Thursday, August 7, 2014

Riuh

Semenjak Pemilu Presiden Juli lalu sampai saat ini dunia rasanya riuh. Keriuhan itu tak hanya di dalam negeri yang bernama Indonesia ini tetapi juga jagad ini sepertinya tak mau kalah riuhnya. Sampai-sampai saking riuhnya ada juga yang mengajak ricuh hehehe… Itu komentarku dalam hati.

Dunia ini begitu berisik. Tetapi itulah dunia. Tak ramai bukanlah dunia mungkin. Selama masih hidup di dunia, orang-orang masih butuh makan, masih ada persoalan ini dan itu, tandanya masih ada kehidupan.

Setelah pilpres pun masih ada sengketa. Pihak nomer 1 masih belum bisa menerima kekalahan dari nomer 2. Alasannya ada kecurangan dalam pemilu yang dibuat sistematis, masif dan terstruktur. Segala macam cara diupayakan agar kandidat nomer 1 bisa menang. Kubu nomer 1 dan pengikutnya sampai sebelum lebaran terus menerus mengusahakan agar terjadi kemenangan walau dalam perhitungan cepat sudah kalah bahkan sampai perhitungan KPU juga dinyatakan kalah namun hal itu belum dapat diterima kubu nomer 1. Kelompok ini merengek-rengek minta kemenengan, seperti anak kecil yang minta dibelikan gula-gula tetapi belum dikabulkan ibunya. Mereka terus merengek dan merengek agar diberi gula-gula.

Kericuhan internal bangsa ini pun berpotensi konflik. Itu yang ditakutkan banyak pihak. Orang sudah muak dengan cara-cara kekerasan, intimidasi, teror, ancaman dan sebagainya. Justru karena kubu nomer 1 memakai hal itu, maka orang-orang banyak yang sinis dengan cara-cara itu. Ada ancaman "people power". Ada orasi-orasi yang bernada ngawur di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Ada praktik-praktik perdukunan/klenik dengan dukun-dukun yang didatangkan. Bahkan para pendemo yang dikupas Kompas hari ini, 7 Agustus 2014 disebutkan bahwa ada pihak-pihak yang memang dibayar oleh pihak kubu nomer 1 untuk beramai-ramai datang ke depan MK untuk sekedar beriuh-riuh ria. Tarifnya dapat Rp. 50.000,00. Ada juga yang seharian dibayar Rp. 200.000,00. Mereka hanya diminta datang dan berdemo, tanpa tahu sebenarnya acara itu untuk apa. Ironis memang. Bahkan sampai setelah lebaran yang fitri bulannya pun masih terus mengusik kefitrian itu…

Itu baru ricuh di intern bangsa ini. Di lain tempat tetapi juga berpengaruh bagi bangsa lain adanya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok radikal ini sudah memakan korban nyawa ribuan dan masih akan memangsa pihak-pihak yang tidak sejalan dengan garis mereka. Kelompok ini sudah meneror dunia dari Teluk, Timur Tengah. Timur Tengah bukan hanya soal Israel vs Palestina tetapi sudah terpecah ke konflik yang lain. Krisis Gaza bukan lagi isu sentral politik dunia tetapi ISIS ini juga menebarkan teror masif dan terstruktur. Video-video yang diunggah di youtube sudah mempengaruhi dunia. Bahkan rekrutmen mereka dengan cara membaiat anggotanya sudah sangat masif dan agresif. Warga Indonesia pun ada yang sudah mengaku diri menjadi anggota, belum mereka yang mendukung.

Pertanyaanku: dunia koq makin berisik ya? Apakah kecenderungan memangsa saudaranya semakin berkembang dalam diri manusia? Mengapa orang sering memaksakan kehendaknya ke orang lain dan kalau tidak mau, akan dibunuh? Ini sebuah hukum yang sedang berjalan. Kecenderungan memangsa rekannya menjadi jalan yang ditempuh manusia yang katanya beradab. Apakah keadaban ini sudah dilupakan manusia? Dalam tulisanku ini aku hanya dapat bertanya.

Mentalitas tak mau kalah juga merupakan hukum yang sekarang sedang ngetrend di kalangan manusia. Kalah itu ibaratnya salah. Kalah itu harus ditiadakan. Banyak pihak tak mau kalah. Bahkan hukum ini sudah diajarkan sejak kecil: "jangan sampai ada kata kalah/tak naik/tak lulus." Jika tak lulus, yang disalahkan adalah pihak yang tidak meluluskan. Jika tak menang, yang disalahkan adalah penyelenggara pemilu dan sebagainya. Itulah yang sedang dihidupi manusia.Tak ingat bahwa ia ada di antara manusia yang lain. Ia juga punya kelemahan. Ia hidup tidak selalu super, menang, berprestasi. Menghargai kekalahan, menyadari diri lemah sepertinya tidak lagi masuk dalam kamus hidupnya. Menghargai yang lemah apalagi, jika menyadari diri lemah saja tidak mau atau tidak bisa. Itulah yang terjadi saat ini.

Dalai Lama mengatakan bahwa "planet ini tidak butuh orang-orang yang sukses dan menang tetapi butuh dihidupi oleh orang-orang yang mengusahakan perdamaian." Bunda Teresa dari Kalkuta senada mengatakan bahwa "Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, tetapi untuk lebih setia dalam menjalani hidup". Kata-kata dari dua orang bijak menjadikan kita sadar bahwa hidup ini harus dijalani dengan realistis dan rendah hati. Tidak hanya kita mengumbar keriuhan hidup yang mengarah pada kericuhan tetapi juga perlu hidup lebih damai, merawat kehidupan bukan mengancam orang lain. Bukan budaya kematian yang kita buat tetapi budaya kehidupan, kata St. Yohanes Paulus II.

Harapan pribadiku saat ini "semoga dalam dunia yang berisik, Tuhan selalu berbisik," kata salah seorang anak yang kudengar kemarin. Dan semoga bisikan Tuhan itu kudengar, aku tidak tuli dan menyadarkanku akan kehidupan ini. Mari saling mendoakan dan megusahakan perdamaian. Syalom.





#Malam hari di kamarku#


No comments:

Post a Comment