan pertandingan demi pertandingan sepak bola antar negara di dunia, tentunya yang sudah melakoni dan lolos dalam babak kualifikasi sebelumnya. Piala Dunia di Brazil 2014 berlangsung dari tanggal 13 Juni-13 Juli 2014.

Mengapa pertandingan ini membawaku untuk mencatat dalam tulisan ini? Pertama-tama, aku tertarik akan sebuah pertandingan karena ada dua kubu yang saling memperebutkan kemenangan. Oleh karena itu tim yang membawa kemenangan ini pun disebut tim pemenangan. Kedua, dalam sebuah pertandigan ada taktik yang harus dipakai untuk mengalahkan kubu yang lain. Taktik ini dibuat oleh tim maupun seorang pelatih. Ada pihak yang dianggap kompeten dalam membuat sebuah cara/jalan yang membawa pada sebuah tujuan yaitu kemenangan. Ketiga ada pelatih/tim sukses/tim pemenangan untuk membuat strategi tadi. Pihak ini akhirnya yang akan mengolah cara mempengaruhi publik atau situasi atau bahkan internal tim sendiri supaya dapat menaklukkan lawannya.

Perbedaannya sekarang, dalam pertandingan Piala Dunia adalah kemenangan di puncak dengan memboyong tropi/piala itu sendiri, sedangkan dalam pertandingan pemilu presiden adalah bahwa calon presiden dan wakilnya yang menang nanti masih harus membuktikan dalam kerja selama jangka tertentu untuk dapat menyejahterakan rakyat. Oleh karena itu, perbedaan inilah yang akhirnya membawaku ke tulisan ini sebenarnya. Di sini aku mau menunjuk prinsip hidup yang sering hilang dalam perjalanan kita. Ada sarana dan tujuan.

Hidup ini ada tujuan dan sarana. Tujuan dalam pertandingan bola adalah kemenangan, meraih tropi piala. Sedangkan dalam pemilihan presiden dan wakilnya adalah kesejahteraan bersama/bonum commune. Kemenangan pasangan capres bukanlah tujuan tetapi sarana untuk bonum commune. Oleh karena itu tujuan inilah yang perlu kupakai untuk patokan apakah "pertandingan"dalam pemilu capres ini cukup mengarah ke sana. Artinya, walau keduanya belum sama-sama bekerja sebagai presiden, namun dari program-program yang diutarakan, visi dan misinya, lalu pendukung dan perilaku selama kampanye apakah mengarah ke sana atau paling sedikit punya kehendak baik dan tulus untuk bonum commune. Yang tidak kalah penting adalah riwayat hidup kedua calon.

Mengapa aku sampai pada sebuah penilaian tentang riwayat hidup? Masa lalu tidak dapat dilupakan. Melupakan masa lalu hanya akan menyakiti hidup kita. Melupakan masa lalu tanpa mengolahnya berarti kita sebenarnya menolak diri kita sendiri yang selalu ada dalam tiga dimensi dahulu, kini dan masa depan. Bahkan tim-tim lawan dalam sepak bola juga akan melihat jejak sebuah tim dalam turnamen. Tim akan disegani jika pernah meraih juara dan sebaliknya, walau tak sepenuhnya ini menjamin. Di sini poinnya: di negara kita ini sistem pemilu masih harus diperbaiki. Bagaimana mungkin orang yang dinilai publik luas bermasalah hidupnya dapat mencalonkan diri dan lolos dalam kandidat seorang pemimpin publik? Itu poin yang sebenarnya ingin kutulis.

Seturut pengalamanku, dalam pemilihak ketua senat pun di sekolah, yang harus dibuat baku dan ketat adalah sistemnya. Sistem yang memungkinkan pihak-pihak ikut andil bagian namun juga tidak memungkinkan pihak yang studinya jelek (intelektualitas), raport sikapnya buruk (perilaku) dan kepemimpiannya kurang (leadership) tidak akan lolos sebagai kandidiat. Minimal 3 hal itu sebagai kriteria untuk pemilihan calon. Tahap yang lain adalah harus ada izin dari orangtua secara tertulis dan tes tertulis plus wawancara 3 tahap. Setelahnya dilakukan pelatihan kepemimpinan. Dalam pelatihan kepemimpinan pun masih ada catatan level kualitas kepemimpinannya. Itu yang pernah aku buat. Lha wong yang demikian pun masih banyak kekurangannya, apalagi tanpa itu. Perbaikan dan pembenahan sistem di negara ini merupakan kebutuhan mutlak secara pelan-pelan maupun cepat yang harus segera dijalankan.

