Thursday, May 28, 2026

Lihatlah Manusia

Ketika memilih judul itu, aku sebenarnya mau mengartikan demikian: (1) itu sebuah ajakan untuk melihat manusia dan kemanusiaan kita masing-masing dan (2) mengajak untuk peduli pada kemanusiaan sebagai sebuah proyeksi ke depan yang semacam objektivasi namun bukan mengobjekkan. Memang kelihatannya hampir senada, namun aku hanya memainkan peran. Yang satu mengajak manusia di sampingku untuk sama-sama melihat ke dalam diri dan yang kedua mengajak untuk melihat manusia di depanku. Aku hanya mau mengulas sedikit hal yang baru kubaca dan kukaitkan dengan situasi yang akhir-akhir ini memang menjadi wawasan dan perhatian banyak orang. "Masalah"  manusia tak akan selesai dengan satu hal karena dirinya sendiri adalah multi dimensi. Apa yang dipikirkan bisa jadi lebih besar daripada dirinya. Atau kadang malah kita sendiri tak tahu apa yang dipikirkan seseorang tentang dunia dan segala macam yang terjadi.

Kemanusiaan dan manusia memang tak bisa dipisahkan walau bisa dibedakan. Beberapa hari ini aku merasa diajak untuk berefleksi mengenai itu. Manusia dan kemanusiaan yang tak lain kemudian mengarah pada kesejahteraan bersama. Sebuah dokumen dari Leo XIV yang cukup mengajakku untuk membacanya, dengan judul yang tak jauh dari kemausiaan, Magnifica Humanitas, membuatku kembali dan kembali bercermin. Salah satu uraian di sana mengatakan demikian: "membangun untuk kebaikan bersama berarti menerima keterbatasan dan kelemahan umat manusia tanpa menganggapnya sebagai kesalahan yang harus diperbaiki." Aku menerima itu sebagai sebuah adagium kebenaran yang juga kualami. Ketika aku sendiri membangun kebaikan dari keterpurukan, ada saja pihak yang tak dapat menerima diriku yang memang rapuh dan seolah mengatakan "tidak seharusnya terjadi demikian". Orang selalu akan mengadili dan menilai dengan idealisme yang tak melihat realisme. Ada juga orang yang bercerita padaku dan sulit menerima realitas dirinya yang rapuh dan merasa terhakimi jika membuat kesalahan. Oleh karenanya, ia merasa tak sanggup menanggung persoalan keluarganya yang jelek, gagal, secara moral buruk. Ia merasa bahwa sorot mata semua orang menghakimi dirinya. 

Bahkan lebih daripada itu, sering kali ketika ketika mau membangun pertobatan kepada kebaikan bersama, pihak lain melihatnya adalah karena harus mengoreksi seolah masa lalu itu harus baik dan dihapus yang buruk-buruk itu, akhirnya di mata manusia pertobatan itu tak relevan. Padahal di sana jelas bahwa membangun kebaikan bersama itu menerima keterbatasan dan kelemahan manusia, tanpa menganggapnya sebagai kesalahan yang harus diperbaiki. Memang kesalahan harus diperbaiki. Ketika memperbaiki pun kadang karena kemanusiaannya, ia ada salahnya dan kurang sempurnanya. Apakah kondisi demikian lantas menjadi penghakiman yang harus menyertainya terus-menerus? Aku hanya ingin mengatakan sekali lagi dan ini yang selalu kuulang yakni bahwa dalam kehidupan kita harus sadar dan menyediakan ruang untuk bersalah, agar kita pun belajar memperbaiki. 

Manusia dan kemanusiaan akhirnya tak bisa direduksi hanya dengan nama atau data statistik atau angka sekalipun. Aku tiba pada sebuah situasi di mana di masyarakat sekelilingku sering mereduksi manusia dalam simpifikasi data kuantitatif. Jatuhnya kemudian adalah pada perendahan martabat dan direduksi pada sebuah produk massal yang harus diberikan tanpa melihat secara mendalam kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri. Ketika program memberi makan itu baik secara motivasi, perlu juga diwujudkan dengan cara yang bijaksana. Memberi makan itu hal baik, namun jika tidak tepat sasaran juga akhirnya tak menyentuh manusia yang pas dan kemanusiaan dengan kebutuhannya. Memberi makan ke warga di perkotaan jauh lebih mudah karena banyak fasilitas yang mendukung daripada memberi makan di pelosok terpencil. Karena orang cenderung mencari mudahnya, maka yang terjadi adalah pemberian makan lebih banyak dibuat di wilayah kota daripada pelosok jauh dari akses jalan dan sarana yang lain. Apakah ini sudah memperjuangkan kesejahteraan bersama? 

Kegeraman benyak dialami oleh orang-orang saat ini karena ketidakbecusan segelintir pengurus masyarakat dalam mewujudkan sebuah usaha membangun kesejahteraan bersama karena sarat kepentingan tadi. Belum lagi, ketika manipulasi data makin canggih dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka mesin artificial dipakai untuk kepentingan baik dan buruknya juga. Permusuhan antar manusia bisa dilipatgandakan kualitas dan kuantitasnya hanya dengan memanipulasi data dan informasi. Orang tidak bisa membedakan lagi antara yang senyatanya dan yang nyata dibuat oleh mesin artifisial. Kebenaran menjadi absurd dan susah untuk dihadirkan secara lebih otentik. Otentisitas kadang dimanipulasi oleh kemajuan mesin artifisial. 

Ketika berjumpa langsung antara si A dan si B, maka bisa dipahami bahwa perjumpaan langsung itu akan membawa kesan yang berbeda jika hanya berjumpa di layar HP atau hanya bertukar pikiran lewat kata dalam pesan singkat atau pesan panjang sekalipun. Karena di sana nuansa dan rasa itu tereduksi oleh mesin yang punya algoritma sendiri. Kita banyak dipengaruhi dan akhirnya menyerahkan diri pada tuntunan algoritma mesin artifisial. Kita hanya cari mudahnya. Kita menjadi terbentuk pola tidak mau repot, kurang paham, kurang mampu melihat secara keseluruhan hal-hal yang manusia alami dan kemanusiaaannya. 

Oleh karenanya, kembali kepada judul "lihatlah manusia" dan lihatlah dunianya. Kukira itulah yang relevan bagi manusia penghuni planet ini. Aku tidak mau muluk-muluk untuk membual dengan ide-ide yang tak terjangkau. Melihat manusia adalah menyerahkan diri pada tatapan yang menuntun dan menuntut diriku untuk peduli, menyapa, prihatin, gembira dan lain-lain dengan kemanusiaan itu sendiri. Baik itu yang terluka, yang gembira, yang membenci, yang berperang, yang membalas, yang memuji, yang bersolider dan sebagainya. Manusia itu beragam dan tingkah polahnya juga demikian. Ecce homo! 

#inmyroom#