Dalam kehidupan ini rasanya dinilai dan menilai itu hal yang wajar. Kerap kali ini menjadi hal yang sangat biasa dan secara lisan kit alangsung dapat mengkritik, mengomentari, dan memberi cap. Namun apa daya ketika penilaian itu diterapkan secara lebih formal dan tersistem, itu yang sering menjadi persoalan. Persoalan apa? Persoalan yang ditimbulkan adalah persoalan kepentingan. Mengapa hal ini kuangkat? Ada yang merasa sensitif dengan penilaian formal (profesional). Tergantung dari sudut kepentingan mana itu akan dilihat sebenarnya. Sudut pandang atasan akan lain melihat penilaian kepada bawahan. Bawahan akan melihat lain terhadap penilaian itu. Titik temu sebenarnya akan ada pada sebuah komunikasi. Diskursus itu kata Jurgen Habermas. Oleh karena itu, supaya sistem tidak terlalu "kejam" bagi yang terkena harus ada komunikasi. Atasan tidak akan semena-mena bila ada komunikasi yang proporsional.Dari atasan, penilaian sifatnya wajib dan terstruktur. Penilaian akan menyangkut performa bawahannnya. Intinya apakah performa itu mendukung kerja dan dinamika institusi yang bersangkutan. Atasan akan membagi itu dalam berbagai ranah yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pimpinan dituntut untuk mengenal pribadi ini secara lebih baik. Jelas. Pimpinan juga harus kenal sungguh situasi yang ada, kenal dan melihat kerjanya. Namun kerja itu tidak hanya dari kaca mata diri seorang pimpinan. Biasanya ada feedback dari beberapa pihak juga. Bisa jadi ada subjek yang dilayani merasa ada sesuatu sehingga lapor kepada pimpinan tentang pribadi ini. Ada juga rekan kerja yang berkomentar tertentu tentang pribadi bawahan ini dan itu ditangkap oleh pihak pimpinan. Dalam kata lain, pimpinan tidak bisa secara sendirian mendengar dan melihat bawahan dan menilai. Itu sangat idealis dan dalam situasi saat ini sangatlah tidak mungkin karena pimpinan kerjanya bukan hanya memantau atau mengobservasi bawahan dari kacamatanya. Penilaian itu semakin objektif jika dipakai banyak kacamata, entah dari subjek layanan lain atau rekan kerja, atau dampak dari pelayanan yang ada.
Dari bawahan, penilaian itu biasanya menegangkan, ada yang menyakitkan, menentukan performa diri dan harga diri. Jika performa dilihat dan dinilai jelek oleh atasan dan itu membawa pada pengaruh tertentu, maka itu akan sangat membuat diri traumatik. Penilaian atasan itu serasa pengawasan dari satu titik penjara yang disebut "panopticon". Serasa menyakitkan membuat yang dinilai menjadi harus bereaksi. Reaksinya macam-macam: ada yang menjilat, ada yang protes, ada yang merasa dibanding-bandingkan, ada yang cuek, ada yang apatis atau skeptis. Bahkan ada yang kritis, jika dinilai ada nilai "B" pun merasa ini sebuah cela atau aib. Seolah-olah performa itu harus ada "A" semua. Dari reaksi yang muncul kemudian secara psikis dapat bereaksi lagi sebagai lanjutan. Misalnya, kinerja menurun, semangatnya tidak menyala lagi, protes dengan atasan dengan berlaku menarik diri (regresi), ada yang marah dan lebih agresif. Berbagai reaksi psikis muncul. Kecewa dengan atasan yang menilai jelek dan kurang pada dirinya, menjadi sebuah hal yang sering terjadi. Pelampiasannya adalah kerja tidak semangat lagi. Inginnya adalah tidak melihat penilaian. Atau tidak perlu adanya penilaian itu. Seolah-olah dunianya hancur ketika ada penilaian "B". Dunia hancur karena bisa jadi masakan dirinya yang sudah kerja seperti ini sekian lama koq tiba-tiba dinilai seperti itu. Dirinya meminta toleransi kepada atasan.
Komunikasi perlu dibangun jika terjadi seperti ini. Bisa jadi pimpinan itu mempunyai impian namun kurang tertangkap bawahanya. Performa yang dinilai tentu ada maksudnya. Biasanya penilaian itu ada maksudnya. Pimpinan pun mendapat kesan dan kesaksian. Bahwa penilaian bisa saja salah, itu jelas. Objektivitas harus didasarkan pada data dan juga fakta bahwa memang si Z membuat sesuatu, tetapi kualitas yang dibuatnya kurang. Oleh karena itu fakta dan data ada sesuatu yang dikerjakan, namun kualitas kerjanya juga harus dinilai, bukan sekedar ada sesuatunya. Belum lagi laporan dan kesaksian juga akan berpengaruh terhadap person ini. Misalnya, ia sering dinilai oleh temannya ada kalanya pulang awal dari jam pulang pada pedoman. Ia bisa saja mengatakan dan menyangkal bahwa ada juga rekan lain yang demikian, namun penilaian ini sedang terjadi pada dirinya, sedang orang lain itu ada gilirannya.
Pada dasarnya tulisan ini hanya ingin melihat bahwa ketika kita dinilai itu tidak mudah segera menerima. Sering kita punya dalih. Namun ketika kita menilai orang lain, dengan mudah kita ungkapkan itu. Atau di sisi lain ada yang sulit menilai orang lain karena ada motivasi, ia tidak ingin dinilai yang sama. Ibaratnya ketika kita melihat orang gila di jalan raya, kita akan segera menilai bahwa itu orang gila dari pakaian, cara berjalan, performa orang itu. Kita tidak akan segera mengungkapkan namun ketika ada orang lain berkomentar, kita pun juga bisa ikut nimbrung. Kita dapat menilai orang itu adalah orang gila. Itu karena kita tidak punya kepentingan. Namun ketika dinilai dan menilai itu ada muatan kepentingan maka kita akan tidak mudah berbuat atau bereaksi yang sama. Oleh karena itu the way to see the problem is the problem.
#Morning in my office#