Alangkah akan menarik jika sistem sudah ada dengan baik dan dijalankan dengan konsekuen. Pertandingan pun akan berjalan dengan menarik pula. Pihak-pihak yang mendukung pun juga akan menjalankan dengan baik dalam niat yang baik pula. Segala macam cara yang tak terpuji sering terjadi karena sistem tidak kuat dan baik serta pelaku sistem tak konsisten. Masih ada muatan-muatan kepentingan pribadi atau golongan yang mengatakan bahwa "aku harus menang dengan segala cara". Itulah prinsip machiavellian, sebuah prinsip mencapai kemenangan yang ditawarkan oleh Nicolo Machiavelli dalam bukunya Il Principe. 

Saat ini adalah saat hidupnya kinerja management yang kuat dengan sistem dan pelaku. Jika sistem dan pelaku kuat maka pengawalan dari awal, tengah dan akhir itu diharapkan juga kuat. Oleh karena itu pertandingan dapat dilihat dari tim yang ada. Apakah struktur tim dari lini belakang, tengah dan depan baik? Apakah persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi/pertanggungjawaban baik? Itu semua dapat dilihat dari kinerja saat ini dalam kampanye-kampanye yang ada. Kesalahan dan kekurangan tentu ada, namun apakah itu menjadi ciri khas atau hanya efek kekurangan dalam sistem? Nah, itu yang sebenarnya ingin kutulis saat ini. Dan aku hanya ingin mengungkapkan ini. Pertandingan, kompetisi bukan suatu yang hanya ingin cari menangnya tetapi di sanalah diriku dan pedukungku serta cara-caraku itu menunjukkan kualitas hidupku sebagai manusia (bermoral).


* Competition brings me to write down this article. I just want to say about system and agent that make competition fairly. There are World Cup 2014 in Brazil and also general election for president in Indonesia between Prabowo-Hatta and Jokowi-JK. 



#on Thursday evening in my room

Saturday, May 31, 2014

Power

Aku terus-menerus merasa prihatin dan capai dengan kejadian demi kejadian belakangan ini. Rasanya sebuah pertarungan terus terjadi. Persaingan silih berganti. Semua menjanjikan ini dan itu sampai menjijikkan. Yang berkoar-koar selalu dengan alasan bagus-bagus, namun karena saking muaknya dan banyaknya (over) malah jadinya adalah ingin melepeh saja. Bayanganku, siapapun yang akan menang dalam menduduki kursi kepresidenan selama tidak realistis dan membangun negeri ini dengan bijak, maka hanya akan ada prahara. Kubu yang satu yang menang maka kekerasan terjadi karena afiliasi dan koalisinya adalah pihak-pihak yang memang melegalkan kekerasan. Kubu kedua yang menang pun, dapat jadi masih akan ada prahara karena kubu yang satu tadi mengamuk dan mengambil tindakan untuk tidak terima karena kekalahannya. Bayanganku juga karena masih ada kelompok-kelompok yang mempunyai pasukan untuk membabibuta dalam memperlakukan "lian" sebagai benda mati, yang dapat disikat, dipentung, disetrum, diinjak-injak secara fisik. Membaca berita yang isinya hanya kekerasan dan persaingan membuat kepala jadi pusing kadang.


