Wednesday, November 14, 2018

Senja

Sore itu aku habis berbagi dengan rekan-rekan dalam sebuah pertemuan lalu kami berkumpul dalam ruang doa. Hari sudah senja. Kala senja yang cerah, aku bisa menikmati indahnya pemandangan dari balik jendela. Kami bersyukur atas pengalaman sehari dalam perjumpaan dan perbincangan bersama. Sore itu kami mengunjukkan intensi bagi jiwa-jiwa sahabat dan saudara yang sudah mendahului kami menjadi pendoa bagi kami yang masih berjuang dan berziarah di dunia ini. Peziarahan yang membawa kami ke sana dan kemari dalam satu perjalanan hidup. Hidup memang peziarahan dan hidup harus terus berlangsung. Itulah ungkapan hati orang yang masih berjuang dalam hidup ini. Ya, sore itu kami melihat senja. Matahari mau masuk di horizon sebelah barat. Cahaya itu mulai membuat lembayung senja. 

Entah mengapa sore dan senja menjadi satu. Dan apa yang kumaknai dari senja menjadi sebuah kenyataan akan datangnya malam. Senja di langit cerah memang indah namun seindah-indahnya senja, ia akan mendatangkan malam yang gelap. Itulah makna yang dalam bagiku akan senja. Senja itu adalah sebuah tanda.

Setalah aku berdoa bersama dan makan bersama sebagai ungkapan syukur, aku pun berpidah ke ruanganku pribadi. Dalam waktu itu juga ada sebuah pesan dari adikku, "Simbah sudah berat nafasnya". Kujawab, "Oo..mari kita berdoa bersama dan terus didampingi." Lalu aku pamit mandi sebentar. Saat setelah mandi, ada pesan lagi: "Simbah sudah dipundut Gusti.". Kumerasakan sedih, lega, pembebasan, terkabul permohonan, haru dan sebagainya. Ada banyak perasaan bercampur.

Memang 3-4 minggu sebelumnya aku hadir dan mencoba bersama simbah karena setelah jatuh di bulan Mei atau April itu ia makin drop kondisinya. Tak bisa lagi duduk sendiri dan tak lagi bisa berjalan. Maklum usia sudah renta. Itulah senja. Beberapa kali sebelumnya kami masih saling komunikasi, namun 2 minggu sebelumnya ia sudah tidak bisa nyambung lagi dengan kami. Pendengaran sedikit membantu namun kontak mata tidak lagi. Namun demikian fisik masih seperti orang tidur biasa. Tak ada kesulitan bernafas. Hanya berbaring saja. Maka 4 minggu sebelumnya aku mencoba hadir dan memberi doa orang sakit dan itulah yang menjadi alat bagiku untuk bersama simbah: berdoa, mencoba berserah. Dua minggu sebelumnya bapak memang meminta aku untuk datang dan menjenguk. Aku pun bersyukur karena sebelum aku pergi tugas aku sudah bilang ke simbah: "kalau aku tidak bisa pulang, tidak usah menuggu aku." Aku masih bisa merasakan anggukannya yang lemah. Kucium dahinya setiap kali aku kunjugi dia dan mau pamit pulang. Hanya itu yang menjadi sarana komunikasi kami.

Bapak pun kuberi pesan supaya sabar dan berserah selama menemani, mendampingi dan merawat semampunya. Aku bisa memahami betapa capai dan beratnya mendampingi orang tua yang sakit. Dan saat membalas pesanku, ada ungkapan yang menyentuh buatku dari bapak: "Setelah kurenungkan selama ini, aku mengusahakan untuk sabar mendampingi simbahg karena ketika kakakmu, kamu, dua adikmu masih kecil, simbahlah yang merawat kalian, karena bapak ibumu kerja. Maka sekarang aku yang mau membalas kebaikan simbah itu dengan merawat dan menemani sekuatnya.Doanya saja semoga bapak sehat." Demikian pesan itu jika kubahasakan kembali. Bapak adalah menantunya. Simbah adalah mertuanya. Selama ini di rumah kami itu ada menantu dan mertua. Adikku sekali seminggu gantian membantu menemani bapak dan simbah. Itulah situasi rumah kami dan kini simbah sudah berpulang.

Senja itu adalah tanda. Senja itu indah. Namun indahnya membawa kepada malam. Hidup memang ada waktunya mengalami senja untuk pergi kepada malam. Usia senja akan menuju kapada sebuah perhentian hidup itu sendiri. Pengalaman kami itu membawa pada permenungan bahwa selama ini kami berusaha mendampingi simbah. Di usia tuanya memang kami dan dia tidak ingin dirawat di rumah sakit. Simbah hanya ingin di rumah bersama kami dan di tempat asalnya. Kami sadar juga bahwa sel orang tua pun tidak bisa lagi memperbaharui diri karena sudah usianya. Mukjizat memang kami inginkan namun doa kami tak mau memaksa Tuhan. Apa yang terbaik bagi simbah dan kami, itulah yang kudoakan. Jika pembebasannya adalah simbah dipundut Gusti, ya silakan Tuhan. Kami hanya bisa mengusahakan semampu kami. Keputusan dan kehendak-Mulah yang terjadi.

Tanggal 6 November 2018 senja itu, seminggu sebelum tanggal meninggalnya anak perempuan satu-satunya yaitu ibuku, simbah bersatu dengan anak perempuannya di hadirat Ilahi. Itulah peristiwa iman di mana jiwa berserah dan menjawab YA pada Sang Khalik. Kami pun turut menjawab itu. Walau aku tidak bisa hadir dalam peristiwa pemakaman namun aku hadir dalam doa dan ingatanku akan peristiwa demi peristiwa dalam hidup kami. Aku hanya menyanyikan "Remember me" dalam hati dan berdoa di malam itu bahwa kami semua berbahagia dalam mendampingi simbah, menjalani masa senja dan akhirnya masuk dalam malam yang gelap. Kegelapan bukanlah akhir namun sebuah fase untuk istirahat sebelum ada pagi yang cerah.

Terima kasih, simbah atas seluruh hidupmu bagi kami cucu-cucumu yang dimong selama ini.


#morning @office#