Friday, April 2, 2021

(Dan) Salib itu pun Masih Terpenjara

Ada dua pergulatan yang kutemukan selama beberapa waktu belakangan ini. Yang satu mengatakan bahwa “mengapa Tuhannya orang Katolik itu tidak mau hidup bagi yang dicintaiNya namun malah mati demi yang dicintaiNya? Itu kan tandanya Tuhan orang Katolik hanya putus asa.” Yang kedua mengatakan, “Koq rasanya ungkapan ‘the smiling face of the crucified’ itu tidak tepat ya? Menderita itu bukan bahagia, lho”. Pernyataan pertama itu ada pada orang yang ingin supaya Tuhan selalu jadi hero dan tidak bisa merasakan penderitaan sebagai manusia. Tuhan itu superhero, mengapa harus mati? Percuma saja kita mengimani Tuhan yang selalu Maha… Sedangkan kedua, pernyataan yang tidak setuju dengan ungkapan ‘wajah tersenyum dari yang tersalib’ seperti tidak mau menghayati bahwa itu semu adalah consummatum est’. Alias ‘semua sudah terlaksana’ atau 'sampun lumaksana' (Jawa). Jangan katakan yang menderita itu tersenyum donk, karena menyatakan tersenyum koq rasanya tidak pas ya... Disalibkan ya sakit, menderita dan pokoknya mengerikan. Pernyataan "sanggahan" itu seperti mau menyatakan ketidakterimaan bahwa yang sudah mati di salib itu tersenyum. Sedangkan ketika aku melihat mayat di peti jenasah tersenyum itu tanda bahwa yang meninggal itu bahagia walau kematiannya diakibatkan karena penyakit atau kesengsaraan apapun itu.

Pertama, ungkapan dari keinginan manusia yang maunya Tuhan itu superhero sehingga tidak perlu ada penderitaan. Tuhan seharusnya membantu memperingan penderitaan di dunia donk daripada susah-susah menderita dan jadi manusia. Buat apa sih menebus manusia kalau hanya akhirnya hanya menderita dan mati? Percuma aja disebut Tuhan kan? Percuma menyerahkan diri pada kekuasaan Tuhan kalau hanya akhirnya, ending-nya cuma Tuhan itu mati. Tuhan itu menderita bagi kita. Ah….ngapain manusia percaya pada Dia yang jadi manusia? Rugi. Mendingan Dia itu hidup dan berusaha sekuat mungkin hidup bagi yang dicintaiNya. Eh…ini malah mati bagi yang dicintaiNya. Mubazir banget kan? Balutan keputusasaan kalau dilihat dari manusia yang berharap sungguh akan kehebatan Dia yang menyelamatkan manusia dari penderitaan hidupnya. Apalagi dengan situasi pandemi yang tak kunjung henti, manusia butuh superhero yang menyelamatkan hidupnya dan membutuhkan penolong. Manusia butuh penyelesaian problem bukan ungkapan sok suci yang tidak menyelesaikan apa-apa. Atau yang satu ini tidak puas dengan doktrin bahwa Anak manusia mati demi manusia yang dicintainya. Maunya (manusia) itu Tuhan tidak mati tapi hidup bagi yang dicintaiNya. Kalau tidak puas dengan doktrin (Gereja) sih sebenarnya bisa ditulis dengan doktrin juga supaya sepadan apple to apple. Kalau hanya di sebuah postingan ya sama saja dengan ngomel sendiri. 

Kedua, manusia tidak main-main dengan penderitaan, masa Tuhan yang menderita diungkapkan “tersenyum” saat mati di salib? Kan konyol banget. Ada manusia yang tidak rela Tuhannya yang menderita diungkapkan tersenyum di salib. Kan Tuhan menderita, Tuhan itu sakit dan merasakan penderitaan yang dahsyat. Salib dan penderitaan memang tidak main-main. Ada aliran-aliran sekelompok manusia yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak boleh ditafsirkan macam-macam oleh manusia. Aku jadi ingat film “Il nome della rosa” atau The name of the rose (karya Umberto Eco). Film lama yang dibintangi Sean Conery itu bercerita sejarah abad pertengahan. Dalam sebuah biara Benediktin ada sejumlah kejadian pembunuhan. Dan itu yang diteliti oleh sejumlah Inquisisi Gereja (petugas pengadilan Gereja zaman dahulu). Salah satunya dari kelompok Fransiskan, yang lain dari kelompok Dominikan (biasanya). Singkat cerita, kejadian pembunuhan demi pembunuhan itu karena ada seorang rahib yang tidak setuju di biaranya ada tertawa dari sejumlah anggotanya karena paham dia membaca Kitab Suci adalah bahwa “Yesus tidak pernah tertawa.” Oleh karena itu, ketika ada anggota komunitas yang tertawa, maka akan mati (diracun) olehnya.