Negara tidak berfungsi. Jika pun berfungsi, itu hanya sebatas formalitas dan tak efektif, apalagi efisien. Bagiku sejak mengenal seluk-beluk kekuasaan (politik) semuanya jadi tidak layak untuk diapresiasi. Negara bagiku adalah sebentuk perkumpulan "garong" yang tak sopan. Negara berseragam tentara pun pernah kualami sebagai penjahat kemanusiaan, mulai dari menghina penduduk sipil yang mencari Surat Keterangan Kelakuan Baik. Negara adalah sekumpulan tentara yang justru menyerang masyarakatnya. Negara juga yang hanya sekumpulan orang dalam kabinet atau yang dipimpin segelintir elit politik dan mencari keuntungan sendiri karena multi national corporation menyuap mereka agar produk-produknya dapat beroperasi di sini dengan memakai buruh murah upahnya. Negara ini sudah dibagi-bagi oleh sekumpulan garong dengan pakaian resmi berdasi ataupun yang di pasar-pasar meminta upah dari para bakul dan pedagang, bersenjatakan pentungan dan tampang sangar.



Wajah Durga-Umayi (jika mengambil judul novel alm. Mangunwijaya) selalu akan nampak di negeri ini, sebuah negeri yang sudah lama terjajah dan tertindas. Kemenangan pun bukan hasil dari kemenangan perang dari penjajahnya tetapi karena momentum ketika Perang Dunia II Sekutu mengalahkan kelompok Fasis Jepang dan Jerman pada waktu itu. Oleh karenanya, kesadaranku sekarang mengatakan bahwa kemerdekaan kita masihlah semu. Aku bukan berarti tak menghargai para pahlawan yang gugur selama perang, tetapi ketika menyadari bukan dari mereka sajalah kemerdekaan itu didapat, dan lebih banyak momentum sejarah, maka kemerdekaan sebenarnya sebuah "hadiah" dari momentum itu. Jika aku sinis mengatakan, "Ya, karena Jepang-Jerman kalah perang, maka kemerdekaan Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia itu diusahakan para pemuda. Caranya, awalnya "memaksa" Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan, sebuah deklarasi kemenangan. Pemaksaan ini pun dengan penculikan ke Rengas Dengklok. Mobil untuk menculik pun hasil rampasan dari Jepang, atau setidak-tidaknya zaman perang Jepanglah yang menguasai mobil-mobil dinas Belanda sebelumnya. Sejak lahirnya negeri ini, Durga-Umayi, kebatilan-kebaikan silih berganti bermunculan. Belum lagi, ketika kudeta berdarah yang memakan lebih dari 1 juta jiwa anak-anak negeri ini tahun 1965, wajah Durga itu sangatlah kentara, haus darah, tak melihat itu anak siapa. Tahunya yang dimusihi harus mati. Usia 32 tahun kemudian, darah itu kembali mengucur, merenggut anak-anak negeri karena kekacauan yang dibuat karena perebutan kekuasaan juga. Diktator, penguasa absolut, selalu menjadi masalah ketika sudah membelenggu dan korup. Tahun 1998, revolusi berdarah kembali terjadi. Jika dibandingkan dengan tahun 1965, kejadian itu berbunyi demikian bagiku: "Tahun 1965, karena ada konflik internal dalam tubuh tentara maka 7 Jendral dikorbankan. Namun sebagai balasan 1juta lebih manusia jadi balasan. Itu pun masih dibumbui dengan keangkaramurkaan Perang Dingin waktu itu. Tahun 1998, tragedi berdarah itu dibuat karena satu keluarga dirobohkan kekuasaannya, maka jutaan manusia dikorbankan dengan cara: dibakar di mall-mall, diperkosa, ditembaki, diculik dan dibunuh, dengan alasan subversif, anti-Cina dan semacamnya yang terkesan dibuat berbagai macam skenario supaya nampak kacau, rusuh, marah. Itu hanya sebuah wajah Durga yang memancar dan keluar kemarahannya sehingga memakan anak-anaknya sendiri.



