Saturday, April 20, 2024

Fitri

Saat kutulis coretan dan celotehan di blank sheet ini, aku belum punya judul tulisanku. Aku belum punya "endapan dan luapan air" dalam diriku sebenarnya. Namun aku mencoba setidaknya untuk menjalani ini sebagai keajegan dan konsistensi cara bertindak untuk menuangkan sebagai sebentuk cerminan dan juga  berbagi ide, perasaan, krenteg (orang Jawa menyebut ini bukan sekedar kehendak tapi juga apa yang menyembul dalam hati dan budi) dalam diriku. Sebenarnya hari-hariku kujalani dengan biasa, dan beberapa waktu lalu ikut juga kumpul trah di saat saudara-saudara muslim merayakan idul fitri. Memang ada satu konsern waktu awal ikut di hari lebaran pertama yaitu tentang saudara sepupu yang lama tidak pernah nongol dalam acara bersama. Di hari kedua kami ternyata karena situasi yang sudah mentok harus "berpesta demokrasi" dalam memilih siapa yang akan mengganti bendahara trah keluarga besar kakek dari ibuku. Paman sudah renta dan harus ada yang mengganti dari generasiku (anak) atau cucu dari trah kakek kami. Sebenarnya aku sudah mengusulkan dalam grup keluarga kami bahwa setelah ini harus dibuat sistem pergantian yang secara teknis adalah urutan saja. Misalnya masa kepengurusan maksimal adalah 3 tahun dan bisa menjadi pengurus (bendahara) selama 2 periode, maka maksimal adalah 6 tahun. 

Dua hal itu kiranya yang kudapat dari perjalanan di bulan ini yang adalah bulan syawal bagi saudara muslim. Namun di sisi lain, aku juga selama ini sebenarnya belajar dari layar yang kita hadapi sendiri-sendiri dalam ruang yang disebut gadget, entah HP, Laptop, Desktop, atau  Pad. Nah, di sanalah segala macam bisa diunggah dan dipertontonkan secara visual. Dan memang dunia saat ini adalah dunia visual yang bagiku kadang perlu kuhindari. Aku kapok dengan pelabelan ke pribadi karena konflik di dunia visual. Setiap orang bisa memotret atau membuat video dan kemudian disebar lalu dilabeli oleh masyarakat semesta sehingga ada yang labelnya baik dan ada yang buruk. Pembunuhan bisa terjadi dalam dunia visual, dari dan karena dunia visual. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa segala sesuatu saat ini tidak bisa tersembunyi lagi. Memang ada baiknya bahwa semua transparan, namun ada kalanya kebaikan itu tidak selamanya baik, jika sudah ada yang memanfaatkan atau merekayasanya. 

Sekali lagi zaman ini adalah zaman visual. Zaman visual itu zaman keramaian yang penuh rekayasa dan pencitraan. Pencitraan itu bisa saja citra yang buruk dan itu adalah senjata di mana orang bisa saling bunuh  di dunia visual. Gambar yang baik itu bisa dicoret-coret. Aku sadar bahwa tidak semua orang itu bersih, maka dunia visual itu menyediakan alat untuk "membersihkan" citra dengan postingan-postingan yang selalu bernuansa baik dan bersih, walau kenyataan di balik yang ditampilkan itu kita tidak tahu. Orang perlu membangun persepsi. Itu intinya. Sayang bahwa di seberang itu, citra bisa rusak karena dirusak sendiri atau dirusak pihak lain. Mengembalikan citra itu tidak mudah, sehingga ini yang selalu menjadi ancaman dan orang merasa tidak mudah untuk menerima diri yang kotor dan dicoret-coret entah oleh siapa. Orang yang niatnya baik memberitakan kabar baik pun bisa saja mengancam mereka yang berada dalam status quo, sehingga orang baik itu menjadi orang yang mengancam, berbahaya, dan dianggap penjahat. Ada batas kesabaran tentunya dalam diri seseorang untuk mengungkapkan dirinya bagi orang lain sehingga tentu ada kata atau tindakan yang kemudian bisa saja dicap sebagai buruk. Dan karenanya, hal itu bisa menjadi senjata makan tuan yang dipakai pihak lain untuk menyerang, menghakimi, dan mengeksekusinya. Biasanya tinggal menunggu kapan waktunya akan datang, sehingga ada pertanyaan "akan datang jugakah ia ke pesta?" Dan jika datang, maka penangkapan dan pengeksekusian itu dilaksanakan.  