Ada ekstrem satu dan ekstrem yang lain dalam pergumulan iman. Menjadi orang yang beriman Katolik atau Kristiani memang tidak mudah. Di satu sisi ia harus beriman sungguh pada Tuhan yang Maha Kuasa itu, namun di sisi lain Tuhan yang Maha Kuasa itu koq menjadi manusia dan mati (ending-nya).  Ini adalah paradoks iman Kristiani. Yang satu melupakan sisi di mana Tuhan itu memang memutuskan diri menjadi manusia, yang punya kelemahan, berdarah dan berdaging, terikat pada ruang dan waktu. Akhirnya Dia pun mengalami kematian. Namun di sini ada yang lupa bahwa justru tanpa salib, kebangkitan (Paskah) itu mubazir. Kisah Kitab Suci dilahirkan atas narasi-narasi mengenai penyaliban tentunya. Jemaat-jemaat purba tentu akan mengenang penyaliban karena itu hukuman yang lazim bagi kriminal dan penjahat-penjahat pada zaman itu. Anak Manusia pun akhirnya mati disalib (bukan hanya di salib) karena penyaliban itu bukan karena tujuannya namun karena konsekuensi atas tindakanNya untuk menyelamatkan manusia. Menyelamatkan di sini bukan secara fisik menjadi superhero namun menyelamatkan alam pikiran dan cara hidup manusia supaya lebih menyadari diri akan keterbatasan dan penderitaan yang memang dialami manusia, tidak disangkal. 

Kaitannya kemudian adalah ketika Anak Manusia itu tidak menyangkal penderitaan sebagai konsekuensi atas apa yang dijalani dalam hidup yang benar, maka Dia pun tidak merasa sedih dan susah dalam mengamini penderitaan, penyesahan, dan penyaliban. Di akhir hayatNya, Anak Manusia memang terkulai mati. KematianNya tidak merupakan sesuatu yang larut dalam kesedihan, namun Dia menerima dengan tabah dan tersenyum, “ke dalam tanganMu, kuserahkan nyawaku”. Sedih dan berat itu tentu ketika penderitaan itu di-iya-kan dan harus dipeluk dan dipanggul. Salib yang menjadi tempat akhir hidup manusia itu masih harus dipeluk dan dipanggul. Lalu di manakah penyelamatan? Penyelamatan ada pada makna baru mengalami penderitaan, bahwa bukan sebuah akhir namun hidup baru dengan makna baru. 

Viktor Frankl memberi teorinya “logo terapi” dan tentu dalam bukunya Man Search for Meaning. Dan ini sempat difilmkan yang akhirnya menyabet Oscar pada tahun 1997. Dalam penderitaan, manusia masih bisa tertawa. Manusia masih bisa menertawakan penderitaannya karena penderitaan tidak membunuh kemanusiaannya. Yang mati adalah tubuh dan raganya. Kemanusiaan tidak mati karena penderitaan. Film dari Roberto Benigni ini begitu mengesankan dan menyentuh, hidup dalam penderitaan membuat orang harus berani menatap harapan. Ada masa depan walau hidup itu gelap, penuh penderitaan, ditekan dalam masa-masa penuh kekejaman. Seolah dunia kiamat dengan penderitaan. “La vita e bella.” Hidup itu indah. Itu cerita film yang mendapat Oscar. Orang bisa merasakan dan menghayati kebahagiaan setelah tentu bergulat dengan penderitaan dan beratnya hidup. Ada suatu masa dimana manusia ingin menghindari penderitaan, “Jika boleh cawan ini berlalu dariku,…namun karena ini kehendak Allah (konsekuensi atas perjuangan dengan benar/kebenaran), maka akan kujalani.” 

Apakah berarti di sini, Allah menginginkan anakNya menderita? Tidak. Kehendak Allah yang dimaksud adalah jalan kebenaran yang harus ditempuh manusia. Kiranya kita semua bukan makhluk yang masokis, yang mencari-cari penderitaan demi kesenangan pribadi. Tuhan juga bukan masokis. Bapa juga bukan bapak yang sadistis, bahagia kalau orang lain menderita. Penderitaan dan kematian adalah konsekuensi atas perjuangan manusia. Dan jalan perjuangan itulah yang memang perlu dilalui, maka itulah passio kita. Tuhan pun tersenyum karena Dia memanggil kita untuk tidak takut pada perjuangan dan penderitaan. Tuhan pun mengajak kita untuk berani meninggalkan diri kita untuk sebuah perjuangan yang tidak egois. Para pahlawan sudah memberi teladan konkrit. Mereka berjuang demi sesuatu yang luhur yaitu kemerdekaan. Mereka tidak mencari-cari kematian namun karena konsekuansi atas perjuangannya, maka mereka mati dalam perjuangan itu. Tidak perlu kita terbelenggu oleh hidup dan anggapan kita bahwa Tuhan itu harus hidup sesuai dengan frame hidup kita. Justru saat ini kita disadarkan bahwa perjuangan adalah jalan penyelamatan hidup, bukan sebuah hidup yang harus disingkiri.


#lavitaebella#