Saat ini, aku hanya ingin berandai-andai. Aku membayangkan lagi bahwa seandainya tak ada perseteruan politik di negeri ini, seandainya persaingan politik tidak ada, seandainya usaha meraih kekuasaan tidak lagi ada, yang ada hanya pergantian pemimpin yang mau mengelola kehidupan, rasanya udara ini tak terasa panas. Tak ada kampanye. Tak ada corong berbunyi semu. Tak ada tindakan saling merugikan. Yang ada hanya rembugan bersama bagaimana mengelola dan menata negeri ini. Tetapi tetap saja bagiku muncul lagi Durga di tengah bayangan dan harapan wajah Umayi. Di dalam diri manusia selalu saja keduanya itu muncul. Ketika tengah berkampanye, tiba-tiba di tengah suasana doa dan bernyanyi, serangan kelompok berjubah putih mengaku beragama dengan pentung dan setrum menyerbu mereka yang berdoa. Pamong pengaman bicaranya juga lucu: "Ya nanti, jika ada acara bersama, silakan memberitahu kami." Pengaman itu adalah bunyi dan suara negara. Lha, kalau negara saja omongannya seperti itu, kita sudah tak punya harapan akan keamanan. Acara bersama apapun harus dilaporkan kepada pengaman itu. Apakah ini membuktikan bahwa negara sudah salah kaprah menjawab apa yang sedang terjadi? Seolah-olah negara harus mengurus semuanya, namun kenyataannya jika tanpa bayaran, negara juga tak bergerak. Sekali lagi "negara garong." Berdoa bersama harus lapor. Bahkan ketika doa itu sudah hampir sebulan ini biasa saja tetapi di akhir-akhir harus terjadi insiden. Kesiapan pengamanan tak ada. Preman-preman kriminal dibiarkan berkeliaran dan memangsa siapapun yang bagi mereka musuh.

Kuakhiri andai-andaiku ini dengan lirik lagunya The Beatles, "Imagine". Hanya dengan lyric itu, aku membahasakan kembali bayanganku, pengandai-andaian di atas tadi. Harapan dan iman itu masih ada. Tinggal bagaimana mewujudnyatakan cinta dalam hidup kita yang jauh dari kekerasan, konflik karena kepentingan tertentu. Wajah Umayi memang mahal untuk dimunculkan. Tetapi marilah kita selalu bernyanyi….memanjatkan mantra-mantra untuk merawat kehidupan bersama.




Imagine there's no heaven

It's easy if you try

No hell below us

Above us only sky

Imagine all the people living for today
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace
You, you may say 
I'm a dreamer, but I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people sharing all the world
You, you may say 
I'm a dreamer, but I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will live as one




#Bumi Merto, Akhir Mei 2014#

Friday, April 18, 2014

Perih ing Ati

Dalam dua hari ini, aku ditantang kesabaran dan minatku untuk berdoa. Lantaran hari kemarin ada anak yang di depanku sedari awal misa sampai konsekrasi pun masih tengak-tengok ke belakang, usil, usreg, jawil sana jawil sini kepada temannya, iseng, sampai membuang tisyu di kantong temannya. Hatiku merasa perih melihat hal ini. Aku masih mendiamkan, sebagaimana aku ingin diam sebelum "waktuku tiba nantinya." Ya, aku adalah seorang yang baru datang. Aku belum perlu untuk ini dan itu dulu. Aku lihat pemandangan yang ada dahulu baik itu menurutku pantas, dan baik itu yang tak pantas. Hari ini tadi anaknya kulihat berperan sebagai prajurit Romawi dalam visualisasi penyaliban.

Sore hari ini tadi ketika ibadat penghormatan Salib, aku juga agak dimangkelkan dengan orang tua yang ikut misa di Kapel Petrus Canisius. Bukan kehadirannya yang bikin hatiku mangkel tetapi komentarnya yang bikin aku merasa tidak enak. Aku pun merasa heran ternyata ada juga orang luar ikut misa di dalam. Lantas aku pun membandingkan dengan zamanku dulu. Yah, mungkin aku cenderung fundamentalis dalam hal ini, cenderung puritan kemungkinannya. Ada yang solis bermazmur sedikit fals, ia komentar. Ada koor yang fals, dia komentar. Lalu dalam hatiku komentar-komentar itu seperti menggema dan seolah berbicara sendiri: "Jangan-jangan maju dua kali dari penciuman salib lalu maju lagi untuk komuni juga dikomentari: 'Ngapain gak dibuat efektif dan efisien sih? Kan bisa maju cium salib dan komuni'." Itu yang terucap dalam hatiku.