Dunia ini dan tentunya hidup ini selalu ada dalam paradoks. Ada orang yang berdebat bahwa hidup itu harus logis dan menolak yang tak logis, bahkan menolak yang paradoks. Namun kelihatan sekali ketika berdebat tentang itu (sekali lagi aku juga menyaksikan itu dalam layar yang kupantengi), ada pihak yang sebenarnya tidak secara penuh percaya diri akan persepsinya. Mereka yang menekankan akan logika hidup harus berjumpa dengan paradoks atau logika lain yang tak terduga. Apakah karena kesalahan sejarah masa lalu yang itu menyangkut ketidaklogisan sebuah hal lantas kita berhak mengadili secara sepihak? Tentu perlu sebuah objektivasi akan pengadilan itu. Bahkan hukum yang namanya Taurat pun mencatat bahwa hukum itu perlu mendengarkan secara utuh dulu baru ada penghakiman. Kesalahan itu beragam dan ada gradasinya sehingga keputusan pengadilan pun juga ada gradasinya. Apakah pencuri ayam dan pencuri uang negara yang merugikan sampai trilyunan dan mereka sama-sama ketahuan pihak aparat, hukumannya sama? Tentu tidak. Nah, kadang karena sudah ada kebencian akut dalam diri kita maka semua itu dianggap sama. Hukumannya sama. Bahkan kemarin ada kasus ada pemain bola yang dikartu kuning 2 kali koq tidak dikeluarkan alias tidak dikartu merah? Ternyata ada aturan baru yang memungkinkan wasit mengkartu kuning pemain sampai 2 kali dan tidak dikartu merah. 

Apa yang kutuangkan di atas mungkin hanya istilah orang Jawa ngaya wara, ora cetha. Namun bagiku setidaknya aku belajar dari bulan syawal, semua orang bersilaturahim dan saling memaafkan. Mungkin juga hidup ini sesederhana itu, berani memaafkan dan kalau ada kesalahan ya nanti kita buat permintaan maaf lagi. Aku hanya melihat dengan geli seperti itu. Kadang kalau dengan kalangan idealis dan puritan hidup ini dipandang harus semuanya bersih, rapi, soleh, tidak boleh ada yang cacat. Kaum puritan dan idealis itu seakan-akan mau mempercepat pembuatan surga di bumi yang masih carut marut ini. Bumi seolah-olah harus dibasuh bersih dan tidak ada salah lagi. Salah dan dosa seolah harus segera dicuci dan yang berdosa segera harus disingkirkan dari bumi supaya tidak mengotori planet biru ini. Tapi belajar dari idul fitri, kadang mekanisme meminta maaf dan memaafkan (walau kadang hanya terkesan seremonial dan formalistik) itu juga dibutuhkan. Sesederhana itulah hidup. Hidup itu berjalan terus dan kendaraan yang terus dipakai ini tentu juga ada kerusakan, error, dan perlu dikembalikan lagi supaya berfungsi. Itulah hidup yang tidak semua awet dan perlu service rutin, pengembalian dengan spooring dan balancing. Sekali lagi sesederhana itulah hidup. [Spoiler: Harapannya semua manusia itu mudah memaafkan dan mudah mengampuni. Tidak menyimpan lama memori kesalahan orang lain dan mau mengampuni kesalahan orang lain, tapi juga mungkin kita jangan mudah membuat kesalahan hahaha].

Mungkin ini adalah celotehan dari diriku yang menganggap hidup terlalu sederhana, namun sederhana itu tidak mudah. Siapa yang mau mengakui salah? Siapa yang mudah memaafkan? Siapa yang tidak "baper" karena dikata-katai sedikit saja dan menganggap itu yang meruntuhkan hidupnya? Satu dan lain orang itu punya kepentingan dan persepsinya sendiri-sendiri. Gesekan selalu akan ada. Itulah karena kita masih hidup dalam ruang dan waktu. Mungkin aku belajar untuk tidak terlalu lama menyimpan file kesalahan orang lain dalam diriku. Lepaskan saja dan cueki saja kalau ada yang salah. Tapi itu tidak mudah sering kali. Memori ada yang menyimpan lama akan kesalahan orang lain dan maunya kita cepat diampuni jika kita salah. Maka kembali ke fitri itu menjadi penting. Sesederhana itu hidup ini. 


#morningtime#