Setelah ibadat selesai, aku tanya kepada Bruder yang sudah lama di sini, "Der, tadi itu orangtua seminaris atau siapa?" Bruder menjawab, "Ya, mereka itu orangtua seminaris." Aku memang melihat 2 mobil parkir di depan kapel besar. Yang satu berplat polisi B, yang lainnya AA. Itulah seminaris dan orangtua zaman sekarang. Ketika anaknya belum libur dan tidak dapat libur, mereka yang datang mengunjungi. Kemungkinan ketika "day off" hari Minggu besoknya, mereka akan mengajak anak mereka keluar dari Seminari untuk berkumpul bersama. Lantas aku juga bertanya, "Der, berapa banyak orangtua seminaris yang mantan seminaris?" "Banyak", jawab Bruder. 

Aku membayang-bayangkan dari kisah-kisah para formator di sini dari suasana yang terbangun di sini saat ini memang sangat jauh berbeda. Kedewasaan, kekritisan, daya juang, karakter seminaris banyak sekali berubah. Banyak kesulitan atau lebih tepatnya tantangan para formator saat ini karena harus memahami situasi anak dan orangtua/keluarga yang melahirkan seminaris pada zaman sekarang. Proses formatio dengan instrumen di Seminari sudah dibuat sedemikian rupa, namun ketika pulang ke rumah saat liburan, apa yang dibentuk di Seminari dimentahkan formatio di rumah mereka. Fasilitas diberikan dengan begitu mudahnya saat mereka masih kecil sampai sebelum masuk Seminari. Fasilitas bukan hanya fisik, tetapi juga kemudahan psikis, kenyamanan, tidak pernah dimarahi, tak pernah dilatih bekerja keras, semua dicukupi. Anak menjadi tak lagi mempunyai mental untuk berlatih kerja keras. "Jangan sampai anakku sengsara." Itu mental yang terjadi selama ini. HP di Seminari tak diizinkan untuk dipakai. Namun ketika di rumah, mereka difasilitasi HP. Bahkan secara sembunyi-sembunyi anak membawa HP ke Seminari, dengan mengorbankan novel yang dilubangi dalamnya untuk menyimpan HP. 

Maksudnya adalah untuk lepas bebas dari sarana dan tidak lekat dengan fasilitas. Itu perlu dilatihkan. Dan itu baru salah satu hal saja sebagai latihan untuk menumbuhkan keutamaan. Sebagai calon imam tentunya tradisi dan inovasi dalam proses formatio itu juga diperhatikan. Seratus tahun lebih tradisi itu sudah dijalankan tetapi apakah akan rusak begitu saja oleh kemajuan teknologi informasi dari inovasi itu? Tentu tidak. Harus ada dialog mentalitas tradisional dan mentalitas modern. Mana itu sarana dan mana itu tujuan harus jelas. Jika sarana merusak tujuan, maka sarana dapat ditinggalkan. Pergulatan akan terjadi karena ada tegangan. Namun di sinilah proses formatio itu berlangsung. Tak semua itu mudah. Bukan semua yang mudah itu baik dan formatif. "Road to hell is paved by good intention". Niat baik belum tentu menjadikan semua itu baik jika melupakan tujuan formatio calon imam. 

Oleh karena itu sementara ini yang kutemukan adalah formatio bukan hanya ditujukan kepada seminarisnya tetapi juga orangtuanya, keluarganya. Semakin ke sini, keluarga-keluarga zaman sekarang harus dirangkul dan diperhatikan sebagai para formator yang juga harus menjalani proses formatio dalam mendampingi anak-anak mereka. Bukan lantas segala sesuatunya diserahkan kepada para formator Seminari. Pernah terjadi bahwa orangtua memberi HP dan anaknya diskorsing. Kadang juga ada orangtua yang tak terima anaknya mengalami proses formatio dengan kebijakan yang sudah dijalankan sekian lama. Memang kita menyadari akan perlunya dialog, saling beri informasi, saling memahami bahwa pendidikan calon imam itu mempunyai kekhususan dan sebagainya. Bahkan ada persetujuan ketika masuk, namun yang namanya kilaf, kelalaian, kekurangmauan memahami dan sebagainya tetap saja terjadi. Kami menyadari bahwa zaman berubah, tetapi apakah kita akan hidup terlarut dalam arusnya zaman. Justru pendidikan (calon imam) pada dasarnya mau mengalami perubahan zaman sebagai bagian, disikapi, dan dijadikan "sangu" melatih diri agar tak lekat oleh arus itu dan mampu melihat dunia dan mencintai sebagai sarana mencapai tujuan yaitu kemerdekaan diri dan mampu menjadi orang-orang yang berlatih menyelesaikan dirinya.

Anies Baswedan dalam Kompas menulis "INDONESIA harus diurus oleh orangbaik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani: kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya." Kata kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya menggelitikku untuk menuliskan keprihatinan ini ("perih ing ati" yang menjadi akar kata "prihatin"). Kepemimpinan di manapun dan oleh siapapun juga harus demikian, orang terdidik yang sudah selesai dengan dirinya, selesai dengan pergulatan hidupnya, selesai dengan kelekatan-kelekatan yang menimbulkan self interest atau kepentingan-kepentingan yang menghalangi dirinya untuk memimpin secara jernih dan jujur. Nah, di sinilah proses dinamika formatio calon imam juga melatihkan agar sejak awal orang mampu ke sana, menyelesaikan segala pergulatan dirinya secara psikis, mental, dan kelekatannya itu. Di sanalah proses pendampingan itu diadakan. Jangan sedikit-sedikit merasa disusahkan, disengsarakan oleh para formator, atau bahasa sekarang di-bully. Kata terakhir ini sering menjadi senjata orangtua dan anak untuk menghindar dari latihan kerja keras. Bukan berarti aku menyepelekan bullying, tetapi jangan sampai itu menjadi excuse untuk tidak mau berlatih hidup berjuang.

"It is not easy to follow Jesus closely, because the path he chooses is the way of the Cross." Itu kata-kata Paus Fransiskus dalam twitter-nya. Tak mudah mengikuti jejak Yesus. Apalagi mau menjadi pemimpin yang mewartakan Dia sendiri. Generasi sekarang jelas berbeda dengan dahulu. Generasi sekarang adalah generasi yang sejak lahir disuasanai dengan hiruk-pikuk gadget, cellphone, ipod, ipad, laptop, tablet, dsb. Maka tak mengherankan jika mereka lekas bosan, tak jenak dengan duduk membaca, gelisah untuk ke dalam dirinya, karena hidup mereka serba harus cepat berganti dan lebih visual animated. Dunia virtual ada dalam darahnya. Games online merasuki jiwanya. Dan ketika mereka masuk dalam dunia yang harus hening, bergulatlah mereka dengan dirinya. Itulah gambaran dunia anak zaman ini. Inilah tantangan proses formatio di zaman ini pula. 

Sunday, April 13, 2014

Piye Kabare?

Daun Palem atau Palma atau Palm menandai perhelatan sebagian orang di penjuru dunia untuk merenungkan sebuah JALAN. Jalan yang satu ini sering terdengar dan didengungkan banyak kalangan tetapi tak jarang pula JALAN ini merupakan jalan yang disingkiri sekian juta orang. Ada yang menempuhnya tetapi tak sedikit yang menyingkirinya. Siapa yang akan menyukai sebuah JALAN kalau melewatinya pun harus kerja keras, "rekasa", "ngaya", "kakehan gaweyan"(orang Jawa bilang), jerih lelah, dan sebagainya. Jalan ini bukan saja berwujud fisik yang ditapaki kaki dari satu tempat ke tempat yang lain.

Memang JALAN ini sering disebut sebagai jalan SALIB. "Jalan koq bernama salib. Jalan koq ada salibnya?" Ya jelas saja siapa mau disalib. Disalib bisa diartikan: (1) didahului ketika kita sedang enak-enak berjalan atau (2) dipaku di kayu palang yang berbentuk salib itu. Dari artinya pun  kita sudah dapat merasakan bahwa itu tidak mengenakkan. Dan ekspresi orang ketika tidak suka bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan "saya sering buat tanda salib tetapi untuk menjalaninya, hmmmm…ya tunggu dulu…." Itu pun diungkapkan dalam hati. Mau terungkap di mulut, masih berat. Takut dinilai tidak beriman, katanya. Ada juga orangtua yang mengatakan, "Ojo nganti anak putuku mengko rekasa kaya jamanku! " (Jangan sampai anak cucu saya nanti sengsara seperti zaman saya dulu). Dan yang lebih mengesan dan dibuat kesan sampai saat ini adalah sebuah gambar yang sudah meluas beberapa waktu lalu. Gambar itu menunjukkan seorang bekas pemimpin negeri ini dengan sebuah kata-kata: "Piye kabare Bro, isih enak jamanku tho?" (Bagaimana kabarnya saudara, masih enak zamanku kan?).

Jelas-jelas, ekspresi manusia di manapun dan kapan pun itu, sering lebih mau mencari enaknya daripada tidak enaknya. Manusia lebih mau mengarahkan hidup ini pada sebuah kenyamanan (yang tentu berbeda dengan keselamatan). Lalu apa bedanya dengan keselamatan? Seorang dosen pernah membandingkan demikian: Pada suatu hari seorang mahasiswa lulus ujian lisan di kampusnya. Karena saking senengnya, ia bersorak-sorak dan naik motor di jalan. Namun karena kurang hati-hati, ia menabrak motor lain di jalan yang ramai itu. Lalu ia dibawa ke Rumah Sakit untuk dirawat karena kakinya patah.

Sementara ia lulus ujian dengan memuaskan tetapi ia tidak lolos dari kecelakaan karena kurang hati-hatinya. Contoh sederhana itu hanya mau menggambarkan bahwa keberhasilannya saat ujian itu adalah kebahagiaan. Tetapi di jalan ketika pulang dari kampus ia masih harus berhati-hati atau bertanggungjawab atas hidupnya. Ia masih harus mengusahakan sesuatu yang lebih dari sekedar lulus ujian itu yaitu pulang sampai rumah dalam keadaan sehat dan dapat merayakan kegembiraan itu dalam keadaan yang baik. Itulah keselamatan.

Itulah JALAN yang harus kita tempuh. Tidak cukup hanya sampai pada kegembiraan dapat lulus dari ujian ini dan itu dalam hidup tetapi sampai batas akhir JALAN hidup itu dialami yaitu sampai sebuah perjumpaan dengan yang ilahi. Entah jalan di dunia ini terjal, berliku, kerja keras, dan penuh tantangan. Dan SALIB adalah sebuah penegasan (setidaknya kata St Ignatius dari Loyola) bahwa JALAN KESELAMATAN adalah JALAN SALIB itu. Jalan yang ditempuh Sang Guru sendiri sampai setia di Golgota. Golgota bukan sebuah akhir, tanpa harapan, tetapi di sanalah konformasi itu akan terjadi. Tanpa salib, iman kita mengatakan, tak ada kebangkitan. Salib sudah dialami sejak awal hingga akhir hidup Sang Guru.

Kembali kepada palma yang melambai-lambai, kembali pula pada perhelatan hidup di mana ada sorak-sorai tetapi juga sorak sorai itu bisa jadi kegembiraan dan pujian; sementara itu nanti sebagai hujatan dan cemoohan untuk membunuh Sang Guru, Raja yang sedang memasuki kotaNya. "Hosana Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan!" Suatu saat nanti menjadi: "Salibkan Dia ! Bunuh saja Dia!"


Minggu Palem 2014
BM-Solo



The way of the cross, the way that we often avoid. we avoid the WAY because we choose another way. We prefer the easy way to do things. No need to struggle. And I remember the Song: "It's a long road to freedom. A winding steep and high, but when you walk in love with the wind on your wing and cover the earth with the songs you sing, the miles fly by." Let's follow our King to Jerusalem.

Monday, March 10, 2014

Jalan, Perhentian, Melanjutkan

Aku tidak tahu kata yang mana yang harus kupilih. "Akhirnya" tetapi tidak cocok. It's finally but not the end. A final but not an end. Itu kata yang sering kami pakai beberapa hari ini setelah program selama enam bulan kami jalani. Mungkin seperti kata Sang Tersalib, "consumatum est". "Semua sudah terlaksana. Sampun kaleksanan sedayanipun." Tetapi itu pun bagiku belum cukup karena balum semuanya kujalani (mungkin). Ini sebuah perjalanan dan perhentian. Masih harus ada kelanjutan. Dan aku pun masih merasa harus melanjutkan.

Aku bersyukur atas perjalanan ini. Di negeri orang dengan beberapa rekan yang sebelumnya juga kurasakan seperti orang asing di negeri asing. Hidup memang peziarahan, sebagai musyafir. Dan orang Jawa selalu mengatakan "urip kuwi mung mampir ngombe", hidup sekedar mampir minum. Maka apa yang kujalani selama enam bulan hanya salah satu tahapan "mampir ngombe" itu. Tak boleh terlalu lama, tak boleh terlalu menikmati. Menikmati dalam arti krasan dan lekat tentunya. Tetapi krasan dalam arti menjalani dengan sepenuh hati tentu harus. Kuingat ruang dan waktu bersama menjalaninya. Kuingat tenpat-tempat yang "bersejarah" bagiku dan bagi kami. Itulah yang pernah kami jalani. Dalam ruang dan waktu, kami berziarah. Dalam ruang dan waktu itulah kami belajar untuk memberi ruang dan waktu dalam hidup kami bagi sesama. Ya, ruang dan waktu.

Hanya ungkapan terima kasih dan rasa syukur sekali lagi aku buat catatan ini. Bukan sekedar itu sebenarnya tetapi bagaimana aku mengabadikan dalam ruang dan waktu juga karena aku menyadari hidupku saat ini masih ada dalam dimensi itu. Kuingat saat datang awal di bulan September tahun lalu, dan sekarang sudah menjalaninya. Waktu begitu cepat berjalan. Seperti kisah mitos, Dewa Waktu akan mencaplok anak-anaknya sendiri jika tak menyadari akan keganasannya. Sang Waktu, Batara Kala, Kronos adalah namanya. Dan itulah yang kadang dialami anak manusia. Mereka tak hanya saling memakan tetapi kadang secara mental dimakan oleh waktu. Perang adalah saling memakan secara fisik. Tetapi ketika mereka tak menyadari Sang Waktu, mereka kalah perang dengan Sang Waktu.


Betapa benarnya sebuah kebijaksanaan yang selalu mengajak anak manusia untuk hidup dalam alam kesadaran, pemeriksaan batin, pemeriksaan diri. Kesadaran adalah senjata untuk berperang dalam perjalanan hidup. Kesadaran adalah senjata dalam berperang. Dengan kesadaran aku berjalan (semoga). Dengan kesadaran aku berhenti (semoga). Dengan kesadaran aku melanjutkan (semoga). Itulah mantra yang harus selalu kulantunkan dalam peziarahan hidup.


Dan semoga lyric lagu "Show me The Way" dari Styx ini menjadi mantraku berjalan terus dan terus…


Every night I say a prayer in the hope that there's a heaven
And every day I'm more confused as the saints turn into sinners
All the heroes and legends I knew as a child have fallen to idols of clay
And I feel this empty place inside so afraid that I've lost my faith

Show me the way, show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away
Show me the way

And as I slowly drift to sleep, for a moment dreams are sacred
I close my eyes and know there's peace in a world so filled with hatred
That I wake up each morning and turn on the news to find we've so far to go
And I keep on hoping for a sign, so afraid that I just won't know

Show me the way, Show me the way
Take me tonight to the mountain
And wash my confusion away

And if I feel light, should I believe
Tell me how will I know

Show me the way, show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away
Show me the way, show me the way
Give me the strength and the courage
To believe that I'll get there someday
Show me the way

Every night I say a prayer
In the hope that there's a heaven...




 morning in #504#